Sekian purnama telah berlalu. Untuk pertama kalinya aku melihat kisah klise seperti dalam drama. Sebuah kisah dari cinta sejati. Berapa kisah cinta yang pernah kamu tonton atau baca? Tentu banyak, tapi untuk kisah nyata seperti itu sulit ditemui. Dan malam ini aku menemuinya.
Lelaki yang sejak lama duduk di kursi yang sama. Menatap ke luar jendela seolah jiwanya terkurung oleh sepi. Meski memang begitu adanya, dia bukan lelaki yang aku cintai atau sedang aku incar. Aku memiliki kekasih yang tidak perlu aku ceritakan di sini. Aku hanya tertarik saja mengisahkan tentang pilunya perasaan dia.
Gerimis kecil tanda hujan yang lebat telah berlalu. Aku masuk ke pintu kafe yang sama dengan baju yang sedikit basah. Lelaki itu sudah duduk dengan kopi di hadapannya. Kopi yang mengepulkan asap ke wajahnya. Walau pandangannya tetap mengarah ke luar kaca jendela yang diembuni bekas air hujan.
“Permisi,” kataku.
Dia melirik dengan tatapan yang dingin. Aku tidak bisa berbohong. Pandangan itu membuat jantungku berdegup kencang untuk sesaat. Hanya saja aku tahu diri dan menyampingkan dulu perasaan itu. Karena aku juga merasa bahwa pandangan itu hanyalah dingin dari jiwa yang sepi.
“Boleh saya duduk di sini?” tanyaku. Dia melirik ke setiap sudut yang kursinya masih banyak yang kosong. Dia mengangguk perlahan sedikit ragu.
“Terima kasih,” kataku sambil menarik kursi. Kami kemudian duduk saling berhadapan.
Aku tidak yakin untuk menceritkan kelanjutannya. Untuk beberapa saat kami terdiam. Aku bahkan kikuk menghadapi lelaki dewasa yang dingin ini. Dia sama sekali tidak bertanya, siapa aku? atau untuk apa aku duduk bersamanya?
“Mas Andi, yah?” kataku. Dia mengangguk. Lalu aku kembali berkata, “Maaf, sepertinya ini lancang untuk pertemuan kita yang pertama. Sebenarnya, aku tertarik saat mendengar kisahmu.”
“Kamu penulis?” katanya dengan nada bertanya. Aku menggelengkan kepala. “Oh, lalu untuk apa kamu tertarik dengan ceritaku?”
“Entahlah.” Aku tersenyum malu dengan tingkah bodoh yang sudah aku lakukan ini. “Ok. Sepertinya kamu harus melupakan apa yang sudah aku katakan barusan. Dan sepertinya aku juga harus mencari kursi lain. Permisi?” Wajahku terasa panas seperti memerah. Sungguh, aku benar-benar ingin menangis.
“Tunggu!” dia menahanku. “Kamu hanya mendengar sedikit cerita intinya saja 'kan? Apa kamu ingin mendengar cerita lengkapnya?”
Rasanya jiwaku terbang ingin menari bahagia. Aku kembali duduk. Dia menyodorkan kopi miliknya. Kopi hitam? Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku lebih suka cappucino atau latte.
“Belum aku minum,” katanya.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak suka kopi hitam,” jawabku.
“Kopi hitam itu seperti kehidupan. Hanya memiliki dua unsur yang bisa dijabarkan. Sama halnya seperti waktu yang hanya memiliki siang dan malam. Kopi hitam itu juga hanya memiliki dua rasa, yakni manis dan pahit.”
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Dia lelaki dewasa, tentu memiliki banyak kata yang bijak. Kebetulan pelayan lewat ke meja kami. Aku menghentikannya sambil berkata, “Mas, cappucino biasa ya?”
“Ok.” Pelayan itu sudah tahu minuman yang biasa aku pesan.
“Cappucino juga sama seperti kehidupan.” Mas Andi kemudian meneguk sedikit kopi pahit yang tadi sempat dia tawarkan padaku.
“Oh, ya?” Aku sudah terbiasa mendengar banyak orang membandingkan kehidupan dengan kopi hitam. Tapi dengan cappucino, apa dia yakin?
Setelah pelayan berlalu usai memberikan pesananku, dia kembali mengeluarkan kata bijaknya. Begini katanya, “Cappucino itu terlalu banyak rasa manis. Dalam kehidupan, sama seperti seseorang yang selalu bersifat positif. Tapi dia lupa jika positif dan negatif itu berdampingan. Sampai dia hanya larut dalam sebuah buaian. Dia terjebak dalam drama kebahagiaan walau sebenarnya ada pahit yang dia sembunyikan.”
Glek, aku menelan ludahku sendiri. Apa yang sedang dia bicarakan? Apa dia sedang membaca sifatku? Tidak, tidak mungkin. Aku memang terlalu banyak menonton drama.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kisahmu itu?” Sepertinya ini kentara sekali bahwa aku mengalihkan pembicaraan.
Tapi sejak awal aku memang penasaran dengan ceritanya. Kudengar dari salah satu pelayan di sini, dia adalah lelaki yang terjebak dalam cerita masa lalu. Dulu dia sering datang ke tempat ini bersama dengan gadis yang dia cintai. Sampai pada akhirnya mereka putus. Gadis itu sekarang sudah menikah. Namun, lelaki ini seakan menunggu gadis yang dia cintai kembali padanya.
Dia tertawa kecil sambil bertanya, “Kisah seperti apa yang ingin kamu dengar?”
“Tadi kamu bilang akan menceritkan kisah legkapmu. Aku pikir, itu pembahasan kita.”
“kamu yakin akan mendengarkan ceritaku?” Pertanyaan ini seolah dia akan menceritakan kisah seram saja. Aku mengangguk dengan sangat yakin.
“Baiklah. Gadis itu bernama Ayu. Gadis yang sekarang sudah menjadi perempuan. Aku mencintainya sejak lama. Tepatnya sejak kami duduk di bangku kelas dua SMA. Sebagai seseorang yang terlahir dari keluarga berada aku merasa santai menjalani kehidupan ini. Aku berpangku tangan pada kedua orang tuaku. Aku tidak menjalani sekolah dengan serius. Aku juga tidak pernah bekerja dengan giat. Aku hanya seorang pengangguran yang terlihat sama dari dulu bahkan sampai hari ini. Aku tidak menyangka kalau Ayu akan memutuskan hubungan kami setelah ikatan kami berlalu sangat lama.”
Mas Andi menghentikan ceritanya sampai di situ. Dia meneguk dulu kopi hitamnya itu. Seolah dia sedang mengingat bagaimana pahit ceritanya.
“Lalu?” kataku tak sabar mendengar ceritanya.
“Aku begitu ego dengan terus menyalahkannya. Dia kejam dengan tidak mau mempertahankan hubungan kami. Namun, aku lebih kejam dengan menuduhnya berselingkuh. Untuk waktu yang cukup lama aku terus mencari pembenaran. Sampai aku tahu kebenaran itu adalah Ayu. Dan aku dalang dari hancurnya hubungan kami.”
“Tunggu! Kenapa mas jadi menyalahkan diri sendiri?” Aku mengerutkan dahiku heran.
“Sebab tidak ada satu pun yang bisa dia banggakan pada orang tuanya. Cinta yang dalam itu bukan sebuah kebanggaan. Apa yang bisa diberikan seorang pengangguran sepertiku padanya? dan aku baru menyadari semua itu setelah dia menikah dengan orang lain yang lebih mapan.”
Dia ada benarnya juga. Pandangan orang tua memang selalu begitu. Seakan mereka tidak pernah muda dan merasakan bagaimana jatuh cinta.
“Anak muda sepertimu pasti akan berkata, ‘Tapi bagaimana seseorang bisa hidup tanpa orang yang dia cintai?’ Akan kuberi tahu rahasianya. Seseorang bisa hidup tanpa orang yang dia cintai. Dia masih bisa bernapas, menghirup udara dan melihat matahari terbit sampai tenggelam. Hanya saja hatinya yang mati untuk kembali mencintai orang lain.”
“Apa itu yang Mas Andi rasakan selama ini?” Aku hanyut dalam cerita sendu itu. Hatiku merasakan teramat perih yang mendalam.
“Tidak juga. Setelah Ayu menikah, aku merasa kalau aku kehilangan dirinya. Nyatanya dia masih sangat dekat denganku. Karena perasaanku yang terus kupendam dalam hati.”
Aku rasa sudah cukup mendengar ceritanya. Ini teramat sedih untuk diriku yang mudah terbawa arus. Bahkan tanpa sadar aku telah menitihkan air mata.
“Selama ini aku mencari cara untuk mengeluarkan perasaan yang ada dalam hatiku ini. Karena perasaan itu seperti sebuah beban yang menyesakkan dada. Dan malam ini kamu menawarkan diri untuk mengambil beban itu. Sejak awal aku sudah bertanya, ‘Apa kamu yakin?’ dan kamu sudah mengiyakannya. Jadi, maaf sudah melimpahkan beban padamu. Aku lega sekarang. Aku akan melanjutkan hidupku. Mungkin ini adalah awal sekaligus akhir dari pertemuan kita.” Dia beranjak dari tempat duduknya menyimpan beberapa lembar uang di bawah cangkir kopi miliknya. Dia kemudian berlalu meninggalkanku sendiri.
Aku pernah mendengar seseorang berkata, “Setidaknya, seseorang butuh satu orang saja untuk mendengarkan isi hatinya.” Dan mungkin selama ini Mas Andi memang mencari seseorang itu.
Dan aku benci untuk mengatakan ini. Orang yang mendengarkan cerita orang lain ternyata seperti tong sampah. Dia hanya sedang menerima sesuatu yang tidak berguna dalam hidup orang lain. Nyatanya memang seperti itu. karena orang yang sudah mengeluarkan keluh kesahnya akan merasa lega. Sedang bagi si pendengar, dia hanya menumpuk masalah orang lain pada dirinya.
Dan itu adalah hal yang dilakukan oleh Mas Andi pada diriku. Bahkan malam saat Mas Andi pergi, dia hanya membuang cerita untuk melegakan perasaannya. Dia sama sekali tidak bertanya, siapa namaku? Sampai waktu berlalu, ceritanya masih melekat dalam pikiranku. Cerita yang bahkan tidak berarti apa-apa untuk diriku.
~ The End ~