Pemandangan ini, semuanya kecil jika dilihat dari atas. Hari dimana semua makhluk hidup akan menghadap Yang Maha Besar, seorang Dewi yang ditugaskan untuk mencabut semua nyawa makhluk hidup. Iliyois Eleison, Dewi Kematian julukannya.
Dari kejauhan dia melihat bumi yang begitu besarnya, dia tau dia harus menjalankan tugasnya. Dengan pedang di tangannya, dia akan mencabut nyawa semua yang hidup, yang pernah hidup, dan yang akan hidup.
"Lapar....Aku lapar.."
Suara tersebut membuatnya berhenti sejenak, dia melihat sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa.
"Aku lapar...Tolong..."
Terdengar lagi suara itu, kali ini dia ingin memastikan suara siapakah itu.
Iliyois turun ke bumi, auranya sendiri membawa kematian bagi siapapun yang berada di dekatnya. Dia turun di sebuah kota kecil yang sudah ditinggalkan.
"Suaranya dari sini? Tidak mungkin ada yang tinggal di sini." Gumam Iliyois.
Tapi Iliyois mendengar suara itu lagi, kali ini dia bisa melacak darimana datangnya suara tersebut.
Iliyois menuju ke sebuah gubuk kecil yang keliatan usang dan bisa saja roboh kapanpun. Di dalam dia menemui seorang anak kecil yang terbaring lemas dan lemah.
"Astaga, kamu tidak apa-apa kan?" Dia segera menyelimuti anak itu dengan sayapnya agar dia tidak kedinginan. "Kamu kenapa begini, nak?"
"Ibu? Kamu sudah kembali?" Kata anak tersebut.
Iliyois tidak paham maksud dari anak tersebut.
"Ibu? Ada apa?"
"Kata ibu, Ibu nanti segera kembali dengan makanan. Ibu menyuruh aku agar tetap di rumah kan?"
Iliyois langsung mengerti maksud anak itu, dia ditelantarkan oleh ibunya dan dibiarkan mati kelaparan. Dia tidak bisa percaya ada orang tua yang sejahat itu, tapi dia tidak bisa tinggal diam. Dia harus gerak cepat agar anak itu tidak mati kelaparan.
"Ok nak, yang sabar ya. Ibu sudah membawakan makanan untukmu." Iliyois melakukan sebuah sihir yang langsung memunculkan sebuah roti di tangannya.
Dia lalu memberikan roti tersebut kepada anak itu. Raut wajah anak itu langsung berubah menjadi ceria.
Iliyois bisa merasakan sesuatu di hatinya, sebuah perasaan yang dulu dia pernah rasakan. Perasaan yang dulu membuat dia, 'Dia'.
Semenjak keluarganya hilang ditelan oleh waktu. Dia merindukan perasaan ini, menjadi seorang ibu. Dia rela melakukan apapun agar dapat bertemu dengan keluarganya kembali, sekalipun itu menunggu di alam semesta yang hampa dan tidak bernyawa selama dia hidup abadi.
Iliyois membantu anak itu berdiri.
"Ayo, kita bersihkan dirimu. Kamu kotor sekali." Dia lalu membawanya ke sebuah tempat yang luas dan kosong.
"Ibu, ada apa di sini?" Tanya anak itu.
"Tutup matamu ya, ibu punya sesuatu untukmu."
Anak tersebut lalu menutup matanya.
Dengan jentikan jari, Iliyois mampu memunculkan rumah yang besar dan kota kosong yang menyedihkan tersebut berubah menjadi padang rumput hijau yang luas.
"Kamu bisa membuka matamu sekarang."
Anak itu lalu membuka matanya, dia seketika terkagum dengan apa yang dia lihat.
"Ibu ini dimana? Wooow, ini bagus sekali."
"Aku senang kamu menyukainya."
Iliyois menuntun anak itu ke dalam dan ke kamar mandi. Disitu dia memandikan anak itu hingga bersih lalu mengeringkannya dengan handuk.
Anak tersebut berlarian ke sana kemari, dia sengaja begitu karena dia senang bermain dengannya.
"Ayo pasang bajumu dulu." Iliyois kelelahan mengejarnya hanya karena dia tidak mau memasang baju.
"Tangkap aku dulu, bleeh." Dia mengejek Iliyois dengan menjulurkan lidahnya lalu kembali berlarian.
Pada akhirnya Iliyois berhasil menangkapnya dan memasangkan bajunya.
"Haha, lain kali kita lakukan itu kalau di luar saja ya. Kalau di dalam rumah nanti takut kamu menabrak perabotan." Iliyois menasihati anak itu.
Anak itu melihat pemandangan di luar rumah lewat jendela rumah, dia ingin sekali bermain keluar. Dia menarik-narik baju Iliyois untuk mendapatkan perhatiannya.
"Mah, mah. Itu di luar."
"Hm? Kamu mau ke luar?"
Anak itu mengangguk dengan antusias.
Iliyois hanya tersenyum, dia menuruti keinginannya lalu mengajaknya ke luar.
Anak itu berlarian dengan ceria di padang rumput yang luas itu. Sesekali dia bermain dengan Iliyois.
Padang rumput yang luas itu membawa memori di mana Iliyois dan keluarganya terakhir berkumpul. Dia tidak tau bahwa itu adalah pertemuan mereka yang terakhir kali, anak dan suaminya hilang ditelan oleh sebuah pusaran waktu yang membawa jiwa dan raga mereka ke alam yang benar-benar berbeda. Bahkan para dewa tidak dapat memasuki alam itu.
Iliyois melamuni hal itu, dia hanya duduk di sebuah kayu dan melihat anak itu bermain. Anak tersebut memetik sebuah bunga dan memberinya kepada Iliyois.
"Ini, mah. Bunga untukmu."
Iliyois menerima bunga itu. Dia teringat lagi akan memori lamanya, ketika anaknya memberikan bunga kepadanya.
Iliyois hanya mengelus kepala anak itu dan tersenyum.
"Terima kasih."
Bunga yang diterima olehnya adalah Bunga Aster, salah satu bunga favoritnya.
Iliyois melihat ke atas, dia tau bahwa waktunya tidak banyak. Dia berdiri lalu memanggil anak itu kembali.
"Nak, ayo kita pulang."
"Kemana mah?" Anak itu bertanya.
"Ke tempat di mana kamu bisa tidur dengan damai." Kata Iliyois.
Anak itu mengangguk dan menuruti setiap perkataannya, seakan dia adalah anak paling naif di muka bumi ini.
"Aku berterima kasih, memiliki orang seperti ibu. Ibu orang yang paling hebat bagiku, aku senang berada di sampingmu." Anak itu tersenyum manis mengatakan hal itu.
Iliyois sedikit mengeluarkan air mata ketika mendengar itu. Dia terharu sekaligus sedih, anak itu tidak sadar bahwa semua kenikmatan yang ibunya berikan hanyalah ilusi semata agar kematiannya dapat menjadi momen paling bahagia yang pernah dia alami.
Dia menutup mata anak itu, tubuh mungilnya yang sudah tidak bernyawa dia bawa di pangkuan tangannya. Walaupun meninggal, muka anak itu terus tersenyum.
"Sekarang ibu akan membawamu ke peristirahatan terakhir, semoga kamu kembali ke pangkuan ibu ketika di surga nanti ya." Iliyois terus menangisi kematian anak itu.
Sungguh ironis jika dipikirkan, dia adalah Dewi Kematian sendiri. Namun, dia meratapi kepergian seorang anak manusia.
Dia lalu mengepakkan sayap hitamnya dan terbang membawa anak itu pergi ke alam lain, yang pasti dia membawanya ke alam ketenangan dan kedamaian abadi.