Matahari di senja hari berwarna warni, aku sangat suka suasana hangat dan indah di tepian danau saat ini.
Seolah kamu masih ada di sini, di sampingku. Aku dapat merasakan dirimu, mendengar suaramu. Angin membawa air sampai menyentuh kakiku dan hembusannya yang lembut menyentuh pipiku.
"Aku merasakan kehadiranmu.." tanganku menggapai udara.
Dahulu kita sering menghabiskan waktu bersama, tertawa dan menangis bersama. Namun tidak begitu dengan perasaanku.
Aku bangun dan menelusuri tepian danau, sesekali kakiku menyentuh air menari nari. Aku membawa air danau di tanganku dan angin membawa sebagian pergi dan sebagian itu masih tertinggal dan mengalir kembali kedalam danau berbaur dengan yang lain. Seperti hubungan kita yang terbawa pergi oleh angin lalu dan sebagian tertinggal dihatiku.
"Senja.." Dinda sahabatku, melambaikan tangannya sambil berlari membawa sepucuk surat yang melambai lambai. "Dia akan kembali.. Dia akan kembali..."
"Benarkah?" Sesaat aku merasa bahagia. "Tapi ...." Hatiku sakit dan perih, terluka.
"Akh?" Dinda tau maksudku dan membuang suratnya sampai terbawa air ke tengah danau.
"Aku mau pulang.." ucapku, sepasang sepatu yang ada di tangan kananku, yang terus ku jinjing sampai rumah.
Airmataku kembali tumpah beralaskan bantal yang ku peluk erat.
Malam datang bintang kejora yang ku lihat tiap malam kini tiada. Malam pun semakin gelap, bahkan bulan pun enggan muncul di balik selimut awan yang semakin lama semakin menghitam.
Angin yang berhembus membawa rintik hujan dan kilapan petir yang menyambar, bersahutan.
"Sudah seratus hari, dia menepati janji. Tapi ... Hahhh... Apa yang aku harapkan dari sebuah janji masa kecil, mungkin saja dia telah melupakannya." Aku melihat fotonya yang terbingkai rapi di tepian meja belajarku.
"Tapi dengan begitu juga kamu menepati janjimu membawanya. Besok tepat hari ulang tahunku, ada kebahagiaan dan luka." Aku menutup foto itu, aku tak sanggup membuangnya karena aku sangat mencintainya.
Cintaku adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, bahkan sebelum aku memulainya aku sudah kalah.
Pukul 5.30 pagi.
Pagi itu masih gelap. Jalanan yang sedikit livcin karena gemericik hujan, aku perlahan dengan hati-hati.
Brak...
Kilapan cahaya yang tiba-tiba membawa tubuhku terpental entah kemana.
Tubuhku bahkan rasanya seperti mati setengah, kepalaku yang terbentur benda keras semakin membuat penglihatanku kabur.
Pagi itu sunyi dan sepi, suara langkah kaki yang semula mendekat kini berlari menjauh. Aku bahkan tidak bisa berbicara, hanya mampu mengangkat telunjukku yang sedikit kaku.
'Mungkinkah ini akhir dari segalanya? Apakah ini akhir dari hidupku? Kalaupun iya.. Aku ikhlas.. Aku hanya meminta orang yang ada di sekitarku bahagia.' Batinku, kepalaku semakin sakit dan dingin menjalar keseluruh tubuhku.
**
Aku mendengar tangisan di kedua telingaku, tapi semua yang ada hanya kegelapan. Tak ada cahaya, tak ada warna. Semuanya hitam.
"Bunda..." panggilku, tanganku meraba-raba mencari sandaran, mencari uluran.
"Senja.. Bunda disini." Sebuah tangan hangat terulur menyentuh tanganku lalu mengenggamnya.
"Bunda.. Kenapa semuanya gelap? Aku tidak bisa melihat Bunda.. Apa yang terjadi padaku Bunda?" Aku menangis, semakin lama semakin aku menangis kepalaku semakin sakit.
"Sayang.. Sayang tenangkan dirimu.. Jangan menangis."
"Apa aku buta Bunda?" Tanyaku pilu, aku tau apa yang aku rasakan. Tapi aku berharap ada jawaban lain selain kata Ya.
Tak ada jawaban, tapi pelukan hangat ini menjawab segalanya. Tangisan Bundaku yang semakin mengeras dan pelukannya semakin erat membuatku menangis dengan tak terkendali.
'Kenapa engkau memberikan cobaan yang sekejam ini padaku? Apa tidak cukup dengan dia yang menjauh dariku?' Aku marah, aku menyesali hidupku.
"Dokter bilang matamu masih bisa sembuh, kita hanya perlu bersabar menunggu." Bundaku mengekus kepalaku lembut.
Antara senang atau sedih, aku benar-benar bingung antara kedua kata itu. Yang jelas aku belum bisa menerima keadaan ini.
Seminggu berlalu, aku mulai terbiasa dengan kondisiku. Meski terkadang aku terus menyesalinya.
Seperti hari ini aku di ajak Dinda untuk berjalan-jalan di tepian danau saat senja.
"Dinda.. Bukankah Chandra sudah pulang? Kenapa dia tidak menemuiku?" Tanyaku saat tanganku menyentuh air.
"Ouh..? Aku pikir kamu tidak mau bertemu dengannya?"
"Bukan tidak mau bertemu, hanya takut untuk bertemu."
"Dia... Dia ada, kondisinya sangat baik. Apa kamu mau bertemu dengannya? Kebetulan dia ada disini."
"Di-dimana dia?" Aku terkejut dia ada di dekatku.
'Apa dia mendengar ucapanku barusan?' Batinku gelisah.
"Dia ada di sana, di tempat kita bermain ayunan dulu."
"Apa dia sedang bersama seseorang?"
"Ya.."
"Tidak usah."
"Tapi aku sudah melambaikan tangan padanya, dan dia sedang berjalan kesini."
Aku kehabisan kata-kata. Aku tidak tau harus berkata apa-apa, yang jelas aku belum bisa menerima ini sekarang. Semua itu bagaikan buah simalakama.
"Apa dia sudah sampai?"
"Ya.. Dia ada disini." Sahut Dinda.
"Aku tidak mendengar langkah kakinya?"
"Benarkah? Dia sudah duduk disampingmu sekarang." Tanganku diarahkan Dinda ke sisi kananku.
"Senja.." saat tanganku menyentuh tangan Candra.
"Chan.. Tanganmu ..?" Aku terkejut tangannya dingin sekali.
"Ya.. Kita sudah lama tidak bertemu, jujur aku takut. Kamu ingat taruhan kita waktu itu? Aku berhasil membawanya pulang, tapi aku tidak tau apa pendapatmu tentangnya." Suara Chandra sedikit bergetar, mungkin karena kasihan melihat keadaanku sekarang.
"Dia ada di sini?" Aku mencoba untuk senang.
"Ya.. Dia disini. Apa kamu mau berkenalan dengannya?"
Aku menganggukan kepala dan tersenyum. "Ya.. Siapa namanya?"
"Hay.. Namaku Nina.. Kamu pasti sahabat Chandra ya?" Gadis itu menyentuh tanganku, tangannya jauh lebih hangat dari tangan Chandra tadi dan suaranya bagus.
"Ya.. Salam kenal." Aku tersenyum menahan seribu luka dihatiku. Mungkin jika aku bisa melihatnya aku akan kabur terlebih dahulu sebelum dia tahu keberadaanku.
"Wajahmu lebih cantik dari yang Chandra ceritakan." Nina semakin mengenggam tanganku, seolah tak mau melepaskannya.
"Terimakasih. Kamu juga pasti cantik, aku tau gadis seperti apa yang Chandra suka."
"Wah.. Kalian pasti sangat dekat."
Aku mengangguk. "Tapi kamu tidak perlu cemburu, kami hanya sahabat." Lidahku kelu saat mengatakan hanya sahabat. Sebenarnya aku ingin bilang hal lain, tapi melihat kondisiku saat ini itu semua tidaklah mungkin. Kalaupun aku mengatakan itu pasti semua akan mencemoohku dan mengatakan bahwa aku tidak tahu diri.
"Aku tau.." Nina akhirnya melepaskan tanganku.
"Senja.. Setelah ini aku akan pergi lagi.. Kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama."
"Ouh.." Aku memalingkan wajahku mengigit bibir bawahku.
"Kamu tidak akan merindukanku bukan?" Candanya padaku.
Sekuat mungkin aku menahan air mataku. "Ya.. Tentu.." Suaraku sedikit bergetar dan emosi didalam dadaku bergemuruh.
"Tentu.. Kitakan hanya Sahabat." Aku mendengar sesuatu yang lain dari ucapannya yang membuatku mengerutkan kening.
Tiba-tiba tenggorokanku kering. "Be-berapa lama kamu disana?"
"Aku tidak tau. Mungkin seminggu, sebulan atau mungkin setahun."
Mataku bergetar, tubuhku melemas. "Ouh... Ya.." Aku mengangguk paham. Aku mengambil nafas panjang, seolah tak cukup bagiku bernafas.
'Mungkin ini yang terbaik untukku.' Aku menggeser tubuhku ke kiri.
"Aku mau pulang.. Terimakasih kamu sudah memperkenalkan pacarmu padaku, aku berharap kamu bahagia." Aku berdiri yang langsung di sambut Dinda.
"Aku pamit ya Chan, N-nina.."
"Ya.." suara Chandra begitu dalam ku dengar.
"Hati-hati dijalan." Nina melanjutkan ucapan Chandra.
**
"Senja.. Senja.." Suara Dinda berlari melewati pintu depan dan masuk kedalam kamarku.
"Ada apa?" Aku terkejut, tentu saja. Dan dia, Dinda terdengar nampak bahagia.
"Aku mendapatkan suratmu dari Pak pos."
"Apa yang membuat kamu senang?"
"Dengar dulu... Ini surat dari rumah sakit. Katanya ada sepasang mata yang cocok dengan matamu. Dan operasi akan dilakukan minggu depan."
"Benarkah?" Aku langsung berdiri.
"Eh? Kamu mau kemana?" Dinda mencegahku untuk berjalan keluar kamar.
"Aku mau beritahu Bunda.."
"Kamu tunggu di sini saja, Bibi sedang pergi ke warung." Dinda menekan bahuku, dan membuatku duduk kembali.
Aku mengangguk. "Apa aku boleh memegang suratnya? Aku masih tidak percaya."
"Ini.. Jangan sampai hilang, nanti Bibi tidak percaya." Dinda meletakan surat itu ditanganku.
Aku tersenyum bahagia saat selembar kertas berukuran F4 itu ada ditanganku. "Ini bukan mimpikan?"
"Y-yaa.. Ini bukan mimpi. Ini semua nyata." Dinda menggenggam tanganku.
"Alhamdulillah.. Terimakasih Ya Allah.." Aku memejamkan mataku, mimpiku dan semua penyesalanku tiba-tiba sirna.
Sesuai jadwal aku berada di rumah sakit, dengan gugup aku menantikan saat-saat dimana aku akan memasuki ruang operasi. Ini sangat menakutkan, aku sangat takut. Sampai-sampai aku terus mengenggam tangan Bundaku.
Aku tidak tau berapa lama waktu yang di habiskan untuk mengoperasi mataku. Tapi saat aku tersadar ada perban melingkar di kepalaku.
Aku bisa menggerakan mataku, tapi tidak bisa membuka kelopak mataku.
Hari berlalu, aku semakin gugup dan cemas. Apakah operasi ini akan berhasil?
Dan tiba saatnya, saat dimana aku akan membuka mataku untuk pertama kalinya.
Perlahan Dokter membuka perban dimataku, aku bisa merasakannya. Perlahan tapi pasti.
"Coba buka matamu perlahan." Pinta Dokter itu, terdengar seperti pria paruh baya.
Ada setitik cahaya, namun kepalaku sedikit sakit. Aku mergerjapkan mataku yang masih sipit beberapa kali. Dan terus berusaha membukanya.
Pandangan yang ku lihat adalah buram, perlahan semakin jelas dan jelas.
Aku melihat Bundaku tersenyum. "Bunda.." Aku tersenyum.
"Alhamdulillah.. Akhirnya kamu bisa melihat juga." Bunda memelukku.
"Iya.." Aku benar-benar bersyukur.
'Terimakasih ya Allah..' Batinku penuh syukur padanya.
**
Setelah satu bulan tanpa cahaya dan terus meraba-raba, kini aku bisa melihat lagi indahnya dunia dengan berbagai warna dan cahaya yang hangat di senja hari.
Aku berdiri di tepian danau menikmati warna yang terpantul dari atas langit. Tapi... Ada sesuatu yang lain. Ada seseorang disana, tengah memegangi pohon dengan kursi rodanya.
Mataku menyipit, dengan penuh rasa penasaran.
"Chandra?" Kakiku tergerak melangkah lebih dekat.
"Chandra..." panggilku dengan suara cukup kencang.
Benar saja, Chandra menoleh dan nampak terkejut dan ingin melarikan diri. Namun, kakiku lebih cepat berlari dan menahan kursi rodanya.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku, Chandra menundukan kepalanya.
"Bukannya kamu bilang akan pergi? Kenapa masih ada disini? Dan lagi ada apa dengan keadaanmu? Kenapa kamu menggunakan kursi roda?" Aku semakin ingin terus bertanya karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Maafkan aku.. Aku yang menyebabkanmu buta.. Aku yang mengemudi mobil itu, dan saat itu juga aku mendapatkan musibah. Karena setelah menabrakmu, mobilku masuk kedalam parit." Chandra mulai menangis.
Aku terkejut sangat terkejut kakiku melangkah mundur.
"Aku tau pasti kamu akan membenciku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga ingin memberikan mataku padamu tapi, kedua Orangtuaku melarang. Dan mengurungku didalam kamar." Lanjut Chandra.
"Chandra.." panggil seorang wanita suaranya begitu familiyar yang membuatku menoleh.
Aku melihat wanita berusia 30 tahunan berjalan ke arah kami menggunakan pakaian perawat rumah sakit.
"Lalu?" Tanyaku sambil menunjuk suster itu.
"Ya.. Dia Nina, perawatku." Chandra tersenyum hambar. "Aku sengaja berbohong padamu, aku benar-benar malu sekarang. Aku seperti seorang pengecut."
Aku menggelengkan kepala tak mengerti. "Kalau dia perawatmu, dimana ...?"
"Tidak ada, aku tidak membawa siapapun pulang hari itu." Potong Chandra, ia menatapku penuh penyesalan dan rasa sakit.
"Ouh..? Senja?" Aku menoleh Nina sudah ada di sampingku.
"Ya.."
"Syukurlah kamu sudah bisa melihat." Nina tersenyum padaku.
"Termakasih.." Aku tersenyum.
Nina mengangguk. "Kenapa kamu pergi dari rumah? Ayah dan Ibumu khawatir."
Aku menatap Chandra penuh tanya.
"Aku tidak kabur, aku hanya ..."
"Tapi kamu belum minum obat."
"Apa lukanya parah?" Tanyaku pada Nina.
"Luka? Luka apa?" Nina balik bertanya padaku.
"Chandra bilang dia yang menabrakku dan dia ..." Aku menggantungkan kalimat yang aku sendiri bingung melihat Nina terkejut.
Nina terdiam.
"Nina.. Antar aku pulang, Senja, aku pulang dulu ya.." pinta Chandra terburu-buru.
Semalaman aku tidak bisa tidur, aku terus memikirkan ucapan Chandra dan ekspresi Nina yang berlawanan.
Keesokan paginya aku memutuskan untuk datang menemui Chandra. Tapi yang dapat diluar perkiraanku.
Suara tangisan dan rintihan datang dari kamar Chandra, begitupun suara wanita menangis.
"Permisi.." teriakku.
"Ya.." Nina membukakan pintu dan terkejut. "Senja.."
"Aku mampir karena ..."
"Syukurlah kamu datang, Chandra tidak mau minum obat dan dia kesakitan sekarang."
"Apa?" Aku berjalan masuk ke dalam rumah Chandra tanpa permisi, dan aku melihat Bu Rita Ibu kandung Chandra sedang menangis di pelukan Pak Anton Ayah Chandra.
"Senja? Kemari sayang.." Bu Rita mengukurkan tangannya.
Aku melangkah mendekat dan dapat melihat Chandra berguling-guling di tempat tidur sambil memegangi kepalanya.
"Apa yang terjadi Bu?" Tanyaku.
"Chandra menderita penyakit kangker otak setadium akhir."
"Apa? Tapi kenapa dia ..?"
"Dia sudah putus asa, dan ingin kembali pulang. Dia ingin melihatmu di sisa akhir hidupnya."
"Tapikan seharusnya dia melakukan pengobatan sampai tuntas."
"Dia sangat mencintaimu dan merindukanmu. Dia berjanji, kalau dia akan kembali berobat setelah melihatmu. Tapi.. Kamu mengalami kecelakaan."
"Dia bilang dia yang menabrakku dan berakhir seperti ini."
"Tidak.. Bukan dia, jangan benci dia. Dia bahkan tidak bisa berjalan bagaimana ia bisa mengendarai mobil?"
"Ya.. Ibu benar, aku juga merasa aneh dengan ucapannya waktu itu.." aku mengenggam tangan Bu Rita. "Bu.. Bila di izinkan, aku juga ingin merawatnya."
Bu Rita menatap Suaminya dan kembali menatapku.
"Ikuti Ibu.." Bu Rita menarik tanganku menuju kamarnya.
"Duduklah." Bu Rita memintaku duduk di atas ranjangnya dan berjalan menuju lemarinya.
"Ini adalah cincin yang Chandra beli sebelum ia tahu penyakitnya." Bu Rita memberikan aku sebuah kotak cincin yang berisi cincin yang berukir indah bertulis inisialku S. "Dia membeli ini dan hendak melamarmu."
Aku terkejut dan tak percaya.
"Sulit di percaya memang, tapi surat ini buktinya." Bu Rita memberikan sepucuk surat padaku.
Aku menerimanya dan membacanya.
Airmataku berlinang deras, surat itu pernyataan cintanya padaku.
"Ibu menemukan ini di tempat sampah, saat Ibu bertanya dia hanya menjawab. Semua itu sia-sia, aku akan menjadi beban untuknya." Bu Rita mengenggam tanganku. "Jika kamu benar-benar ingin merawatnya, maukah kamu menikah dengan Chandra? Menemani sisa hidupnya?"
Aku mengangguk yakin. "Aku mau."
Bu Rita memelukku erat. "Terimakasih sayang."
Aku membalas pelukan Bu Rita.
Lima hari berselang, aku dan Chandra sudah mendapatkan buku nikah dari KUA, walau tanpa pesta dan dengan pernikahan yang sangat sederhana tapi aku bahagia. Aku sudah SAH menjadi Istri Chandra.
Aku juga melihat Chandra nampak bahagia, senyuman selalu menghiasi wajah pucatnya.
Aku memaksa Chandra untuk berobat, dan disinilah kami di negri orang, berjuang untuk kesembuhan Chandra.
Aku selalu menangis melihat Chandra yang kesakitan saat kemoterapi, dan rambutnya semakin lama semakin berguguran.
"Apa aku tampan walau botak?" Chandra tersenyum sambil memegangi kepala botaknya.
Aku mengangguk. "Ya.. Kamu selalu tampan." Aku memeluknya dari belakang.
"Terimakasih sudah menemaniku dan menerimaku menjadi Suamimu." Chandra mengelus tanganku.
"Terimakasih juga sudah mencintaiku." Balasku.
Bertahun-tahun kami habiskan dan kadang ada rasa putus asa, namun tekat Chandra semakin kuat.
"Aku selalu bahagia bersamamu. Dan izinkan aku membahagiakanmu." Kalimat itu selalu terngiang di benakku di waktu senja.
"Apa kamu sudah bahagia disana? Aku sangat mencintaimu, meski kamu tak lagi bersamaku." Aku menatap langit senja dengan warna biru diantara warna jingga, warna kesukaan Chandra. Warna yang mengingatkanku akan dirinya yang selalu ceria bagaikan siang hari yang selalu dinanti banyak orang dengan senyuman.
-Tamat-