YOON SENA
Hari ini adalah hari pertama dari masa orientasi di kampusku. Kami, para mahasiswa baru, khususnya yang saat ini berada di ruang kelas 5-4-4, diminta untuk memperkenalkan diri dan menceritakan pengalaman menarik dalam hidup kami.
Itu bukanlah perintah yang sulit. Akan tetapi, aku berpikir lama sekali untuk melakukannya. Karena bagiku, terlalu banyak pengalaman menarik yang terjadi dalam hidupku. Dan karena terlalu banyak, maka akan kuceritakan pengalaman menarik yang belum lama ini kualami saja.
"Namaku Yoon Sena, aku lulusan Kyungri High School tahun 2017, tepatnya tiga tahun lalu. Jadi, bagi kalian yang lulus tahun ini, ataupun senior yang lulus ditahun yang lebih muda dariku, kalian harus memanggilku dengan sopan." Apakah aku terdengar impulsif? Masa bodoh, toh aku tidak berbohong. Benar adanya, aku ini memang sudah lulus sma sejak tiga tahun yang lalu tapi, karena saat itu usaha ayahku tiba-tiba bangkrut, aku harus merelakan kuliahku. Tahun ini, karena sesuatu yang tidak terduga, aku akhirnya dapat berkuliah, dijurusan dan di Universitas yang kuidam-idamkan sejak usaha ayahku bangkrut, POSTECH UNIVERSITY. Universitas elit yang akan menjadi tempatku mencari relasi kuat untuk membantu usaha ayah. Ya! Tujuanku di sini bukan hanya belajar tapi, juga mencari teman dari keluarga kaya raya yang barang kali bisa menjadi investor untuk usaha ayahku. Harus dapat!
"Dan pengalaman menarik dalam hidupku—" aku tidak bisa menahan senyuman diwajahku. Waahh~ jika kuceritakan, maka aku akan menjadi terkenal di kampus ini dalam sekejap, karena ... orang yang ada kaitannya dengan ceritaku ini adalah orang yang paling terkenal di seantero POSTECH. "Adalah saat di mana aku harus menikahi—"
"YOON SENA!!!"
Aku belum menyelesaikan kalimatku dan orang itu sudah terburu-buru menyeretku keluar dari ruangan. Sial! Aku gagal terkenal! Sepertinya harus menemukan cara lain agar bisa terkenal di sini dan mendapatkan banyak teman kaya raya.
"Kau gila?!" Bentaknya.
Ini sudah ke tujuh kalinya dia bertanya apakah aku gila karena masalah kuliah. Pertama, saat aku bilang padanya bahwa aku akan kuliah di kampusnya. Kedua, saat aku bilang padanya bahwa aku memilih jurusan yang sama dengannya. Ketiga, saat aku bilang padanya bahwa aku mengambil kelas reguler —yang artinya aku akan sering bertemu dengannya dikampus— keempat, saat aku bilang bahwa aku mengambil jam kuliah yang sama dengannya —niatku supaya aku bisa berangkat dan pulang kuliah bersamanya, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos bus— kelima, saat aku tak sengaja berpapasan dengannya di kampus dan aku menggodanya karena responnya tak pernah membuatku bosan untuk menggodanya. Keenam, adalah saat aku menyapanya di depan teman-temannya —dia bilang aku harus berpura-pura tak mengenalnya. Dan yang ketujuh adalah saat ini.
"Hey, Kim Seokjin. Kau tahu tidak? Omongan itu adalah doa, bagaimana jika aku benar-benar gila karena omonganmu itu, huh?"
"Kau memang sudah gila! Tadi itu aku tahu kalau kau mau membocorkan rahasia kita, 'kan? Yaa! Dengar ya, kalau sampai rahasia kita bocor, maka kau sendiri yang akan rugi!"
"Kenapa begitu?"
Dia menyilangkan tangannya di dada, dan memasang tampang narsisnya itu. "Karena aku adalah Kim Seok Jin, mahasiswa jurusan Bisnis yang paling terkenal dan merupakan pujaan semua gadis di seantero POSTECH." Dia memicingkan matanya padaku. "Jadi, kalau sampai para gadis itu tahu rahasia kita, maka mereka pasti akan menyerbumu, paham?"
Ckckck. Luar biasa sekali, tingkat kenarsissan Kim Seokjin ini bertambah seriras dengan bertambahnya usia. Ya. Aku mengenalnya sudah sejak lama, tepatnya saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah Seokjin dan ibuku adalah teman dekat. Oleh karena itu, keluarga kami sering saling mengunjungi satu sama lain, yang membuatku dan Seokjin jadi sering bertemu. Namun, meskipun sering bertemu tapi, aku dan Seokjin tidak pernah bisa akur. Bagiku, Seokjin itu... oughh! Bukan tipeku!
"Astaga, Seokjin. Kau ini sebentar lagi lulus kuliah tapi, kenapa masih saja bodoh, huh?" Aku menepuk bahunya, mencoba untuk memberinya kekuatan mental sebelum aku mengatakan padanya bahwa, "semua gadis di kampus ini adalah orang pintar, segila apapun mereka menyukaimu, jika mereka tahu kau sudah punya isteri mereka tidak akan memertahankanmu, bodoh."
"I-itu... t-tidak boleh terjadi... aku—"
"Sudah, sudah. Aku ini juga tidak ada niatan kok untuk membocorkan rahasia kita. Tapi, meskipun begitu, karena rahasia ini penting untukmu, maka sebaiknya kau berusaha keras untuk menyumpal mulutku, betul?"
Seokjin mengeryit, "kau sedang membujukku untuk menyogokmu ya?"
"Betul sekali! Jadi, kau mau mendengarkan sogokkan apa yang mampu menyumpal mulutku tidak?"
Seokjin berlagak berpikir. Padahal aku tahu sekali bahwa dia sebenarnya sudah setuju dengan saranku. Demi apa dia berlagak begitu? Tentu saja demi pencitraan! Dia ingin dianggap sebagai orang intelek yang tidak sembarangan mengambil keputusan. Cih! Aku hatam betul dengan tabiat orang ini.
"Aku harus tahu dulu apa persyaratanmu."
Astaga. Sampai kapan dia akan berlagak begini?
"Mudah saja. Aku mau kau mengenalkanku pada mahasiswa yang berasal dari keluarga kaya raya!" Tukasku.
"Apa?!"
"Harus sekali ya kuulangi perkataanku? Memangnya kau tuli?"
"Maksudku adalah, apa kau gila? Kenapa kau ingin aku mengenalkanmu pada orang-orang kaya di sini? Apa yang kau rencanakan."
Aku kesal sekali! Ini sudah kedelapan kali dia bertanya apa aku gila. Sialan! Apakah aku memang terlihat seperti orang gila?
"Sudahlah, kau tidak perlu tahu!" Tukasku.
"Oh iya, aku ini mahasiswa baru, sangat tidak sopan jika aku meninggalkan ruang orientasi terlalu lama. Jadi, bye." Aku hendak kembali ke dalam ruangan ketika Seokjin menahan tanganku.
"Hey, Sena. Kau ... jangan macam-macam, biarpun kita menikah karena terpaksa tapi, ... aku tetaplah suamimu."
Apa ini? Tatapan matanya itu ... kenapa begitu? Apa dia sedang mencemaskanku, atau...,
"Maksudku, kau itu harus menjaga etikamu, paham?!" Tukasnya.
Sialan! Aku terlalu banyak berpikir rupanya.
"Untukmu urusanmu! Untukku urusanku, ok, Kim Seokjin?" Tukasku.
♧♧♧
Ternyata menjadi mahasiswa itu tidaklah mudah, terlebih lagi menjadi mahasiswa dari universitas elit seperti POSTECH. Aku bisa gila! Semua dosennya super killer, dan semua tugasnya seperti tugas untuk ujian negara. Benar-benar!!!
Kalau begini, aku tidak akan bisa bertahan lama. Tidak boleh! Aku belum mengenal banyak anak orang kaya di kampus itu, jadi aku tidak boleh menyerah.
Sudah tidak ada cara lagi, aku harus menjadi penjilat.
Aku beranjak dari meja belajarku, keluar dari kamarku, dan menghampiri Seokjin yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tamu.
"Hey, Seokjin. Sedang sibuk ya?" Aku duduk di sampingnya.
"Apa? Mau apa lagi, hah?!"
Astaga, sinis sekali sih dia. Menyebalkan. Jika bukan karena aku butuh bantuannya untuk mengajariku beberapa mata kuliah yang tidak bisa kumengerti, aku pasti sudah mengumpat padanya.
"Hanya mau melihatmu saja, kau ... tampan sekali saat sedang serius begini." Oughhhh! Aku merutuk diriku!
Seokjin seketika terdiam, dia mematung didepan laptopnya. Kenapa? Apakah ucapanku tadi keterlaluan? Tapi, dia kan memang tampan. Aku ini orang yang paling jujur di muka bumi, jika orang itu tampan maka akan kubilang tampan, hanya saja aku itu tidak suka memuji Seokjin karena dia sangat narsis, dan itu membuatku dengki. Tapi, karena saat ini aku harus berperan sebagai penjilat, aku harus banyak-banyak memujinya, 'kan?
"Hey, kau kenapa?" Tanyaku. Namun, dia masih bergeming. Aku menyentuh bahunya dan menggoyangkannya dengan harapan itu akan menyadarkannya. "Hey, Seokjin, kau kenap...pa..."
Entah kenapa aku kehilangan kata-kata saat Seokjin tiba-tiba merengkuh kedua bahuku dan menatapku begitu dalam. Ada apa lagi dengannya? Tatapan ini ..., ini tatapan yang belakangan sering ia tunjukkan padaku. Tatapan yang seolah dia sedang melihat sesuatu yang mengganggu. Apa aku sungguh terlihat seperti pengganggu dimatanya?
"Yoon Sena, berhentilah menggangguku, oke?!"
Jadi benar! Aku hanya pengganggu baginya. Ok! Aku sudah sering berdebat dengan Seokjin, dan sudah banyak sekali menelan segala umpatannya tapi, ... kenapa dianggap olehnya sebagai pengganggu membuatku sakit hati?
Aku menepis tangannya dari bahuku. "Aku tidak ada maksud mengganggumu! Maaf jika kau merasa terganggu!" Aku beranjak dari tempatku.
Sialan sekali Kim Seokjin. Dia sangat terang-terangan mengganggapku sebagai pengganggu. Aku hanya ingin minta bantuannya untuk mengajariku beberapa mata kuliah yang belum bisa kumengerti tapi, dia malah begitu. Memangnya dia pikir dia tidak seperti pengganggu bagiku, hah? Aku juga terganggu olehnya! Memangnya dia pikir dia saja yang tidak suka dan terganggu dengan pernikahan ini? Aku juga terganggu dan tidak suka! Sialan! Aku kesal sekali tapi, aku sadar bahwa aku masih membutuhkan bantuannya untuk mengajariku. Oughhhhh!
♧♧♧
KIM SEOKJIN
Belakangan ini entah kenapa aku selalu merasa terganggu dengan Sena. Bukan karena aku membencinya, hanya saja ... perasaanku saat melihatnyalah yang membuatku terganggu. Aku ... entahlah, sulit menggambarkan perasaanku, pokoknya aku merasa terganggu dengan perasaanku ini. Apalagi ketika melihat Sena ...
"Hey, Seokjin. Bukankah itu junior keren kita, Yoon Sena!" Seruan Changkyun membuatku sekejab melihat kearah jam dua, di mana Sena sedang bersama dengan Yoo Kihyun.
Benar! Banyak mahasiswa senior yang menganggap bahwa perkenalan Sena waktu di masa orientasi itu keren, padahal menurutku dia itu hanya kurang ajar. Menyuruh senior untuk bersikap sopan padanya, bukankah itu namanya kurang ajar? Namun, ternyata perkenalan yang menurutku kurang ajar itu justru mengundang banyak orang untuk kagum pada Sena. Terutama para pria. Oughhh! Itu sungguh menyebalkan, dan yang paling menyebalkan adalah sikap Sena yang dengan mudahnya membiarkan Kihyun selalu menempel dengannya seperti itu?! Sudah seperti perangko saja!
"Ahhhh, Sena adalah satu-satunya junior di tahun ini yang benar-benar keren sekali, tidak disangka dia bergaul dengan pria seperti itu, ckckck." Changkyun mendecakkan lidahnya.
Pria seperti itu? Changkyun mengatakan itu pasti karena dia tidak tahu bahwa Yoo Kihyun adalah pewaris tunggal dari Yoo Intertaiment, salah satu dari label industri hiburan raksasa di Korea. Bagaimana aku tahu? Kalian pasti ingat persyaratan yang Sena ajukan padaku saat aku memintanya untuk tutup mulut, 'kan? Ya! Aku seperti orang gila yang mencari tahu latar belakang keluarga para mahasiswa di sini, beruntung aku memiliki pak Choi Hyun Sik di sisiku, seorang ahli IT yang dengan mudah membantuku untuk mencaritahu latar belakang mahasiswa di sini, dan ... entah kenapa aku merasa kesal sendiri setelah memberitahu Sena bahwa di kelasnya ada satu mahasiswa yang paling kaya diantara mahasiswa lainnya, yaitu Yoo Kihyun. Sejak saat itu Sena jadi sering sekali menghabiskan waktu dengannya. Belajar, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, mengadakan event, dan mengambil kelas terbang, mereka melakukannya bersama! Sial!
"Sebenarnya apa bagusnya Kihyun? Aku jelas lebih tampan darinya! Gaya fesyenku juga lebih baik darinya! Proporsi tubuhku juga lebih bagus darinya! Dan juga aku lebih kaya darinya! Jadi kenapa dia menghabiskan waktu dengannya daripada denganku!" Ini sungguh menyebalkan!
"Hey, Seokjin, kenapa kau bicara begitu? Apa kau sebegitu sukanya pada Yoon Sena?"
"Heh? Apa maksudmu? Aku..., aku hanya—" sial, tadi aku itu hanya bergumam, tapi sepertinya gumamanku terlalu keras ya? Aishhh.
Changkyun menatapku curiga, "waahhh~ sepertinya dugaanku benar! Ternyata itu bukan ilusiku saat aku memergokimu memerhatikan Sena, dan kurasa kau juga sengaja mendapatkan nilai jelek di semester kemarin agar kau bisa mengambil kelas yang sama dengan Sena, iya, 'kan? Aku sangat heran bagaimana bisa si jenius ini tiba-tiba mendapat nilai jelek untuk semua mata kuliah di semester kemarin, ternyata ini alasannya."
Sial! Bagaimana bisa Changkyun tiba-tiba menjadi amat sangat pintar seperti ini? Aku sungguh kagum dengan analisisnya. Jadi, haruskah kuakui bahwa yang dikatakannya benar?
Tidak! Seokjin, kau bukannya sengaja mendapat nilai jelek. Di semester kemarin itu banyak sekali pekerjaan di tempat magangku, makanya nilai kuliahku jadi jelek karena aku tidak fokus. Dan, alasan aku memerhatikan Sena? Itu pasti kulakukan karena aku hanya ingin memastikan bahwa dia tidak akan merusak etikanya. Biar bagaimanapun, dia adalah isteriku!
Itu cuma alasan, 'kan?
Bukan! Itu bukan alasan! Itu kenyataannya! Kenapa aku harus mencari-cari alasan untuk hal seperti itu? Kalian jangan bergurau!
"Hey, Changkyun, daripara kau mencoba menganalisis gerak-gerikku terhadap Sena, ada baiknya kau mencoba memganalisis object penelitianmu!" Aku memukul pelan kepala Changkyun dengan buku, setelahnya aku meninggalkan cafeteria. Aku sudah tidak napsu makan setelah melihat dua orang menyebalkan itu mesra-mesraan!
♧♧♧
Sudah lewat jam sembilan. Sena benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa dia belum juga pulang?! Hari ini aku melihatnya lagi-lagi bersama Kihyun, apakah dia alasan Sena belum pulang sampai jam segini?!
Menyebalkan! Sepertinya si Kihyun ini harus ditegur! Bisa-bisanya dia membuat isteri orang pulang selarut ini!
Baru sekedar niatan untuk menghubungi Kihyun dan menegurnya. Namun, Sena yang muncul dari balik pintu, membuat niatan itu tak terlaksana.
"Yaa! Yoon Sena! Kau kemana saja jam segini baru pulang, hah?! Apa kau bersama dengan Kihyun?! Yaa! Kau itu harus berapa kali kuingatkan tentang etika, hah?! Kau itu—"
"Hks~ hks~ Seokjin. Aku—"
Dia memelukku, dan mulai menangis tersedu-sedu di dalam pelukkanku.
"Sena, ada apa? Kenapa menangis?" Aku merasa begitu cemas. Apalagi saat berpikir bahwa Kihyun mungkin melakukan sesuatu padanya. Arghhh! Pria itu benar-benar harus kutegur. "Apa karena Kihyun?"
Dia mendongakkan kepalanya, menatapku dengan matanya yang basah, "bagaimana kau tahu aku menangis karena Kihyun?"
Jadi benar! Jadi dia sungguh menangis karena Kihyun. Aku hanya asal menebak, dan tebakkan benar ini membuat hatiku gusar. Kenapa? Apakah Kihyun mempermainkannya? Atau apakah ternyata Sena sebelah tangan dengan Kihyun? Melihat raut wajah Sena, pasti jawabannya seputar dua hal itu. Dan itu membuat hatiku sakit.
"Kihyun bilang dia tidak dianggap oleh ayahnya, jadi dia tidak bisa membicarakan soal investasi untuk usaha ayahku. Menyebalkan sekali, tapi aku kasihan dengan Kihyun, tapi aku lebih kasihan dengan ayahku. Hks~ hks~ kenapa sulit sekali untuk menjadi berguna bagi keluargaku?"
"Heh?!"
Tunggu dulu! Biarkan aku mencerna maksud Sena barang sejenak.
Jadi, dia ingin mendekati anak-anak orang kaya dengan tujuan membangun relasi untuk ayahnya, agar mendapat investor? Kupikir dia ... ingin bersenang-senang. Jadi, selama ini aku salah paham? Aku bahkan selalu menyebut tentang etika di depannya. Aishhhhh.
"Sena, jadi kau menangis karena ini?"
"Memangnya karena apa lagi? Kau tidak akan tahu rasanya karena ayahmu tidak pernah bangkrut. Rasanya menyedihkan sekali."
Entah apakah karena aku egois, atau aku orang jahat tapi, aku merasa sangat lega mendengar alasan sebenarnya mengapa Sena menangis.
"Bodoh, jika hanya karena itu, lantas kenapa kau tidak mempertimbangkanku saja? Maksudku, kau tahu betul bahwa aku lebih kaya dari Kihyun, aku juga anak kesayangan ayahku, dan ibumu adalah teman dekat ayahku. Jadi, jika kau memintanya untuk berinvestasi, pasti ayahku akan berinvestasi."
Dia melepaskan pelukkannya. Aku ingin sekali menariknya kembali ke dalam pelukkanku tapi, ingatan tentang bagaimana selama ini aku memerlakukan Sena, menghentikanku.
Aku dan Sena sudah mengenal sejak lama. Meskipun begitu, kami tidak pernah akur. Sena adalah gadis yang berani, tegas, dan sangat impulsif, sedangkan aku berkebalikan darinya, mungkin itulah yang membuat kami tak akur. Aku sering sekali mengumpat padanya, menghardiknya, dan bersikap sarkastik padanya. Meskipun dia juga begitu, tapi tidak pantas saja jika seorang pria melakukan hal begitu pada seorang wanita. Aku ... malu.
"Ayahku bilang, kami tidak boleh membebani keluargamu."
"Tapi kita kan sudah menjadi keluarga. Kau dan orangtuamu adalah keluargaku, begitupun dengan aku dan orangtuaku. Kita ini sudah menjadi keluarga!" Tukasku, dengan begitu yakin.
Sena menghapus airmatanya, dan kemudian menatapku dengan sinis. "Yakin? Kau bahkan menganggapku pengganggu hanya karena aku ingin kau mengajariku beberapa mata kuliah."
"Heh? Kapan aku bilang begitu?"
"Ahhh jangan pura-pura lupa! Aku bahkan harus menelan harga diriku untuk memujimu, tapi kau malah bilang aku pengganggu bahkan sebelum aku minta tolong padamu!"
"Aku—" kemudian aku teringat bahwa yang dia maksud pasti kejadian waktu itu saat aku sedang mengerjakan tugasku. Tapi, bukan begitu maksudku, aku sungguh tidak menganggapnya sebagai pengganggu. "Sena, kau sepertinya salah paham, aku—"
"Sudahlah, aku lelah. Aku mau tidur saja." Dia masuk ke kamarnya begitu saja, tanpa mau mendengarkan kalimatku sampai selesai.
Sena, kau sungguh salah paham!
♧♧♧
YOON SENA
Aku mungkin tidak berhasil mendapatkan investasi dari keluarga Kihyun. Namun, Chae Hyeong berkata padaku bahwa dia akan membantuku berbicara pada ayahnya prihal investasi untuk ayahku. Sekedar info, Chae Hyeong itu adalah putra kedua dari Presdir Chae Jung Sae, pemilik HB+ Connected, perusahaan IT terbesar di Korea.
Aku mengenal Chae Hyeong dari kenalannya Kihyun. Karena Kihyun merasa tidak enak karena tidak bisa membantuku, maka dia mengenalkanku pada seseroang bernama Taehyung, dan Taehyung mengenalkanku pada Chae Hyeong.
Aku memang tidak begitu kenal dengan Chae Hyeong, tapi pastinya dia orang baik karena dia adalah teman dari temannya Kihyun —Kihyun itu adalah orang yang amat sangat baik—
Saat ini aku sedang berada dalam perjalanan menuju tempat Chae Hyeong, dan lagi-lagi ponselku berdering. Aku tahu sekali siapa yang membuat ponselku terus berdering ini.
"Seokjin, berhentilah meneleponku, ok?!"
Tukasku. "Kau itu mengganggu perjalananku tahu!" Dia menganggapku pengganggu, akupun juga bisa memerlakukannya seperti itu.
"Sena, tadi di kelas aku ketiduran, dan aku bermimpi buruk. Bisakah kau menemuiku? Aku... cemas. Aku ingin segera melihatmu dan memastikan kau baik-baik saja."
Apaan ini? Dia,sedang merayuku? Jika iya, maka dia sungguh telah berhasil, karena ... aku kini berdebar.
"Sudahlah, Seokjin. Jangan ganggu aku!" Aku segera menutup teleponnya. Namun, hatiku masih terus berdebar kencang. Uhhhh Seokjin sangat menyebalkan.
Aku akhirnya sampai di rumah Chae Hyeong. Rumahnya sungguh besar sekali, hampir sama seperti rumah Seokjin, hanya saja rumah Seokjin sedikit lebih mewah dari ini.
Aku hendak menghubungi Chae Hyeon dan memberitahunya bahwa aku telah sampai ketika sebuah mobil audi s tiger berhenti di depanku.
"Sena."
Ternyata itu adalah Chae Hyeong.
"Masuklah." Dia menyuruhku masuk ke mobilnya. Kemudian dia melajukan mobilnya masuk ke perkerangan rumahnya, dan memarkirkan mobilnya ini di sebuah lapangan parkir yang di mana banyak sekali mobil mewah terparkir di sini. Aku juga dulunya orang kaya, tapi ini sungguh sangat mewah bagiku. Parkiran di rumahnya penuh dengan mobil mewah begini, itu berarti masa depan perusahaan ayahku akan terjamin, 'kan?
"Ayo masuk." Dia meraih tanganku, dan menuntunku masuk ke rumahnya. Jujur saja, aku sangat risih dia menuntunku. Oleh karena itu, aku menarik tanganku dari genggamannya.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa, tanganku berkeringat," dalihku.
"Bukan masalah, lagipula nanti bukan hanya tanganmu yang akan berkeringat, jadi tidak apa-apa." Dia kembali meraih tanganku. Dan itu membuatku merasa bahwa ada sesuatu yang salah di sini, apalagi dengan perkataan absurdnya tadi.
"Chae Hyeong. Sepertinya aku harus pulang, aku lupa bahwa aku belum mengerjakan tugas aplikasi statistikaku." Aku hendak keluar ketika tiba-tiba saja Chae Hyeong menarik rambutku dengan keras.
"Akhhhhh!!"
"Jadi kau mencoba main tarik-ulur denganku, huh? Bukankah belakangan ini kau gencar merayuku, jadi kenapa kau belagak begini?"
"Akhhhh, Chae Hyeong, lepaskan, sakit sekali." Ringisku.
"Ayolah, ringisanmu itu simpan saja untuk permainan kita. Oh iya, bagaimana kita coba gaya yang kau lakukan dengan pria itu, huh? Aku sungguh ingin mencobanya saat menonton videomu."
Gaya? Video? Mungkinkah yang dia maksud video itu?
"Chae Hyeong, kau salah paham, aku bukan wanita seperti itu, aku ... emphhhhhh."
Aku tidak tahu apa yang Chae Hyeong masukkan ke dalam mulutku tapi, aku merasa tubuhku panas sekali.
Seokjin, seharusnya aku menuruti perkataanmu. Seharusnya aku datang menemuimu. Seokjin, aku takut sekali. Tolong aku.
♧♧♧
Aku sudah terbangun sejak tadi tapi, aku takut sekali untuk membuka mataku. Seluruh tubuhku yang sakit membuatku merasa bahwa semalam telah terjadi sesuatu antara aku dan Chae Hyeong, san semua itu pasti karena obat yang dia berikan. Aku ... benar-benar tidak ingin membuka mataku.
"Hey, kenapa menangis?"
Suara ini? Seokjin?! Tapi tidak mungkin, semalam aku ...
"Tidak apa-apa, ada aku di sini." Suara ini jelas suara Seokjin, dan pelukkan ini, serta aroma ini. Benarkah Seokjin? Tapi bagaimana bisa?
Perlahan aku membuka mataku untuk memastikan, dan pada akhirnya aku menangis tersedu-sedu saat mendapati Seokjin tengah tersenyum padaku.
"Seokjin, ini kau? Aku ... aku senang sekali melihatmu ... aku merindukanmu." Aku membalas pelukkan Seokjin dengan lebih erat. "Seharusnya aku menurutimu tapi, karena ingin membalasmu, aku jadi tidak menuruti perkataanmu. Seokjin, aku takut sekali."
"Tidak apa-apa, sekarang kau bersamaku, jadi tidak apa-apa," katanya dengan lembut.
"Oh iya, hanya sekedar memberitahu supaya kau tidak gelisah. Kemarin itu aku sangat cemas padamu karena mimpiku, maka dari itu aku meminta pak Choi untuk melacak teleponmu. Beruntunglah aku datang tepat waktu, jadi, kau dapat menghabiskan malam pertamamu denganku."
Jadi dialah yang membuat sekujur tubuhku sakit? Dan pengalaman pertamaku, kuhabiskan dengannya? Syukurlah.
"Syukurlah, Seokjin. Syukurlah bahwa itu kau. Jika itu bukan kau, maka aku pasti akan hancur lebur. Terimakasih."
"Sena, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Seokjin terdengar begitu serius, maka dari itulah, aku akhirnya melepaskan pelukkannya, dan menatap wajahnya yang serius itu.
"Apa?"
"Tentang masalah video mesum itu. Pakar telematika akhirnya mendapatkan bukti bahwa dua orang di video itu bukanlah kita, dan sekrang mereka sedang menyelidiki pelaku aselinya."
Deggg
Mendengar itu, membuat dadaku terasa ringan. Selama enam bulan aku dan Seokjin dicap sebagai pelaku mesum oleh teman-teman sma kami, akhirnya semuanya akan berakhir di sini.
"Benarkah? Apakah bukti itu bisa membuat semua orang berhenti menghakimi kita?" Tanyaku, mencoba meyakinkan.
"Emm," Seokjin menjawab dengan begitu singkat. Apakah dia tidak senang?
"Kau kenapa begini? Apa kau tidak senang?"
"Kau ... apakah sudah lupa dengan kontrak kita? Jika kasus video mesum itu berhasil dipecahkan, maka kita ... akan mengakhiri pernikahan ini."
Benar. Aku baru ingat dengan bagian ini.
Iya, benar sekali. Ini adalah alasan aku dan Seokjin dipaksa menikah oleh keluarga kami. Semua itu karena Video mesum yang beredar di dalam ruang group sma kami, yang kemudian di curigai oleh orang-orang adalah milikku dan Seokjin, hingga akhirnya teman-teman di group itu membagikannya pada orangtua kami.
Saat itu, tepatnya enam bulan lalu adalah hari di mana angkatan sma kami mengadakan reuni. Aku yang datang ke sana dengan hati gusar karena usaha ayahku tak kunjung membaik, memilih untuk mabuk. Benar adanya bahwa malam itu aku memang bersama Seokjin. Namun, aku ingat dengan jelas bahwa Seokjin hanya mengantarku ke studioku, setelah itu dia pergi. Namun, entah bagaimana keesokkan harinya sebuah video mesum tersebar, dan tiba-tiba nama kami berdua terseret.
Saat itu tidak ada yang percaya pada kami bahkan keluarga kami. Mereka justru memaksa kami untuk menikah demi menghilangkan rasa malu. Namun, aku dan Seokjin yang tahu sebenarnya tidak bisa tinggal diam. Kami meminta pakar telematika untuk memeriksa keaslian video itu, akan tetapi, pakar telematika kenalan Seokjin itu sangat sibuk, hingga akhirnya kami tidak bisa mengelak lagi dari pernikahan. Karena pernikahan itu bukanlah keinginan kami, maka dari itu kami membuat kontrak yang berisikan bahwa pernikahan kami akan berakhir setelah kami dapat membuktikan bahwa bukan kami pelaku dalam video mesum tersebut. Dan setelah menikah dengan Seok Jin, keluarganya mulai menunjang biaya hidupku, bahkan menguliahkanku.
Sebenarnya, keluarga Seokjin sejak dulu ingin membantu biaya untuk kuliahku. Namun, karena ayahku tidak mau merepotkan, keluarga Seokjin pun menghargai keputusan ayahku. Akan tetapi, terjalinnya hubungan antara aku dan Seokjin, membuat mereka pada akhirnya merasa mendapatkan andil dalam menunjang hidupku.
"Benar. Aku lupa soal kontrak itu."
"Sena. Jika kau mau... hanya jika kau mau ... bisakah kita menghancurkan kontrak itu? Aku ... sepertinya tidak rela kehilanganmu."
Aku terdiam barang sejenak.
"Seokjin, kau... seriuskah?"
"Sangat. Kau tahu? Aku sungguh terganggu dengan perasaan yang muncul dalam hatiku tiap kali aku melihatmu. Kupikir itu hanya perasaan gelisah yang tidak menentu tapi, kemudian aku sadar, bahwa itu adalah rasa sayangku yang perlahan mengembang untukmu. Sena, aku mencintaimu. Tetaplah menjadi isteriku."
Dia teman debatku. Dia dan aku sering mengumpat dan menghardik satu sama lain. Tapi, hari ini, siapa yang sangka bahwa yang kami inginkan keluar dari mulut kami adalah kata-kata manis?
"Aku ... sepertinya juga tidak rela berpisah denganmu. Aku sayang padamu, Seokjin."
EPILOGUE
Polisi menetapkan mantan kekasih Seokjin, PHJ. sebagai tersangka kasus pemalsuan Video mesum. PHJ mengaku mengedit video dewasa dari sebuh situs dengan wajah Seokjin, dan Sena lantaran dia kesal hubungannya dan Seokjin berakhir, yang dia duga karena Sena. Karena itu, dia melakukan cara tersebut untuk menghancurkan reputasi Sena dan Seokjin.