Malam ini tampak mencekam. Angin yang membuat bulu kuduk merinding sedari tadi terus bertiup, sementara langit sejak sore terlihat sangat mendung sehingga bulan tidak tampak.
Di sebuah rumah sederhana, seorang laki-laki berumur 17 tahun bernama Alka sedang bermain dengan gadgetnya. Laki-laki yang mempunyai rambut berwarna hitam legam itu awalnya tampak serius dengan apa yang ada di tangannya.
Tak berselang beberapa lama kemudian, ia menutup gadgetnya dan menghela napas sambil melirik ke arah jendela, memandang suasana malam yang tampak sangat sepi.
Dia tinggal di sebuah kompleks perumahan yang tidak mempunyai terlalu banyak penduduk. Jarak antar rumah cukup jauh, sekitar 80 meter.
Alka menyeruput kopi hangat yang telah dia persiapkan sebelumnya untuk menenangkan pikirannya yang entah kenapa sangat gelisah malam ini.
Ia gelisah dengan suasana malam ini dan pikirannya terhadap orang tuanya yang sudah tidak pernah mengirimkannya uang dan Alka merasa ada yang tidak beres dengan semua itu.
Saat berumur 12 tahun, orang tua Alka meninggalkannya karena mengatakan ada urusan penting yang harus mereka lakukan. Saat dua bulan pertama, ia masih dapat berkomunikasi dengan mereka, namun setelah itu Alka tiba-tiba kehilangan kontak dengan keduanya.
Alka yang saat itu panik berusaha mencari tahu, namun ia tak pernah mendapatkan jawaban. Setelah masuk awal bulan, Alka menerima kiriman uang dengan jumlah yang sama dengan yang selalu dikirim orang tuanya. Setelah mengetahuinya, Alka sudah tidak mencari tahu lagi karena berpikir mereka memang mempunyai pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk diganggu.
Alka yang cukup dewasa pada usianya itu tinggal di rumahnya seorang diri menunggu kepulangan orang tuanya.
Ia menjadikan kiriman uang itu sebagai dugaan bahwa kedua orang tuanya baik-baik saja dan karena itu jugalah ia merasa khawatir karena sudah tidak menerima kiriman uang dua bulan ini.
Alka khawatir bukan karena uangnya, ia masih mempunyai cukup banyak tabungan, namun kekhawatirannya disebabkan karena memikirkan kondisi mereka.
Alka kembali melihat ke luar. Perasaannya benar-benar tidak enak malam ini, ia merasa ada yang salah. Alka kembali menghela nafas berusaha merelakskan pikirannya dan mengenang kejadian yang selama ini terjadi.
Pemuda itu memikirkan peristiwa sejak delapan tahun belakangan ini yang di mulai pada Desember 2019 lalu.
Bermula dari saat itu, sebuah virus bernama Corona atau disebut juga Covid-19 yang bermula di Wuhan, China benar-benar mengubah segalanya. Virus yang awalnya hanya ada di China itu menyebar dengan sangat cepat hingga menjangkiti seluruh dunia. Membuat penderita virus itu pada akhirnya berjumlah seperdelapan penduduk bumi.
Virus Corona adalah sebuah virus yang menyerang sistem pernafasan dan menyebabkan komplikasi pada penyakit yang telah diderita sebelumnya, sehingga membuat banyak korban yang sudah berjatuhan. Virus itu benar-benar menjadi momok menakutkan bagi seluruh penduduk bumi, membuat banyak negara yang melakukan lockdown dan membatasi aktivitas-aktivitas masyarakat.
Hingga tahun 2025, seorang ilmuan berhasil menemukan vaksin untuk virus Corona. Vaksin itu dengan cepat diproduksi secara besar-besaran dan disebarkan ke seluruh dunia. Vaksinisasi besar-besaran pun terjadi saat itu hingga sekarang.
Dikarenakan vaksin itu, segala aktivitas kembali seperti semula. Para pekerja kantor, sekolahan, dan lain-lain yang awalnya terbatas sekarang sudah kembali berjalan normal.
Alka yang merupakan seorang pelajar juga ikut melaksanakan aktivitasnya, walaupun tidak seperti orang lain dikarenakan sikapnya yang sangat tertutup. Ia juga sering di deskriminasi dan dibully oleh teman-teman sekolahnya di SMA karena mempunyai fisik yang lemah.
Puncaknya, ketika Alka benar-benar merasa sendiri dan sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi, ia mencoba mengakhiri hidupnya karena sudah tidak tahan dengan semua yang dialaminya itu, namun seorang laki-laki seumurannya menghentikan Alka dan berjanji untuk menjadi sahabatnya yang akan terus bersamanya.
Sam, nama laki-laki itu benar-benar melakukan apa yang dijanjikannya. Ia selalu ada untuk Alka hingga membuatnya merasa bahwa ia sudah tidak sendiri lagi dan menemukan alasan hidupnya. Sam seperti malaikat yang diturunkan Tuhan kepadanya.
Sam sudah sering mengajak Alka untuk tinggal bersama dia dan keluarganya, namun Alka tetap menolak karena ingin menunggu kepulangan orang tuanya. Walaupun tidak tahu apakah mereka akan kembali atau tidak, namun ia tidak ingin saat orang tuanya pulang, mereka tidak menemukannya.
Alka kembali menyeruput kopinya yang sekarang sudah dingin. Dia benar-benar semakin gelisah, perasaan tidak beres yang dirasakannya semakin kuat.
Akhirnya, Alka sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menghubungi Sam. Namun sebelum itu teleponnya sudah berbunyi lebih dulu.
Alka melihat bahwa itu adalah nomor Sam, ia kemudian mengangkatnya. Setelah tersambung dan ingin bicara, Sam sudah mendahuluinya.
“Halo Alka, kau di sana? Cepat kunci pintu dan semua jendelamu! Aku akan segera ke sana, jangan buka sebelum aku menyuruhmu!” Kata Sam dari seberang sana dengan nada panik dan buru-buru.
“Sam, kau kenapa? Ada apa? Kenapa kau menyuruhku melakukan semua itu? Apa yang terjadi?” Alka menjadi semakin khawatir, firasatnya memang benar bahwa ada sesuatu yang terjadi.
“Sudah tidak banyak waktu lagi untuk menceritakan semuanya, Alka! Yang pasti kejadian buruk telah terjadi. Cepat lakukan apa yang aku perintahkan kepadamu! Aku akan segera ke sana!” Suara Sam terdengar sangat panik.
“Tap—“ Belum sempat Alka menyelesaikan ucapannya, Sam sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Alka jatuh ke dalam pikirannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sam menyuruhku untuk melakukan itu semua? Firasatku sepertinya memang benar, ada yang tidak beres.... Ah, aku harus segera melaksanakan perintah Sam, dia pasti benar-benar memiliki alasan kuat menyuruhku melakukan itu. Apapun yang terjadi, itu pasti memang sesuatu yang buruk.” Alka bermonolog.
Dia tidak berlama-lama dengan semua itu, Alka segera mengunci pintu dan jendela rumahnya, sesuai dengan apa yang diperintahkan Sam.
Dengan perasaan was-was, Alka mendudukan dirinya di kursi. Keringat seukuran butir jagung sudah membasahi keningnya, udara yang tadi dingin dirasakannya telah berganti menjadi gerah. Ia memutuskan duduk diam menenangkan pikirannya sembari menunggu Sam datang.
Jarak antara rumah Sam dan rumah Alka cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai.
Belum genap 15 menit Alka menunggu, ia mendengarkan suara mobil di depan rumahnya. Mobil itu tidak berhenti, melainkan hanya lewat dan menuju ke arah rumah salah satu tetangganya.
Alka mengetahui bahwa itu adalah suara mobil Pak Agus yang merupakan suami tetangganya yang baru saja pulang dari bekerja. Dia beranjak dari kursinya dan mengintip dari celah sempit jendela.
Di depan rumah tetangganya itu, ia melihat Pak Agus yang keluar dari mobilnya dan disambut oleh istrinya, Ibu Santi. Mereka tampak bercakap-cakap kecil kemudian masuk ke dalam rumah, namun sebelum masuk Pak Agus tiba-tiba menengok ke rumah Alka sebentar.
Nafas Alka tercekat. Walaupun dia sangat yakin bahwa Pak Agus tidak melihatnya, tapi dia benar-benar khawatir atas tatapannya itu.
Alka kembali duduk di kursinya, dia meneguk habis kopinya yang tinggal setengah dan hanya menyisakan ampas kopinya saja. Dia berusaha berpikir positif dan berharap Sahabatnya segera tiba.
20 menit kembali berlalu, tinggal sepuluh menit sebelum Sam datang, Alka tiba-tiba mendengar suara teriakan dari arah rumah tetangganya.
“AGUS, ADA APA DENGANMU? TOLONG! TOLONG! TOLONG! AGUS, KAU KENAPA? AAAAAAAAAAAaaaaaaaaa!!!” Teriakan kesakitan ibu Santi terdengar menggema selama dua menit dan setelah itu kembali hening.
Keringat Alka bercucuran sejak mendengarnya sedari tadi, “A-Apa yang sebenarnya terjadi?”
Alka tetap di tempatnya, ia tidak berani untuk mengintip. Ia rasanya juga tidak bisa mengerakkan tubuhnya, pakaian yang di pakainya telah basah oleh keringatnya.
Suasana kembali hening hingga ia mendengar langkah pelan dan erangan tertahan yang terus-menerus dari depan rumahnya. Alka menguatkan diri dan mencoba memberanikan diri mengintip.
Ketika pandangannya sudah tertuju ke luar...
‘AAAAAAAAaaaaaaa....!!!!’