Salju berguguran tertiup angin dingin. Cakrawala bertaburan bintang, begitu lihai memanjakan mata. Semua orang bersukacita menyambut tanggal merah yang dinanti-nantikan setahun penuh. Namun, ada saja yang kurang beruntung untuk menikmatinya.
"Haahh ...." Seorang gadis menghela napas berat. Matanya memandang sayu ke arah jalanan ramai melalui jendela berkabut. Gips putih menempel di kaki kanannya, mencegah dia ikut beribadah malam natal bersama anggota keluarga yang lain.
Alhasil, dia terpaksa berdiam sendirian di dalam rumah.
Jalanan dipenuhi oleh banyak orang dari macam-macam kalangan usia. Berbagi makanan, berpelukan, bernyanyi, dan hal menyenangkan lainnya. Mereka baru saja pindah ke daerah ini beberapa hari yang lalu, jadi masih belum akrab dengan para tetangga. Wajar jika rumah mereka tidak kedatangan tamu, bahkan untuk sekadar basa-basi.
Tok! Tok! Tok!
Ia tersentak kaget, langsung menoleh ke sumber suara. Rasanya kurang masuk akal, tetapi kemungkinan besar ada tamu yang mau berkunjung. Dengan langkah tertatih, gadis itu mendekati pintu.
Seorang pria tua berjanggut dan berpenampilan lusuh berdiri di hadapannya. Ia tersenyum ramah sembari melambaikan tangan. "Halo, gadis manis! Aku James, senang bertemu denganmu!" Si gadis tersenyum ragu. "Hai, James. Aku Mary-Anne. Ada yang bisa kubantu?"
Kruk ... kruk ... kruk ....
Di tengah hiruk pikuk keramaian, suara perut Jameslah yang menjawab pertanyaan. Mary tertawa kecil, lalu membuka pintu lebih lebar. "Kau lapar? Aku punya camilan dan cokelat hangat." James langsung mengangguk setuju, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah masuk.
Entah kenapa Mary tidak merasa curiga sedikit pun. Pria tua itu sangat sopan, dan juga ramah. Beberapa kali dia melempar lelucon, membuat Mary yang sedang menyiapkan makanan langsung tertawa di dapur. Setelah beres, ia berjalan ke ruang tamu bersama sepiring sandwich dan toples permen buah. "Airnya sedang dimasak, silakan tunggu sebentar."
"Terima kasih, dan maaf sudah merepotkanmu. Boleh aku tahu kenapa kakimu memakai gips?" tanya James seraya melahap gigitan pertama. Mary tertawa canggung, menatap sayu kaki kanannya. "Oh ... kemarin aku terjatuh ...." Pria itu mengangguk paham, menyadari perubahan suasana hatinya.
Perlahan tapi pasti, piring itu bersih tak bersisa. Kini James beralih ke toples yang dihidangkan. "Oh, iya. Apa kau tahu cerita tentang bencana yang selalu terjadi di daerah ini saat malam natal?" Mary sontak menggeleng jujur.
James berhenti tepat ketika permen itu nyaris meleleh di dalam mulutnya. "Kau tidak tahu? Haha! Yang benar saja!" sinisnya tak percaya. Mary mengangguk cepat, lalu berkata, "Aku baru pindah ke sini, jadi tak tau apa pun."
Tiba-tiba James mencondongkan badan, mendekati Mary dengan raut wajah serius. Gadis itu refleks mundur sebisa mungkin, merasa kaget sekaligus bingung. "Di daerah ini, secara kebetulan, selalu terjadi bencana setiap malam natal sejak lima tahun lalu," jelasnya, kemudian mengemut permen buah.
Dahi Mary mengernyit, memperhatikan James dari atas ke bawah dengan pandangan mengintimidasi. Kali ini, rasa curiga bergejolak di dalam hatinya. Ia memegang erat tongkat yang belakangan ini membantunya berjalan. Jika gelandangan itu berani macam-macam, dia akan tahu akibatnya.
James menyandarkan badan di sofa, menatap raut wajah Mary yang sudah berubah total. "Menurut perhitunganku, tahun ini adalah giliran rumah kalian."
DEG! Jantung Mary melompat kaget. Napasnya menderu cepat, melotot marah mendengar kalimat yang belum tentu benar.
"Hahaha! Kau sangat tegang. Aku cuma bercanda, kok! Hahahaha!" James terbahak-bahak, menepuk sofa yang tidak berdosa. Ekspresi Mary seketika berubah datar. Sekarang ia yakin, gelandangan di depannya ini memang sungguh sangat tidak waras.
Mary berdeham, mencuri atensi James. "Maafkan aku, tapi lebih baik kau pergi sekarang, James," tegasnya, menunjuk pintu yang tertutup. Hening, tak ada lagi suara tawa. Dahinya mengernyit, bingung karena diusir tanpa alasan.
"Hei, kenapa kau tiba-tiba mengusirku?!" protes James dengan dagu terangkat. Mary menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang. "Tolong, silakan, keluar!" titahnya lagi.
"Jika kau mau aku keluar, maka kau harus ikut keluar!"
"A-apa?! Omong kosong! Pergi kau!" bentak Mary, berdiri marah. James ikut bangkit, menatap tajam gadis muda di hadapannya. "Kau harus ikut denganku!" Suara James menggelegar, kemungkinan terdengar sampai ke jalanan.
Mary terkesiap ketika James menggenggam kuat tangannya. Dia berusaha berontak, tetapi malah terjatuh ke atas sofa. Wajah asli James akhirnya terungkap! Dia tersenyum sinis dengan mata melotot tajam. Benar-benar terlihat menakutkan.
"Aaaahhh! Tolooonngg!!!" Marry berteriak sekuat tenaga, meronta-ronta dengan tenaga yang tersisa. Namun, tidak ada satu orang pun yang mendobrak pintu untuk menolongnya.
Ciiiiiitttt!
Gadis itu tersentak kaget tatkala suara nyaring mengagetkannya dari arah dapur. Belum sempat berpikir, tubuhnya sudah diangkat meninggalkan sofa. "Lepaskaaann!!" Ia meronta-ronta karena James menggendongnya tanpa permisi.
Mereka sampai di luar rumah, James akhirnya meletakkan Mary di atas trotoar bersalju. Kira-kira sepuluh langkah dari rumahnya. Gadis itu langsung meraung marah, memukuli kaki James yang berdiri diam. Udara dingin langsung menusuk kulitnya, membuat Mary tak berdaya karena cuma memakai pakaian biasa.
Duuaarr!!!
Gadis itu terpaku dengan mulut menganga lebar. Bangunan hangat yang ia gunakan untuk menjamu James beberapa detik lalu, perlahan hilang ditelan kobaran api raksasa. Puluhan orang sigap berlari untuk memadamkan rumahnya.
Kemana saja mereka saat Mary tersiksa tadi?
"Aaaaahhhh! Rumahkuuu!!" Lagi-lagi Mary berteriak histeris, mencuri atensi banyak orang yang berlalu lalang. Dia menoleh, hendak menghajar James yang mrngakibatkan semua ini. Namun, tidak ada siapa pun berdiri di sebelahnya. Cuma tersisa mantel sederhana yang tadi digunakan si gelandangan itu.
"Astaga! Mary-Anne! Kenapa kau bisa berada di sini?! Ya, Tuhan, untunglah kau selamat! Cepat tolong aku bawa dia!" ucap Bibi pemilik toko permen langganan keluarganya. Mantel tadi dipakaikan ke tubuhnya, kemudian ia dibawa ke dalam toko.
Segelas cokelat hangat berada digenggamannya, selimut tebal melapisi tubuhnya dari belakang, dan puluhan orang melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang justru membuat Mary bertambah bingung.
"Kenapa kau bisa berada di luar?"
"Kenapa rumahmu terbakar?"
"Di mana keluargamu? Apa mereka selamat?"
Kepala Mary tertunduk lesu, tak sanggup mencerna keadaan yang mendadak berubah total. Hanya ada satu kalimat yang bisa menjawab pertanyaan mereka semua.
"Intinya, hidupku telah diselamatkan oleh si tamu misterius."