Bodjong, Semarang, 1912.
Posisiku sebagai pembantu di rumah yang disewakan membuatku mengenal Sinyo Maurik van Maijer. Laki-laki yang dapat kugambarkan sebagai sosok yang gagah, tinggi dan tampan pada usianya yang ke-26. Rambutnya lurus, berwarna coklat yang dibiarkan tumbuh sepanjang bahu. Warna bola matanya sesuai dengan rambut tersebut.
Sinyo Maurik tak seperti pemuda keturunan Belanda totok kebanyakan yang cenderung bersikap kurang ajar terhadap orang pribumi, apalagi pembantu wanita yang usianya sebaya denganku, yaitu 16 tahun. Tuan mudaku itu memiliki pembawaan yang kalem dan lebih banyak terlihat sedang membaca buku atau menulis sesuatu dalam ruang kerjanya. Seringkali aku disuruh mengantar segelas kopi di ruang kerja, namun aku tak pernah berani menanyakan pekerjaannya.
“Silahkan kopinya, Tuan,” kataku sambil meletakkan kopi hitam di atas meja kerja Sinyo Maurik pada suatu malam.
“Apakah mukaku kelihatan jelek hari ini, Suci?” tanyanya kepadaku. Aku menatap majikanku tanpa berani menjawab.
“Tulisanku belum selesai, padahal besok pagi aku harus mengirimnya ke kantor surat kabar De Locomotief,” keluhnya.
“Jadi Tuan menulis untuk surat kabar?”
“Ya, dan itu sangat membosankan. Tapi inilah pekerjaanku. Sebenarnya aku lebih senang menulis roman.”
“Tentu baik sekali jikalau Tuan menulis roman, kenapa tak lekas ditulis saja?”
“Kau benar sekali. Aku sebenarnya telah mendapat ide menarik. Bagaimana jika aku menceritakan kisah tentang perempuan pribumi, sepertimu.”
“Apalah yang dapat dikisahkan dari perempuan pribumi seperti saya?”
“Banyak Suci. Tentang pengabdian, kesetiaan hingga kecantikannya. Bukankah aku setiap hari hidup berdampingan dengannya?”
“Tuan memperhatikan saya?”
“Sudah lama aku memperhatikan dan mempelajarimu.” Aku tertunduk malu, sebab Sinyo Maurik menatapku dalam, dan tatapannya itu serasa merasuki tulang belulangku. Sekali-kali aku tak berani menatap kepadanya, walaupun tanpa sepengetahuannya aku sering mencuri pandang hanya untuk mengamati bola matanya yang coklat bening.
“Mungkin kau tak pernah menyadari apa saja yang kau punya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah,” ujar pemuda itu.
“Begitulah hidup saya, Tuan. Tak sempat banyak berpikir tentang diri sendiri.”
“Kalau begitu biar aku bantu, izinkan aku memikirkan dirimu lebih banyak.”
“Tuan Maurik….”
“Kau bilang aku harus mulai menulis roman itu bukan?” kata Sinyo Maurik sambil tersenyum. Aku tersipu malu, kemudian ia menyuruhku keluar dari ruangannya dan menyarankan agar aku segera berangkat tidur. Akan tetapi aku merasa kesulitan tidur nyenyak karena terlalu banyak mengingat kata-kata dan wajah tampan Sinyo Maurik.
**********
Roman berjudul “Mijn baboe”* itu selesai juga. Aku sendiri tak bisa membacanya. Bukan hanya karena ditulis dalam bahasa Belanda, tetapi juga karena aku seorang buta huruf. Namun Sinyo Maurik bersedia menceritakan seluruh bagiannya kepadaku. Aku senang mendengar uraiannya dalam bahasa yang dapat kumengerti, dengan suaranya yang lembut. sampai-sampai aku sering mengantuk dibuatnya. Ia bercerita secara bersambung pada malam hari menjelang waktu tidurku.
“Pekan depan aku akan pulang ke Belanda,” ujar Sinyo Maurik setelah selesai menceritakan bagian akhir romannya. Ucapannya itu membuatku terkejut.
“Tuan tak betah tinggal di Hindia Belanda?” tanyaku.
“Aku memang harus kembali. Kedua orangtuaku telah lanjut usia dan sedang sakit. Mereka membutuhkanku untuk meneruskan usaha keluarga.” Aku hanya mampu terdiam.
**********
Hari beranjak sore, kusaksikan majikanku bersiap-siap hendak pergi dengan membawa sebuah koper besar. Tak dapat kutahan aliran air yang mengucur dari kedua mataku. Menangis di hadapannya, berharap kejadian ini hanya mimpi buruk.
“Jangan menangis, Suci.”
“Bagaimana saya bisa tidak menangis, jika dada saya sesak dan sakit begini. Melihat Tuan hendak pergi,” isakku sambil memegangi dadaku yang terasa perih.
“Aku yakin kau telah memahami benar cerita yang kusampaikan setiap malam kepadamu.” Aku hapal betul cerita yang ia tulis dan ceritakan kepadaku itu. Seorang lelaki Belanda kesepian yang mencintai pembantu wanitanya, yang selalu ada untuknya dan mengurus hidupnya dengan penuh ketulusan hati dan kasih sayang.
“Aku menuliskan, Louis pulang ke Belanda meninggalkan pembantunya, tapi suatu hari ia kembali untuk pembantunya itu. Tahukah kau kenapa ia kembali untuk wanita itu?”
“Karena Louis mencintainya,” jawabku.
“Begitupun perasaanku terhadapmu, Suci. Aku pasti akan kembali dan menjemputmu. Maukah kau menunggu untukku?” Aku mengangguk tanpa ragu, kemudian ia mencium keningku, dan berlalu dari hadapanku.
Dalam perkataan Maurik van Maijer, ada harapan yang tak pernah mati dalam jiwaku. Setelah kepergiannya, dengan sabar aku menunggunya menepati janji. Tahun demi tahun berlalu, entah berapa kali rumah yang kutinggali berganti-ganti penyewa. Entah berapa orang yang mencoba melamar untuk menikahiku, namun selalu kutampik dengan alasan sedang menunggu seseorang yang kucintai.
Dalam hitunganku, tahun itu telah mencapai 5 dan lebih 3 bulan. Aku tetap saja menunggu tanpa ada sepatahpun kabar berita dari Maurik. Kadang rasa putus asa datang menghadang seperti mencekik leher dan memaksaku membuang jauh harapan yang ditinggalkan Maurik. Namun hati kecilku melarang, hati yang hanya dimiliki Maurik seorang.
Pada suatu sore yang muram, kuhantarkan secangkir kopi hitam untuk seorang tamu. Ketika aku menatap wajah itu, air mataku tak dapat kubendung. Kulihat lagi wajah Maurik yang selama ini kurindukan, seolah aku baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Ia tersenyum kepadaku, wajahnya tetap tampan seperti pertama kali aku melihatnya.
“Kenapa Tuan membiarkan saya menunggu begitu lama?” tanyaku sambil menangis.
“Aku percaya pada kesetiaan wanita pribumi. Wanita yang tegar dan rela berkorban demi apa yang ia cintai.”
Aku jatuh terduduk dengan perasaan tak karuan. Kemudian Maurik memapahku, menjemputku sesuai janjinya. Ia membawaku ke Belanda, sebuah negeri asing yang selama ini kuimpikan untuk ditinggali bersama Maurik van Maijer.
Suamiku yang pernah menunda lebih dari 5 tahun pertemuan. Untuk bekerja keras membangun kembali usaha keluarganya yang pernah bangkrut, hingga dapat meraih kejayaannya kembali.
Keterangan:
Mijn baboe: pembantu wanitaku.”