Berawal dari kemalasanku yang tak ingin kembali ke kamar hanya untuk mengambil masker, cerita seram ini bermula, aku mendapati sebuah masker tergeletak begitu saja di atas meja ruang tengah tak lama setelah melihat Ayah pulang dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Yah! maskernya Tam pakai ya, punya Tam hilang " teriakku pada Ayah yang sedang di kamar mandi.
Julio Pratama nama yang ayah beri, dan dia menggelarku dengan nama Tam.
karena tak mendapar respon aku lalu dengan lancang memakainya, dan berniat aku gunakan untuk keluar membeli nasi goreng favoritku tak jauh dari polsek.
Sejak seminggu yang lalu kami di imbau untuk selalu memakai masker sekalipun itu malam, jadi karena ini baru hari kedelapan maka aku inisiatif menuruti protokol itu, dari pada denda RP.250.000;
Masker ini sangat aneh tapi terlihat trendi dengan campuran warna abu abu dan coklat.
Saat aku kenakan, hidungku langsung mencium wangi yang khas dari masker kain itu.
" Wangi ini, huttssss !!! Melati. " Tebakku
Hidungku tak salah mencium ini benar aroma melati, aku tak menaruh curiga pada masker itu, karena di pasaran banyak yang menjual dengan wangi tersebut, jadi aku santai dan terus memakainya.
Aku kembali berjalan santai dari ruang tengah dan hendak bercermin untuk mengoreksi penampilanku sebentar, namun hingga sedetik kemudian wanginya sangat pekat dan menusuk hidungku, aku lalu melepaskannya dan menurunkan masker itu ke dagu.
" Huuuh " Aku menghembuskan nafasku kuat - kuat lalu menggosok hidungku untuk mengusir bau pekat itu.
Namun keanehan mulai muncul setelah aku menghembuskan nafasku kuat seperti ada yang juga melakukan hal yang sama namun ke arah belakang telingaku sebelah kiri dan itu amat terasa. Seperti nafasku tadi memantul dan mengenai telingaku namun baunya berbeda sedikit anyir.
" Haaaaah " Aku menghembuskan nafasku kuat dari mulut dan mencium bau mulutku sendiri dengan tangaku dan itu masih wangi sebab aku baru saja menggosok gigi sehabis mandi tadi.
Aku lalu mengalihkan hidungku mencium ketiak, lagi - lagi aku tak menemukan dari mana asal bau anyir itu karena ketiaku sudah memakai deodoran dan tubuhku sudah memakai parfum.
" Ah mungkin hanya bau yang lewat " Ucapku agar mengembalikan lagi rasa beraniku yang sempat berubah takut.
Lalu secara reflek aku kembali menaikkan masker itu dan wangi masker itu sudah berubah. Seratus persen berubah dari melati kini menjadi bau yang sangat abstrak dan sekilas bau anyir itu juga ada di sana.
" Huuuuuh " Aku kembali menghembus kuat
" Huuuuuh " Balasan serupa aku dapatkan hembusan itu juga kembali menerpa daun telingaku.
Aku menelan salivanku dan perlahan tangan kiriku bergerak ke arah telinga kiri untuk memastikan bahwa aku sedang sadar dan ingin kembali memastikan hembusan itu lagi.
" Huuuuh "
" Huuuuuh "
" Astagfirullah " Dengan cepat aku melepaskan tangaku dari belakang telinga.
" Ayah jangan main - main nggak lucu yah, Tam mau beli nasi ini, kalau lapar Tam belikan tapi jangan nakutin kenapa ! "
Tak ada balasan, jantungku semakin berdebar kuat.
" DUG DUG DUG DUG DUG "
Dengan keberanian yang ada lalu aku maju selangkah ke depan cermin dan mencoba mengabaikan rasa takutku. Aku tatap pelan pada cermin semua biasa saja, penampilanku Ok dan sudah gagah serta di tambah dengan sentuhan terakhir yaitu masker.
Saat tangaku mengambil kain itu dari dagu dan aku belum melepas kain masker untuk mengenai hidungku sebuah bayangan muncul disisi kiriku, aku melihatnya jelas sosok hitam dan dengan cepat aku menarik kembali kain itu ke dagu dan menyipitkan mataku namun bayangan itupun hilang.
" Eeeeee, eeee eeee " Tiba - tiba masker itu seperti mencekekku karena sudah berpindah di leher secepat kilat.
Untungnya ketika Masker itu menekan kuat leherku, jari manisku berada ditengah antara leher dan masker dan masih bisa menahannya, sehingga masih bisa aku bernafas namun cekikan dari sisi kiri dan kanan yang membuatku tak tahan.
" Ayaaaaah, yaaah ! " teriaku sambil terus berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini, ketika aku berusaha sekuat tenang melepaskannya, kepalaku terangkat dan kembali menghadap ke cermin, kedua mataku jelas melihat bayangan hitam mengitari leherku dengan jari harinya.
" Tol "
" Kau lancang, kembalikan punyaku " bisik makhluk itu sedikit serak.
" ba-ba baiklah "
" Kenapa Tam ! " Akhirnya Ayah meyaut.
Aku yang melihat bayangan Ayah dari cermin yang tengah berdiri di depan kamar mandi dan sedang memasang tali pinggangnya.
Aku tak bisa bersuara lagi, lidahku sudah separuh keluar dan mataku memerah aku hanya mengangkat tangan kananku tinggi sambil menggoyangkannya lalu menjatuhkan tubuhku namun tertahan oleh tangan makhluk itu dan aku tergantung.
Ayah yang melihatku lemas dan kakiku bergerak kesana kemari langsung berlari menghampiri sentuhan pertama tangan ayah pada pundakku membuat cekekan itu merenggang dan ketika tangan ayah yang lain memegangku dan menopang tubuhku, seketika lenyap sudah cekekan itu dari leherku dan masker kain itu juga tergantung di dadaku dengan sisi lainnya masih melingkar di leherku.
" Hugh Hugh Hugh "
" Kenapa Tam ? "
" Dimana ayah dapat masker ini " Dengan cepat aku melepaskannya.
" Tadi di depan kuburan, Ayah tak sempat beli masker jadi pas razia Ayah ada ketemu masker bekas ya Ayah pakai, memangnya kenapa, baunya nggak enak ya ? "
" Ayah lain kali jangan sembarangan main ambil punya orang, Orangnya hampir membunuh Tam "
" Orang siapa! "
" Ya orang yang punya masker ini, dia mungkin tinggal tak jauh dari tempat ayah mengambilnya "
" Maksudmu orang yang punya masker ini tinggal di kuburan ! "
" Iya, jangan di pakai lagi, Ayah temani aku antar masker ini sekarang juga "
" Siapa orangnya Tam ? "
" Kalau Ayah mau lihat siapa orangnya sini aku pakaikan masker ini dan Ayah lihat sendiri ke cermin "
" Iiiiiii nggak ah, Ayah jadi merinding, yaudah ayo ! "
Aku dan Ayah lekas berangkat dari rumah menuju kuburan dan kembali meletakkan masker itu.
......TAMAT.......