Hanifah seorang gadis yang lembut dan anggunly yang membuatnya di juluki dengan ratu yang penuh dengan ketenangan dan kelembutannya kepada para binatang.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Hanifah Aulya, gadis remaja 14 tahun yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Ya, Hani sering memasuki dunia yang berbeda dengan dunianya.
(*˘︶˘*).。*♡(*˘︶˘*).。*♡(*˘︶˘*).。*♡
Suatu hari, Hani masuk ke sebuah portal biru dan tiba di suatu tempat. Ia sampai di sebuah kastil, istana megah dan indah yang membuatnya kagum saat melihatnya.
"Sebelum ini, aku tidak pernah melihat kastil ataupun istana yang megah seperti ini." Gumamnya.
"Apakah aku hanya bermimpi?."
Tiba-tiba ada seorang anak muda lainnya yang seumuran dengan Hani menepuk pundak Hani dari arah belakang.
Hani terkejut dan sontak menoleh ke arah belakangnya.
"Hai." Sapa anak itu.
"Ih, pegang-pegang. Mahal." Balas Hani yang membuat pria remaja itu menatap Hani dengan alis mengangkat salah satu.
"Kenalin, aku yudein. 14 tahun. Kamu siapa?." Tanya pria remaja itu.
"Aku Hanifah, panggil aja aku Hani. Aku juga 14 tahun." Jawab Hani.
"Kita seumuran. Kamu mau masuk istana itu?." Tanya Yudein.
" Boleh?." Hani bales bertanya dengan mengangkat salah satu alisnya.
Yudein mengangguk dan akhirnya mereka berdua pergi memasuki kastil yang indah nan megah itu.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Hani sangat takjub dengan kastil itu begitu memasukinya.
Yudein mengajak hani berkeliling ruangan kastil yang megah itu. Banyak pengawal dan pelayan yang berseliweran di sana. Mata Hani tertuju pada sebuah lukisan di dinding yang bergambarkan hutan yang indah sekali. Yudein yang melihat Hani kagum melihat lukisan hutan itu pun menyahutinya.
"Kamu mau kesana?." Tanya Yudein.
Hani menoleh ke arah Yudein.
"Kamu tau hutannya?." Hani membalasnya dengan pertanyaan.
"Ayo kesana." Ujar Yudein.
Hani pun berjalan mengikuti Yudein di belakangnya.
Hani pergi menunggangi kuda bersama Yudein dan akhirnya sampai di hutan yang di maksud itu.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
"Ayo masuk, kamu gak perlu takut karena ada aku disini." Ujar Yudein yang membuat Hani terkekeh mendengarnya.
memangnya aku anak kecil apa?. pikir Hani.
Begitu masuk, Hani sangat takjub melihatnya. Hutannya indah sekali. Hewan-hewan lucu yang ada di sana seolah menyambut kedatangan Hani dan YudeinSerangga yang masih hidup tentram,aman, damai,sentosa. Bunga bunga yang cantik. Juga kupu-kupu yang indah. Di tengah hutan itu, ada sebuah bukit yang dapat di gunakan untuk melihat langit.
Tak terasa, menjadi gelap. Lampu-lampu yang indah bagaikan cahaya bulan yang menerangi gelap sudah menyala. Hani dan Yudein naik ke bukit itu.
Mereka di kelilingi oleh kunang-kunang yang menyala dan kupu-kupu yang indah. Cahaya bulan sebagai pelengkapnya dan suara serangga sebagai penenang dan kedamaian.
"Hani , ada yang mau ku sampaikan kepada mu." Ujar Yudein. Hani menoleh ke arah Yudein.
"Aku sangat suka dengan bintang. Bintang adalah pelengkap hidupku. Dan, maukah kamu menjadi seperti bintang itu?." Tanya Yudein.
Hani mengangkat salah satu alisnya.
" Maksudnya?." Hani membalasnya dengan sebuah pertanyaan.
"Mau kan kamu menjadi milikku?." Yudein bertanya dengan lembut dan suara yang agak lirih. Wajah Hani terlihat memerah. Ia mengangguk.
"Tapi, Yudein. Aku Islam. Dan di dalam Islam, kita tidak boleh pacaran, karena itu hukumnya haram. Dilarang." Ujar Hani.
"Walaupun aku berbeda agama, tapi pasti ada jalan keluarnya. Aku akan menjagamu sampai kamu menjadi milikku suatu hari nanti." Balas Yudein yang membuat wajah Hani semakin memerah. Hani terlihat ingin melompat riang mendengarnya.
" Janji selamanya." Kata Yudein seraya mengangkat jari kelingkingnya kepada Hani.
" Janji." Hani membalas hari kelingking Yudein yang terangkat kepadanya.
P"erbedaan tak menghalangi cinta. Karena, takdir lah yang menentukan kita untuk bersama ataupun berpisah." pikir Yudein.
" Kunang-kunang seolah ikut menyanyikan lagu seperti merasakan apa yang ku perasaan rasakan saat ini. Suara Serangga yang lain seolah bersorak untuk kami berdua. Malam yang indah seolah bulan membawa ketenangan kepada kita." pikir Hani.
Mereka pun menuruni bukit itu dan sampai kembali di istana.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
"Hani, kamu lebih baik menginap di kastil ini dulu karena hari sudah gelap. Akan sangat berbahaya bagi seorang gadis remaja perempuan yang berjalan sendirian di malam hari." Pinta Yudein.
Hani mengangguk mengerti. "tapi, apakah boleh aku menginap di istana ini?. Aku bukanlah siapa-siapa disini." Ujar Hani.
"Boleh." Jawab Yudein singkat.
Hani bukannya merasa tengah justru ia Malah merasa heran dengan Yudein.
"Dia siapa, dengan santainya menjawab iya." Pikir Hani
"Apakah dia pangeran?."
Walaupun banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak Hani, ia tetap berusaha fokus dan tidak melihat mencolok di depan Yudein dan yang lainnya.
"Antar dia menuju kamarnya di atas." Perintah Yudein kepada seorang pelayan kastil.
"Baiklah pangeran." Jawab pelayan itu.
Hani terkejut bukan main saat mendengar pelayan itu mengucapakan kata ' pangeran ' kepada Yudein. Hani menatap Yudein dengan tatapan yang terkejut hampir tidak percaya. Yudein menatap ke arah Hani dan tersenyum lembut ke arahnya.
"Mari saya antar." Ajak pelayan itu. Yudein tetap menatap Hani dengan tatapan lembutnya.
Hani menunduk kepada Yudein tanda hormat."Hani, kamu tidak perlu canggung. Anggap saya seperti teman dekatmu yang sangat dekat denganmu." Ujar Yudein.
Hani pun pergi mengikuti pelayan itu dengan antusias. Hani berjalan hingga ia sampai ke sebuah ruangan dengan pintu yang besar sekali berhiaskan emas. Hani memasuki ruangan tersebut. Terlihat kamar yang megah sekali.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Keesokan harinya, Hani terbangun karena cahaya mentari menerobos masuk ke kamarnya. Hani menuju jendela loteng kamar itu. Seekor kupu-kupu hinggap di bahu nya.
Warna kuning keemasan terlihat di sayap kupu-kupu itu.
"Nona Hani." Panggil seseorang dari luar kamar Hani.
Hani segera beranjak dan pergi menuju ke pintu kamarnya. Ia melihat Yudein yang di kawal 4 pengawal. 2 perempuan dan 2 pria.
"pangeran Yudein?." Ujar Hani.
"Panggil saja saya Yudein." Balas Yudein dengan senyuman hangatnya.
"Mari kita ke bawah." Aja Yudein.
Mereka sarapan bersama di ruang makan. Seusai makan sarapan, Hani di antar oleh pangeran Yudein dan pengawalnya menuju gerbang kastil. Terlihat kereta kuda dan dua ekor kuda putih yang menunggu mereka di Sana.
"Mari saya antar kamu kembali menuju dunia mu." Ajak Yudein dengan lembut.
Hani pun pergi bersama Yudein dan 2 pengawal kerajaan. Di tengah perjalanan, Hani berpikiran bahwa orang tuanya akan khawatir karena Hani tidak pulang sehari semalam.
"Hani." Panggil Yudein yang membuyarkan lamunan Hani.
Mereka sudah sampai di portal perbatasan.
Dengan berat hati, Hani melangkah kan kaki pergi menuju dunianya sendiri. Matanya memerah seperti hendak menangis. Yudein tetap menatap lembut ke arah Hani.
"Pangeran Yudein, aku tidak akan melupakan mu apapun yang terjadi." pikir Hani.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Portal tertutup, Hani meneteskan air matanya. Entah apa yang membuatnya merasa berat melepaskan Yudein di sana. Saat sampai di rumah, Hani bertemu dengan kedua orang tuanya.
Hani meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Namun, justru kedua orang tuanya heran melihat Hani dengan sikap yang seperti itu.
"Kamu cuma telat 1 jam. Satu hari masih belum terjadi." Jawab nyokap Hani.
Hani menatap kedua orang tuanya dengan heran. Ia tersadar bahwa ada perbedaan zona waktu di antara dunia Yudein dan dunia nya sendiri.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Malam berikutnya berlalu dengan sunyi. Hani sangat ingin jumpa kembali dengan Yudein. Namun, mereka hidup di dua dunia yang berbeda. Sedangkan portal sudah tertutup. Portal hangat bisa terbuka pada waktu tertentu.
Hani termangu di meja belajarnya yang ada di dekat jendela kamarnya. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Malam yang dingin juga sunyi.
" Apakah pangeran Yudein akan mengingat janji kita?."
" Apakah,suatu hari janji kita akan terwujud."
" Atau malah sebaliknya?."
Hani bergumam sendiri di kamarnya yang di temani suara jangkrik.
Hani pergi menuju tempat tidurnya berharap akan ada keajaiban yang muncul keesokan harinya.
(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。(◍•ᴗ•◍)✧*。
Hari berikutnya.sepulang sekolah. Hani pergi menuju bukit belakang sekolahnya. Hari sudah gelap. Hani di temani dengan sekawanan kunang-kunang dan juga cahaya bulan yang menerangi kegelapan. Hani melihat rumah-rumah dengan lampu yang menyala.
"Andai, pangeran Yudein ada di sini dan melihat bintang yang indah ini." Gumam Hani.
"Saya memang ada di sini." Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak, Hani pun menolak ke arah belakang.
"Yudein?!."
"Pangeran Yudein?!."
Ya ,dia adalah Yudein. Yudein tersenyum hangat kepada Hani.
"Hani,yang perlu kita ingat hanya lah 1 hal."
"Walaupun kita hidup di dua dunia berbeda dan juga kita memiliki keyakinan yang tidak sejajar. Tapi,jika takdir sudah menentukan kita untuk bersama, kita tidak akan terpisahkan ingat. Perbedaan tak menghalangi cinta. Tidak peduli di manapun kita berada. Karena takdir yang menentukan apakah kita bersama atau sebaliknya. Jika takdir sudah berkata bahwa dia milik kita, ya, dia akan bersama kita selamanya."
Hani tersenyum lembut kepada Yudein. Mereka pun melihat bintang bersama di bukit itu.
" Han, aku akan menjagamu sampai kamu jadi milikku suatu hari nanti." Pikir Yudein sambil melihat ke arah Hani.
Hani menoleh dan tersenyum kepada Yudein lalu melanjutkan menatap langit yang penuh bintang.