Dahulu ada satu kejadian luar biasa yang ingin saya bagi di sini. Entah itu nyata atau hanya sebuah kebetulan semata, Sebuah mimpi dan kejadian aneh yang menghampiri diriku. Waktu itu aku tengah mengandung anak pertama, dan usai kandungan ku memasuki bulan ke tujuh.
Suatu malam aku bermimpi, anak dalam kandungan ku bukan berwujud manusia melainkan berwujud naga. Anehnya di dalam mimpi itu aku dan adik ku (Jokis) tengah berada di tempat peribadahan(Masjid). Lalu aku merasa sakit pada perut ku, dan pada akhirnya ada sosok naga hijau besar, kepalanya ada sedikit warna merah marun. Naga itu terlihat agresif, entah ingin menyerang atau apa kami tidak tau. Saat naga itu mendekat tiba-tiba Jokis menepuk pundak ku lalu berkata....
" Bagaimana pun dia anak mu, mbk. Hanya kamu yang bisa meluluhkan dia."
Setalah beberapa saat kita saling memandang. Ada rasa takut dalam diriku, sehingga enggan untuk mendekat pada makhluk aneh itu. Namun kembali Jokis meyakinkan aku bahwa aku tidak boleh takut karena bagaimana pun dia adalah anak ku, lahir dari rahim ku.
Setalah beberapa saat aku mencoba mendekati naga itu, perlahan ku julurkan tangan. Naga itu pun mendekat dan menatap mata ku, seolah meminta pengakuan dariku.
Ku sentuh kepalanya lalu seketika aku terbangun dari mimpi ku.
" Astaga, semoga itu hanya mimpi." Aku merasa sangat takut dan gelisah. Malam itu aku tidur di temani suami ku, dia terlelap di sampingku. Ingin sekali aku menceritakan mimpi itu, namun aku takut dia kecewa bila nantinya benar anak yang aku kandung berwujud ular naga.
Aku pun memutuskan untuk menyimpan semua mimpi itu rapat-rapat.
Akan tetapi tiba saatnya kandungan ku berusia genap tujuh bulan lebih dua minggu, orang tua ku dan suami mengajak ku melakukan USG. Mereka meminta ku melakukan USG bukan bertujuan mengenali jenis kelamin, melainkan ingin melihat kondisi bayi dai dalam perut ku. Kala itu di desa ada sebuah penyakit baru yang rawan terjadi pada ibu hamil( Campak Rubela) akhirnya ibu memaksaku melakukan USG untuk memastikan terhindar dari penyakit tersebut.
" Ya Allah, semoga mimpi itu tidak benar." Sepenjang perjalanan menuju Rumah Sakit, aku terus berdoa. Betapa takutnya aku saat itu, sampai aku tidak berani meloloskan satu kata pun.
" Ny Eka Liya..." Tiba saatnya Dokter memanggil nama ku. Saat itu kaki terasa lemas seolah tak mampu melihat kenyataan.
" Kamu kenapa?" Suami membantu ku berjalan. Dia melihat wajah pucat ku dan keringat yang keluar bercucuran.
" Kamu gugup?"
Aku hanya memberi jawaban dengan senyum simpul. Mulut ini seolah terkunci rapat, tak ada tenaga sedikit pun.
Sampai di ruang USG, Dokter menanyaiki beberapa pertanyaan. Mungkin beliau tau jika aku sedang gelisah. Perlahan Dokter itu mengajak bercanda untuk sekedar membuat ku tenang.
" Sekarang kita mulai ya.."
Ketika tangan Dokter itu meraih alat USG, hati ku benar-benar takut. Aku memejamkan mata saat alat itu menempel di perut ku.
"Kondisinya baik. Tidak ada kurang sama sekali. Jenis kelaminnya perempuan."
Mendengar Dokter berkata seperti itu, tentu saja aku senang dan melihat layar USG.
Ku ucap syukur atas kebesaran Tuhan. Rasa takut ku terganti bahagia. Tentu saja suami dan ibu tersenyum puas atas hasil tes itu.
Dua bukan kemudian aku melahirkan. Rasanya sakit tak tertahankan. Waktu itu suami ku sedang melakukan pijit badan capek. Aku terus menerus mondar mandir karena kebetulan dukun pijit itu meminta ku bersabar sebentar lagi, karena jarak desa ke kota sangat jauh dan menunggu Bapak mencari mobil untuk mengantar ku ke Rumah Sakit.
Di saat aku mondar mandir tidak karuan, mulut ku tidak berhenti melantunkan doa serta surat pendek. Saat itu pula ada seekor kucing peliharaan nenek ku ikut mondar mandir mengikuti kemana aku berjalan.
" Ih...." Karena kesal dengan kucing itu, akhirnya aku memutuskan duduk, kucing itu pun ikut duduk di samping ku melihat ku menahan rasa sakit.
Tatapan mata kucing itu membuat ku merasa aneh, ada sesuatu yang janggal dan aku tidak tau apa itu.
Setelah beberapa menit datanglah mobil, lalu mengantarku ke Rumah Bersalin. Kami sekeluarga berangkat dari Rumah sekitar jam sebelas malam dan sampai di sana tepat jam dua belas malam. Saat sampai di sana Dokter memeriksa ku dan mengatakan bahwa aku sudah pembukaan tujuh.
" Siap kan semua peralatan bersalin." ucap Dokter tersebut kepada tim medis.
Waktu berjalan seolah lambat sekali bagi ku, sampai aku mondar mandir melihat jam dan aku tidak kunjung melahirkan juga.
Tepat pukul tiga pagi Dokter kembali memeriksa ku tapi beliau bilang air ketuban masih jauh dari jalan bayi.
" Astaga, sampai kapan aku meraskan sakit ini..." Aku menangis sekencang mungkin, tak kuasa menahan rasa sakit di perut ini.
Mendengar aku menangis begitu kencang, Dukun pijit yang tadinya ikut mendekati ku lalu berbisik sesuatu yang aku sendiri tidak mendengarnya. Mungkin rasa sakit ku membuat ku tidak perduli atas apa pun.
" Kamu akan melahirkan tepat di jam Ganjil." Ucapan itu tidak aku perdulikan. Aku pun memintanya keluar karena setiap kali dia menyentuh perut ku, rasanya semakin sakit dan membuat ku tidak tahan.
Dukun itu pun keluar sesuai keinginan ku.
Setelah beberapa saat aku meras mulas berlebih dan meminta ibu mengantar ku ke kamar mandi. Hampir sepuluh kali aku bolak balik kamar mandi.
Sampai Jam 06:30 aku meras kesal dengan sakit ini. Air ketuban tidak kunjung pecah, hingga aku mengambil inisiatif untuk duduk berjongkok lalu berdiri selama tiga kali, dan akhirnya ketuban ku pecah. Setalah itu ibu segera berteriak memanggil Dokter.
" Dokter...."
Dokter itu berlari lalu membantu melahirkan.
Tepat pukul tujuh anak ku lahir, tapi ada hal aneh yang membuat Dokter itu terkejut.
Anak ku terlahir dengan badan menengadah ke atas bukan seperti layaknya anak lahir pada umumnya. Biasanya bayi baru lahir pasti kepala menghadap bawah, tapi lain dengan putriku. Dia terlahir dengan mata terbuka dari kandungan dan wajah menengadah ke atas. Bahkan badan anak ku terbungkus oleh tali pusarnya dari leher sampai kaki. Matanya penuh darah karena kata Dokter bayiku sudah bisa membuka mata kala di kandungan. Darah itu menutupi mata anak ku, sampai bola matanya tidak terlihat.
Kejadian aneh masih terjadi saat aku di perbolehkan pulang. Tepat di hari ketiga anak ku lahir, ada banyak semut keluar dari dalam tanah. Bermacam semut keluar dan merayap di tembok dan lantai rumah. Anehnya tidak ada satu pun semut yang mendekati ranjang, dimana aku dan anak ku berada.
Semua orang terkejut melihat banyaknya semua mengelilingi rumah ku, bahkan sampai lantainya pun penuh dengan bermacam semut.
Kejadian luar biasa itu membuat ku sedikit ngeri. Ada yang bilang putri ku lain dari yang lain. Entah apa maksudnya aku tidak mengerti.
INI KISAH NYATA BUKAN REKAYASA.