Candi, Semarang, 1916
Pembantu wanita itu bernama Rahmi. Baru sebulan ia didatangkan dari Sragen. Enam belas tahun umurnya, usia yang dipandang pantas untuk memulai pekerjaan sebagai pembantu wanita pada salah satu rumah keluarga Belanda di kota besar. Rahmi seorang babu cuci, tugasnya mencuci pakaian para majikan.
Nyonya De Hammer adalah majikan yang baik menurut pandangan Rahmi. Belakangan Rahmi disebut-sebut sebagai pembantu kesayangan sang Nyonya Besar.
“Berdirilah, tinggalkan pekerjaanmu, mulai sekarang kau sudah digantikan oleh orang lain,” kata Ny. De Hammer suatu hari. Rahmi terkejut mendengar perintah majikannya yang aneh.
“Kau tahu, kami menyayangimu, dan menganggapmu layaknya anak kami sendiri,” kata Ny. De Hammer diikuti anggukan sepaham suaminya. Rahmi memandang wajah kedua majikannya itu dengan perasaan berbahagia.
“Sudah saatnya Eduard mempunyai seorang nyai, dan kami telah memutuskan kaulah yang akan menjadi nyai bagi anak kami itu,” Kata Tn. De Hammer.
Seketika saja air muka Rahmi berubah, ketegangan segera muncul, berganti menjadi kekhawatiran, kemudian ketakutan.
“Jangan tolak permintaan kami. Bisakah kau bayangkan keluargamu di desa kami berikan sebuah rumah yang besar lagi bagus, sebidang tanah yang luas untuk bercocok tanam? Mereka akan hidup jauh lebih layak dari sekarang, orangtuamu tak usah menjadi buruh tani dengan upah sangat rendah. Kau sendiri akan hidup seperti seorang nyonya muda, apapun yang kau inginkan akan kau peroleh dengan mudah,” kata Ny. De Hammer.
Melihat keluarganya dalam keadaan makmur dan berbahagia adalah impian Rahmi sejak kecil, impian seseorang yang tiap harinya disuguhi pemandangan tak menyenangkan berupa orang tuanya yang bersusah payah membanting tulang di bawah terik matahari. Merayap di sawah tuan tanah yang dengan tega memeras keringat rakyat kecil, ditukar dengan upah yang sangat rendah, hingga tubuh keduanya tinggal tulang berbalut kulit.
Sementara tiga orang adiknya bertahan hidup dengan mengandalkan singkong dan ubi sebagai makanan pokok, tanpa lauk-pauk, tubuh mereka tak dapat berkembang seperti anak lain dengan makanan lebih baik.
Namun, menjadi nyai bagi Eduard ibarat pil pahit yang harus ditelan Rahmi. Semua penghuni di rumah itu tahu bahwa Eduard adalah seorang pemuda tidak waras yang sehari-hari tak pernah beranjak dari kamarnya. Rahmi sendiri tak pernah melihat dengan jelas bagaimana rupa majikan mudanya yang sinting itu, namun membayangkan menjadi gundik bagi orang yang tidak waras adalah hal yang sangat mengerikan bagi seorang gadis usia enam belas yang belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan seorang lelaki.
Aku akan berkorban, nyawapun akan kupertaruhkan demi kebahagiaan keluargaku, pikir Rahmi. Lantas ia memutuskan untuk menerima tawaran yang diberikan kepadanya, walau dengan berat hati.
**********
Tn. dan Ny. De Hammer menepati janji mereka. Keluarga Rahmi jadi dapat hidup lebih layak dibanding para tetangganya di kampung. Tubuh kedua orangtuanya jadi lebih subur, adik-adiknya tumbuh lebih besar dan kuat dari sebelumnya, sedang penghasilan yang didapat dari mengolah tanah sendiri juga memuaskan.
Rahmi mengingat hari pertama ia dipertemukan dengan Eduard. Saat itu malam hari, ia memasuki sendiri kamar suaminya setelah diperintahkan oleh Ny. De Hammer. Lampu dalam kamar itu selalu padam, hingga ia tak bisa melihat wajah suaminya. Rahmi harus berbaring di samping Eduard. Ketika itu Eduard telah tidur dengan nyenyak dan tak menyadari kehadiran nyainya.
Keesokan paginya, seperti biasa Rahmi sudah terbangun pada pukul empat subuh, namun kali ini ia tak perlu bergegas ke ruang belakang untuk mencuci, sehingga ia bisa melanjutkan tidurnya. Saat hari sudah cukup terang barulah ia dapat melihat bagaimana rupa suaminya.
“Betapa bagusnya rupa lelaki ini!” Rahmi hampir tak dapat mempercayai pemandangan di hadapannya. Ia baru saja melihat wajah yang tak pernah terbersit dalam pikirannya. Tak pernah ia lihat wajah lain yang serupa. Wajah Eduard putih, hidungnya mancung, bibirnya merah, rambutnya sekilas seperti hitam, tetapi jika terkena sinar jelas terlihat bahwa warna aslinya adalah coklat. Saat ia membuka mata, tampaklah warna biru tua seperti warna lautan pada bola matanya.
“Siapa kau?” tanya Eduard.
“Saya Rahmi. Marilah kita keluar kamar dan sarapan bersama orangtua Tuan di ruang makan.”
“Kau tahu kenapa aku tak mau keluar dari kamar ini? Sekarang sedang perang, apa kau tak dengar suara pesawat-pesawat tempur melayang-layang di udara? Aku sendiri melihat pesawat baru saja melintas di atas atap!”
Eduard berhalusinasi sejak kepergiannya ke Warsawa, Polandia setahun yang lalu, tepat pada saat negara itu terlibat perang. Demi memenuhi anjuran psikiater agar ia dirawat di tempat yang lebih tenang, maka dibawalah ia ke Hindia Belanda, karena kondisi keamanan di Eropa sedang genting akibat Perang Dunia.
“Saya tidak dengar apa-apa, tidak pula melihat ada pesawat melintas,” ujar Rahmi.
“Kalau begitu kau perlu memeriksakan telinga dan matamu, karena sudah tak lagi berfungsi dengan benar. Aku tak mau keluar, bawakan saja makanan itu kemari.”
Hari-hari berlalu. Pekerjaan Rahmi ternyata seperti perawat rumah sakit jiwa, mengurusi Eduard yang tak wajar tingkahnya. Namun kadang ia dapat tertawa apabila Eduard menceritakan halusinasi yang tak masuk akal. Sampai-sampai Rahmi berpikir ia bisa saja ikut gila seperti suaminya karena harus meladeni percakapan tak masuk akal demi menyenangkan Eduard.
“Apa kau pernah melihat ada kucing bisa bicara?” tanya Eduard.
“Ya, tentunya dengan bahasa kucing,” jawab Rahmi sekenanya.
“Tidak, kucing ini berbahasa seperti manusia, aku melihatnya kemarin di bawah kolong tempat tidur!”
“Apa yang dikatakannya?”
“Dia bilang nyaiku cantik.” Rahmi tersipu malu mendengarnya.
Seiring waktu berjalan, Eduard menjadi lebih sering tampak berbahagia. Ia juga sudah tak takut lagi keluar dari kamar, bahkan keluar dari rumah. Ia berkata perang telah usai, dan tak lagi mendengar atau melihat pesawat melintas. Perilaku Eduard juga kian berubah, hingga suatu hari ia dinyatakan sembuh dari penyakit yang dideritanya.
“Tentu Tuan lebih merasa senang sekarang, karena tak lagi terganggu oleh halusinasi aneh, termasuk seekor kucing yang dapat berbicara dan mengatakan kalau Tuan memiliki nyai yang cantik,” kata Rahmi kepada Eduard sesudah suaminya itu dinyatakan sembuh.
“Soal kucing itu? Sesungguhnya aku tak pernah benar-benar melihatnya. Aku hanya merasa tidak percaya diri atas apa yang ingin kusampaikan padamu pada saat itu,” kata Eduard sambil menatap Rahmi dengan pandangan lembut. Rahmi tertunduk malu.
“Tuan…”
“Jangan panggil Tuan, panggil aku Eduard.” Lantas ia mendekatkan bibirnya pada bibir Rahmi dan mencium gadis itu dengan penuh kasih sayang.
“Tuan tak pernah mencium saya seperti ini...” kata Rahmi tersipu.
“Kenapa menyebut Tuan lagi? Aku ingin melakukan ini sejak dulu, tetapi entah mengapa aku tak pernah merasa sanggup.”
“Ya, saya pun sering berpikir bahwa Tuan tak ubahnya seorang yang waras.”
“Sebelum kedatanganmu, semua terasa sangat buruk. Tetapi semua itu berangsur-angsur membaik setelah kedatanganmu. Kaulah obat penyembuh itu.”
“Saya akan selalu merawat Tuan, dalam keadaan apapun,” Rahmi berjanji.
Selanjutnya kehidupan pergundikan itu berjalan dengan amat membahagiakan, Eduard memiliki sifat yang baik, juga sangat menghargai Rahmi. Tetapi kebahagiaan itu tidaklah berlangsung lama setelah kedatangan Jane Weitzel, perempuan muda berdarah Belanda murni asal Den Haag yang baru saja datang ke Semarang. Untuk ukuran gadis Eropa, wajahnya tergolong cantik, dan dia juga memiliki selera berbusana yang amat baik.
“Ambil uang ini. 100 gulden cukup banyak untuk membiayai hidupmu di kampung,“ kata Ny. De Hammer kepada Rahmi.
“Izinkan saya tetap hidup bersama Eduard, Nyonya…” Rahmi memohon dengan berurai air mata.
“Aku sangat berterima kasih atas apa yang sudah kau lakukan, tetapi untuk lelaki Eropa seperti Eduard, menikah dengan perempuan Belanda totok adalah idaman. Biarkanlah ia hidup seperti kawan-kawannya dalam pernikahan yang layak.”
“Tapi Nyonya….”
“Jangan membantahku lagi, jodohmu dengan Eduard telah berakhir. Aku ingin kau segera berkemas dan pergi dari rumah ini sebelum fajar!”
Dengan membawa perasaan pedih tak terperi, pergilah Rahmi dari rumah keluarga De Hammer. Ia mengemasi barangnya saat Eduard tertidur lelap. Tanpa dapat menuntut apapun, karena tak ada hukum di Hindia Belanda yang berpihak kepada seorang wanita pribumi tanpa ikatan perkawinan yang sah secara hukum.
“Selamat tinggal Tuanku tersayang...” ujar Rahmi lirih saat terakhir kali melihat wajah Eduard yang harus segera ia tinggalkan.
Sepeninggal Rahmi, Eduard kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya. Kehadiran Jane tak mampu mengembalikan kebahagiaannya yang telah terenggut. Ny. De Hammer memfitnah Rahmi sebagai perempuan yang tak tahu diri karena pergi dari rumah tanpa pamit, agar Eduard membencinya. Namun Eduard tetap mencintai Rahmi yang telah menjadi belahan jiwanya. Eduard menolak menjadikan Jane Weitzel sebagai istrinya. Dan ia kembali mengurung diri di dalam kamar.
Ny. De Hammer mendatangi Eduard. Pemuda itu sedang berada di kamarnya sambil memandang langit dari jendela.
“Apa yang sesungguhnya terjadi padamu, Eduard?” Tanya Ny. De Hammer.
“Tidakkah Mama melihat Rahmi sedang berada di sampingku? Ia sudah minta maaf dan berjanji untuk tak lagi pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Dan aku menerima permintaan maafnya.”
Serta-merta tubuh Ny. De Hammer lemas, ia terjatuh pingsan di hadapan putranya sendiri, yang seolah melihat Rahmi. Wanita yang sebenarnya tak pernah kembali, karena Rahmi ketika itu telah meninggal akibat keguguran. Tn. De Hammer sendiri yang mencari kabar mengenai perempuan itu di Sragen.
Dada Tn. De Hammer mendadak sesak, ia merasa harapannya musnah. Masa depannya suram tanpa penerus keturunan. Sedangkan Eduard tak pernah sembuh dan tak mau menikah dengan siapapun kecuali Rahmi, belahan jiwanya yang terkubur di dalam tanah.
*****
Candra Dewi D.P.