Judul : Egois
"Kamu bisa gak, sekali aja diem di rumah. Ngurus anak, masakin aku makanan yang enak. Tanpa harus ribut-ribut kayak gini melulu?" Mas Alvin berkata. Lagi-lagi topik ini yang ia bawa ke permukaan. Aku menghembuskan napas pelan. Pizza yang ada di tanganku, kusimpan di atas meja makan.
"Mas.." Aku bergumam. Menatapnya, dan mengedarkan pandangan supaya anakku tak mendengar pertengkaran ini. Akan menjadi salah satu hal yang berbahaya jika anak-anak mendengar pertengkaran antara kedua orangtuanya. Dan, aku tidak menginginkan hal itu.
Kuakui, sebagai seorang Ibu, aku bukanlah Ibu yang baik. Tuntutan pekerjaan pekerjaan menjadi seorang pembawa berita di salah satu stasiun tv, membuat sebagian waktuku banyak dihabiskan di kantor. Meski begitu, Shofia senang kok setiap kali aku tampil di tv.
Jadi apa yang salah dari semua ini?
"Aku itu istri kamu, Mas. Aku bukan pembantu yang kerjaannya cuman ngurus rumah, anak dan suami. Aku juga pengen kerja. Bukannya sebelum nikah kita udah sepakat soal ini? Kenapa harus dipermasalahin lagi sekarang?" aku menjelaskan dengan nada suara rendah. Bagaimana pun, aku benci dengan pertengkaran, saling tuduh, membela diri, dan akhirnya keputusan apa pun yang diambil ketika emosi itu hanya akan menjebloskanmu pada jurang penyesalan.
"Tapi kamu gak mikirin nasib anak kita, Ra. Setiap hari makanan yang kamu bawa itu gak sehat. Gak ada vitaminnya, kasihan dia. Dia lagi ada di masa pertumbuhan-"
"Apa kamu juga gak ngerasa kasian sama aku?" aku memotong ucapannya. Hening selama beberapa detik. "Karir aku lagi bagus, Mas. Orang-orang ramai menjadikan aku pembicaraan karena aku mampu menjadi seorang pemberita yang baik. Tapi, kenapa kamu--orang yang aku percaya menjadi salah satu semangat dalam hidupku, malah mengatakan ini? Kenapa, Mas?"
Mas Alvin tampak mengusap rambutnya yang ikal. "Ra, sebenernya apa tujuan kamu kerja? Apa gajih aku selama ini gak cukup buat kita makan, sekolah anak, dan sedekah?"
"Bukan gitu, Mas. Tapi aku-"
"Pengen diliat orang lain." Kini giliran Mas Alvin yang memotong ucapanku. Rasanya sakit sekali ketika ia mengatakan hal itu. Seolah kerja kerasku hanya diartikan untuk pujian belaka.
Apa ia kira aku haus dengan pujian?
"Mas, aku pengen yang terbaik buat anak kita. Selama ini, aku banting tulang buat nyelesaiin kuliahku sendiri karena latar belakang keluarga yang gak mampu. Rasa sakit itu cukup aku yang rasain, anak kita-"
"Ma, Pa." ucapanku terhenti ketika Shofia datang. Ia memeluk tubuhku, usianya masih 10 tahun.
"Iya sayang?" aku berakting, nada suaraku berubah dengan cepat.
"Aku laper," aku tersenyum, mengajaknya untuk duduk di kursi dan menyodorkan pizza untuknya. "Mama gak masak nasi?" tiba-tiba pertanyaan yang dilayangkannya membuat senyumanku berubah kaku. Aku terdiam. Suasana menjadi hening.
"Kamu mau makan apa sayang? Gimana kalau malem ini kita makan di luar?"
***
Malamnya, Mas Alvin tidak tidur di kamar. Lelaki itu memilih untuk tidur bersama Shofia. Dan, aku merasa sangat bersalah.
Pada pagi harinya, aku memutuskan untuk tidak lagi memesan makanan lewat online. Aku memasak nasi sendiri, dan memasak sayur yang ada di kulkas seadannya.
Harus kuakui bahwa rasa masakku, agak aneh. Namun, Mas Alvin dan Shofia terlihat senang dengan apa yang aku lakukan.
Pada detik ketika melihat senyumanya, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Tentang waktu. Mas Alvin benar. Semakin hari Shofia semakin beranjak dewasa dan mungkin nanti aku tidak akan benar-benar tahu bagaimana mengurus anak dengan baik.
***
"Mas.."
"Aku gak ngelarang kamu kerja, Ra. Tapi, kamu harus inget sama suami dan anak kamu. Bukankah itu sudah menjadi kewajiban seorang istri? Dan, seorang suami untuk mencari nafkah." Mas Alvin menjeda ucapannya. Tangannya sudah bergerak membuka pintu mobil. Namun, belum juga masuk ke dalam pintu mobil. Kemudian hal yang mengejutkan tiba-tiba terjadi. Ia mencium keningku dan memelukku. "Maaf kalau perkataan aku terlalu keras. Aku bukan manusia sempurna, emosi emang membuatku gak bisa berpikir jernih."
Setelah ia melepaskan pelukannya, aku tersenyum. Mas Alvin tak salah. Mungkin, esok lusa aku akan lebih baik. Sejatinya, tak hanya tentang Mas Alvin, dan Shofia yang ia cemaskan. Melainkan tentang diriku juga.
"Aku berangkat, Ra. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Aku melambaikan tangan.
***
Studio tempatku membawa berita itu, seolah menjadi rumah sendiri yang terlampau sering kukunjungi. Di dalamnya banyak sekali kenangan yang tercipta, dari sedih, senang, dan kecewa. Semuanya bercampur aduk menjadi kenangan yang tak mudah untuk dilupakan.
Mungkin, esok lusa--hingga akhirnya keputusan sudsh bulat--aku akan mengundurkan diri. Aku tahu, ini mungkin akan terkesan terpaksa bagiku. Namun, apa yang lebih penting dari apa keluarga?
Waktu tak bisa terulang kembali. Mungkin, cita-citaku sebagai pembawa berita harus berakhir sampai di sini. Lagipula, masih ada cita-citaku yang lainnya. Seperti menjadi seorang penulis misalnya..
Omong-omong soal penulis, aku belum berani untuk terjun ke dalamnya. Aku masih kurang percaya diri soal itu. Yang paling penting, aku bisa melakukannya di rumah.
Bermain bersama Shofia dan Mas Alvin adalah hal yang langka.
"Hai, Jod!" aku berseru, menyapa rekan kerjaku sesama pembawa berita. Ia hanya mengangkat salah satu tanggannya, menanggapi seruanku. Kemudian duduk di samping kursiku.
Terlihat waktu 5 menit lagi, sebelum berita dimulai. Aku menunggunya dengan sabar, sebelum akhirnya seorang wartawan menerobos masuk. Kebingungan pun termasuk.
"Ra, suami dan anakmu kecelakaan." Ucapannya membuatku terjatuh pada luka yang amat mendalam. Air mataku jatuh tanpa sempat kubendung. Seluruh tubuhku langsung bergetar.
"Gimana keadaannya sekarang?" bukan aku yang bertanya. Melainkan Jodi.
"Keduanya meninggal di tempat kejadian," ucapannya berlanjut. Namun, aku memilih untuk tidak mendengarkan. Aku menutup kedua mataku, sebelum akhirnya terisak dan tubuhku merosot ke bawah.
Aku.. Tidak dapat menduga semua ini akan terjadi.
Kenangan demi kenangan memunuh otakku, membuat dadaku terasa sesak. Aku ingin, saat kali pertama mengatakan bahwa aku ditunjuk untuk menjadi seorang pembawa berita, dan Mas Alvin tersenyum ke arahku, ia mengusap kepalaku pelan.
"Jadilah, pembawa berita yang baik." Yang kemudian kalimatnya menjadi penyemangat ketika lelah.
Studio hening.
Terlihat waktu 2 menit sebelum acara berita itu berlangsung, seharusnya semuanya sudah bersiap. Namun, karena aku bisa saja acara ini akan berakhir memalukan.
Aku mendonggak, kuserka air mataku dengan kasar.
"Ayo kita bersiap!" berseru tertahan, kembali bangkit diantara tatapan-tatapan yang tak bisa kujelaskan.
Aku akan menjadi pembawa berita yang baik.
TAMAT