Kampung Jurnatan, Semarang 1943
Raden Roro Suciati termenung dalam pemikirannya pasca lulus dari sekolah dasar, betapa jiwa mudanya sangat ingin maju dan berniat bisa berbuat sesuatu bagi negerinya. Ia ingat Kartini yang begitu cerdas dan mampu menjadi pendidik bagi perempuan-perempuan di masanya.
Umurnya baru tiga belas tahun, dan dorongan itu semakin kuat saat Jepang, melalui ayahnya, mengajaknya untuk ikut serta dalam program pemerintah pendudukan Jepang yang disebut Sendenbu. Program itu menawarkan masa depan nan cerah bagi para perempuan pribumi muda untuk melanjutkan sekolah di Tokyo dan Shonanto (Singapura), kemudian sekembalinya dari sekolah itu mereka akan dipekerjakan dengan posisi yang baik.
“Bagaimana Nduk Cah Ayu, kau bersedia kan pergi ke Tokyo?” tanya Raden Danuatmodjo, ayahanda Rr. Suciati yang juga seorang mantri polisi pangreh praja Semarang.
“Suci takut Pak, Suci tak punya siapa-siapa di Tokyo, dan pasti akan kangen sekali dengan Bapak dan Ibu.”
“Ora usah wedi Nduk, nanti yang berangkat ke sana banyak, anak perempuan para lurah dan putri teman-teman Bapakmu ini juga akan sama-sama berangkat ke Jepang, kalian akan jadi teman seperjalanan dan juga teman seperguruan,” bujuk Raden Danu sambil menepuk pundak Rr. Suciati hingga gadis remaja itu manut dan menyanggupi untuk dibawa serta ke Negeri Sakura bersama para tentara Jepang dengan kapal pengangkut.
Jumlah gadis remaja yang ikut tak kurang dari dua puluh lima orang, dan mereka mengenakan pakaian terbaik yang mereka punya setelah dilepas dengan mengharu-biru oleh anggota keluarga. Aura kebangsawanan dan kerupawanan yang melekat pada diri mereka tak dapat dielakkan oleh pandangan mata siapapun yang melihat, kendati hati mereka sedang kacau karena perpisahan dengan orang-orang tercinta.
Dengan diberangkatkannya para putri bangsawan itu, maka selamatlah bapak-bapak mereka dari ancaman dipecat dari posisi mereka sebagai abdi pemerintah pendudukan Jepang. Sebab Jepang tak mau sekedar basa-basi atau asal Tuan senang. Mereka menuntut keberhasilan Sendenbu dari para propagandisnya yang tak lain adalah para pejabat pribumi dan orang-orang kantor pemerintahan, dengan menjadikan mereka tauladan bagi para penduduk agar mau menyerahkan putri-putri mereka yang masih perawan ke tangan Jepang. Program yang lebih mengarah pada janji manis, saking manisnya hingga akhirnya berasa pahit.
Mereka berangkat naik kapal. Namun perjalanan itu jauh dari apa yang mereka harapkan. Ketika sudah di atas kapal, mulailah para prajurit Jepang bertindak kasar dan kurang ajar, membentak, memaksa, dan yang lebih buruk, menjamah. Satu demi satu gadis mengalami pelecehan. Dari yang sederhana seperti colekan atau remasan, makin lama makin parah. Para prajurit Jepang mulai coba-coba merangkul atau mencium gadis-gadis itu. Gadis-gadis muda itu ketakutan dan berusaha menghindar atau mengumpul agar tidak diganggu. Tapi para prajurit Jepang enak saja menarik salah satu atau beberapa di antara mereka jika ingin. Tidak ada jalan melarikan diri di tengah laut.
Para tentara Jepang itu seringkali melihat seorang gadis menangis di dalam pelayaran. Apabila sudah mendengar tangisan, mereka malah jadi lebih bernafsu untuk segera melaksanakan apa yang sudah mereka incar selama ini, apa lagi kalau bukan merenggut keperawanan para gadis malang itu. Mereka akan tarik gadis yang diincar untuk diperkosa. Biasanya gadis yang naas itu dibawa ke ruangan lain, dan setelah beberapa lama dikembalikan dalam keadaan menangis, histeris, dan acak-acakan, tidak jarang dengan pakaian robek-robek, sesudah dinodai para durjana penjajah itu.
Takagi-san, seorang prajurit Jepang, memapah seorang gadis yang sejak tadi berusaha menyeka air matanya dengan selendang yang dibawa dari rumah. Gadis itu tak lain dan tak bukan ialah Rr. Suciati dari kampung Jurnatan Semarang yang dijemput dengan montor keblak oleh Takagi-san sendiri, dan sejak penjemputan itu, sang tentara Jepang itu sudah menaruh minat padanya.
Rr. Suciati cuma bisa pasrah dalam rengkuhan kuat Takagi-san yang kini menaruhnya di permukaan tempat tidur di salah satu kabin kapal. Ia meringkuk di sudut ranjang dengan air muka bagaikan kambing akan disembelih.
Takagi-san tersenyum pada Rr. Suciati dan mendekatinya sejengkal demi sejengkal, membuat gadis itu semakin panik, selendangnya yang semakin penuh dengan air mata terlepas dari tangannya. Tanpa perasaan, Takagi meraih ke depan dan mencengkeram baju Suci. Gadis itu tak mampu berbuat apa-apa, merasa nasibnya akan sama dengan teman-temannya yang lain, yang telah diperkosa oleh tentara Jepang, yang tadinya berlagak sebagai pengawal namun di tengah pelayaran berubah menjadi serigala liar yang tanpa segan mencabik-cabik diri dan kehormatan para gadis perawan itu.
“Buka baju kamu. Atau mau kubuka sendiri?” kata Takagi.
“Jangan Tuan, kasihani saya, saya hanya ingin sekolah!” Rr. Suciati memohon kepada Takagi-san sambil berlinang air mata.
Tentara Jepang itu tak mengindahkan permohonan si gadis rupawan karena sudah terdorong oleh hasrat serigalanya yang haus akan darah perawan bangsa jajahan.
“Diam kamu! Sekarang ini tak ada lagi sekolah, kamu adalah pelayan tentara Dai Nippon seperti teman-temanmu. Dan sekarang kamu harus layani aku dengan baik!” kata Takagi-san.
Rr.Suciati semakin lemas, ia disuruh diam atau akan dipukul jika ia terus menangis dan memohon. Maka gadis itu selanjutnya hanya berusaha diam meski ia tak dapat menahan rasa sakit saat tentara itu menghancurkan harga diri dan mahkotanya yang paling berharga. Suci berteriak kesakitan tapi setiap teriakannya disambut dengan acuh oleh Takagi sampai semua keinginan prajurit Jepang itu terpenuhi.
Jiwa Rr.Suciati berubah setelah peristiwa naas itu. Tubuhnya lemah dan kewanitaannya merasakan sakit luar biasa. Sementara Takagi-san mulai melihat Suciati sebagai sosok yang berbeda. Untuk pertama kalinya sejak ia diminta untuk menjadi tentara Jepang dalam usia yang baru lewat sembilan belas tahun, Takagi-san mengambil kehormatan seorang gadis.
Sebenarnya Takagi-san bisa saja mendapatkan Rr. Suciati secara baik-baik, sebagaimana kedua orangtuanya yang menikah atas dasar cinta dan melahirkannya. Tapi pemuda itu memilih memanfaatkan posisinya untuk berbuat apa yang bisa ia lakukan, walau caranya menyakitkan bagi gadis incarannya.
“Kau tidak menangis lagi,” kata Takagi-san sambil membelai rambut Rr. Suciati yang basah oleh keringat.
“Karena saya sudah mati, orang mati tidak dapat menangis, Tuan,” ujar gadis itu dengan tatapan kosong.
“Bagaimana kau bisa bicara kalau kau sudah mati? Kau ini masih hidup, tapi hidupmu sekarang hanya untuk tentara Dai Nippon.”
“Iya, menjadi budak tentara Dai Nippon sampai mati,” Rr. Suciati mengingat teman seperjalanannya Rr. Siti Sundari dari Sompok, Semarang yang baru saja menceburkan diri ke dalam lautan pada tengah malam karena tak kuat menahan perlakuan keras yang diterimanya dari tentara Jepang yang berhasil memperkosanya.
“Tapi aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja,” kata Takagi San.
Entah apa yang merasuki jiwa tentara Jepang itu, hingga ia mulai merasakan kekhawatiran kalau-kalau gadis di hadapannya akan menyusul perbuatan temannya yang berhasil bunuh diri. Kalau itu terjadi, maka ia tak dapat lagi melihat wajah rupawan Rr. Suciati. Seraut wajah yang melambangkan kecantikan, keagungan dan kecerdasan yang tampak jelas dari caranya menatap dan berbicara, yang selama ini telah diamati dan dipelajari oleh Takagi-san. Dipeluknya Rr.Suciati erat-erat seolah gadis itu akan lenyap dalam sekejap.
**********
Kapal pun mendarat di pelabuhan di Filipina dan para gadis itu diturunkan dari kapal dengan keadaan lebih mengenaskan daripada ketika mereka diberangkatkan. Air muka mereka seperti mayat, pucat pasi dan tak ada keinginan untuk hidup. Pakaian mereka terlihat lusuh karena tak sempat dicuci dan tubuh-tubuh itu berjalan seperti pesakitan atau pekerja rodi.
Mereka disambut oleh seorang wanita Jepang yang bertugas sebagai ibu asrama, biasa dipanggil dengan sebutan Sora-san, yang berarti “langit”. Sora-san adalah sosok wanita yang ramah dan selalu memperlakukan para wanita pribumi yang ditempatkan pada asramanya itu dengan baik. Ia bertanggung jawab untuk membentuk para wanita itu sebagai para “penghibur” yang sesuai dengan keinginan tentara Jepang.
Rr. Suciati sekarang lebih sering dipanggil Sachi. Sachi tergolong wanita istimewa di kalangan tentara Jepang, dan itu diakui pula oleh Sora-san. Tubuhnya kini telah terbiasa dengan para tentara Jepang dan dia mampu membuat komandan mereka, Kanagawa, jatuh hati. Kanagawa seorang perwira yang gagah dan berkarisma, yang kini melarang semua tentara Jepang di sana menyentuh Sachi. Kanagawa memperlakukan Sachi seolah seorang istri yang tubuh dan kesetiaannya hanya boleh dinikmati oleh dirinya sendiri.
Takagi-san kini melihat Sachi sebagai sosok perempuan tercantik di antara para perempuan yang pernah ia lihat sebagai tawanan Jepang. Sora telah merombaknya, dari seorang gadis Jawa tanpa jiwa menjadi gadis pesta dengan penampilan paling memukau. Telah lama gadis itu meninggalkan kebaya, dan menggantinya dengan kimono atau pakaian-pakaian indah pemberian Kanagawa.
Ia diajari menyanyikan lagu bersyair Jepang, menari, dan cara-cara melayani Kanagawa sesuai keinginannya oleh Sora yang mendidiknya dengan sabar dan telaten. Wajah Jawanya pun tenggelam dalam riasan bedak putih dengan dandanan ala geisha yang agak berlebihan namun mengandung kecantikan yang tak terbantahkan. Kulitnya yang memang berwarna cerah sejak awal cukup mendukung penampilannya. Rr. Suciati memang benar-benar telah mati, kini yang bersemayam dalam tubuhnya adalah seorang Sachi.
Suatu hari Takagi-san bertemu Sachi di sebuah bar. Saat itu Kanagawa sedang pergi ke Tokyo, sehingga Sachi leluasa bepergian seorang diri sambil minum bir dan mendengarkan musik.
Wanita itu sedang tidak mengenakan kimono, melainkan gaun gaya barat dengan riasan wajah cukup tebal, membuat orang agak kesulitan mengenalinya sebagai perempuan Jawa. Saat meminum bir, Sachi mengenang saat ketika Kanagawa membawanya ke tempat itu dan memintanya meneguk bir untuk pertama kali. Ia merasakan kepalanya pusing dan pandangannya berputar-putar, namun lama-lama ia terbiasa, seperti meminum segelas sirup biasa.
“Sachi-san….” kata Takagi San sambil memberanikan diri; bagaimanapun juga Sachi adalah wanita peliharaan komandannya.
Sachi memandang wajah Takagi San dengan muka tanpa ekspresi, seolah mereka belum pernah bertemu.
“Sachi-san, sejak malam pertama kita di kapal itu, aku selalu memikirkanmu.”
Sachi tersenyum dengan makna yang sulit diterjemahkan, sama seperti bagaimana Takagi-san sulit menerima kenyataan bahwa gadis pujaannya itu memilih untuk tinggal bersama komandannya dan menolak tinggal di asrama, menolak pertemuan-pertemuan dengan dirinya.
“Sudah kubilang, aku benci padamu. Aku tidak mau melihatmu lagi, Takagi-san,” kata Sachi dengan wajah agak serius, kemudian dia segera mengalihkan pandangannya pada gelas di hadapannya, menenggak habis isinya.
“Katakan, apakah kau benar-benar menyukai Kanagawa?”
“Kau sendiri yang katakan, hidupku hanya untuk tentara Dai Nippon. Tak usah pedulikan perasaanku, seperti bagaimana dulu kau tak mau mendengar jerit dan tangisku. Sekarang aku mengabdi kepada Kanagawa, bukankah memang itu sudah menjadi tugasku?” ujar Sachi dengan nada datar.
“Aku tahu, dulu aku yang membuatmu koyak. Tapi aku ingin menawarkan diri menjadi penyelamatmu seandainya kau memang tidak menyukai Kanagawa dan bersedia menjadi milikku seorang.”
“Bukankah kau sama saja dengan dia, sama-sama tentara Dai Nippon? Jadi apa bedanya antara kau dan dia? Apakah itu yang kau namakan menyelamatakanku?” Sachi balik bertanya.
“Aku akan berhenti menjadi tentara Dai Nippon jika itu adalah penghalang bagiku untuk memperoleh kepercayaan dan hatimu.”
“Umi yukaba mizu ku kabana
Yama yukaba kusa musuu kabana
Oo kimi no hen ni koso shiname
Kaeri mi wa sezu”
“Bila pergi ke laut, sosok pahlawan terbenam dalam air
Pergi ke gunung, sosok pahlawan terkubur, menjadi rumput yang berkembang biak
Mati untuk kaisar
Dan tidak berpaling menengok ke belakang”
Sachi menyanyikan lagu perjuangan tentara Jepang di hadapan Takagi-san, lagu yang biasa mereka nyanyikan saat latihan baris-berbaris.
“Kalau kau berhenti menjadi tentara Dai Nippon, berarti kau melawan kaisar. Sudah siap dengan akibatnya?” tanya Sachi menantang nyali.
“Aku bahkan siap mati untukmu,” jawab Takagi San tanpa keraguan sedikit pun.
“Akan aku pikirkan tawaranmu itu” kata Sachi, kemudian dia membayar apa saja yang diminumnya dan berjalan keluar bar dengan kepala yang dipenuhi banyak perkara.
***********
Kanagawa telah kembali dari Tokyo dengan membawa kerinduannya kepada Sachi. Wanita itu telah duduk menunggunya sedari sore dan baru dapat bertemu dengan Kanagawa pada pukul delapan malam waktu Filipina.
“Kubawakan kimono baru untukmu,” Kanagawa menyerahkan kotak berisi selembar kimono berwarna hitam dengan sulaman bunga suzuran yang bertebaran pada permukaannya. Sachi terlihat senang dan segera meminta Kanagawa memakaikan kimono itu kepadanya.
“Indah sekali, Kanagawa-san.”
“Entah mengapa kau selalu cocok memakai kimono-kimono yang kuberikan. Sekarang kau miliku, dan selamanya akan menjadi miliku,” Kanagawa merengkuh kepala Sachi ke dadanya.
Lelaki bertubuh kokoh seperti kayu itu selalu merasa seperti lilin yang meleleh jika berhadapan dengan Sachi, wanita yang kini mengisi hatinya. Ia nyaris melupakan keberadaan anak dan istrinya yang selalu bangga dengan posisinya sebagai komandan perang dengan jasa yang besar terhadap negerinya.
Berada dalam posisi itu untuk sekian lama cukup menyiksa hati Kanagawa. Ia bukan tipe lelaki yang gampang tertarik dengan perempuan tawanan atau hasil ambil paksa dari negara jajahan. Jika ia telah menyukai seorang wanita, maka itu benar-benar datang dari hatinya yang paling dalam, dan selamanya tak ingin ia lepaskan. Perasaan yang tak pernah ia berikan kepada istrinya lantaran mereka menikah karena dijodohkan.
Sejak bertemu dengan Sachi di asramanya ketika melakukan kunjungan, perasaan tersiksa itu tiba-tiba hilang. Sachi yang memandangnya tanpa rasa takut, dan berbicara kepadanya dengan bahasa Jepang yang fasih, hasil ajaran Sora-san. Yang pada kesempatan tertentu diminta untuk menghiburnya sebagai Geisha setelah dipoles habis-habisan. Suaranya yang merdu, gerak tarinya yang gemulai memancarkan kecantikan yang utuh.
Kanagawa memberikan seluruh hatinya pada Sachi, yang disambut dengan kepatuhan gadis itu kepadanya. Ia yakin gadis itu pun tak ingin pergi darinya, tak berpikir untuk melarikan diri seperti beberapa temannya yang berhasil meloloskan diri dari asrama setelah mampu meyakinkan orang di sana untuk membantu melarikan diri.
Tetapi suasana rumah dinas Kanagawa saat itu sepi. Seharusnya Sachi menunggunya pulang dengan wajah tersenyum untuk selanjutnya beristirahat bersama. Perasaan Kanagawa berubah menjadi kalang kabut. Ia mengira Sachi hilang, lalu ia mengerahkan bawahannya untuk mencari wanita itu di seluruh pelosok Filipina.
Seorang tentara Jepang bawahan Kanagawa melihat Sachi dan Takagi-san di depan sebuah rumah penginapan. Tanpa menunggu lagi, tentara itu segera melakukan pengejaran terhadap mereka berdua. Takagi-san memakai kemeja putih, melepaskan seluruh seragam ketentaraannya untuk ditukar dengan kepercayaan Sachi.
“Kita harus berlari sejauh mungkin dari tentara Dai Nippon!” seru Takagi San sambil menggandeng tangan Sachi erat-erat.
“Aku lelah Takagi-san, kita akhiri saja semua sampai di sini!” jawab Sachi.
Wajah Takagi berubah, ia terkejut melihat Sachi menyerah begitu cepat setelah mencoba berlari sejauh-jauhnya, nafasnya terbata-bata. Seolah Sachi sudah pasrah atas nasib yang akan menimpa dirinya jika tertangkap oleh bawahan Kanagawa.
“Kau tidak boleh menyerah Sachi-san. Tidakah kau ingin bertemu dengan sanak keluargamu di Semarang? Aku bisa mengirimmu ke sana.”
“Tidak, sungguhpun aku rindu pada keluargaku, tapi aku tak sampai hati melihat mereka mendapatiku dalam keadaan seperti ini, yang telah rusak dan kotor” Sachi menundukkan kepala, demi menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak meluncur ke bawah.
“Kau tidak perlu menanggung apa-apa, akulah yang bertanggung jawab atas apa yang kau alami. Sekarang kau tak perlu merisaukan masa depan, ada aku di sisimu.”
Tiba-tiba beberapa orang tentara Jepang muncul dan meringkus Takagi dari belakang. Bersama mereka terdapat Kanagawa yang menatap seolah tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Wanita kesayangannya telah lari meninggalkan rumah yang menjamin segala keperluan dan memenuhi setiap keinginannya selama ini bersama dengan bawahannya yang masih begitu muda.
“Kenapa kau lakukan ini, Sachi?” Kanagawa bertanya.
“Maafkan aku yang tidak bisa membalas cintamu, Kanagawa-san” jawab Sachi terbata-bata.
“Tapi aku merasa selama ini kau begitu memperhatikan dan mencintaiku!”
“Itu bukan diriku yang sebenarnya... sejak awal telah kukatakan kepada Takagi-san bahwa aku telah mati sejak dalam pelayaran menuju Filipina, tapi Takagi-san tidak percaya kepadaku!” Pandangan Sachi menjadi kosong, ia menangis sejenak tapi tiba-tiba tertawa seperti tingkah orang yang kurang waras.
Takagi pun terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat, wanita itu berkata-kata seperti orang yang kehilangan akal dan jiwanya. Dan ia kini dalam posisi berkhianat kepada negara, melanggar sumpah untuk tidak pernah menengok ke belakang dan mati untuk kaisar.
“Sachi-san, sadarlah!” Teriak Takagi dalam ringkusan dua tentara dengan ekspresi tanpa perasaan.
Kanagawa mengeluarkan pedang samurai dari sarungnya yang sejak tadi menggantung di sabuk seragam dinasnya. Ia hunuskan samurai itu ke leher Takagi setelah Takagi diposisikan seperti orang yang hendak dihukum pancung. Namun pemuda itu tak merasa takut sedikit pun kendati nyawanya sudah di ujung tanduk.
Saat itu bukan hanya saat paling mendebarkan bagi Takagi, melainkan juga saat paling menyedihkan dalam hidupnya. Wanita yang diinginkannya, wanita yang selalu mengusik pikirannya dan ia jumpai dalam mimpi-mimpinya, sudah pasti tak bisa ia peroleh. Nyawanya pun jadi tak berarti, sebab ia akan mati sebagai orang yang mundur dalam masa perang. Ingin rasanya setelah mati, kabar tentang dirinya tak akan didengar oleh keluarga, atau mayatnya tak perlu mereka ketahui keberadaannya. Tetapi takdir menjelang akhir hayatnya sudah dekat .
"Sachi-san, aku mencintaimu!" Hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari bibirnya, kemudian ia memejamkan mata dan memasrahkan diri kepada Dewa Maut yang dalam dunia nyata tugasnya diwakili oleh Kanagawa. Sachi melihat Takagi tanpa berperasaan, ia berdiri di samping Kanagawa seolah ia selalu menjadi pendamping setia bagi orang yang selama ini memeliharanya. Seperti anjing yang setia kepada sang majikan.
“Tak ada ampun bagi pengkhianat!” seru Kanagawa dengan suara menggelegar. Kemudian ia angkat samurai yang dipegangnya tinggi-tinggi di udara seperti algojo yang hendak menunaikan tugasnya, dan dalam sekali ayunan, terpisahlah kepala Takagi-san dari batang lehernya. Darah Takagi membanjiri jalan sempit dalam sebuah lorong gang rumah penduduk yang tampak sepi.
Air mata Kanagawa mengalir, ia menangis sejadi-jadinya melihat Sachi dengan tingkahnya yang kurang waras. Gadis itu masih saja tertawa-tawa, seolah tak mengerti atas peristiwa pemancungan yang baru saja ia saksikan. Kemudian Kanagawa menyeka air matanya dengan sehelai sapu tangan dan memberi perintah pada kedua anak buahnya.
“Singkirkan mayat ini!"
Kanagawa merangkul pinggang Sachi yang kini tersenyum-senyum memandang Kanagawa yang usai melakukan pembunuhan terhadap Takagi San. Sachi balas merangkul pinggang Kanagawa tanpa memikirkan sesuatu pun di kepalanya.
“Nah, saatnya pulang sayang. Pertunjukan sudah selesai,” bisik Kanagawa ke telinga Sachi.
“Ke mana saja kau? Aku menunggumu sejak tadi siang. Lain kali kau tidak boleh pergi terlalu lama ya, Sayang… hahahahha....” Sachi tertawa, diikuti dengan tawa Kanagawa yang membahana.
Kemudian mereka sama-sama menyanyikan lagu Aikoku no hana yang sudah sangat mereka kenal dan sering dinyanyikan bersama.
“ Masshiroku Fuji no kedakasa wo
Kokoro no tsuyoi tate toshite
Mikuni ni tsukusu o mina rawa
Kagayaku miyo no yama sakura
Shini saki niou kuni no hana”
“ Lihat kemegahan yang agung gunung Fuji
Berdandan salju putih
Bagai perisai penopang semangat juang bangsa
Bunga sakura tumbuh di gunung, mekar menghiasi zaman
Inilah bunga negeri, harum semerbak mewangi bumi persada”
Catatan:
Montor keblak: sepeda motor dengan jok di samping.