Ketika bangunan sekolah tampak sepi. Lebih dari biasanya. Debu beterbangan menutup meja kayu yang semakin usang. Papan tulis hitam ikut membisu dan gundah. Kapur tulis juga ikut terdiam. Dalam hening mereka berbisik. Menyuarakan secuil harapan. Agar esok kembali normal. Senyum dan tawa renyah anak-anak sekolah, petuah dan nasihat bapak dan ibu guru. Papan tulis dan kawan-kawannya begitu mendamba mereka.
Sementara di tempat lain, sepuluh kilometer dari bangunan tua yang hampir roboh itu, seorang laki-laki yang kerap disapa ‘Pak Guru’ tengah bersiap menata buku-buku pelajaran. Liburan yang terlalu panjang. Yang awalnya hanya empat belas hari. Menjadi satu bulan. Ternyata bertambah satu bulan berikutnya. Ujian sekolah dihapus dari peredaran. Tidak ada kata tidak lulus, semua lulus. Tidak ada kata tinggal kelas karena semua naik kelas. Sejarah terukir. Debat kusir penghapusan ujian nasional yang sering muncul di siaran berita televisi kalah dengan kedatangan makhluk asing yang menjadi ‘hantu’ baru penduduk bumi. Namanya disebut oleh semua kalangan. Orang yang benar-benar memahami ilmu tentangnya, maupun para orang tua yang mulai cemas akan penyakit yang disebabkannya.
“Tegar, kau akan mengunjungi rumah murid yang mana lagi? Sepuluh kilometer setiap hari. Mengapa kau tidak usul pada pak lurah agar menambah akses internet gratis bagi siswa sekolah selama masa pandemi ini?” ucap seorang wanita paruh baya pada anak laki-laki semata wayangnya.
“Ah, susah Mak jika mengandalkan mereka! Tegar sudah lelah meminta bantuan internet gratis, buku-buku pelajaran dan alat keperluan sekolah lain untuk siswa yang tidak mampu. Apa susahnya dengan anggaran dana yang katanya ratusan juta itu untuk memenuhi keperluan anak-anak kampung ini?” Tegar masih sibuk memasukkan buku yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar di rumah siswa.
“Tegar pamit, Mak. Doakan agar anakmu bisa mengabdi pada Ibu Pertiwi.” Ucap Tegar dengan senyum tersungging di sudut bibirnya. Pemuda itu mencium kening wanita yang amat disayanginya. Sang Ibu membalas dengan senyuman tulus.
Lima tahun Tegar menjalani profesi sebagai guru SD. Masih masa bakti. Dulu, bapaknya juga guru sebelum berpulang menghadap sang Pemilik kehidupan. Tegar menuruni teladan bapak. Baginya menjadi guru adalah cita-cita mulia. Meski mudah saja bagi Tegar yang masih muda dan dikenal cerdas memilih profesi lain yang lebih menjanjikan.
Sepeda motor butut andalan Tegar segera meliuk di jalanan lumpur yang tidak mudah dilintasi kendaraan. Jangan bayangkan jika Tegar hidup dalam kemewahan sarana pedesaan yang maju. Dia adalah pemuda dari sebuah desa terpencil di pulau Sulawesi. Jarak rumah Tegar menuju kampung penduduk atau bangunan sekolah tempatnya mengajar sekitar sepuluh kilometer. Melewati jalur tanah dengan tebing yang curam di kanan jalan. Yang menganga sangat dalam. Melewati perkebunan kopi dan deretan hutan. Menyeberang beberapa jembatan yang mulai rapuh dimakan usia. Namun Tegar sudah terbiasa dengan keterbatasan. Infrastruktur desa yang jauh dari perhatian pemerintah tidak menyurutkan semangatnya dalam memberikan ilmu pada anak-anak didiknya.
“Pak Tegar datang, Bono!” tegur sang Bapak pada seorang anak laki-laki yang masih sibuk bermain perahu otok-otok di luar rumah. Bapak itu tengah menjemur puluhan kilo jagung hasil panen perkebunan untuk dijual ke kota kabupaten.
“Pagi, pak guru.” Bono beringsut meninggalkan mainan perahu. Bergegas menemui pak guru kesayangannya. Tubuh hitam dengan postur kecil dan rambut ikal itu memberikan senyum terbaik.
“Sehat kau?” Tegar mencoba membuka percakapan. Bono mengangguk. Membimbing Tegar masuk dalam rumah khas Sulawesi. Sebelum memulai pelajaran privat hari ini, Tegar melakukan kebiasaan barunya. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Tegar juga selalu memakai masker untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan.
“Baiklah jika kau sehat, Bono. Pak Tegar akan memberikan multivitamin tambahan untukmu.” Tegar mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Membuat Bono penasaran.
“Buku cerita? Hore!! Bapak, Mamak... Bono dapat hadiah buku cerita dari pak guru!” Bono tertawa riang. Rambut ikalnya ikut bergoyang.
“Tapi...”
“Kau harus berjanji untuk semangat mengikuti pelajaran sekolah yang akan bapak sampaikan. Mengerti? Sekarang simpan buku cerita itu. Kau sudah kelas lima. Pelajaran yang akan bapak berikan akan memasuki level yang lebih sulit.” Tegar memainkan tempo mengajar.
Bono berjarak dua meter dari pak guru Tegar. Tidak ada papan tulis dan kapur disini. Mereka hanya mengandalkan komunikasi biasa.
“Kapan Indonesia merdeka? Tentu kita semua tahu jawabannya. Bapak tidak akan bertanya apa yang sudah kau tahu. Tapi bapak akan membuka pikiranmu lebih dalam. Menggali kecintaanmu lagi pada negeri tercinta. Yang akan bapak tanyakan, apakah kau suka bermain perahu otok-otok?” pak Tegar hampir membuat tertawa bapak Bono yang mendengar pertanyaan itu. Tapi segera mengunci mulutnya lagi. Tentu ada maksud lain dari pertanyaan pak guru muda.
“Bono suka bermain apa saja, Pak. Yang sederhana dan tradisional.” Bono menjawab mantap.
“Maka, jadilah anak yang bukan hanya sebagai pemain. Ketika kecil, kau boleh jadi pemain perahu otok-otok biasa. Lebih besar lagi kau bisa merancang sendiri perahu buatanmu. Dan ketika dewasa kelak kau bahkan bisa menjadi arsitek perancang transportasi air. Memandang sesuatu hal yang kecil dan sederhana bisa menjadikan semangat belajar kita terus tumbuh, Bono. Tadi bapak lihat, kau bukan hanya memainkan perahu otok-otok itu. Tapi kau seperti sedang berimajinasi kelak kau bisa menciptakan karya yang sesungguhnya.” Pak Tegar tersenyum tulus pada Bono.
Wajah Bono memerah. Bahagia mendengar perkataan Tegar yang membangunkan motivasi pada anak sepuluh tahun itu.
Itulah cara Tegar melakukan pendekatan belajar pada anak-anak desa terpencil yang terhalang akses internet. Apalagi untuk belajar online? Biaya makan sehari-hari saja susah.
Tegar bukanlah satu-satunya tenaga pengajar di kampung itu. Ada beberapa guru lagi yang dengan semangat mengunjungi siswa di rumah mereka masing-masing. Meski pelajaran hanya satu jam, ternyata lebih efektif dari pada menunggu akses internet gratis menyapa kampung mereka.
~
“Tegar pamit, Mak. Doakan agar anakmu bisa mengabdi pada Ibu Pertiwi.” Kalimat itu Tegar ucapkan sepanjang hari. Pada mamak yang selalu tulus memberikan senyuman.
Setiap hari, Tegar mengunjungi rumah murid yang berbeda sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tegar tidak pernah mengeluh. Meski lelah pasti dia rasakan.
“Zul pergi ke kebun, Pak! Dia lupa hari ini ada jadwal belajar dengan pak Tegar.” Ucap Ibu salah satu muridnya.
Itulah hal yang kadang menyakitkan bagi Tegar. Dia gagal bertemu salah satu muridnya karena tidak ada di rumah. Tegar beranjak pamit pergi. Menyalakan kembali sepeda motor bututnya.
“Rakit mau keluar dari sekolah, Pak. Percuma ijazah tinggi. Paling juga jadi guru honorer seperti pak Tegar!” bocah itu memang paling tidak semangat di sekolah. Dan baru pertama kali Tegar menatap langit yang cerah. Menyembunyikan tangis sendu. Air matanya ditahan habis-habisan. Memang, sebelum pandemi muncul pun semangat anak-anak kampung itu sangat rendah. Banyak yang putus di tengah jalan. Apalagi saat pandemi terjadi. Sekolah diliburkan. Pendidikan dalam jejaring sosial tanpa tatap muka.
“Kau tidak boleh seperti itu, Rakit! Masa depanmu masih panjang. Lagi pula bapak bersedia melakukan kunjungan ke rumah tiap murid. Belajar bersama meski hanya satu atau dua jam. Percayalah, ilmu pendidikan ini akan berguna kelak.” Jawab Tegar.
“Ibu saya sakit-sakitan, Pak! Dia butuh biaya berobat. Rakit harus membantu bapak mencari nafkah! Bukan hanya mengerjakan soal-soal tidak berguna dari bapak!” nada bicara Rakit meninggi. Tegar tetap sabar dan tidak terpancing emosi.
“Hanya satu jam, Rakit. Sisanya kau bisa bermain atau membantu bapakmu.” Tegar menjaga nada bicaranya.
Rakit tetap menolak dan meninggalkan pak guru yang sangat peduli dengan nasibnya.
Alangkah sedih hati pemuda yang dipanggil pak guru itu. Pada sepeda motor tua yang menjadi andalannya menempuh perjalanan ke rumah anak-anak, dia mengadu, “apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka?”
Di penghujung malam yang sunyi. Tiada cahaya masuk dalam ruangan sempit kamar tidurnya. Tegar merasa kalah. Dia belum bisa menepati janji pada mendiang bapak. Meringkuk menahan isak tangis yang semakin menghunjam ulu hati. Perlahan mamak melangkah masuk mendekati putra semata wayangnya. Wanita itu sudah menduga ada yang disembunyikan Tegar lepas kegiatan kunjungan ke rumah murid.
“Begitulah duka menjadi guru di daerah terpencil. Ibarat petani, kau harus menanam padi di tanah tandus. Yang jauh dari air. Curah hujan rendah. Namun kau tetap semangat menunggu tanaman itu tumbuh. Hidup kan lagi semangat yang hampir goyah itu, Tegar.”
Apakah Tegar menyerah? Tentu tidak. Dia akan menunjukkan perjuangan yang tidak akan sia-sia. Kegiatan berkunjung itu tetap rutin dilakukan.
“Apa cita-cita Bapak sewaktu kecil?” Bono memulai percakapan dengan baik.
“Guru. Aduh, baru kali ini ada murid bertanya apa cita-cita bapak,” jawab pak guru Tegar.
“Kau sendiri?”
“Sang Penemu. Ilmuan. Yang akan selalu memperbarui pengetahuan. Kan kita sudah merdeka, Pak. Bebas menentukan apa cita-cita kita. Yang penting baik,” jawab Bono.
“Memang arti merdeka bagi Bono sesingkat itu?”
Bono mengangguk.
“Bagi Bono, kemerdekaan adalah disaat kita bebas menentukan apa cita-cita kita. Tidak peduli seberapa menyakitkan menempuh rintangan meraihnya.”
“Dan kemerdekaan adalah disaat melihat seorang guru ikhlas mendidik muridnya. Tanpa pamrih. Karena bangsa ini membutuhkan orang seperti pak Tegar.”
Hening beberapa saat. Bono memang pandai memuji guru sekolahnya. Kali ini gejolak semangat seorang Tegar telah tumbuh kembali.