Sendirian lagi! fiuhh..
Aku selalu merayakan ulang tahun sendirian. Hanya ada lampu kecil kerlap-kerlip saja yang menjadi temanku malam ini.
"Lucy kamu sudah melakukan yang terbaik tahun ini!"
"Iya aku tahu, ngomong-ngomong ini hadiahku ya?"
"Yeayy ayo bukalah Lucy, buka!"
Aku bergumam sendirian untuk membuat ulang tahunnya lebih terasa. Aku bahkan membungkus kado yang diperuntukkan buat diriku sendiri. Namun tetaplah aku merasa SENDIRIAN.
Jika rasa makanan tidak bisa berbohong, maka bagiku kesendirian itu juga tidak bisa di bohongi. Aku kembali memasang wajah sendu sembari menatap lampu kerlap-kerlip yang terpampang di dinding.
DUG! DUG! DUG!
Tiba-tiba terdengar suara musik yang sangat gaduh, tepat di samping rumahku. Sepertinya Alfred sedang mengadakan pesta malam ini, dan tampaknya dia tidak berniat sama sekali mengundangku ke pestanya.
Menurutku bukan cuma Alfred saja yang berusaha tidak mengundangku ke pestanya, tetapi juga para tetanggaku yang lain. Mereka seakan mencoba menghindari diri ini. Aku seringkali mencoba menahan amarah ketika diperlakukan berbeda oleh mereka.
Namun karena hari ini adalah spesial, aku ingin apa yang selama ini kupendam dalam hati bisa diluapkan ke semua orang.
Aku langsung menuju rumah tetanggaku itu dengan wajah cemberut. Langkah kaki pun aku percepat, karena sudah tidak sabar untuk segera memarahi Alfred.
"Woii Alfred!!" pekikku sambil menggedor pintu depan rumah Alfred. Diri ini terus menggedor-gedor pintunya selama beberapa menit. Namun tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu.
"Sialan!" aku melemparkan batu ke rumah Alfred. Dengan wajah yang semakin memerah, aku pun terpaksa kembali lagi melangkahkan kaki ke rumah.
"Hihihi!" tiba-tiba terdengar suara lelaki yang cekikikan dari balik jendela rumah Alfred, seakan ada seseorang yang sedang mentertawakanku. Perlahan aku melangkahkan kaki untuk mendekati jendela itu.
"Hei Alfredo!!! jangan ketawa aja dong! setidaknya kecilin dong volume musiknya! mengganggu tetangga tau!" teriakku dengan kernyitan dahi dan juga wajah berwarna merah padam. Tidak lupa aku juga menggedor jendela yang tertutup oleh tirai itu.
Tanpa di duga musik langsung berhenti. Sontak aku terdiam dan bengong melihat rumah Alfred. Perlahan ada perasaan lega di hati. Syukurlah si Alfred sepertinya mendengarkan teguranku.
"Nah begitu dong bro! ngomong-ngomong kamu juga tidak mengundangku ke pestamu kan? kenapa hmm? kenapa? coba jelaskan padaku Alfredo??!!" pekikanku belum berakhir. Aku masih berdiri di depan jendela rumah Alfred sambil bersumpah serapah padanya.
Ciiieett. . .
Pintu depan rumah Alfred perlahan terbuka. Dia seakan mengundangku ke pesta. Tanpa pikir panjang kulangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Hello???" aku masuk sambil celingak-celingukan karena tidak ada siapapun saat itu di dalam rumah Alfred.
BRAKK!!
Pintu rumah Alfred tiba-tiba langsung tertutup sendiri. Aku mencoba membuka pintu itu sekuat tenaga, tapi usahaku malah berujung sia-sia. Sialan! apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku rasa si Alfred ingin main-main!
Dengan terpaksa aku harus menyusuri rumah Alfred untuk menemukan jalan keluar yang lain.
"Hello? ada orang di rumah? Alfredo. . . ini nggak lucu loh. . ." ucapku sambil berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di rumah Alfred.
Saat akan menaiki tangga, kakiku langsung terhenti ketika melihat Alfred sedang berdiri tegak, lengkap dengan kemeja putih dan dasi merahnya. Alfred tampak semakin gagah dan tampan saat itu. Dia memandangku dengan mata yang berbinar. Perlahan dia melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Hei Lucy!" sapanya lembut.
"Alfred?" aku menatapnya bingung.
Perlahan tangannya yang putih pucat itu membelai rambutku yang sedang tergerai. Dia mendekatkan wajahnya agar bisa menatapku lekat.
"Alfred! ini tidak lucu!" bentakku sambil mendorong Alfred menjauh.
"Aku mencintaimu Lucy! sudah lama! aku hanya menunggu waktu yang pas untuk menyatakannya padamu!"
"Apa? bukankah kau-membenciku?"
"Aku mencintaimu Lucy!"
DEB!
Tiba-tiba seluruh lampu di rumah itu padam. Membuat ketakutanku semakin bertambah. Aku masih menatap Alfred yang masih terdiam.
Namun perlahan kepala Alfred mengeluarkan bunyi aneh.
Krekk. . . Kreeekk!
Kepalanya tampak berputar dari lehernya. Aku yang melihatnya hanya bisa gemetaran, bahkan keringat mulai membasahi baju yang kupakai.
Akibat sangat ketakutan aku pun berlari ke pintu depan, dan berusaha membukanya sekuat tenaga. Namun pintu itu tetap saja tidak bisa terbuka. Aku pun berbalik untuk melihat Alfred yang sudah tidak berkepala. Hanya ada bagian tubuhnya berdiri tegak di depanku.
Aku terduduk di lantai karena merasa terpojok. Air mata mulai bercucuran. Sekarang aku hanya bisa pasrah.
Tiba-tiba aku melihat kepala utuh Alfred menggelinding di lantai. Tidak hanya satu, namun dalam jumlah banyak. Wajah Alfred di kepala yang meggelinding itu tampak tersenyum lebar, dan sesekali mengeluarkan tawa yang mengerikan.
"Aaaarkhh! aaarkkh! TOLONG! SIAPAPUN KUMOHON TOLONG AKU!!!" pekikku seraya menghindari kepala-kepala Alfred yang berusaha menyentuh tubuhku.
Akhirnya aku hanya bisa menangis histeris. Perlahan kepala-kepala Alfred mulai menghilang, dan hanya menyisakan satu kepala. Satu kepala itu berdiri tegak di depanku dan berkata, "Selamat ulang tahun Lucy, kali ini kamu tidak sendirian!"
"Astaga Lucy! kenapa kamu selalu memotong kepala-kepala boneka ini?!!" perawat pengacau itu kembali menggangguku.
"Kegaduhan apa lagi yang kamu buat hari ini! sampai menyetel musik dan berteriak-teriak nyaring begitu?!!" sambungnya lagi dengan kernyitan di dahinya.
"Jangan sentuh Alfredo!!!" bentakku sambil memeluk kepala utuh Alfred yang ada di depan, karena tangan perawat itu terlihat berusaha mengambilnya.
Perawat yang memiliki nama Mike itu pun menghela nafas panjangnya, sambil berusaha memungut kepala-kepala boneka lainnya yang sedang berhamburan di kamarku.
"Lucy! aku tidak akan memberikan kamu boneka lagi kalau pada akhirnya kamu akan jadikan mereka begini!!" pekik perawat berkulit hitam itu lagi.
Dari belakang Mike aku bisa melihat pintu terbuka lebar. Aku pun perlahan berdiri dan segera berlari agar bisa segera keluar. Namun Mike lebih cekatan dari pada aku, dia langsung menutup dan sekaligus mengunci pintunya.
"Lucy, kali ini aku tidak akan membiarkanmu merepotkan semua perawat di rumah sakit jiwa ini!" ancam Mike sembari menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengambil obat-obatan yang dia bawa.
"Hahahaha! Hahaha! Mike hari ini aku ulang tahun! Mike hari ini aku ulang tahun!" ujarku sambil meloncat-loncat kegirangan di samping Mike.
"Hebat sekali Lucy! kamu satu-satunya manusia di dunia ini yang berulang tahun setiap hari! Hahaha!" sahut Mike santai dan ikut tertawa bersamaku.
Aku yang mendengarnya merasa sangat senang. Bagiku hanya Mike satu-satunya perawat di sini yang begitu menghargai hari ulang tahunku. Haha!
~TAMAT~
☻Selamat ulang tahun untuk kamu yang berulang tahun hari ini.