"Kania, pilih sesukamu saja, ya jangan sungkan. Tante akan membelinya,'' ucap Tante Miranda padaku. Mataku penuh binar. Semua boneka pasangan ini sangat kusukai. Tak ada yang tidak bagus. Semua elok parasnya. Aku memilih dengan bingung. Boneka Louisa dan Erik dari Ipelhouse ini sungguh menawan hatiku. Merekalah pilihanku.
"Tante, Kania suka boneka Louisa dan Erik ini," ucapku dengan riang. Kupeluk mereka. Uh, bonekanya beraroma wangi lembut.
"Baiklah. Berapa harganya, manajer?"
"Dua juta!"
Tante Miranda yang kaya itu langsung memberikan kartu debitnya kepada pemilik toko Ipelhouse, dengan senang hati sang pemilik toko mengambil kartu debit dan menggeseknya. Maka resmilah pasangan boneka ini menjadi milikku.
"Terima kasih Roberto. Yuk kita pulang," ucap Miranda kepada pemilik toko. Kami berpamitan.
"Sebelumnya kita kembali, Tante mau singgah dulu ya di Carefour. Tante mau beli persediaan makanan," ucap Tante Miranda. Aku mengangguk.
Saat sedang belanja. Tante mendorong troli bag, sedangkan aku sibuk duduk di kursi tunggu bermain bersama mereka.
"Hei, Nak. Bonekamu bagus banget, ya." Seseorang menegurku dan menepuk pundakku.
"Iya, dibelikan tanteku."
"Oh, ya harganya pasti mahal bukan?" tanya orang itu lagi. Dia seorang perempuan berambut merah. Wajahnya tidak secantik tanteku, tapi dia cukup ramah dengan senyumannya itu.
Aku cuma mengangguk seraya tersenyum.
"Pungonium!'' Perempuan itu mengucapkan sesuatu yang tidak kumengerti. Apa maksudnya?
"Baik-baiklah bermain dengan mereka. Sebab tidak akan lama lagi mereka berganti pemilik," ucap orang itu sambil lalu.
Astagaa, betapa jahatnya dia. Masa dia bilang akan berganti milik, sih. Aku tidak terima karena terlanjur tersinggung. Kuhampiri orang itu.
"Hei Tante! Kenapa, kamu iri, ya dengan mainanku?"
"Aku nggak iri. Hati-hati kamu bicara denganku!" ketusnya.
"Kalau nggak iri, kenapa Anda mengatakan hal yang menyakitkan!" Aku menunjuk mukanya dengan jari tengah, lalu segera lari dari sana. Tante itu tersenyum dan tidak mengejarku. Aneh...
"Anak nakal, nanti lihat saja apa yang akan terjadi kepadamu!''
Sesampai di rumah, aku langsung bermain di ruangan permainan. Di sana banyak banget mainan bagus-bagus. Aku seorang diri saja... tiba-tiba pintu terbanting keras, padahal tidak ada yang menutupnya begitu kuat. Tante Miranda datang.
"Jangan tutup pintunya terlalu keras, sayang nanti rusak loh. Tante bakalan repot harus panggil tukang. Pelan-pelan aja, ya sayang," tegur tante padaku.
Aku menggeleng.
"Bukan aku, Tante. Pintunya tertutup sendiri."
Tante Miranda tidak percaya. Dia periksa pintunya, tetapi tak ada siapa-siapa di sana.
Rumah tante Miranda ini besar dan cukup seram. Hanya aku dan dia saja yang tinggal di sana. Dipenuhi oleh kamar-kamar berpetak yang kosong. Satu-satunya kamar yang ditempati tante Miranda dan aku adalah kamar ujung.
"Mainlah dulu. Tante mau masak ya, sayang," ujarnya lembut. Dia mengusap sayang rambutku. Karena Tante tidak memiliki anak dan dia seorang janda, aku sangat disayanginya. Semua permintaanku dituruti oleh tante Miranda.
Setiap Sabtu dan Minggu aku datang berkunjung di rumahnya ini. Agar tanteku tidak kesepian, dia mengajakku tinggal bersama. Mama dan papa kurang setuju.
Dengan segala bujukan rayuku, akhirnya mereka menyetujui aku tinggal di rumah tante Miranda.
Hari kedua setelah aku tinggal bersama tante...
"Sayang, kalau mau makan ada banyak makanan di meja. Kamu tinggal pilih dan makanlah lebih dulu, Tante pergi dulu ya,'' ucap Tante sambil meneteng tas. Dia adalah direktur di perusahaan A. Jadi, setiap hari harus sibuk di kantornya. Aku ditinggal sendirian bersama semua permainan ini.
"Iya, Tan. Aku akan makan lebih dulu tanpa menunggu dan maaf, ya," sahutku patuh. Tante tertawa.
"Nggak usah minta maaf nggak apa kok. Kamu bebas di rumah asalkan jauhi kompor gas dan jangan keluar rumah, ya. Tidak boleh menerima tamu yang nggak kamu kenal. Kunci pintu, ya sayang. Tante berpesan padaku dengan mewanti keselamatanku selama dia di luar rumah.
"Siap Boss!"
Hari hampir magrib tanteku belum pulang. Biasanya jam lima sore tante sudah kembali. Kok lama sekali...
Karena bosan, aku menonton televisi.
Satu jam aku menonton televisi sampai mataku mulai merem.
KLONTANG! KLONTANG!
Suara apa itu berisik sekali di dapur? Aku mematikan power televisi dan berlari ke dapur. Di sana kutemukan beberapa kaleng jatuh di lantai dan pecah. Siapa yang memecahkannya ya? Tante Miranda anti hewan, tak ada hewan di rumah ini.
Aku mengambil sapu dan harua membersihkan semua beling ini. seseorang mengawasiku di balik pintu dapur.
"Siapa di situ!" Aku berteriak mengalahkan rasa takutku. Kubuka pintu berulang, tidak ada siapa pun, aneh...
Aku baru mau mengambil skep sampah di pojok dinding sana, gelas di atas meja bergeser sendiri lalu jatuh.
"Astagfirullah!" Kaget aku! Mengapa bisa jatuh gelasnya...
Baru saja aku mau memungut gelas itu, pintu itu bergerak dengan kencang dan menutup cepat.
Brak!! Aku terkunci di dapur.
"Woi, siapa yang iseng begini! Buka pintunyaaa!"
Aku berteriak dan mulai merasa takut. Seseorang pasti sudah masuk di rumah tante. Sesuatu atau orang jahat. Oh Tuhan, selamatkanlah diriku...
"Bukaaaa!" Aku menggedor pintu dapur dengan keras. Tak ada sahutan apa pun. Volume televisi menjadi begitu keras, keran air di kamar mandi terbuka semua, termasuk keran air di wastafel dapur, lampu menyala mati lalu menyala lagi, begitu seterusnya. Suara mesin vakum bergetar dan sendiri.
Aku mulai merinding, ini ulah siapa?
Dua bayangan orang setinggi pinggangku melintas di ruang tengah. Dapur tante Mira ada jendelanya. Dari partisi dapur dan ruang tengah dibatasi oleh jendela. Aku bisa leluasa melihat "mereka". Boneka yang kubeli bersama tante Miranda!
"Boneka itu hidup!?" Aku terperangah. Saking terkejutnya sampai mulut ini menganga.
"Boneka Louisa dan Erik..."
Boneka perempuan dan pasangan prianya menoleh ke arahku. Wajah mereka sedikit menyeramkan. Tatapan mata yang tajam. Kedua boneka itu tersenyum menyeringai. Mereka melambai ke arahku.
"Hei kalian, keluarkan aku dari sini! Aku ini majikanmu, cepat keluarkan aku!" perintahku pada mereka. Boneka itu tertawa-tawa. Mereka sengaja menyaksikan penderitaanku.
Tante ... cepatlah pulang.
Kompot gas itu menyala sendiri, seolah ada tangan tak kasat mata yang menyalakannya. Aku mundur ketakutan. Panci di atas kompor mulai mendidih. Entah apa yang dilakukan oleh pasangan boneka hantu itu. Ya, kusebut saja mereka boneka hantu. Ini pasti ulah mereka!
Panci itu mendidih dan berbuih dengan cepat. Buihnya keluar dan meleleh di atas kompor. Warna merah seperti darah. Ih, jijik! Apa itu, ya...
Sesuatu berwarna merah dan baunya busuk keluar dari dalam panci.
"Tut-tulang, ke-kepala siapa itu!?"
Aku memberanikan diri menengok isi panci itu.
''TANTEEEEE!!?"
Kepala tante Miranda mengapung di dalam panci yang sedang berbuih. Matanya keluar dari rongga, kulit meleleh dan lidah terjulur. Sungguh mengerikan.
Tidaaaakkk!! Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi. Aku menepuk pipiku. Lah, kenapa tidak sakit?
"Hani sayang, bangun. Kamu ketiduran, ya?" Tante Miranda mengelus pipiku dengan lembut. Aku tertidur di ruang mainan bersama dua boneka yang berdiri di samping boks mainan lainnya.
Kutatap tante, dia masih utuh. Bola mata indahnya masih di tempat. Bibir merah merekah juga masih ada di sana. Kulitnya yang putih mulus tidak meleleh seperti tadi, apakah ini cuma mimpiku saja?
Aku dipapah tante berdiri lalu kami berjalan ke kamar. Tanteku tertawa.
"Nak, kamu lemas gitu kenapa? Mimpi buruk, ya?" tanya Tante Miranda.
"Ah engga kok," dustaku sembari menggeleng lemah.
Mimpi tadi seperti nyata sekali. Aku menatap boneka itu. Memang cukup aneh dan misterius.
Mata pasangan boneka ipel itu seolah hidup, rambut dan kulitnya juga. Seolah semua keanehan yang kualami ini direncanakan oleh mereka.
"Hihihi. Ini rahasia kita berdua sayang," Erik menarik dagu Louisa lalu mengecup bibirnya.
end.