Semua anak pasti menyukai Santa Klaus, tapi bagaimana santa yang satu ini?!
.
.
.
.
.
"Aku harap, hari ini aku dapat bertemu Santa Claus" Ujar Natalia, seorang gadis berusia 10 tahun. Yah... ingin bertemu Santa Claus bukanlah keinginan yang aneh untuk anak seumurannya.
"Nata, cepat tidur sudah jam 9 malam, jika tidak tidur Santa Claus tidak akan datang" Pinta seorang wanita muda yang berdiri di depan kamarnya. Ia adalah kakaknya. Namanya Elisabeth.
Malam ini adalah malam yang berbeda bagi dirinya. Biasanya ia akan merayakan natal bersama seluruh keluarganya. Namun kali ini tidak. Orang tuanya sedang berada di luar negri, dan mereka tak dapat kembali ke rumah karena terjebak badai salju. Padahal ini adalah natal yang pertama kali mereka rayakan di rumah itu. Ya... itu karena mereka baru pindah dirumah barunya.
Yah... cuaca pun sepertinya tak mendukung. Sejak kemarin terjadi badai salju yang besar. Apakah kali ini mereka tak dapat merayakan natal?
"Iya, Kak" Jawab Natalia.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang lembut dan menarik selimutnya. "Kali ini aku pasti bisa menangkap Santa,"
"Jika tidak, aku pasti akan menangkapnya para Elf, hihihi"
"Jangan banyak menghalu kamu, tidur. Jangan senyum-senyum gak jelas" Ledek kakaknya dengan nada bicara yang sedikit ditegaskan.
"Iya deh"
Elisa pun mematikan lampu kamar adiknya itu dan menutup pintunya, lalu pergi.
00.00
Donggg!!! Seperti biasa, jam besar di rumahnya itu selalu berbunyi tepat jam 12 malam. Hal yang lumayan menguntungkan bagi Natalia, setidaknya ia memiliki jam pengingat.
"Yes, aku harus cepat cepat turun" Ujar Natalia tergirang-girang. Ia melompat dari ranjangnya lalu berjalan berjinjit-jinjit menuju lantai dasar, lebih tepatnya di ruang keluarga.
Supaya lebih aman, ia mengunci kamar pintu kakaknya. "Hehe, untung aku punya kuncinya, hihihi tadi aku curi" Kata Natalia sembari cengingisan.
Klinting! Klinting! Klinting!
Suara bel terdengar olehnya. Siapa lagi? Pasti keretanya Santa Claus bukan?!
"Itu-itu pasti Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupid, Donner, Blitzen dan Rudolf. Kyaaa... aku tak sabar" Ujar Natalia kegirangan.
Ya... mereka adalah kesembilan rusa yang selalu menemani Santa Claus saat mengirimkan hadiah. Diantara kesembilan rusanya, ada satu rusa yang cukup terkenal, namanya adalah Rudolf. Rudolf si hidung merah.
Natalia menempelkan telinganya di balik pintu itu dan perlahan-lahan mulai mendengarkan suara apa yang ada dibaliknya.
"Hohoho, pasti dia akan suka. Hahaha" Suara pria tua terdengar di balik pintu dengan nada yang sedikit... bukan sedikit lagi sih, suaranya itu sungguh menakutkan, berbeda dari suara Santa Claus yang kita kenal.
"Ke-kenapa suara Santa Clausnya serem" Kata Natalia. Tubuhnya bergetar, ia merinding ketakutan.
Yah... suaranya saja sudah di luar ekspektasi, bagaimana dengan wujudnya?!
Crekkk...
Tanpa sengaja ia mendorong pintu ruang keluarga itu, yang membuatnya terjatuh dan terdorong masuk kedalamnya.
"Ahhh"
"Siapa di sana?" Santa Claus itu segera menenggokkan kepalanya ke arah belakangnya.
"AHHHHHH!!!!!"
"Mo-mo-monster" Kata Natalia dengan gugup. Ia ketakutan melihat Santa Claus itu berbeda-beda dari yang ia pikirkan.
Sesosok pria berbaju merah, dengan gigi yang tajam seperti gergasi, bola matanya hampir tak terlihat, seperti titik kecil. Dan darah membasahi tubuhnya. Siapa yang tak takut melihat sosok Santa yang seperti itu?!
"Wah wah wah, kakak, kali ini aku akan menghancurkan dirimu mengunakan anak ini" Ujar sosok menyeramkan itu.
Natalia berjalan mundur dan bertanya "Si-siapa kamu? Tak mungkin Santa Claus sangat jelek seperti dirimu!" dengan nada tinggi.
"Anak kecil, aku bukan Santa Claus, aku adalah Santa Claw!" Jawab sosok menyeramkan itu.
Sa-santa Claw?!"
Santa Claw? Siapa dia? Namanya terdengar sedikit asing di telingaku.
"Hohoho, seperti yang kamu dengar. Aku Si pembawa mimpi buruk bagi anak-anak. Hahahaha" Jawab Santa Claw sambil tertawa terbahak-bahak.
Natalia berjalan keraah pintu, namun secara tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Ia berusaha untuk membuka kenop pintu berkali-kali, namun tetap tak berhasil.
"Hahaha, mereka yang bertemu denganku tak akan selamat" Ujar Santa Claw dengan senyumannya yang mengerikan itu.
"Kakakkk!!! Tolong Nata!"
"Percuma kamu teriak teriak, kakakmu tak akan mendengarkan sesuatu, hahahaha" Bentak Santa Claw kepadanya.
"Kakak... tolong Nata, huhuhu"
"Lagipula kamu mengunci pintu kamarnya, bagaimana dia keluar?"
"Huhuhu, tolong selamatkan Nata"
Santa Claw itu lalu menyodorkan sebuah kotak kado kecil kepadanya, "Lihatlah aku punya kado untukmu, bukalah, hahaha" Sambil tertawa keras.
"Enggak, Nata gak mau." Kata Natalia sambil menangis.
"Percuma" Bentak Santa Claw. Ia memaksa Natalia untuk membuka kotak itu.
"Enggak, enggak, enggak"
"Buka!"
"Enggak!"
"Buka!"
Tiba-tiba kotak itu terbuka dengan sendirinya, dan keluarlah asap hitam yang mengikat Natalia.
"Apa ini? AAAHHH! Tolonggg!!!" Natalia berteriak sembari meronta-ronta agak terlepas dari asap hitam yang mengikatnya itu.
"Hahaha, selamat terbangun dari mimpimu" Ujar Santa Claw dengan tawa terbahak-bahak.
"Hah? Tidakkk!!!"
Asap hitam itu menyeret Natalia untuk masuk kedalam kotak kecil itu.
"Kakakkk!!!"
***
"Nata, kamu kenapa?" Tanya kakaknya, Elisabeth yang daritadi berusaha untuk membangunkan Natalia dari tidurnya.
"Kakakkk!!!" Ia terbangunnya dari mimpi buruknya dan langsung memeluk kakaknya itu dengan erat.
"Kamu kenapa Nat? Mimpi buruk?" Tanya kakaknya sembari mengelus-elus kepalanya.
"I-iya, tadi aku mimpi... San... Santa Claw, Kak" Jawab Natalia.
"Hah, Santa Claw?" Tanya Elisabeth dengan ekspresi terkejut.
"Emangnya kenapa kak?"
"Sebenarnya kakak gak terlalu percaya sih, tapi kata orang orang di sini itu setiap ada anak-anak yang bermimpi Santa Claw pasti salah satu keluarganya akan mendapat musibah" Jelas Kakaknya.
"Trus tadi Santa Claw bilang 'Kakak, kali ini aku akan menghancurkan dirimu' sebenarnya siapa orang yang ia panggil 'kakak'?" Tanya Natalia.
"Yah gimana lagi, kakak ceritain deh. Dulu ada dua anak kembar yang terlahir di kota ini. Orang orang mengatakan bahwa salah satu dari mereka akan mendapat berkat dari Tuhan ketika dewasa nanti. Ketika mereka dewasa, mereka saling berebut akan berkat Tuhan. Sang kakak memiliki sifat yang baik, ramah, dan dermawan. Sedangkan sang adik memiliki sifat yang tamak, iri dan jahat,"
Elisabeth menghela nafas sebentar lalu melanjutkannya, "Karena sifat sang adik yang buruk, alhasil sang kakak lah yang mendapat berkat dari Tuhan. Dan berkat itu berupa julukan Santa Claus. Sang adik yang tak terima pun berjanji akan mengalahkan sang kakak. Dari situ ia membuat julukan sendiri, yaitu Santa Claw. Mendatangi mimpi buruk bagi anak anak." Jelas Elisabeth.
"Tapi... itu bohong kan kak?" Natalia mulai ketakutan akan mimpi buruk yang menghantuinya. Bagaimana jika itu nyata?!
"Enggaklah, itu cuma kebetu-" Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ponsel yang ada di sakunya bergetar.
Drrttt... Drrttt...
Ia pun mengambil ponselnya, dan melihat nomer yang tak di kenal menelponnya. "Lho, ini siapa?" Guman Elisabeth.
Click... Ia pun mengangkat telpon asing itu, "Halo, ini siapa?" Tanyanya.
[Apakah benar ini dengan nona Elisabeth Rize?] Tanya seseorang yang berada di dalam telepon.
"Iya benar, ini siapa ya?"
"Saya suster Venella dari rumah sakit Winter Wits. Sebelumnya saya turut berdukacita atas kepergian kedua orang anda,"
"A-a-apa?!"
"Kedua orang tua anda mengalami kecelakaan pesawat diakibatkan badai salju." Jelas suster Venella.
Degg... bagaimana hatinya tak sakit mendengar kedua orang tuanya tiada saat hari Natal tiba. Hari yang harusnya di sambil dengan suka cita, kini mereka sambut dengan duka.
"Kakak kakak, kenapa? Mama sama papa gak kenapa kenapa kan?" Natalia mengoyangkan tubuh kakaknya yang kaku itu berkali kali.
Air mata mulai jatuh tanpa sadar dari pipi Elisabeth.
Tutt... Ia mematikan teleponnya dan memeluk adiknya dengan erat. "Ka-kakak, mama sama papa gapapa kan? HUAAA!!!"
"Mama sama papa, mungkin telah berada di alam lain"
"HUAAAAA!!! Mama, papa"
[End]