Malam itu, Zaidan terpisah dari rombongannya. Dia tidak tau, harus kemana mencari mereka. Dengan langkah gontai, dia memutuskan untuk tetap berjalan, dalam kegelapan malam.
Sejenak, dia berhenti, saat terdengar ada suara yang memanggil-manggil namanya, tapi suara siapa? dia tak melihat ada seorangpun di sekitarnya.
Zaidan.... Zaidan.....
Awan hitam, menghalangi pancaran sinar rembulan. Angin dingin berhembus pelan, menerpa wajahnya. Bayangan pepohonan seakan berubah menjadi monster yang mengintai setiap gerakannya.
Kemana mereka? huh.... mengapa malam ini terasa menakutkan. Ucapnya dalam hati.
Dia kembali meneruskan langkahnya menyusuri jalanan setapak, berharap menemukan tempat untuk berteduh malam itu.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika melihat seorang wanita duduk di tengah jalan dengan wajah yang dibenamkan dalam-dalam.
Siapa dia? mengapa selarut ini masih ada di jalanan? apa mungkin, dia juga tersesat sama sepertiku? katanya dalam hati.
Malam itu begitu gelap, dia berusaha untuk melihat wajah siapa yang ada di depannya, tapi tak terlihat jelas olehnya. Yang tampak terlihat, hanyalah sosok wanita berambut panjang terurai menutupi sebagai wajah, dengan pakaian yang lusuh.
"Tolong! tolong aku!" suara parau keluar dari mulut wanita yang berada dihadapannya.
Dia masih terpaku menatap sosok itu, masih ada keraguan didalam hati untuk mendekatinya.
"Tolong! tolong aku!" suaranya kembali terdengar sangat pilu. hingga menggetarkan hati Zaidan untuk mendekatinya.
"Siapa kamu? apa yang kau lakukan di sini?" dengan suara gemetar, Zaidan berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
Wanita itu terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari Zaidan. kedua tangannya bergetar memeluk dirinya sendiri, seakan menahan kedinginan yang teramat sangat.
Zaidan kembali melangkahkan kakinya hingga berjarak dua meter dari tempat wanita itu bersimpuh.
"Siapa kamu? dari mana asalmu? apa yang biasa aku bantu?" kembali Zaidan bertanya.
"Apa kamu tak ingat padaku?" Wanita itu balas bertanya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" suaranya terdengar tertekan sembari mengingat-ingat, siapa wanita yang ada dihadapannya.
"Mengapa kau begitu cepat melupakanku, aku disini sendiri, kesepian. Mengapa kau tidak kembali datang menjemputku? Mengapa?" wanita itu menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tampak tubuh itu naik turun seirama dengan tangisnya.
"Apa maksudmu? aku tak mengerti!" suaranya bergetar, kemudian dia memundurkan kakinya selangkah ke belakang.
"Apa kamu masih ingat tempat ini?" tangis wanita itu terhenti.
"Apa maksudmu?" tanyanya pelan.
"Apa kamu masih ingat, lima tahun yang lalu disini, ditempat ini, kita pernah berjanji akan selalu setia sehidup semati, Apa sekarang kamu mengingat nya? " wanita itu mengangkat wajahnya menatap Zaidan dengan tajam.
Dia terkejut, mukanya pucat pasih, bayangan kejadian masa lalu terlintas dibenaknya.
Saat itu......
Dia dan kekasihnya menyelinap pergi dari rombongan yang beristirahat di tenda. mereka berjalan menyusuri jalanan sepi dengan bergandeng tangan
kemudian mereka duduk di satu batu besar yang menghadap lembah. pemandangan sangat indah kala itu. dua sejoli dimabuk asmara, memandangi kerlap-kerlip bintang bertaburan menghiasi langit malam.
Saat itu angin dingin menyelimuti, merekapun saling berdekapan saling menghangatkan diri dan saat itu juga dia mengikrarkan janjii akan selalu setia sehidup semati.
Dan..... dia mengingat semuanya. di tempat itu adalah tempat dimana dia dan kekasihnya pernah mengikat janji akan selalu bersama dan tidak akan ada yang bisa memisahkan cinta mereka berdua. Namun di tempat itu juga, kekasihnya merengang nyawa meninggal terjatuh kelembah.
"Ti-tidak! ini tidak mungkin!" suaranya terdengar gemeteran. Dengan cepat dia memundurkan kakinya namun naas, dia tersandung dan terjatuh ke tanah, kakinya terkilir. Dia berusaha bangkit tapi tubuhnya tak kuasa berdiri.
Kemudian perlahan-lahan, wanita itu bangkit dari duduknya. Selangkah demi selangkah wanita itu mendekatinya.
Tampak olehnya wajah sangat dikenal bertahun-tahun lalu. Ya.... dia, dia adalah kekasihnya dulu. Wanita itu menyeringai kepadanya.
"Tak mungkin! ini tak mungkin! kau sudah mati! jangan mendekat!" suaranya terdengat ketakutan.
Wanita itu terus mendekatinya masih dengan senyum yang sama.
"Jangan mendekat! tinggalkan aku sendiri! kamu sudah tiada! " suaranya makin terdengar ketakutan.
Mengapa kau cepat sekali berubah! aku masih setia menunggumu disini, aku masih kekasihmu yang dulu,"
"Sekarang kamu datang kembali pada ku, Aku tau dalam hatimu tidak ingin meninggalkan aku sendiri disini. Mulai sekarang, kita akan bersama lagi seperti dulu dan tak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua. Wanita itu tersenyum dan mengulurkan kedua tangan kearahnya.
"Tidak, aku tidak mau, tinggalkan aku sendiri! Aku tak mau bersamamu! pergi!" teriaknya sembari menyeret mundur tubuhnya.
"Apa? kau mengingkari janjimu? setelah sekian lama kita bersama, kau ingin meninggalkanku! Tidak! aku tak akan membiarkan kau pergi lagi! Sekarang kau harus mati dan menemaniku disini!" Wanita itu menatap tajam dan tersenyum sinis.
"Tolong, jangan bunuh aku! Maafkan aku, jangan bunuh aku!" katanya memohon.
"Katakan padaku! mengapa aku tak boleh membunuhmu? setelah apa yang kau lakukan padaku!" kata wanita itu.
"Saat itu aku tak berniat membunuhmu, kau sendiri terjatuh ke lembah dan aku melihat mu tak bergerak, kau sudah meninggal waktu itu, aku tak bersalah." ujarnya.
"Hah... Apa katamu?! kau tak bersalah? apa kau masih ingat, saat mereka hampir menemukanku. Kalian sudah sangat dekat dari tempatku berada. Tapi kau malah menyuruh mereka meninggalkan tempat ini. berkali-kali aku memanggil-manggil namamu, tapi kau malah pergi meninggalkan diriku sendirian disini! "kata wanita itu dengan gigi bergemertakan menahan amarah.
"Saat itu aku tidak mendengar suaramu, aku tak berbohong. dan waktunya juga sudah sangat pendek, kapal sudah menunggu kami di demarga. kami harus segera pergi meninggalkan tempat ini," katanya beralasan.
"Kau sangat kejam. kau sudah membuangku, aku tidak akan memberikan kamu pergi lagi. Sekarang kamu harus tetap bersamaku disini! " Wanita itu berjongkok dan mencekik lehernya.
"Maafkan aku! jangan sakiti aku!" dia menerang kesakitan.
"Aku akan melakukan apapun, tapi jangan sakiti aku!" tambahnya.
Wanita itu tertawa melihat dirinya yang ketakutan. dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cekikan wanita itu.
Ketika dia melihat ada kesempatan, dia langsung berputar, tubuh wanita itu terhempas di tanah, diapun membalas mencekik leher wanita itu.
"Apa yang kau lakukan!" wanita itu tertawa melihat aya yang dia perbuat.
"Kamu harus mati!" pekiknya.
"Ha.... ha.... ha.... bagaimana mungkin orang yang sudah mati, bisa mati sekali lagi! Apa kau sudah mulai gila, hah!" kata wanita itu masih terus tertawa.
Sontak dia sadar, tubuhnya lemas, perlahan-lahan dia melepaskan cengkeraman tangannya dari leher wanita itu.
Bodoh! betapa bodohnya diriku, mengira bisa membunuh hantu. sangat tidak mungkin! pikirnya.
lalu dia menutup wajahya dengan kedua tangannya.
"Aku harap ini hanyalah mimpi, aku tak mau lagi hidup dalam ketakutan! " gumamnya dengan menitikkan air mata.
"Mengapa kau bersedih, kami sudah menyiapkan pesta menyambut kedatanganmu. kita akan bersenang-senang malam ini." wanita itu mendekatinya sambil tersenyum tipis.
"Apa maksudmu? disini hanya ada kita berdua, tak ada orang lain!" pandangannya menyebar kepenjuru arah
Wanita itu menyeringai, kemudian menghentakan kakinya beberapa kali. Kemudian dari balik kegelapan malam, puluhan makhluk mengerikan mulai bermunculan, mereka merayap merambat mengelilinginya. Kuku-kuku hitam tajam berusaha menggapai tubuhnya, merobek dan menerkamnya.
Dan......
"Ahhhhhhh.... " teriakan kesakitan menggema memecah kesunyian malam.
Malam itu adalah malam terakhir baginya, malam yang tidak akan kembali lagi, tak ada kesakitan, tak ada kecemasan dan tak ada penghianatan. Sebuah janji telah di bayar lunas.
Keesokan harinya rombongannya menemukan dirinya mati berlumuran darah, disebelahnya ada kerangka mayat seorang wanita, dan kedua tangan mereka saling terpaut dengan erat.
The End