Bandung, 03 April 2014.
Seperti namanya, hari Kamis, cukup memberiku kenangan manis. Dimana, tepat pada hari itu, aku bertemu dengannya, sekaligus mulai merasakan getaran yang begitu hebat di jantungku. Entah itu getaran apa, aku tidak tahu. Namun, Sejak saat itulah wajahnya, senyumnya dan semua yang ada pada dirinya, selalu mengganggu otak dan pikiranku.
Hari itu, pagi begitu cerah. Mentari pagi menyapaku dengan indah. Angin sepoi-sepoi seketika berembus memberi kesejukan, tatkala aku tengah berdiri di depan rumah. Rumah yang baru saja dua hari kutempati. Semenjak Ayahku yang notabene seorang prajurit TNI, berpindah tugas ke kota ini. Kami yang awalnya tinggal di Bogor, terpaksa harus ikut pindah mengikuti jejak sang ayah.
Aku mengedarkan pandangan, ke sekeliling komplek perumahan. Keadaannya nampak masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang terihat tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tanpa disadari, aku telah menerbitkan senyum di wajahku, tatkala melihat ia melintas dihadapanku, sembari mengayuh sepeda ontelnya.
Aku mengerjap dan sedikit termangu, seakan terbius akan pesonanya. Pesona seorang pria berseragam putih abu. Aku belum ingin mengakhiri senyumanku. Sebelum ia enyah dari penglihatanku. Senyuman itu, kupersembahkan untuk ia yang belum kuketahui namanya.
"Renjana!"
Panggilan lembut dari ibu, cukup membuatku terkesiap. Seketika, lamunanku ambyar. Dengan sedikit tergesa, aku masuk ke dalam rumah untuk menghampiri ibuku. Kulihat ibu tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
"Ayo, segera siap-siap! hari ini kamu harus daftar di sekolah baru, Sayang!" perintah ibu.
Tubuhku seakan melemas, saat mendengar kata pindah sekolah. Aku bukanlah orang yang mudah bergaul dan beradaptasi di tempat yang baru, dengan orang-orang baru. Namun, apa yang bisa kuperbuat selain menuruti perintah ibu.
Dengan langkah yang sedikit gontai, tidak bersemangat, aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamar. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke meja makan. Tampak Ayah dan Kak Banyu telah duduk di sana dan siap untuk sarapan. Kami pun melakukan sarapan bersama, tak terkecuali ibu.
Proses pendaftaran sekolah telah selesai. Aku berjalan menuju kelas X-3 dengan diantar salah satu guru di sekolah itu, namanya bu Mita. Keadaan sekolah sudah sangat sepi, tanda kegiatan belajar sudah dimulai.
Aku dan bu Mita berjalan melewati koridor sekolah. Seketika aku terkejut saat melihat sosok pria itu lagi. Dia baru saja keluar dari kelas dengan setumpukkan buku yang di bawanya, entah mau kemana.
Pria itu tampak menerbitkan senyuman di wajahnya dan menyapa bu Mita. Sosok pria yang tadi pagi membuatku terbius akan pesonanya, ternyata kami satu sekolah. Sungguh itu membuatku sangat senang.
Senyumannya. Ah, seakan menjadi pemandangan terindah di sekolah ini. Aku mendongakkan kepala, melihat nama kelas yang terpampang jelas di atas pintu kelas itu. Kelas XII IPA-1, Sudah dapat kupastikan bahwa dia adalah senior di sekolahku.
Hari berganti hari. Seminggu telah kulewati, sebagai siswa baru di sekolah itu. Semakin lama, semakin banyak pula informasi yang kudapatkan tentangnya.
Namanya adalah Kala. Hanya Kala, tidak ada kepanjangan ataupun marga yang mengikutinya. Informasi lainnya adalah tentang dia yang tercatat sebagai siswa berprestasi di sekolah, juga tentang dia yang jago bermain basket.
Dari kejauhan, aku selalu memerhatikannya, ketika dia tengah berjalan, mengobrol, juga ketika dia bermain basket. Sungguh menjadi pemandangan baru yang mengesankan bagiku.
Entah kenapa hati ini selalu berdebar ketika melihat wajah dan juga senyumnya. Seolah ada kebahagiaan tersendiri saat melihatnya.
Pada suatu hari, aku terkena masalah di sekolah karena nilai ulangan pelajaran matematikaku yang di bawah standar sehingga diminta untuk remedial. Betapa frustasinya aku saat itu. Pelajaran itu adalah salah satu dari sekian mata pelajaran yang paling aku benci. Aku benar-benar lemah pada pelajaran tersebut.
Aku pergi ke taman belakang untuk mencari tempat yang nyaman dalam mempelajari materi matematika. Ditengah-tengah kegiatanku mengelilingi taman, tiba-tiba aku menemukan sebuah kursi taman yang cukup jauh dari keramaian. Tepatnya, di bawah pohon rindang. Kupikir tempat itu sangat cocok. Tanpa menunggu komando, aku segera menghapiri kursi itu dan mulai membuka kembali hasil ulanganku.
Aku semakin frustasi setelah mempelajari materi itu berulang kali dengan hasil yang nihil. Entah harus mulai dari mana dan bagaimana caranya agar aku bisa dengan mudah memahami materi tersebut. Seketika, aku mecorat-coret buku catatanku setelah berulang kali gagal dalam memechkan satu rumus trigonometri. Hingga tiba-tiba suara seseorang menghentikan kegiatanku.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
Aku mendongakkan kepala, menatap ke sumber suara. Lagi-lagi aku terbius akan pesona siswa yang saat ini tengah berdiri di hadapanku. Ya, dia adalah Kala. Betapa senangnya aku saat dia melemparkan senyumnya kepdaku, dan itu membuatku terpaku beberapa saat.
"Ehem!"
Seketika suaranya membuatku terkesiap. Berulang kali aku mengerjapkan mata sehingga membuatnya terkekeh menahan tawa. Ah, kenapa aku harus segugup itu? Pikirku.
Aku mengalihkan kembali pandanganku ke arah buku catatan yang telah penuh dengan coretan tinta hitam.
"Ada masalah?" tanyanya lagi, seolah dia mengetahui masalah yang tengah kuhadapi.
Dengan sedikit ragu aku memberanikan diri untuk membuka mulut.
"Aku ... aku ... aku ... tidak memahami rumus ini," lirihku gugup seraya menunjukkan rumus trigonometri yang terdapat di dalam buku paket.
Dia hanya tersenyum seraya mendudukkan tubuhnya di sampingku. Dalam hitungan detik, suara detak jantungku terdengar begitu nyaring oleh telingaku sendiri. Aku memperhatikannya. Ternyata wajahnya lebih tampan, ketika dilihat dari samping.
Dia mengambil alih buku catatanku dan kau tahu apa yang terjadi? Dia mengajariku hingga aku dapat memahami rumus yang sebelumnya sangat sulit untuk kupecahkan.
Dan dari situlah kisah kita dimulai. Aku dan dia memiliki kedekatan. Dia selalu membantuku, ketika aku membutuhkan bantuannya, dan tempat itu menjadi tempat favorit kami berdua.
Semakin lama, perasaan ini semakin kuat untuk mengaguminya. Hingga pada akhirnya, aku memahami akan arti debaran ini. Debaran yang selalu menghujam jantungku ketika berada di dekatnya. Ya, itu adalah cinta. Namun, aku tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya, hingga aku memilih untuk memendamnya sendiri.
Aku tetap menjalin hubungan dengannya, hubungan sebagai seorang teman juga sebagai senior dan junior di sekolah. Setiap perlakuan lembut yang dia lakukan membuatku merasa yakin bahwa aku jatuh cinta bukan pada orang yang salah.
Hampir satu tahun aku memendam perasaan itu sendiri. Aku merasa, semakin lama aku semakin tidak kuasa untuk menahannya. Ada hasrat yang membuncah seolah ingin dia mengetahui akan perasaanku yang sebenarnya.
Hingga pada suatu hari, tepat di hari kelulusannya, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan itu kepadanya. Berhari-hari aku mengumpulkan segenap keberanian itu, hingga tiba pada waktunya tepat di tempat yang selama ini menjadi tempat favorit kami, aku mulai mengungkapkan perasaanku sebelum perpisahan itu terjadi. Berharap dia akan memiliki perasaan yang sama terhadapku.
Aku menghela napas panjang sembari menatapnya. "Kak, aku tahu ini terlalu lancang untuk aku mengungkapkannya. Namun, sebelum kita berpisah, kurasa aku harus mengungkakan tentang perasaan ini kepadamu. Perasaan yang selama ini selalu membuat jantungku berdebar dan selalu mengganggu otak dan pikiranku," ucapku sedikit memberi jeda akan perkataan selanjutnya.
"Awalnya aku tidak mengerti tentang perasaan ini. Perasaan yang muncul tiba-tiba sejak pertama kali aku melihatmu. Kukira ini hanyalah perasaan kagumku terhadapmu, ternyata aku salah. Semakin lama aku semakin memahami bahwa aku memiliki perasaan lebih terhadapmu. Bukan hanya sekadar kagum, melainkan lebih dari itu. Kedekatan kita selama ini semakin memperkuat perasaanku, tetapi aku tidak memiliki nyali untuk mengungkapkannya. Baru hari ini aku mendapatkan kekuatan itu sehingga aku berani mengungkapkan ini semua kepadamu," lanjutku panjang lebar.
"Sebelum kita berpisah, aku hanya ingin tahu tentang perasaanmu terhadapku. Apakah Kakak memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan?" tanyaku dengan segenap rasa penasaranku.
Aku masih menatapnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulutya. Dia tampak memberikan tatapan sayu kepadaku, seolah ada keraguan di dalam dirinya untuk memberikan jawaban akan pertanyaanku.
"Renjana," panggilnya lirih. Aku tidak tahu harus berkata apa." Ia terdiam sejenak.
"Kamu harus tahu bahwa aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri dan aku harap itu tidak akan berubah," jelasnya.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, bibir mulai bergetar merasakan rasa sakit yang seketika menghujam jantungku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, yang kutahu jawabannya sangatlah menyakitiku. Sangat, sangat menyakitiku.
"Renjana ... maaf," lirihnya memelas.
Sekuat mungkin aku berusaha menanggapinya. "Ya, aku mengerti," ucapku seketika terdiam sejenak. Tanpa kusadari, akhirnya air mata mulai luruh membanjiri pipiku.
"Jawabanmu cukup jelas. Terima kasih untuk kebaikanmu selama ini dan selamat atas kelulusanmu, aku pamit!" imbuhku.
Secepat kilat aku berlari dari hadapannya dengan membawa rasa sakit yang terlanjur menusuk hati. Namun, kendatipun begitu aku tetap membiarkan rasa ini mengalir seperti air hingga pada akhirnya akan mengering dengan sendirinya.
Paling tidak aku sudah lebih tenang karena sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini membuatku gelisah dan aku yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.
Aku tidak perlu berlarut dalam kesedihan karena tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan. Sejatinya, itu adalah yang terbaik untukku dan aku yakin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang jauh lebih dari sekadar yang kuinginkan.