malam itu dava pulang dari kantor, namun didapati rumahnya dalam keadaan sepi, dia mengetuk pintu sambil memanggil ayah dan ibunya namun tak ada satupun suara yang terdengar dari dalam, akhirnya tanpa keanehan dia langsung membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang dia miliki.
dia nyalakan lampu rumahnya satu persatu dari ruang tamu, kamar, hingga dapur, tanpa ada celah kegelapan yang tersisa, seperti biasa dia langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu mengganti pakaian dan bergegas menuju ruang makan.
dava terasa lapar, cacing cacing diperutnya juga sudah mulai bertengkar, dia pun membuka tudung saji yang ada dimeja makan berharap ada makanan yang tersisa untuknya, namun disana terihat tak ada nasi dan lauk tersaji.
dava ingin menelepon orang tuanya untuk menanyakan keberadaan mereka, baru kali ini orang tua dava pergi tak memberi kabar, tapi sayang hapenya mati total dan baru dicas olehnya.
dava hanya mampu merenung sambil duduk dia kebingungan mau masak apa malam ini, sedangkan dia tidak bisa masak, biasanya mbo Jum yang memasak untuk keluarganya.
mbo Jum adalah pembantu rumah tangga, sudah sedari dava sekolah dasar mbo Jum bekerja membantu disana, mbo Jum tidak memiliki anak dan hidup sendiri setelah kematian suaminya, maka dari itu mbo Jum sangat sayang pada dirinya.
situasi rumah pun semakin aneh mengapa mbo Jum pembantu Dava juga tidak ada apakah mbo Jum ikut dengan orang tuanya, tapi kemana??
tanya demi tanya menghinggapi pikirannya hingga lelah dia pun beranjak menuju ruang tengah untuk menonton tv.
****** ruang tengah ******
dava menyalakan tv lalu mengambil bantal yang berada di sofa, dia pun membaringkan tubuhnya sambil menonton salah satu program tv, hingga tak terasa dia terlelap dalam tidurnya.
setengah jam berlalu tiba-tiba ada yang menepuk pelan tubuh dava mencoba membangunkannya, tak lama Dava membuka mata sambil mengusap beberapa kali agar terlihat jelas siapa yang menepuk tubuhnya itu.
" oh mbo Jum Dava kira siapa "
dengan suara sedikit aneh wanita separuh baya yang biasa memakai kebaya dan kain dengan rambut yang dikonde asal seperti ciri khas orang-orang Jawa itu menjawab.
" iya mas ini mbo Jum, mas Dava sudah lapar kan mari kedapur biar mbo buatkan makanan "
" baik mbo terima kasih "
dava beranjak dari tidurnya dan mengikuti langkah mbo Jum menuju ruang makan, lalu duduk dibangku menunggu sambil melihat mbo Jum memasak, kebetulan dapur mereka menyatu dengan ruang makan jadi jika ada yang memasak akan terlihat jelas.
Suasana agak sedikit dingin, sunyi tidak seperti biasanya, bulu kuduk Dava pun mulai bangun dia bingung malam ini serasa mencekam, namun dia sengaja tidak memperdulikannya, rasa lapar diperutnya lebih kuat ketimbang rasa ketakutan yang kian melanda.
" mbo papa, mama pergi kemana ya, tumben ngga pamit sama dava "
mbo Jum tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya menggelengkan kepalanya pertanda jika dia tidak tahu.
malam itu mbo Jum hanya fokus dengan wajannya mengaduk-aduk terus apa yang sedang dia masak, sungguh aneh bagi Dava melihat perubahan mbo Jum yang sedikit sekali berbicara, sebelumnya mbo Jum itu wanita periang banyak bicara bahkan bercanda.
dava berfikir apakah mbo Jum sedang sakit ? tapi terlihat biasa saja lagipula jika si mbo sakit dia pasti bicara apa adanya.
" sudahlah mungkin hanya perasaanku saja " gumam dava
selesai mbo Jum memasak, dia mengantar sepiring nasi goreng dan diberikan kedava, ketika mengambil piring itu tak sengaja tangan Dava menyentuh tangan mbo Jum, tangan itu begitu dingin seperti es batu yang baru dikeluarkan dari freezer, Dava makin bingung ada apa dengan mbo Jum?
" silahkan dimakan mas Dava, mbo mau cuci wajan dulu lalu istirahat "
" iya mbo terima kasih, silahkan langsung istirahat saja, setelah makan Dava juga mau melanjutkan tidur karena besok pagi sudah harus bekerja kembali "
mbo Jum hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari hadapan Dava, dari jauh dia terlihat sedang mencuci wajan, setelah selesai mbo Jum pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.
dava telah selesai makan lalu pergi menuju kamar, dia pun duduk tepat didepan meja kerjanya sambil memikirkan keadaan mbo Jum malam ini.
perutnya yang terasa kenyang membuat Dava mengantuk dia segera menuju kasur lalu merebahkan tubuhnya, tak lama dia tertidur kembali.
tepat pukul 03:00 malam terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang, semakin lama semakin kencang, Dava terbangun lalu melihat kearah jam dinding ternyata sudah hampir subuh, Dava berteriak
" siapa ya "
" ini mama dan papa Dava, cepat buka kan pintu"
" iya ma sebentar "
dava dengan segera membuka kan pintu
" mama, papa kemana sih hampir subuh gini baru pulang "
" sudah nanti didalam mama ceritakan "
" lagian tumben mama mengetuk pintu bukannya mama bawa kunci rumah "
" oh iya mama lupa sayang jika mama membawa kunci rumah "
" kebiasaan mama belum terlalu tua sudah mulai lupa segalanya "
Mama tersenyum sambil menutup pintu, mereka berjalan beriringan lalu duduk di sofa ruang tengah dimana tempat itu biasa digunakan ketika ingin bersantai sambil menonton TV.
" dava kenapa hape mu tadi sore susah sekali dihubungi "
" dava sibuk ma menyelesaikan laporan untuk meeting besok, jadi hape mati saja Dava sampai tidak sempat mengecasnya "
" kamu jangan kaget ya Dava "
" memang ada apa pa "
" mbo Jum Dava "
" mbo Jum, kenapa dengan mbo Jum "
dava kaget dan shok ketika papa menyebut nama mbo Jum "
" mbo Jum tadi sore jatuh pingsan ketika membuatkan nasi goreng untuk papa "
" apaaa !!!! "
dava serasa tak percaya
" lalu kami segera membawa mbo Jum kerumah sakit, tapi sayang nyawanya tak tertolong mbo Jum kena serangan jantung dan meninggal tadi pukul 11 malam "
dava langsung lemas tubuhnya serasa tak berdaya, dia masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh orang tuanya, lantaran baru saja dia melihat dan berkomunikasi dengan mbo Jum, yang lebih menakutkan lagi mbo Jum telah membuatkan dia makan.
tanpa berkata-kata Dava bangkit dari duduknya meninggalkan kedua orang tuanya, lalu berlari menuju dapur, dia ingin membuktikan omongan papa, mamanya.
dia melihat wajan yang masih berada diatas kompor lengkap dengan nasi gorengnya, dia pun berlari menuju meja makan dibukanya tudung saji itu namun tak ada satupun piring kotor padahal sangat jelas dia menaruh piring bekas makannya tadi disana.
dava masih penasaran akan keberadaan mbo Jum dia berlari kembali menuju kamar mbo Jum benar apa yang dikatakan mama dan papa ternyata kamar itu kosong tanpa penghuninya.
dengan ketakutan Dava berlari menuju ruang tengah untuk menemui orang tuanya, nafasnya tak beraturan, keringat dingin mulai bercucuran tubuhnya gemetar, dia bertanya-tanya jika mbo Jum telah meninggal lalu siapa tadi yang membuatkan makan untuknya.
orang tuanya terlihat heran dengan tingkah laku Dava, mereka juga kaget ada apa dengan Dava, ibunya menepuk pelan bahu Dava hingga membuat Dava terkejut
" dava ada apa dengan kamu nak "
" ti...tidak ada apa-apa ma "
dengan terbata-bata Dava menjawab mama
" lalu kenapa kamu terlihat seperti sedang ketakutan "
" mungkin Dava kelelahan ma setelah seharian bekerja "
" ya sudah mari kita istirahat besok pagi kita kerumah sakit mengurus jasad mbo Jum untuk dipulangkan kekampungnya "
" ba...ba...baik ma tapi kalau boleh, malam ini Dava ingin tidur bersama mama dan papa ya "
" tumben kamu ingin tidur bersama kami "
" please ya ma, pa "
" biarkan saja ma Dava malam ini tidur bersama kita, nanti setelah menikah belum tentu dia tinggal bersama kita "
" baiklah pa kalau begitu "
mereka pun pergi menuju kamar, lalu tidur bersama dalam satu kasur. sambil memejamkan mata dan dihinggapi rasa takut yang luar biasa.
Dava masih memiliki rasa penasaran akan sosok tadi yang membantunya memasak dan mencuci wajan itu ???
tamat
makasih buat kalian yang sudah mau mampir dicerita saya ini, ditunggu like dan komennya ya, nice to meet you all dari saya penyair duka