Namaku Revan Aditia seorang pebisnis sukses dikotaku. Aku seorang laki laki yang bekerja keras dan pantang menyerah membuatku sampai dititik teratas ini. Aku hanya tinggal bersama Ibuk, beliau seorang single parent sedari aku masih kecil ,dan untuk Ayahku? Kata Ibu, ayah meninggal di tempat kerja tatkala aku masih bayi ,dan ibu lah seorang diri yang merawatku ,mencari uang.
Pagi ini seperti biasa aku bersiap siap untuk ke kantor, mengingat aku seorang atasan yang harus memberi contoh baik untuk karyawan karyawanku. Tak sempat ku untuk pamit kepada ibu, hanya berpesan kepada si embak yang membantu keperluan di rumah.
”mba titip ibuk ya aku berangkat dulu. Oh iya jangan lupa vitamin sama obatnya ibuk suruh minum .” kataku kepada Si mba saambil meraih kunci mobilku di meja . Akhir akhir ini kata mbak ,ibu sering pusing dan aku meminta mbak untuk mengantar ibu periksa.
“tapi mas anu eh..” belum sempat mba berbicara aku sudah melajukan mobil jadi tak terlalu jelas apa yang mba katakan.
Sudah lima hari ini kondisi kantor sedang riweh ,seperti siang ini saat ku pusing dengan urusan kantor ditambah lagi panggilan telepon yang sedari tadi berdering membuatku pening.
“Huft.” Aku menghela nafas panjang dan melihat nama kontak yang menelfonku. Oh ternyata ibuk
“Iya buk ada apa ,maaf baru sempet angkat telfon ibuk, lagi sibuk banget sama urusan kantor.” Jawabku sambil membolak balikan laporan yang ada di map.
“Nak ibu kangen sama kamu, ish kamu itu pulang larut berangkat pagi buta sampai sampai Ibuk hampir lupa wajahmu Van.” Kata ibuku dibalik telefon.
“Iya iya maaf buk , aku janji nanti kalau udah ngga sibuk kita liburan ya ke tempat yang ibu mau .Yaudah aku lanjut kerja duluan Assalamualaikum.”
“Nak tungg...” tit tit tit nada panggilan berakhir.
Ya memang lima hari ini aku terlalu sibuk berangkat pagi dan pulang larut tapi ini semua juga untuk buat ibu bahagia. Aku menjanjikan liburan bersama yang untuk sementara hanya itu yang dapat aku janjikan untuk menebus rasa bersalahku akibat terlalu sibuk.
Lagi lagi aku pulang larut malam dan benar saja sampai rumah kondisinya sudah gelap gulita.Aku memarkirkan mobil dan memasuki rumah, menghidupkan lampu ruang tengah namun tak seperti biasanya yang langsung ke kamarku, rasanya seperti ada dorongan untuk mendekati kamar Ibu ,aku membuka pintu yang sedikit terbuka cahaya yang redup mengisi ruang kamarnya, memang beliau tidak suka cahaya yang terlalu terang.
Aku lihat ibuk sedang tertidur pulas membelakangi pintu ,aku mendekat dan duduk disamping ibu sambil menatap wajahnya yang kian keriput namun meneduhkan
Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak dibenaku ,tak terasa air mata meluruh begitu saja aku terlalu sibuk sampai sampai tak sempat menatap wajah ibu yang telah berjuang sendiri merawat dan membesarkanku.
“Buk maafin aku terlalu sibuk bekerja sampai sampai tak sempat melihat wajahmu tak sempat mencium tanganmu, tapi aku janji aku janji besok aku akan mengajak ibu liburan ,aku mau buat surprise .” kataku pelan masih dengan air mata yang menetes namun aku paksakan tersenyum.
Saat aku ingin keluar aku tak sengaja melihat sarung bantal ada bercak darahnya ingin aku bertanya namun tak tega untuk membangunkan ibuk , aku putuskan untuk bertanya besok.
Hari ini aku sengaja pulang lebih awal untuk memberikan surprise kepada Ibuku tersayang, membelikan 2 tiket Umroh untukku dan ibu sebagai tebusan rasa bersalahku akibat terlalu sibuk.
Dua tiket sudah aku dapatkan dan segera melajukan mobil untuk ke rumah memberikan hadiah kepada ibu berharap ibu tidak sedih lagi. Namun saat di perjalanan suara dari hpku berdering terlihat panggilan masuk dari Mba
“hallo mba ada apa aku lagi di jalan nih.”
“Mas ibu pingsan dan sekarang lagi di rumah sakit.” Suara Si Mba terdengar panik aku pun yang mendengarnya ikut panik .
“Kok bisa pingsan kenapa? Yaudah aku segera ke sana tunggu mbak.” Jawabku menutup panggilan .
Aku segera menancap gas untuk menuju rumah sakit ibu dirawat ,rasanya pikiranku sudah kalang kabut ,memikirkan keadaan terburuk dari wanita yang paling aku cintai. Dua tiket itu masih aku pegang erat “Buk buk semoga ibuk ngga kenapa kenapa , kita bakal umroh bareng seperti yang ibu pingiin.” Aku berbicara sendiri sambil terus melajukan kendaraan.
Sampai di Rumah Sakit aku menanyakan ruangan pasien atas nama ibuku pada bagian Reciepconist, Ya ruang Anyelir nomor 27 di mana ibuku dirawat, aku pun segera melangkahkan kakiku dengan gontai. Terlihat Mbak yang sedang duduk menangis di depan ruangan.
“ Mba mba gimana keadaan ibuk, ibuk nggak apa apa kan? Kok mba sama ibuk nggak pernah cerita kalau ibuk sakit? Mbak jawab mbak.” Pertanyaanku kepada mba yang sedari tadi memenuhi kepalaku.
Aku pun duduk di samping Mbak sambil menangis tersedu. Tiba tiba mbak memberiku amplop bertuliskan Hasil Laboratorium dan aku pun membukanya ,betapa kagetnya aku membaca hasil dari tes itu Ya Tuhan ternyata ibuku mengidap Kanker Otak dan aku sebagai anak satu satunya ngga tahu itu.
Dokter keluar dari ruangan ibu , dan akupun bangkit dari tempatku duduk.” Gimana dok kondisi ibu saya, ibu engga kenapa-kenapa kan dok .” tanyaku panik
“Maaf pak kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain ,Ibu bapak tidak bisa kami selamatkan.”
Seketika hatiku hancur berkeping keping ,jiwaku merasa mati.
Seperti ada sesuatu yang memenuhi rongga dadaku, sesak itulah yang aku rasakan bahkan untuk menelan ludah pun rasanya tak sanggup. Seketika badanku luruh ke lantai, aku menangis kembali pikiranku melayang tentang ibu akhir akhir ini yang selalu kesepian , tentang darah yang ada di bantal dan tentang keinginan umrah bersama sama ,itu semua rasanya bercampur menjadi satu dengan rasa bersalahku.”Ya Allah ibuk jangan tinggalin aku, maafin aku buk.”
Sore yang menyedihkan ,tak pernah sedikitpun terbayangkan keadaan seperti saat itu ,dimana aku mengantarkan ibuk ke peristirahatan terakhir degan secepat itu dengan perasaan yang masih kacau aku masuk ke liang lahat untuk mengumandangkan Adzan untuk terakhir kalinya, dulu aku mengumandangkan adzan untuk sholat bersama dirumah namun sekarang aku mengAdzankan ibuku. walau rasanya berat aku mencoba menahan air mata supaya tidak menetes
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
Hayya 'alashshalaah (2x)
Hayya 'alalfalaah. (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
Adzan sudah aku kumandangkan tepat di kedua telinga Almh. Ibuku yang terbungkus kain kaffan. Hanya iklhas yang sekarang harus aku lakukan, dan berdoa supaya Almh Ibu bahagia di surga.
Setelah selesai akupun memandangi pusaran Ibukku tersayang. Sambil terus berusaha iklas namun nyatanya sangat sulit.
Aku dan pelayat sampai di rumah, saat menginjakkan kakiku didepan pintu rumah rasanya ada yang beda ,biasanya ibuku selalu menyambut aku dengan senyum terhangatnya, namun kini hanya tinggal kenangan. Yang paling membuatku bersedih yaitu aku yang akhir akhir sibuk
.Aku melangkah kan kakiku ke kamar ibu ,sudahlah perasaan bersalahku kembali datang, air mata yang aku tahan luruh juga pada akhirnya
Aku duduk diranjang sambil mencium Scraf yang biasa beliau kenakan, aromanya masih sama membuatku rindu .Aku juga melihat buku memo milik ibu aku buka lembar demi lembar dan membaca bagian yang membuat hatiku sakit.
12, Juli 2012
Aku berjuang mati matian ,bekerja keras sendiri agar anakku bisa sekolah tinggi dan menjadi seseorang yang sukses ,namun saat dia sudah menjadi yang aku mau rasanya bukan itu yang aku maksudkan .Aku bukan ingin uangnya, tak perlu liburan keliling dunia ,aku hanya ingin keberadaannya ,makan bersama seperti dulu ,menghabiskan malam dengan bercerita namun itu semua sulit .Anakku kini sudah dewasa hanya untuk bertemu saja susah sekali.
Aku menangis kembali tatkala membaca memo ibu, ibuku hanya ingin keberadaanku ,menemani dimasa tuanya namun aku malah sibuk dengan duniaku.
Untuk kalian yang masih bisa merasakan pelukan ibu jangan sia siakan waktumu ,kalau kamu sedang jauh cobalah telepon tanya kabarnya dan cobalah tanya apa yang ibumu inginkan .
Sebelum terlambat ,jika sudah tidak ada seperti ini hanya sesal yang dirasa. Karna Uang bisa hilang ,kedudukan bisa sirna namun moment indah bersama ibu tak akan pernah luntur sekalipun walau termakan waktu.
💕HAPPY MOTHER DAY💕