" Ma..sepatuku mana?", tanya Bagas sambil sibuk mencari sepatu favorit nya di rak sepatu.
" Sedang ibu cuci..kemarin kotor sekali habis kamu pake olahraga". jawab sang Ibu.
" A'aahh..kenapa mesti di cuci sih,..kan pertandingan finalnya belum selesai..." , jawab Bagas dengan jengkel.
" Kan ada sepatu yang lainnya Bagas, itu..yang Ayahmu baru belikan minggu kemarin juga bagus kok" Balas Ibu Bagas, memberi saran.
" Ogah...Kalo gak sepatu itu, Bagas gak mau ikut pertandingan." Sahut Bagas, ngambek.
Tatik ,ibunya Bagas langsung menghentikan kegiataannya yang sedang menyetrika.
Tatik kemudian berjalan ke belakang rumah, dan mengambilkan sepatu kesayangan anak bontotnya, yang sedang di jemur.
Tatik memeriksa bagian dalam dan luar sepatu dengan tangannya, rupanya sepatunya sudah mulai akan kering.
" ck...Bagas ...Bagas.." ,Decak Tatik sambil mengelengkan kepalanya, karena heran dengan kelakuan anaknya itu .
" Ini sepatunya...tapi masih belum kering semua ,Gas...., apa nanti gak bau kalo kamu pake...?", ujar Tatik ,sembil memberikan sepatunya pada Bagas.
Bagas langsung bergegas memakainya, tidak memperdulikan sepatunya yang masih belum kering.
" Siapa yang akan perduli ,Mah,...yang penting pertandingannya." Balas Bagas.
Kemudian Anak laki- laki itu ,menyambar tas olahraganya dan segera bergegas keluar dari rumah, dan pergi ke lapangan.
***
Pertandingan Volly ,berakhir dengan skor seri, dan terpaksa akan di lanjutkan lagi besok, karena waktu hampir magrib.
Bagas melepas sepatunya ketika pertandingan selesai ,dan dia bersandar di bawah pohon maoni, sambil mengibas ngibaskan koas olah raganya karena basah oleh keringat.
"Bagas ...sini..", Panggil Sang Ayah ,melambai memanggil dari jauh, dengan wajah Bangga .
Sang Ayah baru saja pulang kerja, dan mampir melihat pertandingan anaknya di lapangan.
" Wah..permainan kamu hebat , Gas.., pukulan kamu langsung mencetak skor.." Puji Ayah Bagas, senang, ternyata anak bontotnya berbakat dalam olahraga Volly.
"Makasih..Yah.."
" Udah Sore Gas, ayo kita pulang!", ajak Ayah Bagas.
"Bentar Yah, Bagas ambil tas dulu,.."
Tak lama ,Bagas kembali dengan membawa tas nya, dan naik ke motor Ayah, lalu mereka mulai perjalanan pulang.
Ditengah jalan, Bagas teringat, sepatu Favoritnya tertinggal di lapangan.
" Yah..yah..berhenti dulu.." , Bagas menepuk pundak Ayahnya, supaya berhenti melajukan motornya.
" Ada apa Gas?
" Sepatu Bagas ketinggalan Yah...,"
" Ya udah, Ayo di ambil"
Sang Ayah memutar balik motornya, kembali ke lapangan.
Adzan Magrib mulai berkumandang, ketika Bagas Kembali ke lapangan dan mengambil sepatunya.
Hawa dingin seketika membuat Bagas merinding.
Hii..
Bagas bergidik...saat akan meraih sepatunya yang diletakkan di bawah pohon Maoni itu. Lalu Bagas mengambilnya.
***
Sampai dirumah , Bagas memasuki kamarnya, dan meletakkan sepatu favorit itu di kerdus, lalu menutupnya rapat, supaya ibunya tidak menemukannya untuk mencucinya lagi.
Bagas tidak khawatir dan tidak peduli kalo sepatunya itu kotor,dan akan pengap, lalu menimbulkan bau yang tidak sedap besok pagi, baginya sepatu itu sangatlah penting.
Di tengah malam, Bagas terganggu tidurnya oleh suara yang berisik, suara gaduh dari kerdus yang dia gunakan untuk menyimpan sepatunya tadi.
Bagas kemudian bagun, karena merasa terganggu, membuat tidurnya tidak nyenyak, padahal dia butuh tidur yang cukup untuk pemulihan stamina.
Bagas membuka kerdus itu, karena dia beranggapan di dalamnya pasti ada cicak yang terperangkap.
Setelah kerdus di buka, bukannya cicak yang dia temukan, malah udara yang dingin menimpa dirinya.
Hii
Lagi lagi Bagas bergidik, tapi Bagas tidak mempunyai pikiran horor, baginya itu adalah hal yang wajar.
Keesokan paginya, Bagas keluar dari kamar dan akan berangkat ke sekolah. Tiba tiba punggungnya terasa berat, seperti membawa beban.
" Gak enak badan kayaknya, aku harus makan teratur dan minum air yang banyak ,supaya gak jadi sakit." gumam Bagas,sembari berjalan menuju meja makan.
Bagas sarapan, lalu mengisi botol minumnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas . Setelah itu Bagas berpamitan pada sang Ibu.
" Mah..berangkat dulu." ucap Bagas ketika akan berangkat dan menyalakan motornya.
Bagas memanasi motor tersebut ,sebelum beraksi di jalan. Dirasakannya kini ,punggung Bagas sudah tidak berat lagi.
" Udah enakan nih kayaknya" gumam dia lagi, kemudian dia pergi ke sekolah.
Baru juga Bagas merasa sehat, kini setelah turun dari motornya, tiba tiba punggungnya berat kembali.
" Kayaknya aku benar benar sakit." lagi lagi Bagas berguman.
***
Jam olahraga, Bagas sudah bersiap untuk melakukan spint( lari jarak pendek) yang sedang gurunya perintahkan, di sebelahnya ada teman sebagai lawannya.
" Gas,..kali ini aku gak bakal kalah sama kamu"
" Siapa bilang, kita lihat saja, .."
Tapi akhirnya, Bagas kalah cepat dengan temannya.
Bagas kecewa sendiri, biasanya dia adalah murid yang tercepat dalam penilaian olahraga lari jarak pendek, tapi hari ini, Bagas gagal memecahkan rekor, sebab merasakan beban berat di punggungnya.
Sesampainya di rumah, Tatik melihat wajah Bagas nampak pucat, dan lemas.
" Gas, kamu sakit,? tanya sang ibu.
" Kayaknya iya bu, badan Bagas terasa berat."
" Mungkin kamu masuk angin Gas, nanti mama Kerokin, biar anginnya keluar."
Tatik selesai mengeroki badan Bagas, wanita itu menggelengkan kepalanya kemudian, ketika melihat bekas kerokannya merah sampai merah tua.
" Bagas ..Bagas..lihat, sampe merah begini, apa tadi malam kamu begadang?"
" Iya Mah, kamar Bagas dingin sekali, Bagas jadi gak bisa tidur.
Keesokan harinya, Tatik membawa Bagas ke dokter, dan kata dokter, Bagas anemia.
Sampai dirumah.Tatik merawat Bagas, karena bagas memang sangat pucat wajahnya.
Malam hari, Bagas dalam keadaan setengah sadar, Bagas melihat ada anak kecil di sampingnya.
" Kak bagas, ini saya sudah bawakan bubur, ayo dimakan!" Kata anak kecil itu dan menyuruh Bagas memakan bubur yang dia buatkan.
Bagas terkejut, dari mana datangnya anak kecil ini, tapi Bagas tidak merasa aneh, mungkin anak kecil ini adalah anak temannya ibunya, yang katanya akan berkunjung besok lusa.
" Wah..sudah berapa lama aku terbaring di tempat tidur, perasaan kemarin baru saja pulang dari dokter" bathin Bagas meragukan ingatannya sendiri.
Bagas kemudian melihat anak itu, wajahnya tidak jelas ,karena lampu kamarnya tidak di nyalakan.
" Siapa nama kamu,...terima kasih telah membawakan saya bubur, ini Mama kan yang nyuruh kamu, ..eh..aku omongin ya, lain kali kalo di suruh mama aku jangan mau,..aku gak suka makan bubur, aku sukanya makan nasi rendang...ya"
Anak kecil itu kemudian tertawa kelihatannya senang...
'' hiiiihhiiihiiii..."
Bagas terkejut mendengar tawa anak itu, tapi dia tetap tidak merasa aneh, malahan dia mengira, anak kecil itu sengaja membuat dia terhibur.
" Tertawamu lucu, tapi tidak membuat kakak senang, malahan kakak takut, tau gak sih.."
ucap Bagas, sama sekali tidak merasa horor.
" sini aku makan saja buburnya, lalu cepetan keluar ya, bilang sama Mama aku, udah aku habisin buburnya."
Bagas kemudian mulai menyendok buburnya dan memakannya.
" Uueeekkkk". Mama emang aneh, masak anaknya anemia lantas di beri bubur darah..."
gerutu Bagas, setelah menghabiskan bubur yang Santi bawakan.
Bagas belum sadar hal hal aneh yang dia alami sekarang ini.
Pagi menjelang, Sang ibu membangunkan Bagas yang masih terlelap.
Wajahnya semakin pucat, Tatik merasa khawatir melihat keadaan putranya.
" Bagas...ayo bangun...sarapan dulu...lalu di minum obatnya..."
" Apaaan sih Ma..Bagas gak mau makan bubur lagi...rasanya amis Ma...." , lantas Bagas memunggungi ibunya.
" Amis...masa...ini baunya sedap kok di bilang amis...nglindur nih anak..."
" Kamu itu ngomong apa sih Gas, ..bubur enak enak begini kok di bilang amis...ya sudah...Mama mau cuci baju dulu, nanti jangan lupa di makan buburnya dan minum obat ya!"
***
Sudah tiga hari Bagas , sakit Bagas tidak kunjung sembuh, malahan Bagas menjadi kurus dan lingkar matanya hitam.
Tatik membawa Bagas ke rumah sakit, untuk perawatan agar dia cepat sembuh.
Malam hari tiba, Bagas terbangun dari tidurnya, karena mendengar Santi, anak kecil itu tertawa...
" Hiiii..hiii..hiii..."
" Hiii..hii.hiii..."
"Santi sudah hentikan tawa kamu itu, mengganggu tidurku..tau...."
Bagas berteriak kesal,..
" hiii..hiii..hiii..hiii..."
Santi masih saja tertawa....
" Diam santi...apa telinga kamu tuli, ..sudah aku bilang jangan tertawa...."
Bagas mulai marah, dan memarahi santi..
" Hiks..hiks...hiks.."
Kini santi menangis...,tapi Bagas tidak menghiruakannya,..biar saja...biar dia tahu pengajaran mengganggu orang tidur.
Bagas kembali tidur, dia ingin beristirahat biar cepat sembuh.
Baru saja terlelap dari tidurnya,..Bagas di kejutkan dengan anak kecil yang melayang diatasnya...
"HAA..."
Mulut Bagas membuka lebar, matanya membulat,...
Bagas bangun setengah duduk diatas kasur , dia sedikit menunduk..menghindar dari hantu anak kecil dengan wajah rusak tanpa mata ,dan tanpa hidung..rambutnya gembel dan kumal..
Tangan hantu itu meraih Bagas..,Bagas tidak bisa menggerakkan badannya lagi, hanya melotot dan menganga ketakutan.
Hantu itu kemudian mencekik leher Bagas, dan menghentikan nafas Bagas.
***
nb.
Masih kurang membuat berdebar ya?.....