Aku gadis modern yang tidak percaya dengan adat istiadat yang turun-temurun dari keluargaku. Namaku Xinxin, aku memiliki darah chinese dari Kakekku, sedangkan Nenekku asli orang Indonesia. Berawal dari semua kenakalan remaja yang sudah aku lakukan membuat kedua orangtuaku mengirimku kemari.
Kesebuah desa yang sangat jauh dari pusat kota. Ya, aku dikirim ke rumah Kakek dan Nenekku. Aku yakin, aku tidak akan kuat tinggal disini. Apalagi dengan segala peraturan dirumah ini, aku benar-benar tidak akan tahan.
"Ibu.. Aku janji aku tidak akan pergi minum lagi. Jadi biarkan aku pulang bersama kalian" rengekku ketika Ibu dan Ayah akan pulang dan meninggalkan aku disini.
Aku sudah berkali-kali merengek, memohon bahkan sampai menangis untuk membatalkan niat mereka mengasingkan aku kemari tapi mereka tetap tidak mendengarku. Mereka benar-benar mau menghukumku dengan berat, bahkan aku tidak diperbolehkan membawa ponsel. Ini benar-benar bencana untukku.
"Xinxin, kamu harus menurut pada Kakek dan Nenek. Jangan macam-macam" Setelah mengatakan itu, Ibu menutup rapat kaca mobil dan pergi pulang bersama Ayah.
Aku menangis karena kesal. Aku memang suka kemari, untuk menengok Nenek dan Kakek bersama kedua orantuaku. Tapi tidak pernah tinggal lama disini, paling hanya sampai 2 atau 3 hari saja. Ya Tuhan, apa aku bisa tahan tinggal disini?
"Xinxin, sebaiknya ayo kita bereskan dan cuci piring bekas kita makan tadi" kata Nenek sambil menarikku kedalam.
Arrgghh.. Sial sekali. Di rumah aku tidak pernah bekerja, tapi disini aku harus menyapu, dan mengerjakan tugas rumah lainnya. Bahkan Nenek selalu mengajakku untuk belajar menyulam, aku benar-benar tidak bisa seperti ini.
Minggu berikutnya Kakek menyuruhku untuk membersihkan gudang. Ya Tuhan, aku yakin di gudang yang gelap dan sempit itu pasti akan sangat menyeramkan bukan?
"Xinxin, ayo masuk. Kenapa kamu diam saja?" tanya Kakek padaku ketika aku hanya menatap pintu tanpa masuk kedalam.
"Kakek.. Aku takut, pasti didalam gelap, banyak tikus dan kotor" rengekku mencoba membujuk Kakek agar aku bebas dari tugas ini.
"Tidak. Kamu harus membereskannya. Kakek dan Nenek akan pergi ke kota untuk belanja bulanan dan akan periksa kesehatan. Jadi jaga rumah dan bersihkan gudang itu"
Kakek jahat sekali. Tega sekali membiarkan cucu yang cantik ini masuk kedalam gudang yang kotor.
"Baiklah-baiklah aku masuk Kek" kataku sambil cemberut. Aku mencoba memberanikan diri untuk masuk kedalam.
Setelah masuk pintu gudang langsung tertutup, aku kaget bukan main. Hampir saja aku akan berteriak.
"Xinxin.. Kakek dan Nenek pergi dulu sebentar. Kamu baik-baik di rumah ya" Teriak Kakek dari luar.
"Iya Kek, hati-hati. Jangan pergi terlalu lama" teriakku didalam gudang.
Tak ada jawaban sepertinya mereka sudah pergi. Aku mengamati gudang ini, tidak terlalu buruk. Sepertinya Kakek sering membersihkan gudang ini, aku hanya perlu menyapu dan mengepel saja. Ada beberapa sarang laba-laba, aku harus membereskannya segera. Setelah itu aku bebas dan bisa istirahat.
Aku mulai menyapu kemudian mengepel gudang ini. Setelah selesai beres-beres dan merapikan barang-barang yang ada disini, aku hendak pergi untuk beristirahat. Tapi dari awal masuk, aku sedikit terganggu dengan sesuatu yang ditutup oleh kain merah dipojok ruangan. Apa sebenarnya dibalik kain merah itu?
Karena rasa penasaran yang tinggi aku mulai mendekat dan menyibakkan kain merah yang menutupi sesuatu itu. Tapi saat aku membuka kain itu tanganku berdarah, entah terkena apa dan darah itu mengenai sebuah lukisan. Ternyata dibalik kain merah itu ada lukisan seorang wanita yang begitu cantik dengan pakaian cina kuno.
Siapa wanita di lukisan ini? Saat ku perhatikan ternyata darahku mengenai lukisan itu. Aduhh.. apa Kakek akan memarahi aku? Ahh.. tidak-tidak, karena sepertinya lukisan ini sudah akan dibuang.
Aku perhatikkan wajah wanita itu, kenapa wajahnya terlihat mirip denganku? Hanya gaya rambut dan gaya berpakaian saja yang membedakan. Hm.. ternyata aku memiliki kembaran.
Tiba-tiba aku seperti tersedot oleh kumparan waktu dan masuk kedalam lukisan itu. Aku begitu kaget dan panik, aku mencoba menatap sekeliling. Damn! Ini dimana? Kenapa aku? Tunggu.. Baju ini, rambut ini... Kenapa aku seperti wanita dalam lukisan itu?
Apa ini mimpi?
"Permaisuri Xu, sedang apa Anda disini tanpa pengawal?"
Tunggu, wanita yang berbicara tadi siapa? Dia memakai bahasa mandarin tapi kenapa aku mengerti ucapannya? Dan barusan dia memanggilku dengan sebutan permaisuri? Oh ayolah, apa sekarang aku adalah istri seorang raja?
"Aku hanya ingin mencari angin saja"
Wow.. aku benar-benar bisa bahasa mandarin. Tadi aku bicara menggunakan bahasa mandarin. Tapi kenapa aku bisa datang ke masa lalu, ke zaman kerajaan cina? Dan aku menjadi permaisuri raja? Bagaimana tampang seorang raja dimasa lalu? Aku benar-benar penasaran.
"Seperti itu? Apa perlu saya temani?" tawar wanita itu.
"Tidak selir Ye, biarkan saya sendiri" Fakta baru, ternyata wanita didepanku ini adalah seorang selir?
Aku harus berhati-hati karena setahuku selir itu selalu iri dan jahat, ok apa aku terlalu berlebihan?
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi"
Setelah itu dia pergi. Tiba-tiba sekelebat ingatan yang entah datang dari mana mengusikku. Aku melihat diriku dan seorang pria sedang berkenalan, dan aku merasa begitu tertarik padannya.
*flashback Permaisuri Xu
Aku berkenalan dengan seorang pria ketika aku menyamar sebagai warga biasa di pasar. Aku keluar dari istana tanpa sepengetahuan siapapun. Aku memang putri kaisar yang susah sekali diatur dan selalu membuat resah kedua orangtuaku.
"Namamu?" tanya pria yang berhasil mencuri perhatianku saat pertama kali bertemu. Dia pun sepertinya sedang menyamar, aku yakin dia juga bukan orang biasa.
"Aku Xu Jiao" kataku sambil menjabat tangannya. Hangat sekali, aku merasa ada getaran dibalik jabatan tangannya.
Bahkan dia begitu tampan walau aku hanya dapat melihat sorot matanya saja. Aku sangat penasaran dengan wajahnya, aku yakin dia pun begitu padaku karena aku pun sama memakai penutup wajah agar tidak dikenali orang.
"Aku Lin Zexu. Senang bertemu dengamu, semoga kita bisa dipertemukan kembali"
Setelah mengetahui namanya aku begitu senang. Aku tidak bisa terlalu lama bersamanya, aku akan segera dicari oleh para pengawal. Sebelum itu terjadi aku harus segera pulang ke istana.
"Sepertinya aku sudah harus segera pulang. Senang berkenalan dengan Anda Tuan Lin"
Aku yakin dia tersenyum dibalik penutup wajahnya. Setelah pamit aku membungkukan badanku sebagai rasa hormat dan salam perpisahan setelah itu aku pergi dari hadapannya.
Sepanjang jalan menuju istana aku selalu terbayang tatapan matanya yang begitu tajam. Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?
Saat aku sedang memasuki jalan rahasia menuju istana tanpa aku sadari ternyata para pengawal sudah menunggu aku disana. Sial, jalan rahasia ini sudah ketahuan, aku tidak bisa kabur lagi. Pasti jalan ini akan ditutup dan dijaga ketat.
Aku bersedih dikamar setiap hari, bukan karena hukuman dari raja karena aku ketahuan menyelinap keluar istana tapi aku sedih karena aku tidak bisa bertemu dengan Lin Zexu lagi. Waktu itu adalah pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir bagi kami.
Saat sedang melamun, tiba-tiba aku dipanggil untuk menghadap raja yang tak lain adalah Ayahku. Aku berjalan gontai ke ruangannya dan terlihat dia sedang membaca buku disinggasananya.
"Ada apa raja memanggilku kemari?" tanyaku yang masih terlihat menyedihkan.
"Putriku. Kamu anak semata wayangku dan kamu adalah penerus kerajaan ini.."
"Lalu?" Aku mulai resah, sepertinya akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi padaku.
"Karena kamu sudah dewasa dan siap untuk menikah. Ayah akan menjodohkan kamu dengan putra pertaman kerajaan Lin. Ayah harap kamu tidak menolak dan menurut"
Bagai tersambar petir, aku benar-benar kaget mendengar perkataan Ayahku. Kenapa harus perjodohan? Apa aku akan mencintai pria itu? Apa dia juga akan mencintaiku? Atau ini hanya semata-mata untuk politik kerajaan? Apa anak tidak lebih berarti dari kerajaan ini?
"Ayah.. tapi aku.." belum selesai aku bicara, Ayah sudah memotong ucapanku
"Ini perintah Raja. Silahkan kamu boleh keluar sekarang"
Sedih, marah, kecewa sudah menjadi satu. Aku tidak bisa menentang perintah raja walaupun dia adalah ayahku. Aku akan langsung dicap penghianat kerajaan jika aku menentang semua peraturannya.
Hingga hari perjodohan itu tiba, aku sudah memakai baju pengantin. Aku menunggu kedatangan keluarga besar kerajaan Lin. Aku begitu sedih hari ini, bahkan senyum bahagia tak terlihat diwajahku. Ini bukan pernikahan yang aku inginkan. Bagaimana aku bahagua jika aku sama sekali tidak mengetahui siapa pria yang akan aku nikahi hari ini.
Acara pernikahan berjalan lancar, aku duduk bersebelahan dengan suamiku sekarang. Dilihat oleh begitu banyak orang, bahkan kedua kerajaan sekarang sudah bersatu berkat pernikahan ini.
"Apa kamu lupa padaku?"
Suara ini.. Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh kearahnya dan Ya Tuhan, suamiku ini adalah Lin Zexu? Pria yang selalu aku rindukan selama ini?
"Tuan Lin?" tanyaku memastikkan.
"Ya, sekarang kamu sudah menjadi permaisuriku"
Akhirnya kebahagiaan datang padaku. Akhirnya aku menikah dengan orang yang aku cintai. Tuhan begitu sangat baik padaku, andai aku tahu bahwa Lin Zexu yang akan menjadi suamiku pasti aku tidak akan bersedih.
Tapi cobaan dalam berumah tangga itu selalu ada. Aku dan Lin Zexu sudah 5 tahun menikah tapi masih tidak memiliki keturunan. Lin dipaksa untuk memiliki selir agar mendapatkan keturunan segera. Karena desakan dari para petinggi kerajaan akhirnya aku harus rela berbagi Lin Zexu dengan perempuan lain.
Ternyata salah satu pelayan khusuku yang Lin Zexu pilih sebagai selirnya. Dia adalah pelayan Ye, dia muda, cantik dan baik. Sebetulnya aku marah, aku tidak rela harus berbagi Lin Zexu dengannya tapi Lin Zexu meyakinkan aku bahwa dia hanya mencintai aku.
Selang beberpa bulan, akhirnya selir Ye mengandung. Aku sedih, kenapa aku tidak bisa memiliki seorang anak? Semua sedihku selalu didengar Lin Zexu, bahkan setelah ada selir Ye dia tidak pernah berubah, dia tetap dan selalu mencintaiku.
Sepertinya ini jawaban dari Tuhan atas semua sabarku. Setelah tahu selir Ye hamil, aku pun akhirnya mengalami kehamilan juga. Aku seperti ibu hamil pada umumnya, aku manja dan selalu mencari Lin Zexu.
Hingga terjadilah aku diracuni oleh selir Ye tapi sampai saat ini kasusku dikatakan pembunuhan dan tidak ditemukan siapa pelakunya karena tidak ada bukti bahwa selir Ye yang membunuhku. Pada saat itu, dia membawakan ramuan untuk kesehatan bayi dalam perutku. Aku tidak memiliki rasa curiga apapun dan aku meminum ramuan itu sampai habis hingga aku tak sadarkan diri dan mati bersama bayi didalam perutku.
Setelah kematianku, Lin Zexu sangat terpukul hingga dia sering sakit-sakitan dan berakhir dengan kematian.
***
Aku terbangun dan ternyata aku masih didalam gudang. Aku benar-benar masuk dalam kumparan waktu yang membawaku ke masalalu ribuan tahun. Apa aku reinkarnasi Xu Jiao, wanita dalam lukisan ini? Apa aku hanya bermimpi? Tapi kenapa semuanya terasa nyata?
Ahh.. sudahlah. Karena disini sudah rapi sebaiknya aku kembali ke rumah dan menyiapkan makan malam untuk menyambut Kakek dan Nenek pulang.
Setelah 3 bulan di desa bersama Kakek dan Nenek aku mulai terbiasa dengan keadaanku sekarang. Aku rajin beres-beres, aku bisa memasak dan satu sekarang aku bisa menyulam. Tak terasa aku harus kembali ke rumah karena aku harus kembali melanjutkan kuliahku.
Aku pulang sendiri karena kedua orangtuaku tidak bisa menjemput. Akhirnya aku menggunakan kereta untuk sampai ke kota. Perjalanan ini cukup memakan waktu lama. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu kereta datang. Aku naik dan duduk dikursi yang dekat dengan jendela tiba-tiba ada seorang pria yang duduk disebelahku.
Aku kaget bukan main saat melihat pria itu, kenapa bisa mirip Lin Zexu? Apa dia reinkarnasinya? Apakah Lin Zexu dan Xu Jiao bisa bersama kembali dikehidupan sekarang?
Aku rasa pertemuan aku dan pria ini bukan sekedar kebetulan.