Terinspirasi Dari Kisah Nyata
Tedi biasa orang memanggilku begitu. aku seorang buruh kasar di sebuah pasar yang berada di kota S. yang harus pulang larut malam setiap harinya
Malam itu, seperti biasa aku akan bersiap untuk pulang ke rumah. tentu, sudah dengan beberapa pendapatan. beberapa lembar uang dan sayuran yang aku ambil dari sisa-sisa yang berjatuhan dari mobil.
Aku pulang menggunakan sepeda menyusuri jalanan sepi. sawah, kebun pisang, dan di ujung jalan sepi ini sebelum memasuki desa ada Astana Gede (kuburan besar) atau tempat pemakaman umum.
Aku sangat hafal disetiap Sudut jalan ini, karna sudah tiap hari aku meliwatinya. sekarang aku mulai memasuki kebung pisang. namun aku heran di ujung kebun pisang itu terlihat lampu-lampu yang terang, tepatnya seperti pasar malam.
ketika aku semakin mendekat ternyata memang benar itu pasar malam ada beberapa permainan anak-anak juga. seperti kincir , komedi putar, dan di sertai bermacam-macam pedagang ada di sana.
Aku terkesima dengan keramayan ini. aku segera masuk ke dalam pasar itu dan melihat-lihat, begitu sesak pengunjung di sana sangat ramai. aku perhatikan ada satu orang pengunjung wanita yang wajahnya sangat cantik. dia berdiri di dekat komedi putar.
Dia melemparkan senyumannya kepadaku dan menyapa,
"Aa mau temenin neng naik ini?" sembari tangannya menunjuk kearah komedi putar tersebut.
"neng teh ngomong ke aa?" sembari bingung aku tidak habis pikir wanita secantik itu ingin ditemani bermain hawana bermain.
"iya atuh kesiapa lagi kan cuma aa yang ada si depan neng."
"Boleh neng, tapi apa enggak kaya anak-anak main ini."
"gak apa apa atuh aa sekali kali."
Aku pun heran kenapa dia bisa begitu akrab padahal kita baru saja bertemu. kami pun naik ke komedi putar itu. Dia tertawa seperti sangat bahagia, jujur aku masih bingung dengan dia dan tempat ini semua orang seperti merajakanku, karena sehabis turun dari wahana itu, orang orang berbondong memberiku makanan, mengajak salaman, dan memeluku aku seperti artis di tempat ini.
Lantas wanita cantik itu mengajakku bermain di wahana kincir angin sekarang. beberapa wanita lain seperti ini juga aku temanin dengan menarik-narik tanganku. namun tetap si wanita cantik itu lah yang aku temani.
Di atas kincir dia menyebutkan namanya. Mimin nama si wanita itu. aku pun menyebutkan namaku dan kami berkenalan di atas kincir. dengan perasaan yang senang dan bingung aku menikmati malam itu di atas kincir bersama mimin.
"neng rumahnya di mana? kok prasaan aa baru liat neng" tanyaku kepadanya.
"Di sini aa" jawab dia singkat
"Di sini di mana, setau aa mah di sini teh enggak ada rumah dan aa juga baru liat pasar malam di sini prasaan daerah ini teh kuburan" timpalku kepada mimin
Namun setelah aku bertanya seperti itu ada hal aneh yang terjadi. langit seperti berubah menjadi penuh kilat.
daaaaarrrrrrr
ada kilat yang sangat besar sampai sampai kilat itu membuat pandanganku menjadi putih. karna silau aku pun menutup mataku. di susul dengan petir yang begitu besar. setelah kurasa petir itu sudah hilang aku pun kembali membuka mataku
Tapi betapa terkejutnya aku setelah membuka mataku. aku melihat disekitar berubah derastis, yang tadinya tempat ini terang penuh dengan lampu-lampu dan sesak dengan pengunjung, sekarang jadi gelap dan sepi.
Aku mengucek-ngucek mataku seakan tidak percaya apa yang sedang aku lihat, dan saat aku perhatikan kembali tempat itu menjadi Astana gede (kuburan besar, pemakaman umum) tempatku duduk sekarang pun berubah bukan lagi kincir melaikan aku sedang duduk di salah satu ranting pohon yang ada di kuburan itu.
"Gusti kok jadi Astana" aku berteriak sembari lompat Dari tempat ranting pohon itu. aku berlari mencari jalan keluar dari kuburan itu, aku masih bingung kalo ini berubah menjadi kuburan lantas orang orang tadi siapa dan si mimin itu siapa. aku pun keluar dari kuburan itu sembari melihat nama di atas gerbang yang tertulis TPU Sirnaraga , nama yang tidak asing seperti nama kuburan yang selalu aku lewati setiap hari.
Aku berlari tanpa mempedulikan lagi apapun bahkan aku tidak ingat di mana sepedaku tadi. tiba-tiba ada yang menyapaku dan suara itu tidak asing seperti suara mimin
"aa mau kemana katanya mau nemenin mimin"
aku tersentak dan langsung membalikan badanku kearah datangnya suara itu.
Suguh pemandangan yang sangat menyeramkan. aku melihat sesosok pocong yang sedang duduk di nisan kuburan. wajahnya hitam seperti arang , matanya bolong, dan kain kafan di tubuhnya berlumuran darah.
Kakiku lemas dan tidak bisa lagi di gerakan semua tubuhku bergetar. akibat rasa takut yang sudah melebihi batas. pandanganku mulai buram dan semuanya menjadi gelap. aku tidak sadar lagi apa yang terjadi selanjutnya.....
TAMAT...