Malam semakin larut menebarkan hawa dingin dan kesunyian, seorang gadis kecil tengah meringkuk sendirian menyesali apa yang telah di minta nya pada Tuhan.
***
Suasana Ibadah malam natal begitu khidmat, banyak do'a kami panjatkan kepada Tuhan, ini adalah waktu perayaan yang kami tunggu-tunggu dimana akan ada banyak hadiah dan pohon natal serta banyak premen dan kue- kue, dan yang paling ku suka adalah kue jahe buatan Ibu ku.
"Buk, aku ingin kue Jahe," rengek Jeslin pada Ibu. Setelah kami selesai berdo'a.
"Minta pada kakak mu," jawab Ibu kesal.
"Tapi Buk, Kakak sudah menghabiskan semuanya," rengek Jeslin lagi.
"Ya sudah besok lagi saja Ibu akan membuatkannya untuk mu."
"Tapi Buk, aku ingin sekarang," rengek Jeslin sambil bergelayut manja di lengan Ibu.
"Jeslin kau sudah besar, jangan selalu manja seperti itu," tegur Ayah.
"Tapi Ayah.." pelototan Ayah seketika membuat mulut mungil Jeslin terkatup rapat. Tubuh nya mengkerut takut di sopa.
"Ayah apa aku boleh meminta hadiah natal?" Tanya Jenika kaka Jeslin.
"Tentu nak, mintalah apa yang kau inginkan," ucap Ayah lembut.
"Aku ingin, laptop baru untuk hadiah ku kali ini," ucapnya manja.
"Kau akan segera mendapakan keinginan mu Jen," ucap Ayah, seketika Jeni nampak senang, dia menyunggingkan senyum sinis pada Jeslin.
"Yeay...terima kasih Ayah, Ayah adalah Ayah terbaik untuk ku," ucap Jeni, Ayah hanya membalas dengan senyum lembut seraya mengusap pucuk kepala Jeni.
Jenika berjalan seraya membisikan kata-kata meledek pada Jeslin, "kau lihat, Ayah dan Ibu lebih meyangi ku di banding dirimu," bisik nya.
Seketika dada Jeslin terasa panas, napas nya memburu, sungguh Jeslin benar-benar merasa cemburu.
'kenapa Ayah dan Ibu lebih menyayangi Kakak di banding diri ku? kenapa mereka begitu tak adil.' batin Jeslin. Jenika menjulurkan lidah meledek sambil berlalu.
"Ayah, apa aku bisa meminta hadiah juga seperti kakak?" tanya Jeslin penuh harap.
"Kau ingin minta hadiah seperti kakak mu begitu?" ucap Ibu sambil duduk di hadapan Jeslin dan Ayah.
"Bereskan dulu mainan mu, kenapa kau selalu saja nakal, Kakak mu selalu bersikap baik dia tidak pernah membuat Ibu marah dia juga selalu membantu Ibu di dapur sedangkan dirimu selalu saja membuat Ibu seteres karena kelakuan nakal mu, seharusnya kau dapat hukuman bukan hadiah," ucap Ibu marah.
"Ibu mu benar nak, bersikaplah baik bereskan mainan mu yang berantakan juga bereskan kamar mu sendiri kasihan Ibu dia selalu kelelahan karena kelakuan mu," ucap Ayah menimpali.
"Lihatlah kakak mu, ambil contoh dari nya, dia pintar, baik, dan sopan." ujar Ibu.
"KALIAN SELALU SAJA MEMUJI KAKA, KAKA INI KAKA ITU, KAKA YANG BAIK DAN AKU YANG BURUK," teriak Jeslin.
"KALIAN TIDAK PERNAH MENYAYANGI KU, AKU BENCI KALIAN, AKU LEBIH BAIK HIDUP SENDIRI DARI PADA PUNYA KELURGA YANG TIDAK PERNAH MENYAYANGI KU...!"
"Jeslin! kau benar-benar keterlaluan," ucap Ayah dengan nada tinggi, serta tangan yang menggantung di udara hendak menampar pipi Jeslin.
"Aku benci kalian...!" teriak Jeslin sambil berlari, air mata terus mengalir tanpa henti membanjiri wajah putih bersih Jeslin, pipi bulat nya nampak memerah pun dengan pupil mata sipit nya semakin mengecil, Jeslin membanting pintu kamarnya dengan keras, sakit benar-benar sakit rasanya hidup di antara orang-orang yang tidak pernah menyayangi mu, ini benar-benar sangat memuakan.
"Aku tidak ingin punya keluarga, lebih baik aku hidup sendiri di dunia ini, dari pada aku mendapat orang tua yang selalu pilih kasih, juga kakak yang kejam seperti Jeni, aku benci kalian," racau Jeslin.
***
Ting..tong..ting..tong..
Jam besar di ruangan tengah berbunyi nyaring menandakan malam telah larut, cukup lama Jeslin menangis hingga tak terasa waktu telah menunjukan pukul 00:00 dini hari.
Jeslin mengangkat kepala nya yang terbenam di kasur, karena Jeslin menangis sambil duduk di lantai dengan kepala di baringkan di tepi ranjang.
Brak...Prang...tap..tap...
Suara gaduh di lantai bawah terdengar samar di telinga Jeslin.
"Ada apa di bawah? Apakah santa claus telah datang?" gumam Jeslin, Jeslin lantas menyeka sisa air mata yang telah dia keluarkan tadi. Lantas Ia berjalan mengendap-ngendap keluar kamar takut ketahuan oleh Ayah dan Ibu nya, jujur Jeslin sama sekali belum siap jika harus bertemu dengan orang tua nya saat ini, amarah nya belum reda sepenuh nya.
Jeslin berjalan pelan menuju tangga namun, alangkah terkejutnya diri nya, ketika mendapati dua orang bertubuh besar yang memakai pakayan serba hitam lengkap dengan penutup kepala tengah menyiksa Kaka dan Ibu nya, sedangkan tubuh Ayahnya sudah kaku dengan tubuh bersimabah darah dengan sebuah kapak yang menancap di dada nya.
"Argghhh...!" Jeslin memekik cukup kencang tatkala menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Salah satu dari penjahat itu melihat ke arah dimana Jeslin berada, namun, pekikan Ibu yang menirukan suara Jeslin mampu mengalihkan perhatiannya.
"Lepaskan kami.." pinta Ibu memelas. "tuan, ambilah barang yang kau ingin kan, tapi lepaskan kami," ucap Ibu lirih, wajahnya penuh luka lebam pun rambutnya nampak berantakan, Arghhhh...jerit Ibu ketika tangan salah satu dari mereka menjambak rambut Ibu dengan kencang.
"Lepas kata mu? jika kau kami lepaskan kau akan melaporkan kami pada polisi benarkan? kau pikir kami bodoh.." gelak tawa dari kedua penjahat itu menggema di ruangan ini. Jeslin diam membisu di di lantai atas sambil mengintip dari celah tangga besi yang melindungi tubuh nya dari pandangan orang-orang jahat itu.
Bhakk...Bhukk...emphhh...suara pukulan dan erangan yang tertahan, terdengar begitu menyayat hati Jeslin, kenapa, kenapa ini bisa terjadi? Ingin rasnya Jeslin berlari dan menyelamatkan nyawa Kaka serta Ibu nya, namun dia tak memiliki keberanian sebesar itu, dia hanya seorang anak berusia 8 tahun. Jeslin duduk sambil menggigil ketakutan sesekali ia mengintip dari celah besi, nampak kondisi Jeni kaka nya serta Ibu nya sudah terbaring lemas tak berdaya tangan serta kaki mereka terikat, mulutnya pun di sumpal dengan lakban hitam. Mungkin para penjahat itu takut jika jeritan kedua nya terdengar sampai ke luar rumah.
"Jhon, kita apa kan kedua orang ini? tidak mungkin kita membiarkan mereka hidup kan, sedangkan mereka sudah melihat wajah kita," ucap salah satu dari mereka.
"Kau benar Roy, kita habisi saja mereka," ucapnya, tawa menyeramkan seketika keluar dari mulutnya, membuat bulu kuduk Jeslin seketika meremang, kengerian seketika terbayang di pelupuk matanya.
'Tidak. Aku tidak akan membiarkan Kaka dan Ibu di bunuh oleh mereka,' gumam Jeslin dalam hati. Jeslin merangkak hendak turun, namun matanya menangkap tatapan mata sayu Ibu nya, tatapan nya seolah mencegah Jeslin untuk turun, Ibu sedikit menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Jeslin tidak melaksanakan niat nya.
Seketika hati Jeslin terasa hancur, tetnyata Ibu masih menyayangi dirinya bahkan, Ibu tidak ingin Jeslin pun ikut menjadi korban dua orang biadab ini. Jeslin menatap raut wajah Jenika kakak nya, entah mengapa tatpannya terasa hangat dan menenangkan tatapan yang belum pernah Jeslin temukan di mata kakak selama ini.
Bhukkk...emmhhh...erangan pelan terdengar dari keduanya tatkala, sebuah kapak tajam menghantam dada Jeni dan Ibu nya secara beruntun, seketika darah mengalir deras tubuh mereka menggelepar menahan sakit dan di detik berikutnya mereka telah meregang nyawa.
Jeslin merangkak masuk kedalam kamar dengan tubuh bergetar, lantas Ia masuk ke dalam kolong tempat tidurnya karena ketakutan, bayangan orang tua dan Kakak nya yang di bantai habis terus ternging di kepalanya.
Tap...tap...
Suara langkah kaki menggema di luar kamar, langakah kaki itu semakin mendekat, terlihat sepasang sepatu berwarna hitam berdiri tepat di depan ranjang Jeslin, Jeslin menutup mulut dengan tangannya jantung nya berdegup cepat, keringat mengucur deras, ketakutan teramat sangat ia rasakan.
'Tuhan selamatkanlah aku,' Jeslin terus berdo'a dalam hati nya.
"Hey Jhon, sedang apa kau disini? ayo cepat kita pergi dari sini," ajak pria yang bernama Roy.
"Ah ya, mari kita pergi," ucapnya, mereka pun lantas pergi, terdengar suara langkah kaki mereka semakin menjauh dan tak terdengar lagi. Jeslin tersa sedikit lega, dia menghela napas, namun Keluarga nya telah tiada, apa kah ini mimpi ataukah nyata? itu hanya bisa di buktikan jika Jeslin melihat keadaan orang tua serta kakak nya untuk memastikan segala nya.
Suasana kembali hening, 'apa mereka sudah pergi?' Jeslin kembali merangkak keluar melihat keadaan sekitar, suasana memang nampak sepi tak ada tanda-tanda manusia di rumah ini selain dirinya.
Jeslin berjalan perlahan menuruni anak tangga rumahnya, tubuhnya seketika mematung, menatap tiga tubuh yang sudah mati mengenaskan di hadapannya. Jeslin berjalan mendekat dan duduk bersimpuh di depan mayat keluarga nya.
"Ibu, Ayah, Kaka, aku ingin kelurga, aku tidak ingin hidup sendirian," lirih Jeslin sambil menangis tersedu-sedu.
"Ibu, Ayah bangun, aku janji aku akan jadi anak baik aku tidak akan nakal lagi," ucap Jeslin, dadanya terasa sesak, matanya perlahan buram dan di detik berikutnya dia pun tak sadarkan diri.
***
Seorang gadis kecil meringkuk sendiran di kamar, setiap hari dia hanya menangis meratapi nasib nya, setelah satu minggu yang lalu dia di temukan masih hidup di antara ketiga mayat keluarga nya, sampai saat ini dia belum bisa bicara sama sekali, guncangan yang di dapatnya sungguh mengerikan, membuatnya bak orang tidak waras, kini dia di asuh di panti asuhan khusus untuk memulihkan kejiwaannya.
Tamat.
Keluarga adalah harta paling berharga dalam hidup kita, jangan pernah sekali-kali kita meminta untuk hidup sendiri karena sesungguhnya kita tak akan mampu menanggungnya.❤️