Seorang Gadis remaja berusia sekitar dua puluh satu tahun.Dia mempunyai seorang Ayah dan dua orang ibu.
Ia hanya tinggal berdua dengan ibu kandung nya,Kedua kakak laki-laki nya berada di luar kota.Yang satu telah berumah tangga dan belum di karunia anak.Sedang kakak kedua nya sedang bekerja di suatu perusahaan.
Alina dulu memiliki saudara kembar,yaitu Aluna.Tapi karena Alina mengidap penyakit pada ginjalnya hingga saat usianya menginjak delapan tahun,Alina harus merelakan kepergian saudari kembar nya itu.
Kini,ia harus menemani sang ibu.setelah lulus SMA,Alin tidak melanjutkan sekolah nya,ia memilih untuk membantu sang ibu mengirim pesanan Donat ke pelanggan.Ya,ibu nya tidak pernah menerima pemberian dari Ayah nya yang hanya mementingkan kehidupan baru nya,bersama seorang janda beranak dua yang kini telah di nikahi nya.
Pernikahan sang Ayah yang secara Sembunyi-sembunyi,menoreh kan luka yang cukup dalam di hati ibu nya.Kini lambat laun,ibu nya sudah menerima kenyataan bahwa ia harus berbagi suami.Perceraian sempat melintas di fikiran sang ibu kala itu.Tapi jika itu dapat membawa nya kepada murka Allah,sang ibu lebih memilih untuk ikhlas.Dan menerima apapun ketetapan ilahi.
Alin pun tidak pernah menyimpan kebencian pada sang Ayah,yang selama ini tak memperdulikan nya.Kata-kata ibunya yang selalu.memberikan pengertian pada Alin,di cerna baik oleh nya.Agar kita selalu menerima apapun yang terjadi di kehidupan ini dengan Ikhlas.
Suatu sore,Alin dan ibu nya sedang mencetak donat pesanan tetangga nya untuk acara pengajian rutin.
"AL,sudah ada kepastian dari Yoga?"Tanya ibu nya.Perihal tentang lamaran Yoga.
Alin sudah menjalin hubungan dengan Yoga cukup lama,sekitar dua tahun.Dan Ayah juga ibu nya sudah meminta Yoga untuk segera melamar Alin.Tapi Yoga tak kunjung menanggapi.Usia Yoga yang terbilang masih labil,belum ada niat untuk ke arah yang lebih serius.Tapi,ke khawatiran orang tua terhadap putri semata wayang nya,memang selalu menjadi beban.Tak ingin sang anak sampai melakukan hal-hal yang di larang oleh agama.Melihat pergaulan di luar sana yang sudah tidak memperdulikan adab dan norma.
Meski pun kedua orang tua nya yakin bahwa Alin mampu menjaga kehormatan nya,tapi rasa ketakutan itu,selalu membayangi mereka.
"Belum bu,"jawab Alin lembut sambil terus mencetak adonan.
"Coba ya,tanya kan lagi.Ibu harap Yoga bisa secepat nya meminang mu".
"Iya bu,besok aku akan menemuinya lagi.Semoga fikiran Yoga sudah berubah,hingga mau serius melamar ku".Jawab Alin menenang kan hati ibu nya.Padahal dia tau,Yoga pasti jelas-jelas akan menolak nya.Begitu lah setiap kali Alin menanyakan hal yang sama.
Keesokan hari nya,Alin bertemu Yoga di taman,setelah menelpon untuk janji bertemu.
"Bagaimana tentang lamaran mu?kapan kau akan melamar ku Yog?"Tanya Alin untuk ke sekian kali nya.
Wajah Yoga yang awal nya sumringah karena sudah tidak bertemu seminggu,itu pun berubah masam.
"Kenapa si,selalu itu yang kau tanya kan?tidak bosan?kan aku sudah bilang,aku belum siap menikah Aliiin.."Jawab Yoga gusar.
"Aku tau,tapi aku di minta ibu ku untuk menanyakan hal ini lagi pada mu.Aku sudah berjanji.Maaf kan aku ya.."Ujar Alin menundukkan kepala nya.
"Lalu,mau sampai kapan kau akan bertanya ini terus menerus?aku bosan mendengar nya Al."
"Sampai kau memutuskan akan melamar ku".Jawab Alin polos.
Yoga mendengus kesal.
"Aku tidak pernah berbuat tidak sopan pada mu,tidak pernah berbuat macam-macam.Tapi kenapa orang tua mu tidak percaya pada ku.Aku akan menikahi mu nanti,suatu saat.Saat aku siap.Umur kita masih muda Al.Aku belum mau menikah."ujar Yoga.
Alin masih terdiam.Karena ia pun sama.Masih ingin menghabiskan masa muda nya,tidak ingin segera menikah dan menjadi seorang istri secepat itu.
'Berat tau jadi seorang istri,apa lagi harus mengurusi anak dan suami.Belum lagi waktu hamil'.kata-kata teman nya yang sudah menikah muda terlintas lagi di benak nya.
Tapi menjadi seorang ibu adalah kiprah seorang wanita.Ketentuan yang juga di rindukan banyak orang.Tidak serumit itu,banyak ibadah yang bisa di lakukan seorang ibu.Dari menyiapkan makan, hingga hamil pun ada catatan amal ibadah yang luar biasa.
"Lalu aku harus bagai mana Yog?aku bingung menanggapi pertanyaan kedua orang tua ku.Di sisi lain aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang menentang dan menomer dua kan ke inginkan mereka."Ujar Alin tertunduk.
Yoga terdiam.
"Baiklah kalau begitu,keputusan ini harus aku ambil.Maaf jika mengecewakan mu."Ucap Yoga.Membuat hati Alin tiba -tiba terasa panas,ada kekhawatiran yang menerpa mendengar kata-kata Yoga.Ia menatap Yoga dalam.Mendengar kan keputusan terburuk yang mungkin akan di katakan Yoga.
Alin menelan Saliva nya berat,saat Yoga mulai bicara.
"Alin,kau tau aku mencintai mu?"Tanya Yoga.Dan di balas anggukan oleh Alin.
"Tapi aku belum bisa mengabulkan permintaan kedua orang tua mu untuk melamar mu.Jadi,Aku memutuskan agar kita berpisah saja.Kau mungkin bisa mendapat kan pria yang lebih baik dari ku.Dan bisa segera mengabulkan keinginan orang tua mu."Ucap Yoga.
Alin menggeleng-geleng kan kepala nya saat Yoga bicara.
"Tidak Yog.jangan tinggal kan aku.Aku mencintai mu.Aku mohon".Ucap Alin memelas.
Tapi Yoga tetap kekeuh dengan keputusan nya.Yoga sudah memikirkan hal itu sebelum nya,jika Alin menanyakan perihal lamaran lagi.Dan keputusan nya untuk meninggalkan Alin sudah bulat.Bukan karena ia tidak mencintai Alin lagi.Tapi karena tekanan yang di buat oleh orang tua Alin.Terutama Ayah Alin.
Alin menangis,ia menutup wajah nya,menangis sesegukkan.Untung di taman itu sedang sepi.Jadi tidak ada orang yang melihat tangisan Alin.
Yoga pun pergi meninggal kan Alin.
"Yoga...."Alin terus memanggil Yoga.Tapi ia tidak menoleh.Ada kepedihan di mata Yoga,tak mudah pula bagi nya.
Alin berlari mengejar Yoga yang sudah berlalu dengan sepeda motor nya.
"Yoga..tunggu..."Alin terus berteriak sambik berlari mengejar Yoga.Tapi Yoga sudah berlalu.Alin tidak sadar bahwa ada mobil yang melintas cukup kencang.
Entah kenapa semua nya terjadi begitu cepat.
Tiin...
Brak...
Alin tidak sadarkan diri,pandangan nya memudar,dan gelap.
***
Beberapa jam sudah semenjak kejadian itu.Alin tak sadarkan diri di rumah sakit.Ada tangisan dari ibu nya.kecemasan di mata wanita paruh baya itu terus memuncak.Tatkala Alin belum sadarkan diri.
"Ya Tuhan...jangan kau ambil lagi putri ku...cukup lah sudah Aluna.Biarlah Alina menemani ku di usia senja ku...hiks hiks".Rintih ibu Alin,Sambil terus mengusap pipinya yang sudah semakin senja itu karena air mata.
Beberapa menit kemudian,Alin sadarkan diri.Ia menggerakkan jari jemari nya.
"Ibu..."Panggil nya,karena terdengar suara sang ibu yang terus berdoa.
"Iya ...Al.Kau sudah sadar nak?Alhamdulillah".Ucap Ibunya seraya mendekati dan mendekap Alin.
"Bu...kenapa di sini gelap?apa mati lampu?aku dimana bu"Ucap Alin meraba-raba tempat tidur nya.
"Kau di rumah sakit sayang,"jawab ibu nya menahan sesak dengan pernyataan yang di berikan Dokter kepada nya.Bahwa Alin tidak bisa lagi melihat.Karena ada kerusakan di mata nya,akibat kecelakaan itu.
"Bu...kok ibu diam saja.Ada apa bu?kenapa Alin tidak bisa melihat ibu?"Tanya Alin lagi sambil meraba wajah ibu nya.
Ibu nya terus menyeka air mata nya,berusaha agar Alin tidak menyadari tangisan nya.
"Bu.."Panggil Alin lagi,karena ibu nya masih belum menjawab.
Akhir nya ibu Alin pun memberi tau nya perihal kebutaan yang di alami nya,akibat kecelakaan.
Alin tertegun lama,sesekali ia menyeka air mata yang membasahi wajah nya.
Hening...ibu nya terus memeluk Alin.
"Maaf kan ibu yang tak bisa menjaga mu nak"Ujar nya lirih.
"Bu...jangan menangis lagi ya..Alin ikhlas bu..mungkin ini adalah ketetapan ilahi.Takdir Alin mungkin seperti ini...ibu harus ikhlas,Alin harap Ibu bisa menerima keadaan Alin."Ucap Alin membuat ibu nya semakin terluka.
"Bu...berjanjilah untuk ikhlas.Jangan salah kan diri ibu,selama ini Alin sungguh bahagia bisa melalui hari-hari bersama ibu.Berjanji lah jangan menangis lagi ya..".Lanjut Alin meraba pipi ibu nya.
"Sayang,iya ibu janji...tapi kamu harus ikhlas juga ya.Dan ibu akan terus berjuang demi Alin agar bisa sembuh.Bisa melihat lagi indah nya dunia.Karena Dokter bilang,Alin bisa sembuh kok" Ucap Ibu nya,melukis senyum di bibir Alin yang mungil.Alin mengangguk dan memeluk ibu nya.
walau pun kemungkinan sembuhnya alin hanya sepuluh persen,tapi ibu suatu harapan yang luar biasa bagi sang Ibu juga Alin.
***
Alin pun sudah pulih,ia kembali pulang.Beberapa tetangga nya menjenguk Alin,ada yang memberis semangat,Ada pula yang melihat penuh iba.Juga tak sedikit yang mencemooh di dalam hati.
'Masih gadis udah buta begitu mana ada yang mau sama dia.percuma cantik,tapi mata nya tidak melihat.'bisik salah satu tetangga nya yang bermulut ember.Setelah pulang menjenguk Alin.
Beberapa hari berlalu,ibu Alin juga telah memberi tau kakak-kakak nya juga Ayah nya.Tapi belum ada yang kunjung menjenguk Alin.Ayah nya yang sibuk dengan pekerjaan nya juga istri muda nya,kerap mengabaikan Alin dan juga ibu nya.Itu hal biasa yang sudah di rasakan bertahun-tahun oleh sang ibu.Meski masih merasa kan perih,tapi ia selalu mencoba untuk kuat demi Alin.
"Sayang,kakak mu menelpon,kata nya maaf belum bisa datang.Banyak pekerjaan yang tidak bisa di tunda."Ujar ibu saat selesai makan.
Alin mengangguk.
"Bagai mana dengan kak fandy bu?"Tanya nya,tentang kedatangan kakak kedua nya yang begitu menyayangi nya,ketimbang Reno kakak pertama nya yang terbilang cuek dan acuh.
"Fandy juga tidak bisa meninggal kan pekerjaan nya secara mendadak.Tapi dia bilang akan secepatnya pulang".Ibu nya pun tidak bilang bahwa Fandy juga sedang kurang sehat.Takut Alin cemas.Tangisan Fandy terdengar cukup pilu saat mendengar kabar kebutaan Alin karena kecelakaan.
"Iya bu...Alin tidak apa-apa.jangan merepotkan mereka ya."Ujar nya.Melukis senyum kepedihan di bibir wanita paru baya itu.
Esok hari nya sang Ayah pun datang bersama sekarang Anak tiri nya.Nicolas,pria berperwakan tinggi dan atletis yang lebih cenderung berwajah bule.karena Ayah nya yang berasal dari Amerika.
Ayah Alin mengobrol singkat dengan ibu nya lalu menemui Alin di kamar nya.Mereka saling berpelukan.Ayah nya terus menyeka air mata nya.Pedih dan luka yang cukup dalam menerusup ke sela batin nya.Melihat Anak perempuan satu-satu nya itu harus mengalami keadaan yanv tidak mudah untuk di jalani.
"Ayah.jangan menangis.Ayah jelek kalau nangis.Alin tidak apa-apa kok.Alin udah ikhlas."Ujar Alin.Ayah nya terus merapat kan pelukan nya.
"Iya Sayang,Maafin Ayah ya..tidak bisa menjaga kamu".
Pertemuan singkat itu pun menyisakkan luka karena kegagalan nya menjadi seorang Ayah.Ia tidak pernah menyaksikan tumbuh dan hari-hari Alin dari sejak kecil.Keegoisan nya yang telah menelantarkan keluarga merupakan salah satu gagal nya ia sebagai seorang Ayah dan Suami.
Ayah nya pun berpamitan pulang karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda.Pulang ke rumah ibu tiri nya,Begitu lebih tepat nya.
Saat Ayah sampai di restoran saat mampir untuk makan,karena ia menolak untuk makan di rumah nya.
Ayah mencari-cari ponsel nya seperti nya tertinggal di rumah Alin.
"Biar aku saja yang mengambil.Ayah makan lah."Ujar Nicolas.Tidak seperti biasa nya.Dia adalah pria yang cuek dan tidak peduli dengan keluarga nya.Dia pun terpaksa mengantar Ayah tiri nya itu,karena mempunyai tempat tujuan yang sama.
Nicolas yang suka mabuk dan bermain wanita memang sering bersitegang dengan Ayah tiri nya.Tidak akur dan sering bertengkar.Nicolas memilih untuk tinggal di apartemen.
Saat itu Nicolas memang akan membeli sesuatu,hingga dengan terpaksa membantu sang Ayah tiri nya untuk mengambilkan Ponselnya yang tertinggal di rumah Alin.
Sebenarnya,saat berkunjung pun Nicolas hanya duduk di teras,dan menolak untuk masuk ke dalam rumah.
Nicolas melajukan mobil nya kembali ke rumah Alin.
***
Alin dan ibu nya masih mengobrol di kamar nya,hingga tiba-tiba ibu nya mendapatkan tepon dari tetangga nya yang memesan kue.
"Al,ibu tinggal sebentar ya,mau mengantarkan pesanan.Acara pengajian nya juga mau di mulai."Pamit ibu nya.
"Iya bu,Alin tidak Apa-apa kok di tinggal,ibu boleh pengajian dulu.sudah lama ibu tidak menghadiri pengajian.Karena Alin sakit kan."ujar Alin.
"Bener tidak Apa-apa ibu tinggal?"Tanya ibu nya ragu.Karena keadaan Alin sudah tidak sempurna seperti dulu.
"Tidak apa-apa bu,Alin sudah hafal jalan ke dapur kok."Jawab nya.Di bals anggukan oleh sang ibu.
Ibu nya pun segera bersiap untuk pengajian,sembari menenteng pesanan kue dari tetangga nya.
Alin tinggal sendiri di rumah nya,ia hendak minum dan mencoba meraba di mana letak gelasnya.Ketika ia minum,tidak sengaja air mhya membasahi baju nya.Alin pun mengganti baju nya.Ia tidak tau bahwa seseorang tengah memperhatikan nya.Ibu nya yang terburu-buru tidak menutup pintu dengan rapat.
Nicolas sampai di rumah itu,dia masuk setelah mengetuk,tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah.Ia melihat pintu kamar terbuka sedikit.Saat ia melihat ke dalam ia tercengang dengan penampakan seorang gadis tanpa busana.
Alin sedang mengganti pakaian nya yang basah.ia meraba-raba di mana letak baju nya,ia memang sudah lumayan hafal setiap sudut kamar nya.
Nicolas masih memperhatikan Alin dengan inten.Ia sadari bahwa jiwa kelaki-lakian nya meronta.Melihat sesosok gadis di hadapan nya.Nicolas membuka pintu kamar Alin perlahan-lahan.
"Siapa itu?"Tanya Alin.Dan Nicolas hanya diam,Alin mencoba menutupi bagian dada nya.Nicolaa mendekati Alin dan memang tangan nya.Alin mencoba berteriak,tapi Nicolas menutup mulur Alin.Alin menangis sesegukkan,dia tidak tau siapa pria yang mencengkram nya,merebut kesucian nya yang begitu berharga.
Setelah puas Nicolas mengecup dahi Alin dan meninggalkan nya setelah menutupi tubuh Alin yang tanpa busana dengan selimut.
Alin menangis sambil mencengkram selimut nya,meratapi Nasib.Ia sudah kehilangan saudara kembar nya,berbagi Ayah,kehilangan penglihatan nya dan kini ia kesucian nya pun harus di renggut dengan pria yang ia pun tidak tau siapa.
Saat ibunya kembali,Ia begitu syok dengan apa yang di lihat nya,Alin hanya menangis saat ibu nya bertanya.Setelah Alin cukup tenang,dan ibu nya pun sudah mengenakan pakaian pada putri nya itu sambil terus meneteskan air mata.Alin pun menceritakan kejadian buruk yang di alami nya.
Ibu nya menjerit dalam hati,jiwa nya bagaikan tersambar petir.Sakit dan terluka.Tapi ibu nya berfikir bahwa ia harus menguatkan putri nya,jangan sampai putri nya menyia-nyiakan hidup nya.Karena Alin lah cahaya yang menerangi hari-hari sang ibu.
Beberapa hari berlalu,Fandy pun datang menjenguk Alin.Dan Alin begitu bahagia dengan kedatangan kakak nya yang begitu di sayangi nya.
Dan mau tidak mau,ibu nya pun menceritakan hal buruk yang di alami Alin.
Fandy begitu marah dan terluka,kegagalan nya dalam menjaga adik semata wayang nya telah membuat nya menyalahkan diri nya sendiri.Ia murka dan berusaha mencari tau siapa yang telah menodai adik perempuan nya.Dengan berbagai cara,tapi nihil.Fandy kembali bekerja meninggalkan adik dan ibu nya dengan perasaan berat.
Seminggu kemudian,Alin merasakan sesuatu yang bergolak di perut nya,kepala nya terasa pusing dan mual di ulu hati nya.
"Ah mungkin karena aku sering telat makan"fikirnya.
Tapi saat Alin melangkah ke dapur sambil meraba-raba,tiba Pusing di kepala tak dapat di tahan lagi.Alin jatuh pingsan.
Ibunya yang terkejut pun segera meminta bantuan pada tetangga nya untuk memnbawa Alin ke rumah sakit.
Pukulan yang cukup keras menghujam jantung Ibu nya,mendengar penjelasan bahwa Alin tengah mengandung.Ya..Alin hamil.Dan itu membuat ibu nya terkulai lemas.
"Cobaan Apa lagi ini ya Allah..."Rintih sang ibu,sambil memegang dada nya.
sang ibu yang awal nya merahasiakan kehamilan Alin dari Alin sendiri,Akhirnya menceritakan semua pada putri nya itu.
Tapi Alin hanya terdiam tanpa ekspresi.Alin meraba tangan ibu nya dan menggenggam jari jemari sang ibu kuat.Juga mengusap lembut pipi tua sang ibu dengan jari nya.
"Jangan menangis lagi karena Alin bu..ini sudah takdir yang harus Alin jalani.Kuat kan Alin ya bu..bantu Alin melewati nya.Bantu Alin untuk tetap sabar dan tawakal.Karena Alin yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba nya.Allah tau bahwa Alin mampu"Ucap nya lembut.
Ibunya pun seketika memeluk putrinya yang begitu ikhlas.Alin wanita yang sabar dan lemah lembut.Akhlak nya baik dan sopan,tapi cobaan yang begitu kuat menghujam nya bertubi-tubi hampir meluluh kan ke imanan nya.Tapi,sekali lagi Alin sadar,ini semua kehendak Yang Maha Kuasa.
Beberapa waktu berlalu,kandungan Alin semakin membesar.Kedua kakak nya pun datang untuk melihat kondisi sang adik bungsu nya.
"Bagaimana keadaan mu Al?"Tanya Fandy.Sambil mengusap bahu adik nya.
"Baik kak."jawab nya singkat.Alin mencoba untuk tegar,tidak mau membebani fikiran kedua kakak nya.
"Al,kamu jangan khawatir.Setelah bayi kamu lahir,kami akan membawa dan merawat nya."Ujar Dona,istri Reno.
Seluruh keluarga terkejut mendengar pernyataan itu.
"Apa maksud nya?"Tanya Alin lemah.
"Al,aku dan kakak mu sudah berdiskusi.Kami sepakat untuk mengurus anak mu,jika dia telah lahir."Jelas nya.
"Iya Al,kamu tidak akan mampu mengurusnya dengan kondisi mu sekarang."Sambung Reno.
"Iya bagaimana bisa kau mengurus bayi,jika mengurus dirimu saja kamu kerepotan"Sambung Dona dengan nada ketus.
Membuat Fandy melotot.Dia memang tidak suka dengan perangai kakak ipar nya itu.Sombong dan suka meremeh kan orang lain.Percuma cantik,tapi kepribadian nya buruk.
"Tidak usah berpikiran macam-macam.kalian kan tau kami belum di karuniai anak.jadi dari pada Alin susah payah mengurus bayi dan merepotkan ibu,lebih baik kami yang merawat nya."Sambung Reno.
Alin tak kuasa mendengar nya,meskipun kehamilan nya tidak di ingin kan Bukan berarti bisa seenak nya memisahkan Alin dengan bayi yang bahkan belum lahir.Alin merasa hati nya tertusuk sembilu.Akan kah ia harus kehilangan untuk kesekian kalinya.
walau pun memang benar apa yang telah di katakan Reno dan Dona.Tapi hati Alin tak mungkin sanggup berpisanh dengan darah daging nya.
Alin bangun dan melangkah ke kamar nya.Sambil meraba dan memegang perut nya yang sudah terlihat buncit.
Fandy dan sang ibu menyusulnya.Alin hampir terjatuh,dengan sigap Fandy memapah nya ke kamar.Ia tau bagaimana perasaan Alin saat ini.Situasi yang kurang tepat jika Reno harus menyampaikan nya sekarang.Hati Alin masih terluka cukup dalam dengan kejadian-kejadian yang menimpanya.
Beberapa tetangga pun mengetahui kondisi Alin dari mulut ke mulut.Padahal ibunya sudah mencoba untuk menutupi semua nya dari banyak orang.Tapi apalah daya,mulut manusi bahkan lebih menyengat dari pada bau bangkai yang terkubur.Berita pun semakin menyeruak,menyebar tanpa ada henti.
Alin dan keluarga nya menjadi cemoohan orang banyak.Mereka yang seharusnya memberi dukungan,doa dan semangat.Tapi malah menjatuhkan kan seseorang yang patut mendapat pertolongan,menenggelamkan mereka ke dalam keterpurukan.Menjauhi dan memperbincangkan mereka di muka umum.Tak patut lah manusia yang penuh dosa merasa diri bahwa mereka paling suci.Dosa yang di buat semata menjadi mahkota bagi mereka.
Alin tak pernah ambil pusing dengan cemoohan orang.Tapi kesedihan sang ibu lah yang membuatnya terluka.
Ayah nya yang mau mengobati mata Alin.Akhirnya memutuskan untuk tidak lagi membiayai operasi mata Alin.Karena kabar bahwa Alin tengah mengandung.Ada kekecewaan di mata Ayah nya.Ayah nya memiliki begitu kecil rasa peduli,meski pun memang ia menyayangi Alin.
Lupakan lah Sang Ayah yang peranan nya tak cukup kuat sebagi seorang kepala keluarga.Alin dam ibunya dari awal tidak pernah berharap mendapat simpati dari sang Ayah.
Alin teringat akan Yoga.kekasih nya yang telah meninggalkan nya,bahkan karena kejadian itu,Alin harus melalui kejadian-kejadian buruk berikut nya.Alin bersyukur bahwa Allah telah tunjukkan seperti apa Yoga.Bahkan ia tak pernhaenjenguk Alin.Tak peduli akan kondisi Alin.
Seandainya pun Yoga menikah dengan Alin belum tentu ia mampu menerima kondisi yang mungkin akan sama di alami oleh Alin.
Alin berhari-hari berfikir tentang bayi nya yang akan di asuh oleh kakak nya.Perasaan tertusuk itu terus tumbuh,setiap kali Alin membayang kan terpisah dengan buah hati nya.
***
Nicolas,mengabaikan pekerjaan nya di kantor beberapa bulan belakangan.Semenjak mendengar kabar bahwa Alin hamil.
Ia yakin bahwa Alin mengandung anak nya,karena Nicolas tau betul bahwa Alin masih perawan.dengan di temukan nya bercak darah di kejantanan nya.
Nicolas mengacak rambutnya kasar.Dia mengutuki perbiuatan kotor nya pada adik tiri nya itu.Ego nya yang cukup tinggi mengubur rasa tanggung jawab nya.Entah apa yang harus ia lakukan.Setiap malam Nicolas selalu bermimpi buruk,ia di hantui rasa bersalah nya.
Tapi sampai waktu nya Alin melahirkan,Nicolas masih menyembunyikan identitas nya sebagai ayah biologis dari bayi yang di lahirkan Alin.
Sebulan berlalu,Dona dan Reno pun datang.Alin yangs sedang memberikan ASI pada bayi nya pun terkejut dengan kedatangan mereka.Alin tak rela jika Kakak nya harus membawa putra nya yang masih bayi.
Alin selalu berharap bisa melihat wajah bayi nya itu meski sekejap.Tapi apa daya,mata Alin masih dalam kegelapan.Ia hanya mampu melihat bayang-bayang orang di depannya.Tapi tak tau seperti apa rupa nya.
Alin mengecup lembut bayi nya,saat Dona menggendongnya dan memutuskan untuk tetap membawa bayi Alin.
Tangisan tak sanggup di bendung nya lagi.Proses persalinan tanpa suami yang berlangsung begitu lama dan menguras tenaga,serta perjuangan yang melelahkan Menahan sakit yang teramat.Membuat Alin terisak,ia terduduk dalam solat nya.Dia berharap Tuhan mampu membuat hatinya tegar.
Sujudnya setiap malam,berharap mampu menjadikan nya manusia yang mampu ikhlas dalam setiap ujian yang di berikan oleh yang maha Esa.
Setiap malam,Alin merindukan suara tangisan bayi nya.di peluk nya guling bayi yabg biasa di pakai bayi Alin.Dan di ciumi nya baju kecil yang pernah di pakai bayi nya.
Hal itu pula yang membuat sang ibu selalu teroris hati nya.Semua yang di alami sang putri sangat lah berat.Bahkan jauh lebih berat dari penghianatan suami nya.
Setiap sore Alin berjalan meraba dengan tongkat nya menuju taman yang tidak jauh dari rumah nya.Alin terduduk sambil terua berdzikir dalah hati nya.Mencoba menyembuhkan luka hati dengan dzikirnya.
Beberapa hari belakangan,ada seorang pria yang memperhatikannya daris seberang jalan.Pria yang baru seminggu pindah ke sana.Pria berwajah ke arab araban.Nama nya Ziano Abdullah,dia seorang karyawan biasa.Setelah keluarga nya bangkrut.Zian memutuskan untuk menerima pekerjaan di luar kota.Walaupun hanya sebagai karyawan biasa.Gaji yang tidak begitu besar,harus ia sisihkan untuk kebutuhan nya sehari-hari dan menabung.Demi mewujudkan impian nya membangun kedai Roti.
Saat pertama pindah ke kota itu,Zian melihat seorang wanita terduduk sendiri di bangku taman.di tangan nya tersemat tasbih kecil.Mulut nya terua terlihat berucap.Dzikir,sambil sesekali mengusap pipi nya yang basah.
Entah apa yang di alami wanita manis itu.Zian pun tau bahwa ia telah kehilangan penglihatan nya,melihat tongkat yang berada di sisi nya.Juga cara berjalan nya yang meraba.
Sungguh malang benar nasib nya.Di usia nya yang masih terbilang muda,harus mengalami hal buruk.begitulah menurut cerita dari salah seorang teman nya yang menegenal wanita itu.Tapi Zian tidak memperdulikan dengan cerita-cerita selanjutnya,tentang kehamilan di luar nikah dan lain-lain.Zian malah terlihat kagum pada sosok wanita itu,wanita yang selalu membayangi nya di dalam mimpi,serta senyum manis di bibir nya yang mungil.
Zian terlalu takut untuk mendekati wanita itu,takut ia merasa tersinggung atau merasa khawatir.
Akhirnya Zian memberanikan diri nya untuk mencoba mengenal Alin lebih dekat.
Awal nya ia mencoba bertanya sesuatu,sekedar menyapa,atau mengobrol singkat.Awalnya Alin enggan meladeni pria yang baru di kenal nya itu.Ia masih trauma dengan kejadian pemerkosaan yang di alami nya setahun lalu.
Tapi lambat laun,sikap dan tutur kata Zian yang lembut mampu membuat Alin bicara.Alin merasa bahwa pria yang di temui nya itu berhati baik.Zian pun sering mengantarkan Alin pulang.
Zian juga sudah akrab dengan ibu Alin.sang ibu merasa bahwa pria yang mendekati putri nya itu sangat tulus.
"Zian sangat sopan dan baik Al,bagaimana jika dia meminta mu untuk menikah dengan nya?"Tanya ibu Alin.
Menyampaikan niat yang telah Zian bicarakan pada nya.Hanya saja Zian terlalu takut jika Alin menolak nya,dan merasa tersinggung.
"Zian tidak mungkin menyukai aku bu,wanita cacat yang sudah tidak memiliki masa depan.Hancur dan hilang nya kesucian ku,menambah nilai minus aku sebagai wanita di mata pria sebaik Zian bu...aku tidak mau berharap lebih."Jawab Alin lembut.
"Tapi bagaimana seandai nya Zian melamar mu?".
"Aku tidak tau bu"jawab Alin.Wajah nya memerah.
Ibu Alin hanya tersenyum.Beliau menyampaikan pada Zian mengenai jawaban Yuna.Dan meminta Zian untuk menyampaikan nya langsung pada Yuna.
"Zian apa kau yakin akan menerima Yuna?Dia masih ragu.jadi lebih baik kau sampai kan langsung pada nya.Dan yakin kan Alin tentang niat baik mu ini."
Zian terdiam,berfikir bagaimana ia bisa meyakinkan Alin.Karena ia pun tidak mudah meyakin kan kedua orang tua nya,untuk menerima Alin.Ia teringat kata-kata Bunda nya.
"Zi,kau itu pria yang sempurna,banyak wanita yang mengejar mu Carilah wanita yang sempurna pula.terutama fisik nya.Bagaimana wanita itu bisa mengurus mu dan anak-anak mu nanti?jika mengurus diri nya sendiri pun ia tidak bisa?".Ucap Bunda Zian,di sela obrolan mereka.
"Bun,aku mencintai nya karena akhlak nya,wanita yang sempurna itu tak kan pernah kita temui di dunia ini.banyak wanita yang cantik rupa nya tapi buruk akhlak nya.Bukan itu yang ku cari.Aku mencari wanita yang mampu mencintai ku karena Allah.Dan aku yakin bahwa ia lah bidadari syurga ku.Bagian dari tulang rusuk ku.Yang telah Allah ciptakan untuk mendampingi ku."Ucap Zian.
kata-kata nya membuat kedua orang tua nya tertunduk.Dan tak bergeming.
Di teras rumah.Zian terduduk,sambil sesekali mengelap tangan nya yang basah ke celana jeans yang ia kenakan.Zian gugup,dan merasa takut jika Alin akan menolak lamaran nya.
Beberapa Wanita yang terlihat melintas memandang sinis ke arah Alin.Mereka berfikir dan penuh keheranan.kenapa Pria seperti Zian menyukai wanita cacat seperti Alin.
Alin tengah duduk di samping Zian terhalang di antara meja.
Zian mencoba menghela nafas nya.Ia melirik ke arah Alin,jilbab yang panjang menjuntai dan wajah Alin yang berseri menyempurnakan indahnya ciptaan Tuhan.Wajah yang bercahaya karena memang Alin selalu terjaga wudhu nya.
"Bicara lah,Aku tidak tau kau ada di sana atau tidak jika kau tidak bicara".Ujar Alin memecah keheningan.
"Maaf Al,Aku takut jika kau salah mengartikan niat ku ini.Alin mau kah kau menjadi istri ku,dan menjadi ibu dari anak-anak ku.Mendampingi ku hingga kita menua nanti.Untuk dunia dan Akhirat ku.Alin...Aku mencintai mu karena Allah."Ujar Zian gugup.
Alin masih terdiam.
"Aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihan mu.Aku ingin kita saling melengkapi.Karena aku juga bukan pria yang Sempurna.Aku ingin kita bersama meraih ridho Allah."lanjut Zian.
"jika kau mampu menjadi imam yang baik dan menuntun ku ke jalan Nya,Aku bersedia menerima nya."Jawab Alin,ini adalah jawaban yang telah ia dapat dari shalat istikharah nya.
Zian bersujud lama,saat menunaikan shalat Dzuhur nya.Ia bersyukur bidadari syurga nya mau menerima lamaran nya.
Beberapa minggu kemudian mereka pun melangsungkan pernikahan.Pernikahan sederhana,
yang hanya di hadiri oleh keluarga dekat saja.begitu pinta Alin.
Akad nikah pun berlangsung.Akhirnya Zian telah.Menjadikan Alin sebagai istri nya.Tangis haru mengiringi prosesi itu.Terutama ibu Alin yang begitu sangat bersyukurnya,karena Tuhan telah mengirim pria sebaik Zian untuk mempersunting putri nya yang tidak lah lagi sempurna.Beliau berharap ridho Allah selalu mengiringi mahligai rumah tangga mereka.Dan kelak di karuniai Putra dan putri yang salih dan salihah.
Begitu pula doa yang seluruh keluarga sampaikan.
Tangis Bunda Zian pun pecah saat prosesi sungkeman.Beliau masih belum rela,jika putra nya menikahi seorang wanita yang buta.Tak dapat terbayang kan bagaimana rumah tangga mereka ke depan nya.Meski pun Zian selalu meyakin kan keluarga nya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.Rasa khawatir yang selalu menggerogoti batin Bunda Zian membuat nya selalu meneteskan air mata.Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa Alin telah memiliki seorang anak di luar nikah.Hati ibu siapa yang akan begitu mudah untuk berlapang dada.Menerima kenyataan itu.Tapi apalah daya,Zian sudah bertekad dan kedua orang tua nya pun tak dapat mencegah nya.Hanya pasrah dan berharap putra itu bahagia,merupakan satu-satu nya cara agar hati nya merasa sedikit terima.
Seluruh keluarga Alin pun hadir termasuk kedua kakak nya dan Ayah nya,juga Melinda sang ibu tiri.Saat prosesi akad nikah selesai,Zian menggendong putra nya Alin yang sudah berusia sekita lima bulanan itu di pangkuan nya.Bian nama nya,Dona bersedia membawa nya ke sana.Tapi akan kembali Membawa Bian bersama nya.itu sudah tertulis di surat perjanjian yang Dona buat sendiri.Apalah daya,Alin yang lemah tak mampu menandingi keegoisan kakak Ipar nya.Akhirnya ia pasrah untuk mendatangani surat perjanjian itu.
Ayah Alin dan Melinda pun menyalami kedua pengantin itu.Tapi alangkah terkejut nya Melinda saat melihat Bayi Alin.Ya Melinda terkejut melihat Bian.
'kenapa anak nya Alin mirip dengan ....???'fikir nya dalam hati.Melinda terdiam seribu bahasa saat acara itu di berlangsung.Fikiran nya entah kemana,dia terus memperhatikan Bian.
Alin merasakan kebahagiaan saat itu.Rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.Dia selalu berdoa dalam hatinya.
'Tuhan..jadikan aku wanita yang berguna bagi suami ku...sempurna kan aku karena hadirnya.. ku harap ridho mu menyertai di setiap ibadah kami.Jadikan lah ia kekasihku dunia dan akhirat'.
seiring butiran bening mengalir di sudut mata nya.Seketika Zian menyeka nya.
"Alin istri ku...ku harap jangan pernah ada tangis di pernikahan kita.Jangan biarkan aku gagal Sebagai seorang suami.ku ingin selalu melukiskan senyum dan tawa dia setiap hari mu.Bahagia lah selalu,aku mencintai mu"ucap nya.Di kecup lah pucuk kening Alin.
"Aku bahagia sekali wahai suami ku,tak ada kesedihan hari ini.Selain rasa haru dan syukurku"ucap Alin.
Sementara Melinda sang ibu tiri Alin duduk dengan gelisah.Fikiran nya kian tak tenang.Ia memutuskan untuk pulang lebih cepat.sedangkan Ayah Alin masih berada di sana.
"Bawa saja mobilku.Nanti aku minta Reno mengantar kan ku."Ujar Ayah Alin pada istri kedua nya itu.
Melinda pun berpamitan kepada seluruh anggota keluarga.Tak ada lagi ketegangan di antara mereka seperti dulu.Kini mereka telah menerima dengan lapang dada.Meski pun sikap Ayah Alin jauh dari kata adil.
Melinda melajukan mobil nya bukan menuju rumah nya,tapi menuju kantor Nicolas untuk menemui putra nya itu.
Kecurigaan nya kian kuat,karena beberapa bulan belakangan ini,sikap Nicolas berubah.Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.Dan tak pernah di ketahui oleh ibunya apa yang membuat nya berubah.Nicolas lebih banyak diam,tak pernah berkunjung kerumah,semenjak ia memutuskan untuk pindah ke apartemen nya.
Melinda melangkah menuju ruangan kerja Nicolas.Di abaikan nya sang sekertaris Nicolas.Melinda membuka pintu ruangan itu kasar.Mata nya menatap penuh amarah pada Nicolas.Ia menggebrak meja kerja putra nya.Tatapan nya masih tak berpaling dari wajah sendu sang putra,yang memang akhir-akhir ini menurun kesehatan nya.
"Ada apa Mom?"Tanya Nicolas heran.
"Apa yang telah kau lakukan pada Alin?"Teriak Melinda.Suara nya memenuhi ruangan.
Nicolas langsung bangun dan segera menutup pintu yang masih terbuka dan belum sempat di tutup oleh ibu nya itu.
"Apa maksud Momi?"Tanya Nicolas lagi,berharap bahwa ia bisa berkelak dari perkataan sang ibu.
"Jawab apa yang telah kau lakukan pada Alin setahun yang lalu?"Tanya Melinda lagi penuh emosi.
Nicolas tak langsung menjawab,dia menundukkan kepala nya.Seperti ada kilatan penyesalan di mata nya.
"Jawab Momi..Nico..."Air mata Melinda pun jatuh membasahi pipi nya yang putih,meski sudah tak muda lagi,ia masih memiliki paras yang cantik.Itulah yang membuat Ayah Alin tergila-gila,dan mengabaikan keluarga nya.
"Aku..."Nicolas tak sanggup berkata-kata,ia rengkuh kaki ibu nya dan bersujud.Hal yang mustahil di lakukan Nicolas.Tapi karena selama ini ia di hantui rasa bersalah yang teramat dalam,membuatnya banyak berubah.
Semenjak ia menodai Alin,ia tak lagi berhubungan dengan wanita mana pun.Bahkan tunangan nya pun di tinggal kan nya.Nicolas memang memiliki seorang tunangan,tapi Nicolas masih sering bergonta-ganti wanita untuk menemani nya di ranjang.
Tapi kini,dengan rasa bersalah nya pada sang adik tiri,Nicolas bahkan selalu marah bila ada wanita yang coba mendekati nya.Berulang kali Casandra meminta penjelasan kenapa Nicolas memutuskan pertunangan mereka,tapi jawaban Nico selalu sama.Ia tak ingin menikah.
"Maaf kan aku Mom..aku khilaf"jawab nya.
Nico mencoba merengkuh ibunya,mencoba menyampaikan rasa penyesalan nya.
"Seandainya kau bicarakan hal ini pada Momi dari dulu,Momi akan menikah kan mu dengan Alin.Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu.Tapi sekarang Alin sudah menikah.Lantas dengan apa kau menebus dosa mu Nico.."Melinda terus terisak.
"Momi sudah merebut Ayah nya,ia kehilangan penglihatan nya,dan dengan bejat nya kau rebut mahkota nya,dan tak bertanggung jawab...kau keterlaluan Nico..hiks..hiks.Apa tidak cukup semua wanita yang bersama mu?kenapa kau harus merenggut kesucian wanita sebaik Alin.Bahkan dia tidak pernah membenci Momi, sekali pun Momi sudah merebut Ayah nya.Dia selalu menghormati Momi..tapi kau..."
"Dari mana Momi mengetahui hal ini".Nicolas menanyakan hal yang membuatnya penasaran sedari tadi.
"Momi lihat anak nya Alin.Dia begitu mirip dengan mu sewaktu kecil.Mirip sekali..bahkan adik mu jason pun tidak mirip dengan mu.Tapi Anak nya Alin..."Melinda terus mengusap air mata nya.
"Apa benar Mom?apa dia sehat.Apa anakkku baik-baik saja?"Tanya Nicolas.
Dan plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Nicolas.
"Kenapa kau baru peduli pada nya sekarang?bagaimana jika dalam kehamilan nya, Alin mengalami hal buruk?lantas apa yang akan terjadi pada bayi itu?kau baru bilang jika itu anak mu sekarang?".Tatapan Melinda penuh kekecewaan dan amarah.
"Aku...terlalu pengecut Mom...aku memang pengecut.Aku bejad Mom..kau pantas membenciku tamparan saja tidak cukup untuk ku terima...bahkan nyawa ku takkan mampu menebus dosa ku pada Alin".Ujar Nicolas.
Melinda tak sanggup berkata apapun lagi.
"Jika Ayah mu tau,dia akan meninggalkan Momi."ucap nya lirih.Nicolas terkejut.
"Tapi Momi rela jika itu bisa menebus kesalahan Momi selama ini,juga atas kesalahan mu Nico"Melinda melangkah pergi,meninggal kan Nicolas yang masih terduduk di lantai.
Ia mengacak rambut nya kasar.Penyesalan nya semakin besar.
"Aku harus melihat putra ku"Gumam nya.
Setelah kejadian itu,Nicolas berusaha mencari keberadaan Bian yang dalam asuhan Dona dan Reno.Mereka tinggal di luar kota.
Nicolas meninggal kan pekerjaan nya di kantor.Yang dia fikirkan saat itu adalah keberadaan putra nya,ia ingin memeluk putra nya.Itulah yang selalu membayangi di setiap malam nya.
Bian...
***
Alin kini sangat bahagia dengan pernikahan nya.Zian melimpahkan begitu banyak kasih sayang dan perhatian.
Rencana Tuhan memang indah.Karena di setiap ujian, Allah tau bahwa kita mampu.
"Sayangku,istri ku.."seru Zian menghampiri Alin yang sedang mencuci piring.ia sudah biasa melakukan nya.Keterbatasan nya tidak membatasi gerak langkah nya melakukan setiap kewajiban nya sebagai seorang istri.
Zian memeluk Alin dari belakang.Dan tangan nya ikut membantu Alin membilas piring.
"Iya suami ku,ada apa?"tanya nya lembut.
"bisa kah kau tinggalkan dulu pekerjaan mu?ada yang ingin aku bicarakan pada mu"ujar Zian.
"oh iya tentu saja"Alin menyimpan piring itu dengan hati-hati.Dan Zian menuntun Alin duduk di kursi.
"Duhai istriku,aku telah menerima mu dengan segala kekurangan dan kelebihan mu.Dan itu tidak pernah mengubah rasa cintaku pada mu.maaf kan aku jika selama ini aku tidak jujur pada mu".Ujar Zian.
Alin mengerutkan keningnya.
"Apa itu?".
"Aku selama ini menyisihkan gaji ku setiap bulan.Tidak semua ku berikan padamu".Ucap Zian.
"Tidak apa-apa sayang.Aku sudah cukup sekali dengan apa yang telah kau berikan.Jika itu perlu dan kau membutuhkan nya.itu juga hak mu,kerja keras mu"Ucap Alin lembut.Tak ada kemarahan atau kekecewaan di wajah nya.
Zian mengecup kening Alin.
"Aku menyisihkan nya untuk biaya Operasi mata mu.Aku ingin kau bisa melihat indah nya dunia lagi.Aku tidak bisa jika kau selalu dalam kegelapan.Aku ingin kau bisa menatap ku,melihat Ka'bah nantinya.Karena aku telah mendaftar kan kita untuk pergi umroh.Ibu juga akan pergi bersama kita.Apa kau mau?"Tanya Zian.masih memeluk istri nya.
Di ambang pintu,sang ibu menyaksikan pemandangan haru itu.sikap yang tidak di miliki oleh suami nya.dan ia bersyukur Alin bisa mendapat kan suami yang sempurna,meski tanpa materi yang melimpah.Tapi kasih sayang Zian pada Alin,selalu berlimpah ruah.Bahkan Zian begitu menyayangi ibu mertua nya itu seperti ibu kandung nya sendiri.
"Iya suami ku,aku mau...aku bahagia,kau selalu membuat ku bahagia.Terima kasih untuk semua nya Sayang".Ucap Alin seraya memeluk suami nya itu dengan erat.
Sementara Nicolas sibuk mencari cara untuk bisa dekat dengan putra nya.setelah ia mengetahui dimana Bian putra nya itu berada,Nicolas memutuskan untuk pindah ke kota itu.Dengan mengabaikan perusahaan nya yang hampir bangkrut.
Dona memang mengetahui bahwa adik tiri suami nya itu berada di sana.
Nicolas yang berusaha mendekati Dona agar mengizin kan Nicolas bisa dekat dengan Bian itu di salah arti kan oleh Dona.
Dona ternyata jatuh hati pada Nicolas yang memang berwajah rupawan.
Dona pun sering menerima kedatangan Nicolas.Nicolas begitu bahagia melihat putra nya tumbuh sehat.Segala kebutuhan Bian,Nicolas berikan.Reno curiga dengan sikap Dona yang berubah semenjak kedatangan Nicolas yang juga tinggal di dekat kediaman mereka.
Nicolas memberikan pengertian kepada Reno agar ia tidak salah faham.Akhirnya Reno pun faham dan mengurungkan kecurigaan nya.Tapi Dona yang mendengar percakapan mereka merasa kecewa.Karena Nicolas ternyata mengabaikan nya.
Sebulan kemudian,Alin menjalani operasi mata nya.Dengan penuh kecemasan,Zian menunggu di depan ruang operasi.Sang ibu juga ikut serta menunggu operasi itu.Terus berdoa dan penuh harap.Akhirnya operasi pun berjalan lancar.Ada senyum merekah di wajah Alin.Ia membuka mata nya untuk pertama kali.Dan ia melihat seorang pria asing,dia lah orang yang berada di hadapan nya.Berdiri di samping seorang Dokter wanita spesialis mata.
Zian,pria asing yang baru pertama di lihat nya dengan terpana itu adalah suami nya.yang sudah beberapa bulan ini menemani nya,memeluk nya,melimpahkan kasih sayang pada nya.Zian tersenyum,senyum penuh kebahagiaan.Tak ada lagi kekurangan dalam diri istri nya.Alin kini menjelma menjadi istri yang sangat sempurna.
Kedua ayah dan Bunda Zian juga ikut menjenguk.Mereka sungguh bahagia,melihat kini menantu nya dapat melihat kembali.
Alin memeluk erat ibu yang di kasihi nya.juga memeluk pria asing yang ternyata suami nya itu dengan erat.Pria tampan berhidung mancung berparas kearab-araban itu,ternyata adalah Zian suami nya.Di pandangi nya lekat wajah Zian.Sungguh tak pernah Alin sangka bahwa pria sesempurna Zian mau menikahi wanita cacat seperti diri nya.Zian menyeka air mata Alin dan tersenyum lembut.
"Ada kabar gembira."Ujar ibu Alin yang baru saja masuk ke dalam ruangan,setelah di panggil Dokter tadi.
"Ada apa bu?"tanya Zian menoleh.
"kalian akan segera menggendong Bayi.Alin hamil"ucap Ibu Alin dengan penuh haru dan bahagia.
Senyum semua keluarga mengembang.Zian memeluk Alin erat.
"Terima kasih sayang....".
***
Nicolas memulai bisnis nya di kota itu,setelah perusahaan nya di gadaikan untuk modal.Nicolas tidak ingin jauh dari putra nya yang kian tumbuh besar.
Reno yang mengetahui apa hubungan Nicolas dan Bian,awal nya marah dan tidak terima.Tapi lama kelamaan,Nicolas mampu meyakin kan Reno bahwa ia akan bertanggung jawab atas semua kebutuhan Bian.Reno pun luluh,karena memang ekonomi Reno sekarang tidak sebaik dulu.Jadi bantuan Nicolas sangat berharga bagi nya.
***
Alin dan Zian ,juga ibu nya pergi menunaikan niat nya untuk beribadah umroh.
Kini usia kandungan Alin pun sudah memasuki tujuh bulan.
Mereka mengadakan syukuran tujuh bulanan Alin.Dan mengundang seluruh keluarga.Termasuk Nicolas yang datang bersama Reno dan Dona,juga Bian.
Saat pertemuan mereka,Alin menyambut hangat.Nicolas yang awal nya ragu,jika Alin akan mengenali nya,Telah di yakin kan oleh Reno bahwa Alin tak mungkin mengenali nya.
Saat Nicolas duduk di kursi halaman belakang,Alin membawakan secangkir teh untuk kakak tiri sekaligus Ayah dari putra nya itu.Meski pun Alin tidak mengetahui nya.
"Ini teh nya kak Nico"ucap Alin menyuguhkan secangkir teh di hadapan Nicolas.
Nicolas sedikit gugup saat menerima nya,hingga air teh hangat itu mengenai tangan Alin.Spontan Nicolas mengelap nya dengan tangan nya.
"Maaf ya..maaf"ujar Nicolas.
"iya kak tidak apa-apa."ujar Alin tak sengaja menyentuh tangan Nicolas,mencoba melepaskan nya.
Alin tertegun,ia tiba-tiba mengingat kenangan buruk masa lalu nya.
Alin menatap mata Nicolas yang coba menghindari tatapan itu.Trauma masa lalu nya masih lekat di batin Alin.Sentuhan Nicolas sama persis dengan sentuhan pria bejat yang telah menodai nya yang masih buta waktu itu.
"Kau...???"Alin meneteskan air mata nya.
"Apa ada apa Alin?"Tanya Nicolas pura-pura tidak mengerti.Padahal hati nya menjadi khawatir.
"Katakan bahwa bukan kak Nico pelaku nya?"Ucap Alin terbata.
"Maksud kamu apa?"
"kata kan kak.Aku tidak pernah melupakan kejadian itu,kejadian yang merenggut kehormatan ku."Ucap Alin.
Rasa bersalah Nicolas pun semakin memuncak.Mungkin ini waktu nya semua terbongkar.
"Maaf..maaf kan aku Alin..aku hilaf".Ucap Nicolas menyentuh kaki Alin,dan Alin mencoba menghindar.
"Kenapa kakak menghancurkan aku?kenapa kakak begitu pengecut?kau tau betapa sulit nya aku melewati masa itu?semua orang merendahkan ku.hiks..".
Ternyata Fandy berada di sana.Tanpa pikir panjang Fandy langsung menghajar Nicolas habis-habisan.Hingga babak belur.Alin mencoba untuk melerai.Meskipun Nicolas terlihat pasrah dan tidak melawan.
Zian yang juga tiba-tiba datang mencoba untuk menenangkan Fandy yang sangat emosi.
Nicolas terkulai lemas.Tapi ia masih sadar.
"Sudah lah kak fandy,aku sudah memaafkan nya,jangan biarkan putra ku menjadi Yatim".Ujar Alin.Zian mengangguk.
"Sudah lah.ini semua sudah takdir.Aku pun sudah tidak mempermasalahkan itu.biar kan Nicolas menyesali nya.Agar dia kembali ke jalan yang benar.Kita harus bisa iklhas dan lapang dada."ujar Zian lembut.
Ayah Alin hanya terdiam.
"Dad,jika kau ingin meninggalkan ku karena hal ini aku ikhlas "ucap Melinda.
"kenapa kau merahasiakan ini dari ku Mel?"Tanya Ayah Alin menahan emosi nya.
"Aku...aku terlalu takut".ujar Melinda terbata.
"Kau ternyata sama saja pengecutnya dengan putra mu..".ucap Ayah Alin lagi.Mata nya menyiratkan kemarahan yang begitu besar.
"Maaf kan aku Dad."ucap Melinda terisak.
"Bersiap lah menerima surat cerai dari ku"ucap Ayah Alin.Lalu ia melangkah pergi.Melinda masih terisak.Ibu Alin mencoba menenangkan nya.
"Tenang lah...Mel"ucap ibu Alin.
"Maaf kan aku...mungkin ini karma bagi ku karena telah merusak kebahagiaan kalian hiks..".
Seminggu kemudian,Ayah Alin datang ke rumah Alin.Ia membawa sebuah koper besar.Beliau telah resmi berpisah dari Melinda.Tak ada yang bisa membujuk nya,ini sudah keputusan yang tak bisa di rubah lagi.Kekecewaan nya sudah berada di ubun-ubun.Kekacauan yang di buat Nicolas tak dapat di maaf kan nya.
Akhirnya ibu Alin menerima lagi kepulangan suami nya dengan lapang dada.Dia telah melupakan semua hal buruk yang pernah menimpa keluarga mereka.
Waktu nya Alin melahirkan.Semua sibuk dengan segala persiapan.Alin sudah berada di ruang bersalin.Ia selalu berdzikir,dan berdoa agar persalinan kedua nya itu berjalan lancar.Kini ia melahirkan dengan di temani sang suami tercinta.Yang selalu siaga menjaga dan menemani Alin.Tidak seperti saat melahirkan Bian,hanya ada sang ibu yang menemani nya.
Proses melahirkan yang sangat menegangkan itu di lalui oleh Alin dengan tabah.Rasa sakit nya sebagai pengugur segala dosa yang mungkin telah di lakukan nya.
Alin melahirkan sepasang bayi kembar laki-laki.Zian menghadiahi banyak kecupan di pipi Alin.Dia sangat bahagia,meski saat prosesi persalinan Zian terlihat menangis tak henti-henti.Dan terus mengecup wajah Alin.
Zian mengumandangkan Adzan di relingan kanan kedua putra nya.Dengan perasaan bahagia.
Alin tersenyum bahagia.kini kegelapan nya telah sirna dan Allah telah gantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa.Buah dari kesabaran dan keikhlasan Alin.
Selesai.