Apa yang kalian harapkan saat membaca judul di atas?
Kisah mengenai seseorang yang sangat kekurangan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya?
Atau, apa?
❤️💥❤️
Di bawah sinar terik mentari, aku luntang-lantung tanpa alas kaki, menyusuri trotoar jalanan di kota kelahiran ku ini.
Di punggungku, ku panggul karung putih yang lusuh. Karung tersebut setiap harinya diisi dengan plastik-plastik bekas. Aku sungguh tidak tega jika lingkungan di sekitarku dipenuhi oleh sampah, apalagi oleh sampah plastik yang sangat sulit diurai oleh organisme pengurai!
Satu persatu benda-benda dari plastik aku ambil dan dimasukkan ke karung. Lalu aku kembali berdiri, melangkahkan kaki ku menuju pinggir jalan raya.
Tiba-tiba, aku melihat temanku sedang duduk bersila di depan bar, sembari menengadahkan salah satu tangannya. "Pak. Bu," pintanya.
Aku tak menyapanya, hanya sekedar melihatnya dari jauh. Tidak apa, nanti malam kami bisa berbincang di rumah, hehe.
Aku tetap berjalan menyusuri trotoar, hingga memasuki salah satu kompleks perumahan. Di sini, memang terlihat bersih. Namun sebenarnya sampah yang dihasilkan tidak jauh berbeda dari sebuah bar! Agh!
Terkadang aku merasa penasaran dengan apa yang mereka lakukan di dalam sana. Tapi, lupakan saja lah.
Seperti ayam yang mengais-ngais tanah, begitu pula dengan diriku yang saat ini tengah mengulurkan tangan kananku ke dalam tong sampah di depan salah satu rumah.
Aku menunduk lebih dalam lagi, karena di dalam tong ini sangat jarang berisi sampah plastik. Yang ada justru sampah organik seperti kulit buah, sayur busuk, daun kering, kulit bawang, tulang ikan, dan lainnya. Aku tersenyum, sekaligus sebal.
Mengapa orang di rumah tersebut tidak menimbun sampah organik ini di dalam tanah?!
❤️💥❤️
"He'em! Mas," panggil seorang wanita dari dekat tong sampah.
Aku terkejut dan buru-buru menarik kepalaku ke luar dari tong tersebut. Lalu aku melihat wanita tersebut yang berdiri tegak di hadapanku, dengan celemeknya.
"I--iya, Mbak?" tanyaku.
"Apakah Mas yang selalu mengambil sampah-sampah di kompleks ini?" tanyanya.
Aku mengangguk tanpa tersenyum, rasanya gugup jika harus tiba-tiba mengobrol dengan wanita cantik seperti dirinya.
"Ini untuk Mas. Kebetulan sekali, hari ini saya masak banyak makanan tadi pagi. Setelah untuk makan siang, ternyata masih banyak sisanya. Ini ya," tutur wanita tersebut.
"Te--terima kasih," lirihku.
Wanita tersebut memberiku satu kantong plastik berisi kotak yang tercium aroma makanan, juga senyuman manisnya. Sedangkan aku hanya menerima kantong plastik tersebut dan tidak berani menatap wajahnya. Ah, tolong jantungku!!
"Maaf jika saya agak lancang. Tapi, Mas terlihat sangat kekar walaupun menggunakan baju agak lusuh. Mengapa ... Oh, siapa nama anda?" tanya wanita tersebut, mungkin hanya ingin sekedar berbasa-basi.
"Saya, sa--saya Greg," jawabku.
"Oh, Greg. Kalau nama saya Arnela, atau Nela!Lalu, mengapa Mas Greg memilih sebagai pemulung? Apakah tidak ingin mencoba pekerjaan yang lain, yang lebih menghasilkan gaji lebih tinggi?"cecarnya.
Aku hanya menggeleng. Rasanya dia mulai mengancam kehidupan privasiku. Sehingga aku menunduk sembari menyatukan kedua telapak tanganku, "Saya izin pamit, Mbak Nela." Dan segera melangkah pergi dari hadapannya.
❤️💥❤️
Aku kembali berpetualang, sembari menyeret karung di belakangku. Karung tersebut telah setengah penuh, namun sebenarnya tidak berat, hanya aku saja yang kelelahan. Aku berhenti melangkah, lalu mengedarkan pandanganku ke sekelilingku.
"Oke, saatnya mengisi perut!" gumamku.
Aku berhenti di depan sebuah toko yang telah tutup, dan segera duduk bersila di sana. Aku senyum-senyum sendiri saat membuka kotak makanan tersebut, ternyata wanita tersebut memberiku sedikit nasi, sedikit acar, satu paha ayam, sedikit potongan semur daging, dua potong nugget, sedikit potongan sosis bakar, dan terakhir adalah dua bola-bola ikan.
Oh! Ternyata di luar kotak juga ada satu apel dan sebotol air minum!
Apakah dia ingin menghabisiku? Ini sedikit, tapi jika dikumpulkan menjadi bukit. Aku memutuskan untuk tidak menghabiskan makanan ini, dan menyisakannya untuk nanti malam.
Saat aku mulai melahapnya, tiba-tiba sesosok manusia bak tiang memanggilku dengan riang. Aku menoleh ke arahnya, dan memanyunkan bibirku.
Sial! Aku tidak jadi mendapat jatah makan malam untuk hari ini! batinku.
"Greg! Wah dapat rezeki dari siapa nih?! Syukurlah, dari tadi aku belum membeli makan siang. Sini sini!" ucapnya.
Sesosok tiang hidup ini adalah temanku yang tadi mengemis di depan bar. Dia selalu mendukungku di saat suka maupun duka. Namun untuk sekarang, dia menjadi dukaku di saat sukaku, argh!
"Nih! Kamu itu suka sekali muncul tiba-tiba, Red! Menyebalkan," protesku sembari memberikan kotak makan tersebut.
Nama temanku ini adalah Redi. Dia memang setia kepadaku, tapi kesetiaannya tetap harus dibayar, bahkan dengan makanan ini. Saat ini, dia tengah asyik melahap makanan dengan tersenyum hingga mulutnya mau robek!
Setelah meminum air, aku mulai bertanya kepadanya, "Bagaimana tadi hasilnya, Red?"
"Belum Reg," jawabnya dengan menunduk dan seketika senyum di bibirnya menghilang.
Glek! Aku merasa bersalah kepadanya karena telah bertanya seperti itu. "Nanti malam, kamu ke sana, Red?"
Dia hanya mengangguk, dan kembali menyuapkan makanannya. Aku memutuskan untuk bungkam, dan mungkin esok saja aku baru bertanya kepadanya.
❤️💥❤️
Esok hari,
Giliranku yang menjadi pengemis, dan Redi yang menjadi pemulung. Namun, saat pukul lima pagi ternyata dia baru sampai dan bertemu denganku. Sudah biasa aku melihatnya dengan pemandangan baju penuh tumpahan minuman sirup maupun bau makanan yang dikeluarkan kembali.
"Ah ya, sekarang giliranmu mengemis. Hoamm! Aku mau mandi dan tidur sebentar ya? Rasanya lelah sekali setelah beberapa kali aku meraih puncak bersamanya," tuturnya.
"Hei! Jadi kamu ... Terus berapa yang kamu dapatkan?" tanyaku dengan kesal.
"Tenang, Reg. Aku hanya sedikit menyentuhnya. Santai saja," jawabnya dengan enteng.
Aku tidak menghiraukannya dan segera pergi dari rumah. Ah salah, maksudku adalah pergi dari gubuk. Hari ini aku menggantikan posisi Redi, tapi tempat mengemisku tetaplah di depan bar.
❤️💥❤️
Sampai di sana,
Aku duduk bersila, sembari menengadahkan telapak tanganku. Sampai kapan aku akan di sini?
Sama seperti Redi, sampai esok pagi. Namun aku tidak selamanya duduk manis di sini. Mungkin akan ada kejutan menanti kalian.
Argh! Ternyata kejutannya adalah untukku!
Saat mentari telah di ufuk barat,
Tiba-tiba muncullah wanita yang kemarin telah sempat bertemu denganku. Ya! Nela sedang memasuki bar, tapi untunglah dia tidak melihatku.
Aku memutuskan untuk pergi dari depan bar, secepat yang aku bisa. Namun, aku dicegat oleh si tiang hidup.
"Reg! Mau ke mana?" tanyanya dengan heran.
"A--aku mau pergi. Di sana, aku tidak betah!" protesku dengan berbisik.
"Hei, santai bos! Calm down. Tenang, Reg. Ayo duduk dulu di bangku itu," ajak Redi.
Benar, 'kan? Dia sering melakukan ini kepadaku, karena memang akulah yang suka cepat panik dan Redi memang lebih santai.
Di bangku tersebut, aku menjelaskan semuanya kepada Redi. Mulai dari kejadian kemarin, saat aku bertemu dengan wanita bernama Nela, hingga hari ini aku melihat Nela memasuki bar.
"Ya sudah, kita tunggu saja dirinya di sini. Aku akan menemanimu," ucap Redi.
"Tidak perlu. Aku yang akan menunggunya di sini. Kamu jaga rumah saja. Terima kasih ya!" balasku dengan senyuman paksa, supaya Redi percaya.
Akhirnya, Redi pulang dan meninggalkanku sendiri di bangku depan sebuah pertokoan yang sepertinya sedang sepi. Mataku tetap mengawasi pintu bar yang lalu lalang dengan pasangan beda umur. Aku hanya bungkam dan menggelengkan kepalaku.
Dasar sampah masyarakat!
❤️💥❤️
Pukul sebelas malam,
Mataku tetap hidup, karena aku sudah hampir sering melakukannya. Lalu, keluarlah sosok wanita dengan rambut panjangnya. Yang menjadi perhatianku adalah model bajunya yang tidak asing bagiku.
Itu Nela! Terlihat dari kedua netraku, dia berjalan ke luar dari bar dengan cukup cepat. Aku berlari ke arahnya dan memanggil, "Nela!" sembari melambaikan tanganku.
"Oh? Mas Greg?"
Aku tersenyum kepadanya, dan hilanglah sudah rasa gugupku. "Kamu ada urusan apa di bar itu?" tanyaku yang lancang.
"Oh, aku sedang bertanya-tanya mengenai bar tersebut. Kalau Mas sendiri, ada urusan apa hingga larut malam masih di sini?" tanya Nela.
"Aku ... sedang menunggumu, Nela," bisikku.
Aroma harum tubuhnya menyeruak ke dalam hidungku. Aku semakin menyukainya, tapi yang aku tahu ini bukanlah cinta.
Melainkan sebuah ambisi untuk menjadi kaya! Hahaha!
"Mas, ke rumahku yuk. Kebetulan aku sedang membutuhkan teman mengobrol," ajaknya.
"A--ayo! Tapi aku harus ke toko obat. Kepalaku sedang pusing. Sebentar ya!" balasku.
Aku pusing mencium bau menusukmu itu! batinku.
Setelah membeli obat yang aku butuhkan, kami segera berjalan menuju rumah Nela. Dua puluh menit kemudian, kami telah sampai di sana.
Nela mempersilakan diriku untuk masuk ke ruang tamu. Dia juga menawariku minuman hangat. Aku hanya mengiyakan perkataannya tersebut, mungkin itu yang sedang aku butuhkan saat ini.
Kemudian, Nela membawakanku camilan dengan kedua teh panasnya. Aku mengucapkan terima kasih dan dirinya langsung pergi lagi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Aku melihat diriku yang sebenarnya cukup kotor. Tapi, itu tidak masalah bagiku. Aku memanglah orang miskin, yang susah sekali untuk membeli pakaian bahkan perhiasan.
Ah ya, obat yang tadi aku beli sebenarnya adalah obat tidur. Aku ingin membuatnya tertidur, sehingga memudahkanku untuk membawanya pulang.
Aku segera menambahkan obat tidur ke dalam minuman Nela. Lalu aku mencoba menyeruput minuman milikku dan mencicipi camilannya. Hmm, enak loh. Haha!
Setelah itu, Nela menghampiriku dengan baju handuknya. Mungkin dia masih malas berganti pakaian, sehingga masih berpakaian seperti itu. Dia tersenyum dan duduk di sampingku.
"Sudah habis minumanmu? Maaf ya, aku terlalu lama di kamar mandi," ucapnya dengan rasa bersalah.
"Tidak kok, aku hanya sedang ingin minuman hangat. Jadinya cepat habis minumanku, hehe," dustaku.
"Mas Greg," panggilnya sembari berpindah posisi duduknya. Dia sekarang duduk di sampingku dan mengelus lengan atasku.
"Tuh kan! Lenganmu saja berotot! Mas masih bisa mencari pekerjaan yang lebih baik daripada hanya memulung," protesnya.
Dia memang suka mencampuri urusan orang lain ya! pikirku.
"Mas, aku menyukaimu," lirihnya. Bau harum kembali memenuhi rongga hidungku. Namun kali ini baunya lebih lembut, membuatku tergoda untuk mencicipinya.
"Nela, teh milikmu sebentar lagi akan dingin. Cepatlah diminum ya," titahku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak mau. Aku maunya Mas Greg. Ayolah, Mas~" tuturnya dengan lembut.
Semakin ku tolak, mungkin dia semakin berani. Aku bukanlah Redi yang akan mencicipi korban sebelum menghabisinya. Aku adalah orang yang lebih berwawasan, mana mungkin aku tidur dengan sampah?!
Nela terlihat kesal saat diriku malah bungkam dan menunduk. Ketika aku menunduk, pandanganku justru bertemu dengan dua bantal sintal berujung coklat-pink. Ish! Nela semakin menantangku!
Mau tak mau, aku harus bermain dengannya. Tapi, aku menyuruhnya untuk menghabiskan teh itu! Dia menurut dan dalam tiga teguk teh tersebut telah masuk ke dalam dirinya.
Aku menggendongnya ke kamar yang dia tunjuk. Selama ku gendong, dia terus saja menggigit leherku. Huh! Semoga obat tidur itu segera bekerja, sehingga permainannya cepat berakhir!
Setelah aku menurunkannya di kasur, dia langsung menarik ku ke dalam dekapannya. Aku tidak membalas, hanya mengelus kesayangannya yang berambut supaya dia melemas. Aku bak anak kecil yang dipeluk oleh macan!
❤️💥❤️
Baru beberapa menit berlalu,
Nela memejamkan matanya, dan pingsan. Aku menghembuskan napas lega. Inilah saatnya aku untuk membawanya pulang! Hahaha!
Hahaha!
Wuahahaha!
Setelah ku kemas rapi dalam tas ransel milik Nela, aku segera melangkah ke luar dari rumah tersebut. Penampilan luarku mungkin terlihat seperti gelandangan dengan ransel dan dua kantong plastik berhiaskan lumuran merah.
Ini sudah pukul satu pagi, jadi mana mungkin ada yang curiga dengan pengemis lusuh beransel sepertiku! Ahahaha!
❤️💥❤️
Sampai di gubuk,
Aku masuk dan disambut oleh dengkuran Redi yang berada di balai-balai. Namun itu adalah hal yang lumrah, sehingga aku tidak membangunkannya.
Ini bukanlah gubuk biasa, karena kami menyimpan rahasia di bawah tanah. Aku menggeser meja di dekat balai-balai, lalu menarik lapisan seng yang berbentuk bundar.
Itulah pintu menuju ruang bawah tanah!
Aku memasuki ruangan tersebut lalu meletakkan barang bawaanku. Aku mengaktifkan listrik di sini, supaya kalian semakin jelas melihat ruangan tersayangku ini.
Inilah tempatku bereksperimen dengan organ-organ manusia! Aku dan Redi memang telah melakukan ini semua sejak lima tahun yang lalu. Hasil yang kami dapatkan memang sangat banyak, tapi kami memilih untuk menyimpan itu semua!
Kalau kalian penasaran dengan listrik yang kami dapatkan, mudah saja! Kami mendapatkan itu dari tetangga kami yang merasa kasihan dengan kemiskinan kami. Jika listrik yang terpakai cukup tinggi, kami akan menggunakan akal licik kami untuk beralasan bahwa gubuk kami hanya menggunakan dua lampu.
Seperti yang terlihat, ruangan ini memiliki dua freezer, lima lampu, dan alat eletronik lainnya. Tolong jangan bertanya tentang bagaimana kami mendapatkannya.
Aku menghubungi atasanku melalui aplikasi video call. Lalu muncullah wajah bengis atasanku di layar televisi berukuran 1 meter.
"Bos! Aku sudah membawa organ lagi. Itu di sana!" seruku, sembari menunjuk ke ransel dan dua kantong plastik.
"Oke, terima kasih Greg! Kerja bagus! Tolong besok bawa potongan-potongan indah tersebut menggunakan karungmu!" ucapnya dengan senyum yang bahagia.
Setelah selesai memberi laporan, aku segera membereskan potongan wanita tersebut ke dalam karung lusuhku. Huf, besok aku harus membawanya ke bos. Aku tidak tahan dengan bau amis ini! gumamku.
Tidak menyangka bahwa diriku bisa sebengis ini, 'kan?
Tapi tolong, jangan menghakimiku ya? Ini semua ku lakukan karena sebelumnya hidup telah menghancurkan ku!
❤️💥❤️
Sebelum menjadi Greg yang bengis, dulu aku adalah seorang dokter forensik. Aku sempat menjabat sebagai ketua di sana.
Namun, salah satu sahabatku justru mengkhianatiku!
Dia juga dokter forensik, dan jabatannya berada di bawahku. Beberapa tahun setelah aku naik jabatan, dia mulai mendekatiku dan menganggapku sebagai sahabat. Di balik itu semua, ternyata dia membunuhku secara perlahan.
Pertama, dia mulai mengadu domba diriku dengan rekan kerja ku.
Kedua, dia mulai merusak kehidupan rumah tanggaku. Bahkan mengambil istriku!
Ketiga, dia yang membuatku dituduh sebagai pembunuh. Walau akhirnya aku tidak terbukti yang membunuh, tapi reputasiku seketika hancur!
Dan ....
Akhir hidupnya bersama istriku berada di tanganku. Namun aku bingung, di mana aku harus mengubur mereka?
Saat itu masih larut malam,
Tiba-tiba saja aku bertemu dengan bos bengis ku. Aku masih ingat dengan kata-kata mutiaranya. 'Jangan sia-siakan tubuhnya. Karena tubuh dan seisinya bak benda antik yang bernilai jual sangat tinggi! Berikan saja padaku, akan aku bayar sesuai dengan kondisi tubuhnya!'
Jadi, sudah paham 'kan?
Itulah alasanku yang tidak mau menyentuh korbanku. Karena aku tidak ingin menurunkan nilai jualnya kepada bos-ku! Kalau Redi ....
Ah! Sudahlah! Besok aku harus menemui bos ku di tengah hutan. Anggap saja aku telah selesai berburu! Hahahaha!
❤️💥❤️
Mungkin judul di atas tidak cocok untuk kisah hidupku ini. Yang cocok adalah ....
Greg gila?
Partner in crime?
Bloody Greg?
Dokter gila? Dokter psikopat?
Ayo, ayo! Tuh kan! Kalian menghakimiku? Huhu.
❤️💥❤️
Aku segera menaiki tangga ke atas, mengeluarkan karung tersebut dari laboratorium ku. Barulah diriku melangkah keluar.
Tak ku sangka, aku telah dikepung oleh beberapa polisi di dalam gubukku.
"Angkat tangan!!" pekik salah satu polisi.
- THE END -