Jika kuceritakan akankah kalian mengerti alur dan maksud cerita ini? Jika kalian memang benar-benar bisa memahaminya maka buktikan!
Baiklah akan ku ceritakan.
Aku berjalan melalui jalan setapak. Saat itu sudah malam tidak satu orang pun berada di luar. Andai aku tidak mendapat bagian shift malam mungkin aku sudah tidur nyenyak di ranjang kesayanganku malam itu. Alrojiku menunjukan pukul 01.30 malam, atau apa ini bisa disebut pagi? tidak. Tidak ada cahaya matahari yang menyinari bumi, yang ada hanya sinar bulan yang menemani setiap langkahku.
"Kenapa sih harus malam-malam begini"
Aku terus melangkahkan kakiku menuju suatu tempat yang mungkin tidak kalian pikirkan sebelumnya. Aku bekerja sebagai apoteker di sebuah apotik tua milik Ko Afan. Apotik Ko Afan cukup terkenal di kotaku selain menyediakan obat-obatan terlengkap, Ko Afan juga menyediakan alat bantu kesehatan seperti alat tes darah, kursi roda dan lain-lain. Setelah sampai aku membuka pintu apotek perlahan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nina menyambutku dengan senyum manisnya.
"Aku akan pergi tidur, memeriksa persediaan obat demam anak-anak. Cuacanya cerah ya! hati-hatilah agar kau sakit. Banyak orang buta berkeliaran sebaiknya kau jangan mendengarkan mereka"
Nina mengucapkan kata-kata itu dan berlalu pergi sebelum aku sempat menghentikannya hanya untuk menanyakan maksud dari kata-katanya. Kuhembuskan nafasku kasar seraya berjalan menuju kasir aku mengamati sekitar berharap tidak ada masalah. Kau mengerti maksudku? kuharap begitu. Kata-kata Nina terus menghantui pikiranku aku harus berpikir keras untuk mengerti apa yang sebenarnya ia katakan.
Tringg Tringg
Seorang ibu membuka pintu apotik dengan cepat. Raut wajahnya nampak cemas, dengan keringat yang bercucuran. Aku bermaksud menanyakan apa yang ia inginkan.
"Berikan aku obat demam anak-anak!"
Dia menyuruhku untuk segera mengambilkan obat untuknya. Tanpa berpikir panjang aku segera mengambil kan obat demam anak-anak. Tunggu! Obat demam? Tentu saja yang kumaksud adalah obat penurun demam untuk anak-anak. Aku mengerti kondisi ibu itu sekarang, mungkin saja anaknya sedang demam tinggi. Setelah menerima obatnya, ibu itu langsung berlari tanpa meninggalkan uang sepeserpun. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ko Afan pasti akan marah kepadaku, dan aku harus mengganti kerugiannya.
Ponselku bergetar, terdapat pesan masuk atas nama "My love" jariku dengan gesit membuka pesan tersebut disitu tertulis,
"Hai bagaimana kabarmu? aku harap semua baik-baik saja dan ya jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja aku hanya ingin menyampaikan sebuah kabar. Tapi sebelum itu aku ingin meminta maaf padamu dan aku harap kau tidak terlalu bersedih soal ini, aku ingin membatalkan pernikahan kita. Aku sudah menemukan pasangan yang cocok denganku, ku harap kau juga akan menemukannya suatu saat. Terimakasih atas semuanya hanya itu yang ingin kusampaikan, aku minta maaf".
Air mataku turun dengan lancang aku tidak percaya dengan apa yang barusan ia katakan. Aku menutup mulutku rapat mencegah suara isakan tangis terdengar, aku menutup mataku kecewa.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Tak terasa sudah pukul 09.30, teman-temanku datang untuk menggantikan tempatku alias pergantian shift. Aku berjalan pulang, saat perjalanan pulang, kulihat sekelompok wartawan mewawancarai seorang aktris sedangkan tak jauh dari sana banyak mobil polisi terpakir dijalan dan hanya ada satu ambulan, nampaknya baru saja terjadi tabrakan. Apa para wartawan itu tidak melihatnya? Kenapa mereka menyiarkan gosip seseorang yang tidak penting daripada menyiarkan berita insiden kecelakaan yang paling penting? Aku tidak habis pikir. Kuhampiri kerumunan polisi itu untuk hanya sekedar melihat siapa mayatnya. Setelah kulihat siapa mayatnya betapa terkejutnya aku saat mengetahui siapa mayatnya, seketika tubuhku gemetar hebat, bibirku seolah terkunci rapat. Mayat itu adalah Nina.
"HAHHH!"
Aku terbangun dari ranjang kesayanganku yang masih menunjukkan pukul 12.30.
"Apa semua hanya mimpi?"
Aku bangkit dari ranjangku dan bersiap untuk bekerja. Seperti biasa aku selalu melewati jalan setapak saat berjalan menuju tempatku bekerja. Keadaan saat itu hampir sama dengan mimpi yang baru saja kualami kembali kutatap alrojiku jarum panjang menunjukan angka 6, sedangkan jarum pendek menunjukan angka 2. Dari sini kau pasti tahu pukul berapa saat itu. Aku telah sampai di depan tempatku bekerja yaitu apotik Ko Afan. Aku membuka pintu apotik perlahan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sahut Nina ramah. Seperti biasa ia selalu tersenyum saat berpapasan dengan seseorang.
"Aku akan pergi tidur, memeriksa persediaan obat demam anak-anak. Cuacanya cerah ya! hati-hatilah agar kau sakit. Banyak orang buta berkeliaran sebaiknya kau jangan mendengarkan mereka"
Nina kembali mengucapkan kata-kata seperti dalam mimpiku. Aku tahu kejadian yang sama akan terulang kembali. Buru-buru aku mencengkeram pergelangan tangan Nina, mencegahnya pergi.
"Kau ini kenapa? Kau sakit ya?"
Tanyaku pada Nina seraya memeriksa suhu tubuhnya. Aku tidak akan menanyakan maksud dari kata-katanya barusan. Nina tidak menjawabku, ia hanya menatapku dengan tatapan kosong. Ternyata benar suhu tubuhnya sangat tinggi. Aku memeluknya erat berharap ia mendapat kenyamanan. Aku membawanya untuk duduk di sebuah sofa sambil menyelimutinya dengan selimut yang berada di loker. Aku tahu, kau pasti bertanya-tanya tentang selimut itu. Selimut itu sengaja disediakan untuk keadaan darurat. Aku memberinya obat penurun demam untuk orang dewasa dan menyuruhnya beristirahat.
Tringg tringg
Seorang ibu tiba-tiba masuk ke dalam apotik, seperti yang jelas terjadi dalam mimpiku.
"Berikan aku obat demam anak-anak!"
Suruhnya cepat. Kali ini aku tidak buru-buru memberinya obat yang ia maksud.
"Apa ibu sedang tidak enak badan?"
Tanyaku sopan yang tanpa kusadari itu malah membuatnya marah. Mungkin ia tak memiliki waktu atau dia memang sedang terburu-buru. Aku menghela nafasku kasar sambil berjalan mengambil obat yang ibu itu inginkan.
"Berhenti"
Ucapan Nina berhasil menghentikan langkahku. Lantas aku menoleh ke arahnya.
"Ibu itu sedang berhalusinasi, ia baru saja kehilangan anaknya"
Aku membalakan mataku terkejut. Pasti kau mengerti apa yang ibu itu rasakan saat baru saja kehilangan anaknya bukan? Aku tahu kau pasti mengerti itu. Kupeluk ibu itu erat seraya menenangkannya. Aku memberinya segelas air. Setelah kurasa ibu itu cukup tenang, aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Kupikir ponselku akan bergetar dan menampilkan pesan perpisahan dari tunanganku tapi nyatanya tidak. Apa kau pikir aku sedih karena tidak mendapat pesan dari tunanganku? Tentu saja tidak. Lebih baik tidak mendapat pesan sama sekali toh? Daripada selalu mendapat pesan tapi hanya berisi kata-kata yang menyakitkan, oke cukup! Aku tidak ingin mimpi buruk itu terjadi lagi.
Di jam-jam berikutnya tidak terjadi hal yang aneh sama sekali. Aku sungguh bersyukur bisa kembali bekerja dengan tenang. Alrojiku menunjukan pukul 09.30 pagi, ini saatnya aku pulang. Sebentar lagi pergantian shift tapi belum seorangpun teman yang datang menggantikan tempatku. Jika kau bertanya keadaan Nina dan ibu itu? Tenanglah mereka sudah pulang. Jangan khawatirkan itu. Tidak berapa lama temanku datang untuk pergantian shift. Aku mengacuhkan mereka dan buru-buru pulang. Pekerjaanku sangat melelahkan. Sama seperti dalam mimpiku.
Saat perjalanan pulang, kulihat sekelompok wartawan mewawancarai seorang aktris tapi anehnya tidak ada mobil polisi ataupun ambulan yang terpakir tak jauh dari situ.
"Aku bersyukur mimpi itu tidak menjadi kenyataan"
Aku terkejut saat melihat beberapa orang berhasil menyeberang jalan, tanpa berpikir panjang aku langsung berlari mengikuti orang-orang itu, tanpa kusadari sebuah truk pengangkut melaju dengan kecepatan diatas rata-rata berada di sampingku. Nampak dari kaca pengemudi sepertinya pengemudi itu kehilangan kendali. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Brakkk
The End.