Pagi itu langit terlihat lebih cerah dari biasanya. Udara yang masuk lewat jendela apartemen terasa lebih sejuk dan segar. Butir-butiran embun menempel di daun-daun balkon apartemen. Orang -orang berlalu ramai menikmati indahnya pagi kali ini sampai mengalahkan kicauan burung yang mendahului mereka.
Pagi itu Lu'lu yang baru saja menyelesaikan bacaan Qur'an nya menuju ke ruang tengah yang terhubung dengan dapur seraya ingin membantu bibi Maria yang tak lain teman dekat ibunya yang kini tinggal dengannya di negara yang berbeda.
" Assalamualaikum Bibi.., Selamat pagi. Apa ada yang bisa aku bantu?" Gadis manis berhijab coklat itu mendekati wanita paruh baya cantik yang kini sudah berpakaian rapi dengan blouse putih yang di padukan dengan rok pensil berwarna hitam dan sedang menyiapkan Sarapan.
"Hai.., Selamat pagi juga Daisy. Bibi sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kali ini tanpa susu, karena susu nya habis. Jika kau ingin minum susu kau tau kan untuk membelinya di swalayan biasanya..?!"
"Eum.., baiklah. Bibi sudah sarapan?"
"Ya.., sepotong roti. Aku terburu-buru, Karena ada pasien yang harus segera aku operasi."
Segera setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu mengambil tas selempang kecil dan blazer coklat yang telah ia siapkan.
" Ingat untuk menghubungi ku jika terjadi sesuatu.., jangan lupa mengunci pintu jika kau pergi. Dan jangan pergi kemana pun tanpa memberitahu ku."
"Baiklah bi.., Jangan mengkhawatirkan aku dan hati-hati di jalan."
Ucap gadis muslimah itu seraya mengantar kepergian bibi yang sekarang menjadi wali nya selama ia tinggal di negara asing itu.
" Beli susu ahh, sambil jalan jalan sebentar."
Daisy mengambil jaket dan dompetnya.
***
" Total semuanya 15.000 won atau 12,65 dolar." Ucap seorang kasir kepada pria berpakaian serba hitam yang menutupi wajahnya dengan tudung dan masker, sehingga kesan misterius dan menakutkan cocok untuk pria itu.
Pria berpakaian hitam itu langsung menyelusuri saku-saku pakaian nya untuk mencari wadah berkulit atau pun kertas bernominal. Akan tetapi setelah beberapa saat ia mulai khawatir karena tak mendapati satu benda pun di saku-sakunya. Pria itu menyingkir guna mempersilahkan yang dibelakang nya untuk maju terlebih dahulu.
" Ini kayak biasanya kan?" Ucap gadis muslimah bertudung coklat tersenyum sembari menyerahkan sekotak susu untuk dibayar.
" Eum.., tentu saja" Kasir itu membalas dengan senyuman dan mulai menghitung.
" Ahh.., sekalian punya pria itu. Tapi seandainya nanti dia membayar lagi uangnya untuk mu saja." Bisik Lu'lu sembari memberikan uang 25 dolar.
" Baik, kau memang seperti itu." Balas Jack tersenyum.
" Terima kasih, Wassalam alaikum."
" Eum.., hati-hati dijalan."
" Permisi.., ini belanjaan anda."
" Hah..? " laki-laki misterius itu kebingungan karena belanjaan yang belum dibayarnya sudah diberikan kepadanya.
" Tadi sudah dibayar gadis itu. Dia memang sering seperti itu jangan salah paham." Ucap Jack tersenyum sambil memandangi Lu'lu yang perlahan mulai menghilang.
Tanpa berpikir lama Pria misterius itu langsung mengejar Lu'lu dan menghentikan langkahnya.
" Hei tunggu...!!"
" Iya..?"
" Aku tidak ingin berhutang budi kepada siapapun."
" Ya.., baiklah. Kalau begitu silahkan bayar."
Mendengar jawaban Lu'lu, kepercayaan diri laki-laki tadi itu menurun karena pada kenyataannya memang dia tidak membawa uang.
" Eum.., bagaimana jika membayarnya dengan cara lain?"
" Maksudnya? kau memintaku melakukan hal yang aneh?"
" Tidak.., bukan hal yang aneh. Hanya menemani ku pulang sampai ke apartemen dengan selamat. "
" Baiklah, tapi kau benar-benar tidak ada niat yang lain bukan?"
" Apa wajahku terlihat seperti orang jahat..?" Lu'lu tersenyum lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan pria itu.
entah sihir apa. Laki-laki itu langsung menuruti permintaan Daisy.
Beberapa saat kemudian.
" Ini apartemen ku. "
" Apa..? kau meremehkanku? hanya berjarak 200 m?! kau meminta ku menjaga mu?"
" Tidak..., lihatlah warung kaki empat itu. Biasanya disana banyak laki-laki dan itu membuatku takut."
" Arg.." laki-laki itu berdecak kesal. Sedangkan Lu'lu hanya tertawa kecil.
" Hei ayo...,"
" Kemana..?"
" Antar aku sampai atas."
lagi lagi entah sihir apa yang diberikan Lu'lu, walaupun kesal laki-laki itu tetap mengikuti semua perintah Lu'lu.
Sesampainya di atas.
" Hei, masuklah dulu. Ada yang mau aku berikan. Tenang saja bukan hal yang berbahaya atau pun mematikan."
" Apa itu..? "
" Duduklah disitu,!" Ucap Lu'lu sembari menunjuk kursi makan.
" Ini.., silahkan dicoba." Memberikan sarapan yang tadi bibi Maria siapkan untuknya.
" Ada apa ini..? kenapa kau memberi ku makanan?"
" Tadi bibi ku masak terlalu banyak, aku tidak punya teman, jadi aku pikir aku bisa berbagi denganmu."
" Lagi pula tadi aku dengar perutmu berbunyi." Ucap Lu'lu sambil menuang susu yang baru saja dia beli.
Sedangkan pria itu mulai membuka masker dan jaket nya lalu memakan makanan yang diberikan Lu'lu karena sebenarnya dia juga sedang dalam keadaan lapar.
" Hei.., kemarikan ponsel mu."
" Untuk apa?" Lu'lu menyerahkan ponsel nya.
" Aku akan masukkan nomer ku, nanti kirim kan nomer rekening mu. Akan aku bayar ketika aku sampai di rumah. "
" Baiklah.., Seungri? Nama yang sangat asing. Aku belum pernah mendengarnya."
" Sama sekali? tidak pernah mendengar namaku?"
" Eum.., apa kau seorang yang terkenal?"
" Tidak sih, kau tidak pernah melihat televisi atau pun internet?"
" Tidak.., Bibi melarangku. Handphone saja dibatasi, makanya aku tidak punya banyak teman. "
" Tidak apa-apa lebih baik seperti itu, oiya, lain kali jangan memasukkan sembarang orang ke rumah mu. Bagaimana jika kau bertemu orang jahat..?!"
" Berarti kau orang baik?"[ tersenyum]
" Aku tidak berkata seperti itu. " [memalingkan wajah karena malu.]
***
Beberapa hari kemudian.
[ Baru-baru ini seorang penyanyi yang sekaligus juga seorang pengusaha sukses muda yang bernama Seungri Jason ditangkap polisi karena berbagai tuduhan yang ditujukan kepadanya. Banyak yang menduga bahwa ia lah pemimpin dari beberapa kasus prostitusi dan narkoba yang sedang di selidiki oleh polisi saat ini. setelah berbagai pemeriksaan, Untuk saat ini hakim memberikannya hukuman penjara sekitar 3 tahun penjara dan denda 300 jt dolar]
Seluruh media sosial mengabarkan berita tentang Seungri. Namanya langsung menjadi nomer 1 di setiap pencarian. Tak hanya media sosial, semua bibir juga membicarakan hal sama seakan tak ada habisnya untuk dibicarakan. Bagaimana tidak..? Pemuda yang banyak digemari kaum hawa itu kini berbajukan orange dan mendekap di balik jeruji besi. Tak sedikit yang berharap kebohongan atas tuduhan itu. Namun tak sedikit pula yang mempercayai tuduhan itu. Saking hangatnya berita itu, sampai-sampai gadis muslimah bernama Lu'lu yang tidak pernah mengetahui berita apapun itu mengerti tentang adanya berita itu.
" Benarkah itu seungri yang aku kenal..? " Tanpa pikir panjang gadis itu diam-diam langsung mencari tau kebenaran dari berita yang di dengarnya itu. Terkejut memang tapi terbesit sebuah pikiran di kepala gadis itu bahwa dia tak perlu mencari tau kebenaran itu terlalu dalam. Biarkan saja semua yang telah terjadi. Karena walaupun dia mengetahui semuanya maka tidak akan ada yang berubah.
***
Seungri POV,
Beberapa bulan telah ku lalui sendirian dalam sel gelap dan dingin ini. Semua berbeda dari biasanya yang ku nikmati. Tidak ada kasur empuk atau pun makanan enak. Semua orang memandang ku dengan tatapan penuh benci dan jijik seakan aku tak pantas lagi untuk hidup. Bahkan teman-temanku yang dulu tertawa dan tersenyum bersama tak pernah datang menjenguk. Setiap hari yang kurasakan hanyalah perasaan dingin, kesepian dan hampa. Sejak memasuki tempat kotor, gelap dan dingin ini aku tak pernah merasa tenang, nyaman atau pun bahagia. bahkan sepertinya aku akan melupakan bagaimana semua perasaan itu.
Sampai suatu saat, ketika datang sebuah surat yang ditujukan padaku.
***
Bismillahirrahmanirahim
Apa kabar..? Aku tidak berharap mendengar kabar buruk dari mu..,
Sebelumnya maaf jika aku lancang mengirimkan mu surat. Aku tidak tau, tiba-tiba saja tanganku bergerak sendiri untuk menulis surat, menyeramkan bukan..? haha. seperti dirimu dulu yang tetap menuruti kemauanku walaupun saat itu kau sedang kesal padaku, haha. oiya apa aku boleh mengirim mu surat lagi...? Kau tau sendiri aku tidak punya teman. Jawab jika boleh dan jangan dijawab jika kau tak berkenan.
Semoga kau sehat selalu. Salam semangat.
Dari Daisy, gadis 20 won. [ julukan yang diberikan seungri untuk Lu'lu].
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
***
Sebelumnya aku tidak pernah menyangka bahwa gadis itu masih mengingatku. Aku yang kesepian membaca surat itu membuatku merasa seakan dia hadir didepan ku untuk menghiburku dengan kepolosannya. Tanpa sadar aku tersenyum setelah sekian lama.
***
Hai 20 won girl.., Daisy.
Aku tidak akan memberimu kabar gembira, haha. Kau tau, suratmu sangat menghiburku. Apa kau tau perasaanku sekarang? Seperti sedang menemukan kelinci putih lucu saat sedang tersesat di hutan seorang diri. Kirim lah surat sesukamu, lakukan yang kau ingin kan tanpa mempedulikan perkataan orang. Katakan pada bibi mu agar memperbolehkanmu menggunakan internet. karena terkadang itu bisa menghibur mu. Oiya, kau juga boleh mengabariku tentang hal-hal yang terjadi diluar sana.
Salam 20 dolar Daisy..,
***
Bagi Jason, surat itu seperti biji bunga Daisy yang memberikan setitik cahaya kepadanya.
Tiga tahun dipenjara dapat ia lalui berkat Daisy yang selalu menjenguknya dan mengiriminya surat. Kehadirannya yang terus-menerus itu bagaikan Air dan pupuk yang perlahan membuahi biji Daisy itu tumbuh menjadi setangkai bunga yang cantik.
kedekatan nya dengan Seungri sudah tak dapat di deskripsi kan dengan kata-kata. selama ini Daisy selalu mendengarkan Jason, menghibur Jason bahkan tanpa bertanya tentang kebenaran dibalik hal yang membuatnya mendekam di balik jeruji itu.
bermula dari secarik kertas. sekarang perasaan itu sudah menjadi melebihi tumpukan seluruh buku yang pernah Jason baca.
Namun tiba-tiba saja di tiga bulan terakhir, setangkai bunga itu seakan mulai layu. perlahan potongan potongan bunga itu berjatuhan tanpa harapan.
###
Seungri POV.
***
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebelumnya aku ingin minta maaf karena 3 bulan terakhir ini aku tidak dapat menjenguk mu atau mengirimi mu surat seperti biasanya. Karena kabar baiknya sekarang aku mulai sibuk. Aku sudah mendapat pekerjaan. Aku ingin setelah kau keluar aku bisa mentraktir mu di restoran yang pernah kau bicarakan itu. Maka dari itu jangan patah semangat.., selalu jaga kesehatan mu agar setelah kau keluar kita bisa pergi ke tempat- tempat yang kau rindukan. Oiya.., ini aku menitipkan sebuah hadiah kepada ibu mu. Kau dapat menerimanya setelah kau keluar. Semangat.., Aku selalu ada dipihak mu..
Salam semangat. Daisy
Was salam alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
Kira-kira itu isi surat terakhir Daisy untukku. Dia mengirimkan surat itu 3 hari sebelum aku keluar dari penjara. Menerima surat itu seperti menerima pot yang sengaja dia buat sendiri untukku menampung setangkai bunga Daisy ku yang hampir layu.
Tepatnya hari kamis sore. Aku kembali menghirup udara segar dan sejuknya negeriku. Suasananya sangat hangat untuk ukuran musim dingin. Karena terlalu penasaran dengan Hadiah yang di berikan Daisy.., aku langsung menuju kerumah meminta ibu untuk memberikanku hadiah yang dititipkan padanya.
" Eomma.., aku pulang..." Ucapku saat pertama kali memasuki rumah setelah sekian lama. Tapi di saat yang sama aku melihat ibu yang telah berpakaian rapi memasang wajah sedih dan gelisah ingin bergegas pergi.
" Oh.., kau sudah pulang..? Ibu sampai lupa kalau kau pulang hari ini" Jawab ibu dengan nada seperti menahan nangis.
" Ibu.., kau ingin pergi kemana..?"
" Sudah jangan banyak bicara.., cepat nyalakan mobilnya."
" Ada apa ibu..., kenapa kau begitu..?"
" Sudahlah.., ayo cepat pergi.. ibu mohon padamu.."
Mendengar perkataan ibu yang putus asa dan penuh kesedihan, tanpa banyak bicara lagi aku langsung bergegas menyalakan mobil dan mengantar ibu ke tempat yang akan ditujunya.
" Kita akan kemana bu..?"
" Rumah sakit pusat."
" Siapa yang sakit ibu..?"
" Cepatlah.., maka kau akan segera tau."
Perasaaan tidak nyaman menyelimuti hatiku. Gelisah, penasaran, takut. Semua perasaan itu ada tanpa tau mengarah ke pada siapa. setelah 30 menit perjalanan tanpa macet. Akhirnya kami sampai di rumah sakit itu. Langsung saja aku mengikuti ibu yang terburu-buru mencari kamar ICU khusus. Dari balik kaca jendela, aku lihat 5 orang dokter mengerumuni seorang pasien yang terbaring. Juga satu keluarga kecil yang terlihat sangat muslim sedang berdiri di sebelah kanan pasien itu. Melihat itu rasa penasaranku makin besar. Ku coba mengikuti ibu memasuki ruangan ICU tanpa mengambil jas warna hijau yang diberikan perawat. Dan benar saja.., mata ku langsung terpaku melihat pasien yang berbaring lemah itu. tubuhnya yang dipenuhi selang membuat bulu kudukku merinding. Wajahnya yang sangat pucat membuat air mata ku perlahan turun. Melihat pasien itu tersenyum padaku semua orang yang mengerumuninya langsung memandangiku. Dan ternyata tak hanya aku yang meneteskan air mata.., seluruh orang yang berada disitu sedang menahan air mata mereka. Bahkan perawat yang berdiri di kejauhan pun ikut menahan air matanya.
" Itu Daisy..," ucap ibuku yang sudah tak tahan lagi menahan tangisannya.
Aku tau, itu Daisy... tapi aku masih tak mempercayainya. Tiga hari yang lalu dia berkata akan mentraktirku makan, dia juga berkata akan jalan-jalan bersamaku. Dia juga menyuruhku menjaga kesehatan. tapi bagaimana mungkin malah dia sekarang berbaring lemah dengan berbagai selang yang membantunya..?!
Lelaki berjubah putih disamping ku menuntutku ke sampingnya. Aku yang masih terpaku mengikuti tangannya yang membawaku mendekat ke arah gadis manis berkerudung pink yang sekarang terbaring sangat lemah itu. Aku mendekatkan telingaku ke arah bibirnya, karena dia memberi isyarat ingin berbicara. Aku tahan air mataku untuk mendengarkan perkataannya dengan jelas.
" ASHADU ANN LAILAHAILALLAH WA ASHADU ANNA MUHAMMAD RRASULULLAH" Itu kalimat yang ia katakan padaku. Setelah itu ia tersenyum padaku sambil mensayupkan matanya perlahan yang kemudian malah tertutup rapat.
Spontan saja tubuhku langsung lemas, kaki ku kelu, rasanya aku sudah tidak dapat berdiri lagi. Semua orang yang hadir memalingkan muka mereka sambil meneteskan air mata. Sedangkan aku masih tidak ingin mempercayai kejadian barusan. Aku ingin semua ini mimpi. Walaupun saat terbangun aku masih di penjara, aku tidak apa-apa. Karena bagiku dia seperti bidadari yang menarik ku keluar dari kegelapan. Bagaimana bisa aku hidup tanpanya..?! padahal saat saat bersama nya di luar penjara adalah hal yang paling aku inginkan. tapi mengapa semuanya berubah menjadi seperti ini? takdir apa ini? setelah membuatku mencintaimu kenapa kau malah langsung pergi meninggalkan ku?
Tangisanku terus mengalir tiada henti. Tiba-tiba saja pria paruh baya berjubah putih tadi memeluk ku dan membantu ku berdiri seraya berkata, " Tidak apa-apa.., dia Khusnul Khotimah" sambil tersenyum...,
***
" Hei terimakasih. dan siapa nama mu?" Ucap seungri sebelum meninggalkan apartemen Lu'lu.
" Zahratul Lu'lu An-Nisa"
" Hah...??"
" Panggil saja Daisy., karena namaku terlalu susah untuk kau ucapkan."
***
"Hah..., ternyata ZAHRATUL LU'LU AN-NISA." Gumam seungri tersenyum sambil memandangi batu nisan milik Lu'lu dengan mata sembabnya karena menangis.
THE END.