Sore ini cuaca begitu cerah, membuatku semangat hang out ke Mall favoriteku. Aku memang berniat belanja kebutuhan sehari-sehari dan beberapa potong celana dan kemeja kerja. Rasanya sudah lama aku tidak memiliki semangat berjalan-jalan apalagi belanja sendiri di Mall. Beberapa tahun belakangan ini, aku lebih senang menyendiri, memilih melihat kesunyian daripada keramaian.
Lelah berbelanja, kuarahkan kaki menuju foodcourt. “Tit……tililit……..tit,” tiba-tiba terdengar hand phone-ku berbunyi. Kulihat sms yang terkirim ke ponselku, “Mawar cantik untuk wanita yang cantik. Lihatlah aku sang pengirim mawar di arah jam 3.” Aku tersenyum, lalu dengan penasaran kugerakkan kepalaku kearah yang dimaksudkan. Disana kulihat lelaki ganteng, membawa setangkai mawar sambil tersenyum manis.
“Kaget ya? Abis cantik-cantik jalan sambil bengong, sendirian lagi.” Ramses menghampiriku dan menyerahkan mawar merah yang sangat indah untukku. Aku mengucapkan terima kasih dan mencium harumnya bunga tersebut. Kami lalu memilih duduk di salah satu counter makanan Jepang. Ternyata kami sama-sama kelaparan, begitu pesanan datang, langsung kami lahap.
“Ehm…. mau nonton gak? Ada komedi lucu lho yang main Christian Sugiono, pasti kamu suka.” Ajakan Ramses membuatku teringat satu film baru bergenre komedi yang ingin kutonton. Tanpa pikir panjang aku langsung menganggukkan kepala tanda setuju.
“Wah seru banget ya filmnya, akhirnya aku bisa ketawa lepas. Thank you banget ya Ram.” Terlihat Ramses sangat gembira melihat keceriaanku hari ini.
“Sama-sama Meis, akhirnya aku bisa juga menikmati senyum manis yang udah lama kutunggu-tunggu.” Dengan gemas kucubit lengannya, sebagai hukuman karena berani menggodaku. Ramses pura-pura kesakitan dengan mimik lucu, aku tertawa melihat aksinya.
Ramses memang sangat humoris dan juga baik hati, saat bersamanya aku merasa beberapa tahun lebih muda dari usiaku sebenarnya. Dia selalu membuat aku tertawa dengan canda dan tingkah lakunya. Awal perkenalan kami adalah ketika kakak perempuanku mengadakan syukuran kelahiran cucu pertamanya. Kakakku berniat menjodohkan kami, dia sangat khawatir dengan kesendirianku di usia berkepala tiga ini.
Aku tidak tersinggung bahkan merasa senang dengan perhatian yang diberikannya. Maklum aku adik perempuan satu-satunya. Saat itu aku pikIr sangat menyenangkan mendapat kawan dan kenalan baru. Sikap Ramses yang terbuka dan apa adanya, membuatku nyaman berada didekatnya. “Woi, kok bengong. Ngelamunin apaan si Meis?” Jantungku berdebar kaget karena teguran Ramses. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Ram, ke toko kue itu sebentar yuk. Aku mau beli untuk oleh-oleh kakakku.” Lalu kami berjalan menuju ke toko yang kutunjuk tadi. Dan betapa terkejutnya aku, karena bertemu lelaki yang kubenci di tempat itu.
“Hai Ram, apa kabar? Kebetulan banget bisa ketemu disini?” Tiba-tiba sebuah suara menyapa Ramses saat kami sedang asyik memilih kue. Dan aku sangat terkejut ketika mengetahui si pemilik suara adalah Heri, lelaki yang membuatku sengsara. Aku langsung memalingkan muka agar tak terlihat olehnya.
“Kabar baik Her. Iya nih kok bisa kebetulan ketemu disini, padahal biasanya kalau kita janjian mau ketemu susahnya minta ampun.” Dari cara mereka bertegur sapa, sepertinya kedua lelaki itu sangat akrab. Semoga Ramses tidak memperkenalkan kami, doaku dalam hati.
“Meisy, kenalin bentar. Ini Heri teman kuliahku dulu.” Celakanya doaku tak terkabul, Ramses memperkenalkan Heri padaku, aku tak dapat mengelak lagi. Dengan cuek kuulurkan tanganku tanpa sepatah kata pun untuk menyapanya.
“Kami sudah saling kenal Ram. Apa kabar Meis?” Heri berkata sambil menyambut uluran tanganku. Sedikit salah tingkah, tetapi dia berusaha tetap tenang. Sedangkan aku tidak tersenyum maupun membalas sapaannya.
“Ram, kita pulang sekarang yuk. Besok kamu kan mesti meeting pagi-pagi, ntar terlambat bangun lho.” Aku buru-buru mengajaknya pergi, sebelum obrolan dengan Heri berlanjut. Ramses bingung namun tidak menolak ajakanku.
“Oke, aku juga mesti cepat pulang. Lain kali ngobrol lagi ya.” Rupanya Heri sadar bahwa kehadirannya menggangguku, makanya dia pamit pulang. Lalu kami berpisah arah, dan Heri menghujamkan tatapan tajamnya padaku sebelum menghilang kearah yang berbeda.
Ramses bersikeras mengantarkan aku pulang ke rumah, maka aku ikut di mobilnya. Aku langsung menghela nafas panjang sesampainya di jok mobil Ramses yang empuk itu.
“Kalau ada uneg-uneg, boleh kok cerita ke aku.” Sepertinya dia tahu ada yang sedang mengganggu pikiranku. Aku benar-benar heran kenapa Ramses selalu bisa memahami warna emosiku, sebelum aku menceritakan padanya.
“Dia lelaki yang membuatku sengsara, dia menghancurkan impianku akan sebuah perkawinan, dia tega menghamili sepupuku sendiri.” Emosiku tak terkendali lagi, kata-kataku meluncur begitu saja tanpa dapat kukontrol. Tapi aku tidak peduli lagi, sepertinya ini saat yang tepat untuk menceritakan semua permasalahan hidupku pada Ramses.
Delapan tahun yang lalu di usiaku yang 22, Heri adalah lelaki yang kupuja-puja. Aku menjulukinya superman. Waktu itu nama superman memang sangat cocok untuknya. Heri dengan perjuangannya yang gigih dalam mendekatiku berhasil merubah paradigma negative di otakku bahwa ‘semua lelaki adalah tukang selingkuh’. Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa makhluk bernama lelaki itu punya cinta yang tulus pada pasangannya.
Aku memang tidak antipati pada lelaki, tetapi aku juga tidak mau membina hubungan serius dengan mereka. Dari kecil aku sudah melihat banyak perselingkuhan, itu yang membuat paradigma tersebut terukir tajam di benakku. Ayahku memilih lari dengan wanita lain, kakak perempuanku yang pertama stress karena suaminya ternyata memiliki dua isteri simpanan.
“Tidak semua lelaki berhati busuk Meis, buktinya suamiku Anton sangat setia dan menyayangiku. Bahkan dia juga sangat menyayangi dan melindungimu Meis.” Kata Mbak Alin, kakak keduaku.
“Iya sih kak, tapi bang Anton itu pengecualian. Yang lain buaya darat.” Aku tetap ngotot dengan pendapatku.
“Suatu saat kamu pasti akan menyadari bahwa ada seorang lelaki setia yang dikirim Tuhan untukmu. Percaya dech sama kakak.” Ujar mbak Alin sabar seraya mengelus kepalaku. Kakakku ini memang hebat, selalu bisa membuatku tenang walau kami selalu beda pendapat masalah lelaki.
Aku mulai percaya ketika Heri muncul dalam kehidupanku, selama dua tahun dia tak kenal lelah untuk mendekatiku. Aku berpikir, mungkin ini bukti bahwa dia lelaki setia. Maka aku mulai membuka hati untuknya, dan saat usiaku 24, Heri melamarku. Tetapi betapa terkejutnya aku ketika satu bulan kemudian, Ina yang masih tergolong saudaraku datang.
“Meisy, sebelumnya aku minta maaf padamu, tapi ini harus kusampaikan. Aku hamil anak Heri.” Katanya tanpa banyak basa-basi.
Prang…………, badanku mendadak lemas, gelas dan piring yang sedang kupegang pecah berantakan. Tapi entah kekuatan dari mana, aku tidak jatuh pingsan. Kulihat mbak Alin yang muncul entah dari mana, segera menolongku membereskan pecahan beling tersebut.
Aku terduduk diam berhadapan dengan Ina, aku shock. Kemudian samar-samar kudengar Ina menjelaskan duduk perkara sebenarnya kepada mbak Alin. Kejadian berikutnya, aku melihat Heri datang dan kemudian terjadi pertengkaran antara Ina, Heri dan mbak Alin. Tetapi aku sendiri tidak tahu apa yang mereka pertengkarkan, badanku ada disitu tetapi jiwaku entah melayang kemana.
“Jadi itu yang membuatmu belum bisa menjawab lamaranku? Aku lega sekarang, aku pikir karena kau tidak suka padaku.” Aku mengernyitkan dahi, bingung akan perkataannya.
“Ceritamu ini membuatku lebih yakin bahwa aku pasti bisa membahagiakanmu. Karena aku bukan seperti ayahmu, suami kakakmu ataupun Heri. Aku adalah Ramses, dewa cinta yang setia untukmu.” Itulah gaya Ramses yang selalu membuatku ingin tertawa.
“Tapi aku masih yakin bahwa suatu saat Tuhan mengirimkan lelaki setia untukku. Tapi sekarang aku pamit turun dulu ya. Sampai ketemu besok.” Kami tertawa bersama, gara-gara ceritaku, sampai tidak sadar kalau mobil Ramses sudah berada di depan rumahku.
Ternyata aku memang belum diperbolehkan lepas dari permasalahanku dengan Heri. Beberapa hari kemudian dia dan tante Rose (ibu Ina) datang ke rumahku. Dia menceritakan bahwa Ina meninggal saat melahirkan anak mereka. Dan sebelum meninggal Ina berpesan agar Heri datang kepadaku dan memohon maaf atas semua kesalahannya terdahulu. Ina juga berharap aku mau menggantikan kedudukannya dan mengasuh anak mereka.
Pada saat yang sama, Ramses juga berkunjung ke rumahku. Dia heran mengapa ada Heri di situ. Aku menyuruhnya duduk dan bergabung dengan kami. Kemudian Heri menceritakan ulang maksud kedatangannya itu pada Ramses, dan memohon maaf apabila kedatangannya mengganggu kami.
“Aku tidak merasa terganggu, bahkan aku senang karena Meisy bisa menghadapi kebenciannya padamu. Kebencian yang dipendam tidak baik untuk jiwanya.” Kata-kata Ramses sejuk bagai air pegunungan, lagi-lagi dia berhasil membuatku tenang.
“Aku sudah memaafkan Ina, dia saudaraku dan aku tidak menyimpan dendam padanya.” Suaraku sedikit bergetar, karena emosi yang kupendam bertahun-tahun meluap saat itu. Aku menangis, mereka membiarkanku mengeluarkan seluruh kemarahan dan kebencian yang bertahun-tahun kupendam.
“Aku…., aku butuh penjelasan darimu Her, kenapa kau mengkhianatiku?” teriakku dengan emosi sambil mengguncang-guncang bahu Heri.
“Saat itu, tidak sengaja kami bertemu di sebuah pesta yang diadakan kantorku. Ina termasuk undangan karena perusahaan tempatnya bekerja adalah klien kami. Kami mabuk dan terjadilah semua pengkhianatan itu. Tapi Meis, itu ketidaksengajaan, bukan karena perselingkuhan. Aku mohon Meis, ampuni aku, aku sudah menebusnya dengan penderitaanku karena kehilanganmu. Maafkan aku Meis, maafkan.” Heri menceritakan semuanya, menangis, sambil bersimpuh dikakiku. Dia memegang tanganku dan memukul-pukulkannya di wajahnya. Tampak sekali Heri juga menyimpan emosi dan penyesalan yang dalam.
Ramses dan tante Rose hanya terdiam, terpaku menyaksikan adegan sarat emosi itu. Akhirnya setelah beberapa saat, aku dan Heri kembali tenang. Aku benar-benar merasa lega, bebanku terangkat, hatiku terasa ringan. Aku sudah dapat memaafkannya, maaf yang setulus hati. Dan aku merasakan getaran yang indah saat tidak sengaja tatapan mataku dan Ramses bertemu. Aku tahu, ini jawaban Tuhan atas permohonanku, ini juga saat yang tepat untuk mengungkapkannya.
“Her, terima kasih karena kedatanganmu menolongku menyembuhkan semua luka hatiku. Aku tulus memaafkanmu.” Kataku sambil sekilas menyentuh tangannya, Heri tersenyum lega.
“Tapi maaf, aku tidak dapat kembali padamu. Apapun kondisinya aku tidak mungkin menggantikan kedudukan Ina. Aku tidak mungkin meninggalkan kebahagiaan dan masa depanku untuk sebuah masa lalu.” Aku tersenyum menatap Ramses sambil meremas lembut tangannya. Hatiku memang sudah menetapkan pilihan, Ramses adalah anugerah yang dikirim Tuhan untukku. Dan paradigma negative itu pun terhapus tanpa bekas dari benakku.