#Bukan Horor!
Kota X, 12 Des 7034.
Hai! namaku Sindy Camelia. umurku kini masih 15 tahun, aku memiliki wajah yang cantik dan imut tentunya, hehe. Malam ini, kami berniat untuk pindah rumah.
"Sindy!! ayo masuk kedalam mobil" Teriak ibu Sindy, Bu Tina.
"Iya mah!! bentar! " teriak Sindy sambil bergegas masuk kedalam mobil sambil mengangkat tasnya.
Kini mobil tengah melaju menuju rumah baru mereka. Sindy memandang keluar jendela mobil, kini dunia telah jauh berubah. pohon pohon telah menjadi objek langka, cuaca terasa sangat sangat panas, kekurangan air melanda dimana mana. begitu miris yah! gedung gedung menjulang dengan tinggia, teknologi yang semakin canggih, pabrik dimana mana. jika ada pohon, itu pun hanya berjumlah 1 pohon yang itupun sudah layu dan hendak mati. oksigen kini sudah sangat tak baik jika di hirup, penyakit melanda di banyak tempat.
Bahkan mirisnya lagi, korupsi sering terjadi, hal kejahatan, pelecehan S*ksual adalah hal yang biasa bagi para petinggi, mereka hanya diam melihat kejadian yang memprihatinkan itu, dan yang tak masuk akalnya adalah merekapun juga memiliki sikap yang sama, mereka suka melecehkan wanita wanita, mengambil paksa uang uang rakyat, sungguh benar benar rusak dunia ini.
Sindy menghela nafas panjang, lalu dia pun kini beralih menatap ayahnya yang sedang mengemudi mobil, ibunya yang tengah memangku adik laki lakinya yang tengah tidur.
Setelah 7 jam mengendarai mobil, akhirnya mereka telah sampai di daerah terpencil dan tidak di ketahui banyak orang. Desa itu hanya memiliki setidaknya 10 rumah warga dan masih ada 50 pohon yang tumbuh, udara disana juga masih lumayan baik dari yang Sindy hirup di rumahnya dulu. jika para petinggi mengetahui jika masih ada 50 pohon yang tumbuh dengan sehat, mereka akan berbondong bondong untuk menebang pohon itu lalu menjualnya dengan harga mahal, karena pohon begitu sangat dibutuhkan saat ini.
Setelah sampai, Sindy melihat para warga yang menyambutnya dan keluarganya dengan senyum ramah. Sindy juga melihat rumah barunya yang sederhana.
Sindy dan keluarganya kini berkenalan dengan para warga yang sangat ramah ramah, berbeda dengan para tetangga Sindy dulu, mereka sangat jahat, curang, munafik, dan intinya memiliki sifat yang buruk.
Setelah beberapa menit berkenalan, akhirnya aku dan keluarga kecil ku pun masuk kedalam rumah. aku memasuki kamarku yang hanya memiliki lebar 5X5, lumayan besar sih, menurut Sindy. Sindy kini beralih menatap cermin usang yang berada di pojok kamarnya, cermin itu lumayan besar dengan tinggi satu meter dan lebar setengah meter.
Sindy kemudian membersihkan kamarnya dan juga cermin usang itu.
"Ayah? dimana ayah mendapatkan cermin usang yang ada di kamarku? " Tanya Sindy ketika kini dia dan keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Hah!? Cermin usang? sepertinya ayah merasa tak pernah mendapatkannya? " Ucap ayah Sindy dengan kebingungan.
"Sudahlah, mungkin ayah lupa jika tentang cermin itu" Ucap Sindy yang kemudian di balas anggukan oleh ayah Sindy.
****
Kini Sindy baru saja selesai mandi di sumur yang terletak dekat dengan rumah Sindy, sumur itu merupakan sumber air milik desa tempat Sindy kini tinggal.
Sindy juga sudah berkumpul bersama dengan beberapa warga.
Sindy kini berdiri di depan cermin usang itu, kemudian menatapnya lekat lekat. Sindy tiba tiba merasa tertarik untuk menyentuh cermin itu dan beberapa saat kemudian, Sindy terkejut saat merasakan dia tidak bisa menyentuh Cermin itu, seperti tangannya masuk kedalam cermin itu.
Sindy terus maju dengan perlahan hingga kini semua tubuhnya telah memasuki cermin dan...
Wush..
Sindy menghilang dari kamarnya dan masuk kedalam cermin. Sindy perlahan melihat sekitarnya yang terlihat berbeda, hutan lebat suasana yang sangat sejuk. air mata Sindy perlahan mengucur, udara ini yang selama ini dia harapkan untuk dia hirup, begitu asri dan sejuk tanpa adanya polusi.
Mata Sindy terbelalak kaget ketika melihat di depannya kini berdiri 1 gedung yang sangat sangat tinggi dan luas, gedung itu tentunya dikelilingi oleh tumbuhan, dan tak sedikit pula tumbuhan yang merambat di dinding gedung mewah itu. dan juga, banyak orang orang di sana yang tengah melakukan aktivitasnya masing masing, kebanyakan dari mereka memilih untuk bertanam pohon dan juga tumbuhan lainnya.
Sindy kini tidak lagi menangis, kini dia beralih dengan tatapan berbinar. i-ini adalah suasana yang begitu dia impikan. Sindy tiba tiba dikejutkan dengan seseorang wanita yang memukul pelan pundaknya.
"Hai dek! apa kamu baru datang? " Sapa wanita itu sambil tersenyum ramah kearah Sindy.
"I-ya kak! " Ucap Sindy dengan hati hati.
"Wah, pasti kamu datang dari zaman dimana bumi telah rusak? " Ucap wanita itu yang tentunya membuat Sindy kaget.
"I-iya kak! bagaimana kakak bisa mengetahuinya? " Tanya Sindy dengan kebingungan.
"Mudah, karena kami juga berasal dari sana, kami masuk melalui cermin usang yang tentunya tiba tiba muncul di rumah kami masing masing. cermin usang itu hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki hati yang baik. " Jelas Wanita itu sambil mulai berjalan masuk kedalam gedung tinggi itu.
Sindy hanya mendengarkan wanita itu, sambil mengikuti langkah kakinya, sesekali Sindy membalas senyuman ramah orang orang yang melihat dirinya.
"Sebelum itu, perkenalkan nama ku Caca, 17 tahun! " Ucap wanita itu yang ternyata bernama Caca.
"Sindy, senang berkenalan dengan mu kak caca! " ucapku dengan senyuman lebar.
Sindy pun berhasil memasuki gedung itu, hal yang pertama dia lihat adalah, banyak orang orang yang berlalu lalang kesana kemari, dengan toko toko yang menyerupai mall.
"Kamu pasti bingung kan? gedung ini memang sudah ada saat kami baru tiba di dunia yang bernama Hingsworld ini. di dalam gedung ini sudah dipenuhi dengan fasilitas fasilitas yang kami perlukan, bahkan kini di tempat ini memiliki listrik yang entah bagaimana bisa ada?
Di lantai pertama ini ditempati oleh toko toko yang menjual barang barang keperluan, kami menyebutnya sebagai pasar lantai satu. tentunya disini menjual hal hal secara lengkap yang dulu ada di bumi. di lantai 2 tempat hiburan, atau tempat berkumpul, taman. sedangkan lantai 3 di isi oleh bangunan rumah sakit, kantor polisi, sekolah dan fasilitas lainnya. dan lantai 4 hingga lantai 15 di isi oleh rumah rumah warga yang tinggal di sini, dan juga masih banyak lantai yang masih kosong.lantai 16 hingga 17 di isi oleh are bunga bunga dan tanaman obat yang sangat dibutuhkan.dan anggap saja jika gedung ini adalah bumi yang memiliki banyak isi dan fasilitas. di sini kami sangat menjaga tumbuhan dan menanam banyak tumbuhan." Jelas Caca panjang lebar.
Kini Sindy telah melewati banyak bangunan yang ada didalam gedung itu. dan kini Sindy telah berada di lantai empat yang di isi oleh rumah rumah warga yang rumahnya nampak sama dengan yang lain, dengan bunga bunga yang mengiasi taman depan rumah mereka, dan juga nomor rumah untuk membedakan rumah mereka. dan kini yang Sindy lihat daritadi semuanya dipenuhi dengan kemewahan dan tentunya tumbuhan terlihat dimana mana membuat udara sangat sejuk.
"Berapa banyak kamar kamar yang ada di sini kak? " Tanya Sindy.
"Setiap lantai memiliki 5000 kamar. dan itu ada di lantai 4 hingga 15,kau bayangkan saja banyak kamar yang ada di gedung ini. tapi jangan salah, lantai 10-15 masih belum di huni oleh orang orang. sedangkan untuk lantai 9 kini juga belum sepenuhnya di huni.Ah dan juga lantai bawah tanah, ada 3 lantai lantai terbawah dikhususkan untuk para penambang atau mereka yang mengelolah material alam, dan tentu mereka mengambil seperlunya saja. lalu lantai menengah dan atas di isi untuk tempat tempat memproduksi barang barang. "
***
Setelah beberapa jam berkeliling akhirnya Sindy memutuskan untuk pulang ke bumi.
"Kak! aku mau pulang ke bumi! di sana masih ada keluarga ku" Ucap Sindy.
"Sindy, saat kau masuk kedalam cermin ini, kau tidak akan bisa keluar lagi! " Ucap caca sambil menggelengkan kepalanya.
Perkataan Caca tentu saja membuat Sindy kaget sekaligus panik.
"Tapi kau bisa mengirim surat keluar dari pintu, kau bisa memberitahu keluarga mu tentang ini semua, dan dia akan menyusulmu kemari! Ucap Caca membuat Sindy bernafas lega.
Kini Sindy menulis surat dan berusaha meyakinkan keluarga dan para warga untuk percaya dengan Sindy.
***
Bumi.
"Gawat.. gawat... banyak mobil yang melaju kearah desa kita, sepertinya mereka berniat untuk merampok dan mengambil pohon desa kita"
Kini Ibu Sindy berlari masuk kedalam kamar Sindy yang ternyata dikamar itu ada Ayah Sindy yang tengah membaca surat itu, bahkan dibawah surat itu terpampang foto Sindy bersama Caca yang sekitarnya dipenuhi tempat mewah tapi dipenuhi oleh tumbuhan. tentu foto itu membuat ayah Sindy menjadi percaya, dan juga tidak mungkin kan anaknya berbohong!
Ayah Sindy mengulurkan tangannya untuk menyentuh cermin itu, dan hal yang terjadi selanjutnya membuat dia kaget, karena tangannya seperti tembus dan masuk kedalam cermin.
Ayah dan ibu Sindy hanya tertegun dan kaget. sungguh ajaib. ayah Sindy pun menarik tangannya untuk keluar kembali.
Sebaiknya panggil para warga sebelum sekelompok mobil itu sampai dan menyakiti para warga.
***
Kini para warga dan juga keluarga Sindy tengah berkerumun di dalam kamar Sindy, tentu ayah Sindy telah memperlihatkan surat dari Sindy membuat mereka semua langsung percaya. mereka membawa tas dan koper untuk menyimpan barang barang yang sekiranya sangat berharga.
Lalu Ayah Sindy yang tengah menggendong adik kecil Sindy, dan ibu Sindy yang tengah memegang satu koper, lalu mereka pun masuk secara bersamaan lalu menghilang. para warga pun tampa ragu juga ikut masuk kedalam cermin itu..
Kini mereka semua telah masuk di Dunia Harsworld,. mereka disambut oleh Sindy dan beberapa warga. mereka juga pertamanya sangat terkejut lalu menangis terharu bersama sama sambil berpelukan.
Tamat~
Maaf, mungkin memang kurang menarik, tapi saya ingin memperingatkan untuk sayangilah bumi kita :)
Jangan lupa like dan coment jika suka dengan cerpen ini❤