Aku seorang pengrajin kerang-kerangan. Banyak sekali botol bekas yang dibuang oleh tetanggaku. Sayang sekali kan kalau dibuang dan jadi limbah. Mau jadi apa negeri tercinta ini kalau semua barang bekas dihanyutkan begitu saja di sungai.
Aku memungut beberapa botol bekas itu lalu membuat kerajinan tangan. Bahannya yaitu, beberapa kerang laut yang cantik, lem tembak, dan seutas pita bekas milik adik perempuanku.
"Kak, lagi ngapain?" tanya dia–adikku Finna.
"Hiasan. Kamu mau bantu, kan?"
"Nggak ah, aku ada kursus nih jam tiga. Kak anterin dong?" Finna membujukku.
"Jangan ganggulah, kamu tahu kan kakak males ke sana. Kalau sudah di sana semua temen kamu malah mengerubungi aku." Kulirik muka Finna, wajahnya cemberut. Ya, dia pasti kesal sekali karena selalu kutolak setiap dia meminta mengantarnya ke tempat kursus. Yah, apa boleh buat sekali ini saja deh.
''Fin, biar kakak anter kamu." Kusambar jaket kulit Morganna di samping lemari baju. Finna berseru girang.
"Aseeek. Makasiih kakakku yang baek!"
Aku cuma berdehem dan tersenyum. Kami pun pergi ke tempat kursus. Pekerjaan yang menjadi hobi itu kutinggal sebentar.
Saat motor sudah sampai di tempat, Finna turun. Sontak saja teman-temannya datang bak semut, aku langsung kocar-kacir melarikan motorku dengan semborono. Seorang nenek yang sedang duduk di depan pintu itu tanpa sengaja kulindas dengan motor.
"Astaghfirullah haladzim!" Aku kaget dan turun dari motor lalu meminta maaf kepada nenek itu. Para cewek yang mengerubungiku seperti biasanya, malah mundur dan lari ketakutan. Ada apa dengan mereka?
"Kakakmu kenapa ngomong sendiri kayak gitu, Fin. lihat deh," celetuk seorang temannya. Suaranya itu kudengar.
"Aku ngomong sama nenek ini! Kalian kurang sopan ya, mengatai aku bicara sendiri!" Aku menunjuk nenek itu.
Loh? Ke mana nenek tadi, ya?
Sepanjang jalan hatiku bertanya-tanya. Nenek tadi itu kenapa sangat aneh, mereka tidak melihatnya, kecuali aku.
"Apakah mereka sedang bercanda?"
Mungkin saja kan mereka itu hanya bercanda padaku. Begitu pikiranku untuk saat ini.
Malamnya, aku melanjutkan pekerjaan tadi yang sempat tertunda.
"HUACHIIM!" Seseorang bersin dengan keras di depanku.
Seseorang? Aku menoleh ke arah suara datangnya bersin itu, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Botol itu sedikit bergerak dan jatuh menggelinding di kakiku hingga bunyi berisik.
"Nak, kamu sedang apa tengah malam begini?" tanya Ibu, dia keluar dari kamar karena mendengar suara berisik botol jatuh.
"Nggak kok, Bu. Aku cuma mau menempelkan ini, tapi botolnya keburu jatuh." Alasanku pada ibu. Dia mengangguk lalu kembali ke kamarnya.
Lalu kupungut botol di kakiku, baru saja mau berdiri tegak...
Deg!!
Jantung ini berdebar tidak karuan. Di muka, muncul seorang nenek bongkok. Wajahnya tidak kelihatan, agak samar. Kulit keriput, memakai kebaya kuno, dia tersenyum padaku. Bukankah ini nenek yang tadi di tempat kursus Finna, mengapa dia bisa ada di rumahku? Bagaimana bisa!
"Nek, kamu kenapa bisa datang ke sini? Dari mana tahu rumahku?" tanyaku pada nenek itu. Dia diam sambil terus memperhatikan botolku.
Botol yang kupegang ini adalah jenis botol minuman bekas syrup Cocopandan. Nggak ada yang spesial menurutku, sih...
"Nenek mau botol ini, ya?" Dia mengangguk tanpa suara.
"Tapi ini botol yang kupungut tadi? Jangan yang ini, ya Nek. Akan kuambilkan botol lain untukmu," sahutku seraya bergegas masuk kamar dan mengambil beberapa botol bekas yang lain. Begitu keluar kamar, si nenek tadi sudah tidak ada di ruang tamu. Aku sangat heran dan aneh. Kucari nenek itu sampai di luar rumah, tetapi tidak kutemukan. Di mana dia, ya?
"Mungkin nenek itu sudah pulang ke rumahnya." Aku berasumsi. Pikiran fokus pada pekerjaan tadi yang tertunda terus.
Botol yang diinginkan nenek itu sudah hilang entah ke mana. Tanpa berpikir apa-apa, aku mengambil botol lain untuk dijadikan hiasan. Saat sedang menempelkan kerang-kerangan itu, tiba-tiba saja bunyi botol pecah di luar jendela kamarku.
Aku kaget sekali.
Cepat-cepat aku keluar kamar dan mencari sumber bunyi barang berisik itu. Anehnya, di luar kamar tidak ada benda pecah. Tak ada botol atau kaca.
Ibuku juga ikutan keluar. Dia memarahiku habis-habisan. "KAMU KENAPA BERISIK SEKALI, INI SUDAH TENGAH MALAM!"
"Tidur sana!" Ibu menyuruhku tidur setelah membentak-bentak.
Terpaksa saja aku menuruti dia. Hati ini masih penasaran. Siapa yang memecahkan botol twngah malam, siapa nenek itu.
Teka-teki soal nenek dan botol pecah masih menjadi sebuah misteri. Kerajinan tanganku sudah jadi. Lihatlah di foto itu. Cantik kan...
Botol ini tidak kujual meski beberapa teman memberiku uang.
Keesokan harinya, seorang bule datang di rumah. Dia ingin melihat hasil karyaku. Bule itu jadi terkesima dengan hiasan botol.
"Please, jual saja kepada saya. Botol indahmu akan saya bayar dengan harga tinggi," kata seorang bule.
Dia menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar meski sedikit aneh. Bule ini membujukku. Namun, aku menggeleng dengan senyum.
"No. Saya tidak menjualnya. Kalau kamu mau, saya akan membuat hiasan kerang dengan botol yang lain. Gimana?"
"Tidak. Saya suka yang itu!"
Bule ini memaksa. Akhirnya, aku terbujuk. Botol hias yang sudah dipenuhi oleh bunga-bungaan dari kerang ini kujual seharga Rp 300.000. Bule itu sangat senang dia bahkan memelukku.
Bule wanita itu membawa pulang botolnya yang sudah menjadi hak miliknya.
Satu bulan kemudian...
Bule itu datang lagi di rumah saya. Dia membawa botol yang pernah dia beli padaku. Pikiran ini berkecamuk. Jangan-jangan, si Bule mau memulangkan botol hias itu.
"Saya mau kasih pulang botol Anda!"
"Kenapa, Madam?"
"Saya tidak bisa tidur dengan tenang. Hidup saya seperti di neraka!" Wanita itu sedikit emosi.
Lalu dia bercerita begini:
Suatu malam, saat dia sudah membeli botol itu kepadaku, matanya menjadi aneh. Dia lihat seorang nenek bongkok sedang duduk di atas badannya dengan melayang. Matanya hitam melototin bule itu.
"Kembalikan botol itu!" Nenek itu mengggeram murka pada wanita bule itu, dia menyuruh mengembalikan botol di tangannya.
Wanita bule itu saking takutnya, dia tidak berani tidur di malam hari. Selalu saja diikuti oleh seorang nenek renta.
"Kukembalikan botol ini," tukasnya.
Aku terpaksa mengembalikan setengah uangnya dan mengambil kembali botol itu.
Apes, deh. Mujur saja uang itu belum kugunakan semuanya. Bagaimana kalau nenek pemilik botol ini datang ke sini. Semoga itu tidak akan terjadi.
"Nek, jangan ganggu saya, ya. Botol ini akan kukembalikan padamu. Ambillah..."
Aku menatap ruangan di rumahku dengan was-was. Di mana saja nenek itu, pasti akan mengambil miliknya ini. Hening, tidak ada suara nenek atau wujud nenek yang tampak.
Apakah dia itu jin penunggu botol ini? Entahlah...