Hembusan sang bayu begitu menusuk kalbu. Pohon-pohon bergoyang dan ranting pun ikut berdendang. Entah saat ini ia berada di mana. Tempat ini dipenuhi oleh pepohonan yang besar,jarak antar pohon juga sangat dekat sehingga hutan ini tampak sangat gelap seperti ‘Hutan Kegelapan’. Dika melangkah maju menyusuri semak belukar untuk mencari jalan keluar agar bisa kembali ke rumahnya. Di temani suara derik jangkrik ia melangkah pelan dalam kegelapan hutan dan keheningan malam. Rimbunnya pepohonan ini membuat hutan semakin tampak menyeramkan apalagi sekarang hari sudah malam. Rasa takut dan pikiran negatif mulai menghantui Dika. Bagaimana jika hutan ini penuh dengan hewan liar lalu ia dimakan oleh hewan buas tersebut? Bagaimana jika ia tidak bisa kembali pulang kerumahnya?
Suasana hutan yang sangat sepi membuat Dika tahu bahwa hutan ini sangat jauh dari permukiman warga. Ia semakin sulit melangkah karena tidak ada penerang sedikitpun,hutan ini begitu gelap apalagi jalan yang harus Dika tempuh penuh dengan semak belukar. Dengan ketakutan yang mulai menerpa ia duduk di bawah sebuah pohon yang begitu rindang sambil menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin yang mulai menerpa. Namun,saat Dika sedang beristirahat tiba-tiba terdengar suara patahan ranting karena diinjak. Dika yang ketakutan mencoba menyembunyikan diri dengan meringkuk di bawah pohon tempat ia beristirahat. Akan tetapi,karena tidak berhati-hati tangan Dika tidak sengaja menekan ranting yang ada didekatnya,sehingga ranting tersebut patah dan menimbulkan bunyi nyaring di keheningan malam dan gelapnya hutan.
“Siapa di sana?” teriak seseorang yang entah di mana keberadaannya.
Dika yang mendengar suara itu refleks menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Dika semakin meringkuk dia takut orang tersebut adalah seorang pemburu. Suara langkah kian mendekat,Dika mengumpulkan keberaniannya lalu mengambil sebuah ranting yang tadi dia patahkan. Bukankah sebuah ranting yang runcing cukup untuk membuat seseorang terluka? Itulah yang ada dipikiran Dika saat ini.
Tanpa disadari Dika karena banyak melamun sosok manusia dengan pakaian hitam dan sebuah senapan di genggaman tangannya sudah berdiri dihadapannya. Namun,karena hutan yang sudah sangat gelap membuat sosok tersebut tidak melihat keberadaan Dika. Dugaan Dika benar bahwa sosok tersebut merupakan seorang pemburu. Dika memejamkan matanya untuk meminimalisir rasa takut dan agar tubuh menjadi sedikit rileks. Ia tidak mungkin berada di sini jika tidak ingin dibunuh oleh pemburu tersebut. Dengan segenap ke beranian yang ia miliki. Dika berdiri dan secara perlahan mendekati sosok tersebut lalu dengan sekuat tenaga Dika mendorong sosok pemburu tersebut hingga ia terjatuh lalu Dika menggoreskan ranting yang tadi di ambilnya ke wajah pemburu tersebut dengan kuat hingga menyebabkan luka parah karena ranting tersebut sangat runcing.
“Aaargghh,apa yang kau lakukan? Siapa kau dan mengapa kau melukaiku?”tanya sosok tersebut.
Dika tidak mempedulikan sosok tersebut. Tanpa menoleh kearah belakang ia berlari secepat mungkin.
“Tolong tolong,”teriak Dika dengan keras. Ia berharap akan ada seseorang yang akan menolongnya.
“Hei tunggu! Jangan lari!”titah sosok pemburu itu lagi sambil terus berlari mengejar Dika.
Dika menghiraukan panggilan tersebut dan terus berlari dengan sangat cepat.
“Hei anak kecil,tunggu jangan lari!” titah sosok tersebut.
Lagi-lagi Dika hirau,ia terus berlari tak mempedulikan kakinya yang terluka karena tergores ranting dan semak belukar yang ia terjang. Dika lelah tapi ia tidak mungkin berhenti,kalau itu ia lakukan maka ia pasti akan tertangkap.
“Tidak!aku tidak boleh berhenti berlari!”batin Dika. “ Kau bisa Dika,jangan menyerah!berlarilah terus!”lanjut Dika.
Dalam setiap langkah larinya Dika selalu menyemangati dirinya sendiri. Dika hanya berlari terus tanpa memperhatikan langkah dan jalan yang dilaluinya,hingga tiba-tiba...
Brakk
“Auuws,” ringis Dika. Kakinya tersandung akar pohon,hingga ia jatuh dan kakinya terkilir.
“Ku mohon Tuhan!tolong selamatkan aku;” lirih Dika. Kakinya benar-benar sakit dan sulit untuk digerakan. Sedangkan,sosok pemburu tersebut semakin dekat dengan Dika. Semakin dekat dan...
“Akhirnya kau berhenti anak muda. Sungguh aku lelah mengejarmu,” tutur sosok tersebut. Ia menarik napas secara perlahan untuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena mengejar Dika. “Ehhh tunggu!ada apa dengan kakimu?” tanyanya dengan nada khawatir,lalu tanpa persetujuan Dika,ia menarik kaki Dika dan memijat nya secara perlahan. Dika ingin berontak tapi kakinya sungguh sulit untuk digerakkan.
“Jangan takut,Nak!aku tidak akan melukai dirimu,” ucap sosok pemburu tersebut. “Jadi,kau harus tenang oke?” Lanjut sosok tersebut.
Hening Dika tidak menjawab dan hirau akan keberadaan sosok tersebut.
Beberapa saat kemudian...
“Gerakkan kakimu,Nak!” titah sosok itu.
Dika menggerakkan kakinya secara perlahan dan ia dapat merasakan bahwa kakinya telah pulih walau masih sedikit nyeri. Dika menatap sosok tersebut tidak percaya. “Kenapa kau menolong? Padahal tadi aku melukai wajahmu.” tanya Dika heran,rasa takutnya sedikit berkurang.
“Apa ada alasan untuk menolong seseorang yang sedang membutuhkan?” Bukannya menjawab,sosok pemburu itu malah bertanya pada Dika sambil terkekeh.
Dika terdiam menghiraukan pertanyaan tersebut. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Apakah ia telah berprasangka buruk pada pemburu tersebut?” tanya Dika dalam hati. “Sepertinya dia orang yang baik,aku harus meminta maaf padanya atas perlakuan dan prasangka burukku terhadap dirinya.” lanjutnya dalam hati.
“Aku ingin meminta maaf padamu, Paman. Aku telah melukaimu tapi kau malah menolongku. Aku mohon maafkan diriku,” Dika menunduk setelah mengatakan kalimat tersebut,ia tidak berani menatap wajah sang pemburu.
“Hahaha,tenanglah Nak! Aku sudah memafkan dirimu,” ujar pemburu sambil tertawa.
“Terimakasih Paman.”balas Dika.
“ Sama-sama nak. Owhh yaa siapa namamu dan kenapa kau sendirian dihutan ini?” Pemburu tersebut menatap Dika penuh tanya.
“Namaku Dika dan aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini.”ungkap Dika dengan nada sedih.
“ Hei jangan sedih! Baiklah kalau begitu kau ikut denganku saja,”ajak Pemburu.
“Ayo.” jawab Dika penuh semangat.
Dika berjalan mengikuti sang pemburu dari belakang dengan tertatih karena kakinya masih sedikit sakit akibat tersandung tadi. Mereka berjalan ditengah kegelapan hutan dan keheningan malam. Setelah berjalan beberapa lama. Akhirnya,mereka sampai di depan sebuah gubuk reyot yang di dalamnya terdapat penerang menggunakan obor. Mereka berjalan memasuki gubuk tersebut. Alangkah terkejutnya Dika saat melihat gubuk terebut penuh dengan...
“A-ap-apa maksud semua ini?”tanya Dika ketakutan.
“Hei jangan takut,Nak!” Sang Pemburu memberikan tatapan menenangkan untuk meredakan rasa takut yang mulai menerpa diri Dika.
“Ba-bagaimana a-aku ti-tidak tidak takut?in-ini semua sungguh menyeramkan,” tutur Dika terbata-bata.
Dika melihat sekelilingnya yang penuh dengan kerangka tubuh tapi ia tidak tahu itu kerangka tubuh manusia atau hewan. Selain itu,di gubuk ini juga terdapat banyak alat seperti: Pisau,kapak,senapan,pistol,dan banyak alat-alat yang lainnya, entah alat tersebut digunakan untuk berburu atau membunuh seeorang. Dika bergidik ngeri memikirkannya saja sudah membuatnya takut. Bagaiamana jika dirinya ada di posisi itu? Dika pasti mati sebelum orang tersebut membunuhnya. Yaa Dika akan mati, mati karena ketakutan.
“Hehehehe,” Dika terkekeh memikirkan hal tersebut.
Kenapa kau tertawa nak? Apa ada yang lucu?”tanya pemburu.
“Aah owhh it-itu hmm ti-tidak Paman,tidak ada apa-apa yaa tidak ada apa-apa.” jawab Dika gelagapan.
Pemburu itu mengangguk.
“Apa kau sudah siap?” tanya sang pemburu. Dika mengernyit,”Siap? siap untuk apa?”tanya Dika heran.
“Apa kau melihat kerangka-kerangka itu?” Tunjuk pemburu pada tulang belulang yang berserakan di mana-mana.
Dika mengangguk.
“Bagus,itu adalah kerangka tubuh manusia yang kubunuh,mereka sama seperti orang-orang yang tersesat dihutan ini. Hahahha,dan sekarang giliranmu.” Tunjuk sang pemburu kearah Dika.
Dika melototkan matanya kaget, lalu menggelengkan kepala cepat,sungguh ia sangat ketakutan sekarang. Ia ingin kabur tapi entah kenapa kakinya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan.
“Kau pikir aku akan membantumu? Hahaha tidak akan. Kau juga telah melukai wajahku ‘kan? Cihh tak sudi. Sekarang rasakan ini,” Pemburu tersebut mengarahkan sebuah kapak yang siap memenggal kepala Dika.
“Tidakkkk,”pekik Dika keras. “Kumohon ja-jangan bunuh aku,” Dika memohon pada pemburu tersebut,ia memejamkan mata karena ketakutan.
“Dika Dika Dikaaa,hei bangun Nak!”kata sosok tersebut.
Dika mengernyit,suara itu begitu familiar lalu ia membuka matanya perlahan. Alangkah terkejutnya Dika saat ia melihat sosok ibunya sedang berdiri dihadapannya. Selain itu, Dika juga melihat Ayah dan saudaranya, Dika tidak percaya dengan penglihatannya. Bukankan tadi dirinya sedang berada di ‘Hutan Kegelapan’ itu lalu ia di bawa ke sebuah gubuk reyot dan akan dibunuh oleh seorang pemburu.
Dika menatap setiap inci sudut rumah, saat ini ia dan keluarganya sedang berada di ruang keluarga. Ahh Dika ingat tadi mereka sekeluarga sedang berkumpul dan mungkin Dika tertidur saat saudaranya sedang bercerita lalu ia bermimpi mengalami insiden tersebut.
“Apa kau baik-baik saja,Nak?”tanya Ibu khawatir.
Dika mengangguk.
“Dika baik-baik saja Bu,tadi Dika hanya bermimpi buruk,”jelas Dika menenangkan Ibu dan seluruh anggota keluarga yang menatap khawatir dirinya.
Dika sekali lagi mentap sekeliling untuk memastikan bahwa insiden buruk itu hanya bunga tidur,ia mencoba mencari sosok pemburu di sekitarnya dan nihil,tidak ada sosok pemburu. Dika bersyukur akan hal itu,ia menghela napas lega.
“Astagfirullah,” Dika beristighfar dalam hati. “Mungkin aku kelelahan kalau begitu aku akan beristirahat saja,” batin Dika.
Setelah berpamitan untuk beristirahat pada anggota keluarganya, Dika lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Akan tetapi,matanya tidak sengaja melihat ada seseorang yang sangat mirip dengan sosok pemburu yang ada di mimpinya. Sosok tersebut membawa kapak yang juga persis di mimpinya. Sosok misterius tersebut melintas di dekat jendela samping rumah.
Dika mengernyit.
“Siapa dia?”