Beberapa hari ini cuaca ekstrim tengah melanda seluruh kota A. Salju turun cukup lebat hingga hampir menutup sebagian kota itu dengan salju. Tuan William nampak gundah gulana di dalam rumahnya. Sudah berulang kali ia menyingkap hordeng ruang tamunya untuk melihat cuaca di luar apakah sudah tidak turun salju. Putri kecilnya sudah menangis di pelukan istrinya sedari tadi. Besok adalah hari natal tapi mereka belum mempunyai satu pohon natal pun di rumah mereka. Gadis kecil itu tidak mau melewatkan hari natal tanpa pohon natal yang indah.
Terpaksa dia harus pergi ke hutan mencari pohon Natal. Karena rumahnya yang di pinggiran kota lebih dekat ke hutan dari pada ke jantung kota dimana pohon pohon yang sudah dihias banyak di perjual belikan. Apalagi cuaca ekstrim begini cukup berisiko jika keluar jauh jauh dari rumah. Jalanan menuju jantung kota juga sudah tertutupi salju pasti sangat berbahaya jika keluar melewati jalan itu. Dia juga mendengar sudah banyak kecelakaan yang terjadi akibat jalanan licin terkena salju.
Demi sang putri, dia memberanikan diri keluar menuju hutan yang tak jauh dari rumahnya. Bermodalkan pakaian tebal berlapis lapis dan gergaji mesin untuk menebang pohon, Tuan William berjalan menyusuri hutan yang sebagian pohonnya tertutupi salju. Dia sudah berjalan sepuluh meter ke dalam hutan tapi belum menemukan pohon cemara yang di rasa cocok untuk dijadikan pohon natal.
Hingga tibalah ia di tengah hutan melihat sepasang pohon cemara yang menjulang tinggi tanpa di tutupi salju. Sangat indah dengan daun daunnya tersusun rapi dan lebat. Karena di rasa tubuhnya semakin dingin ia memutuskan untuk menebang salah satu pohon itu lalu membawanya pulang.
NGEEENGG
Tuan William segera menghidupkan gergaji mesin yang ia bawa. Mengarahkan ujung gergaji yang tajam dan berputar sangat cepat mendekati batang pohon cemara yang besar itu. Pohon itu pun segera terpotong menjadi dua.
BRAKKK
Seketika pohon itu tumbang dan jatuh ke atas tanah serta sempat menimpa pohon cemara yang lebih kecil di bawahnya. Sayang sekali sebagian dari dahan pohon cemara yang ia tebang itu menjadi rusak. Namun ujung pohon cemara itu masih bagus sehinga Tuan William masih bisa memanfaatkan ujung dari pohon cemara itu.
"Bagaimana aku membawanya?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Akan sangat sulit membawa gergaji mesin dan pohon cemara itu secara bersamaan. Terpaksa dia meninggalkan gergaji mesin itu di hutan dan lebih baik membawa pohon itu kembali ke rumah. Karena pohon itu cukup besar dan berat tapi dia masih bisa membawanya dengan cara menggeret pohon itu perlahan agar tidak merusak daun daun dan rantingnya.
"Sayang, sayang buka pintunya! Aku dapatkan pohon yang kita cari!" Panggil Tuan William ketika tiba di depan rumahnya. Tak lama istrinya membuka pintu. Tuan William pun segera masuk membawa pohon itu ke dalam rumah. Meletakan sembarangan di ruang keluarga karena Tuan William akan mandi air hangat dulu untuk menghangatkan badan.
"Suamiku mandilah dulu, sudah kusiapkan air hangatnya." Tuan William pun segera mandi untuk nanti siang menghias pohon cemara itu.
Nyonya William pun segera mengambil hiasan natal tahun lalu yang ia simpan rapi di atas loteng. Lalu mengeringkan salju yang menempel didedaunannya dengan kipas angin yang mereka punya. Setelah Tuan William selesai mandi air hangat dan menyeduh kopi panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dia menyusul istrinya yang tengah mendekor pohon natal. Putrinya pun ikut senang mendekor pohon cemara itu.
"Hore, hore, hore." Putri kecil mereka sudah berjingkrak jingkrak kegirangan melihat pohon natal impiannya sudah berdiri indah di pojok ruang keluarga.
Tibalah malam natal yang ditunggu tunggu oleh sebagian orang yang merayakannya. Begitu juga dengan keluarga kecil Tuan William. Malam ini mereka menikmati sajian makan malam sederhana dengan penuh suka cita. Akan tetapi, Jauh di dalam hutan dimana Tuan William menebang pohon cemara, tiba tiba pasangan pohon cemara yang sudah di tebang Tuan William tadi berubah menjadi makhluk aneh berjubah hitam. Makhluk aneh tersebut langsung terkejut saat melihat pohon cemara yang di tebang itu adalah kekasihnya sudah terpotong potong menjadi beberapa bagian namun bagian kepalanya tidak ada.
" Tidakkkkk!!!!!!"
Ternyata mereka adalah sepasang siluman pohon yang jika siang hari mereka tidur lalu berubah menjadi pohon cemara. Hingga malam hari mereka akan bangun dan berubah lagi menjadi wujud asli mereka. Putri dari Tuan William mendengar teriakan makhluk aneh itu yang menggema ke penjuru hutan.
"Ibu, ibu, suara apa tadi?" Ia membangunkan ibunya yang belum benar benar tertidur.
"Tidurlah Nak ini sudah malam, ibu tidak mendengar suara apapun." Gadis kecil itu kembali memejamkan mata. Mereka memang sudah bersiap tidur di dalam kamar mereka. Bahkan Tuan William sudah mendengkur karena sangking lelahnya. Nyonya William pun segera menyusul suaminya tidur. Hanya gadis kecil itu yang susah tidur malam ini.
NGENGGG
Makhluk aneh itu langsung menghidupkan gergaji mesin yang ia temukan di dekat jasad sang istri. Mengikuti jejak darah yang terseret di atas salju yang mulai membeku menuju sebuah rumah di pinggiran hutan.
******
GLEDAK GLEDUK NGEEENGG
Suara berisik berisik terdengar di telinga gadis kecil itu membuat dirinya penasaran dan terbangun. Ia segera menuruni ranjang dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah tertidur pulas. Dia terkejut, pohon natal mereka sudah hilang dengan hiasan lampu dan pernak pernik yang berantakan di atas lantai. Lantai pun basah karena salju yang mencair akibat penghangat ruangan. Dia juga melihat pintu rumah terbuka sehingga membawa hawa dingin masuk ke dalam.
Seorang berjubah hitam tengah menggendong sesuatu keluar dari rumah mereka.
"Siapa kamu mencuri pohon natalku?" Teriaknya tanpa takut sebelum gadis itu tahu dengan siapa ia bicara.
Deng deng, makhluk itu berbalik. Lalu meletakan kepala makhluk aneh berambut panjang bersimbah darah yang ia gendong tadi ke atas salju. Dan kemudian mengambil gergaji mesin yang ia seret bersamanya tadi. Menghidupkannya lagi lalu berjalan masuk kedalam lagi sambil berucap,
"Terimalah pembalasanku karena kamu sudah membunuh istriku!"
"Ayah tolong aku!"
Ngeeng ngeeng, crat crat. Sontak darah segar memuncrat kesembarang arah di dalam ruangan itu. Tubuh gadis itu pun tumbang terkoyak menjadi beberapa bagian lalu jatuh ke atas lantai. Makhluk aneh itu langsung berbalik meninggalkan gergaji mesin disana dan kembali ke luar rumah.
"Kita sudah impas."
TAMAT