Terlihat berjalan dengan pakaian satu set hitamnya seorang perempuan bercadar yang datang menuju lapangan sekolah yang di dalamnya terdapat banyak orang berlatih bela diri termasuk laki-laki ini.
"Eh tunggu-tunggu itu siapa ?"
"Iya siapa kok cadaran gitu aneh banget."
Dia laki-laki yang kukenal dan kucari itu menengok.
Tiba-tiba terdiam sudah suasana disana.
Ohh langsung bisa mengenal mata itu, hanya sebuah mata dari tubuh berjubah hitam, mata yang sering menangis, dan ambisius.
Mendekat ke perempuan itu..
Duduklah mereka di kursi duduk taman yang sudah tersediakan.
"Ingat aku ?"
"Jelas !"
"Kamu kelihatan lebih baik."
"Emm ini berkatmu."
"Kamu sudah tahu pelakunya ?"
"Sudah.."
"Ohh hati-hati ya."
Menatap laki-laki itu...
.
.
.
.
.
.
Flashback.
"Tiara ! Ayo main basket sebentar aja jangan mulu ngehafal bilangan kuadrat mulu !"
"Ihh lihat aku lupa kan, delapan puluh delapan kuadrat sama dengan tujuh ribu tujuh ratus empat puluh empat, sembilan..."
"Aaahhh Tiara ayo main basket !"
"Enggak !"
Tiara memang begitu, dia sangat ambisius dengan pelajaran sekolahnya, ia terus-terusan fokus membahas soal-soal sekolah.
Padahal parasnya sangat cantik dan pas untuk bisa berpacaran, bahkan bisa dilihat banyak orang luar kotanya mengenal dia karena kecantikannya, lebih dari ratusan orang menawarkan dia agar menjadi model dan aktor, namun ia selalu menolaknya.
"Nama ilmiah kucing adalah felis catus, kalo sapi apa na ?"
"Apaan sih Ra ! Kamu lebih baik memperhatikan mereka deh cowok-cowok dibelakang kita, mereka membawa banyak barang nih !"
"Bos taurus, kalo ayam na ?"
"Ahh pusing auk ah..."
"Makanya belajar dulu !"
"Hisss raa tunggu !"
Sebelum masuk kelas ternyata jalan mereka dihadang kakak-kakak kelas tuyul-tuyulnya si Riko.
"Eyy nona cantik, ini persembahan dari Riko coklat impor khusus untuk nona,"sambil memberikan sebuah coklat.
"Ini akan segera bel, aku mau masuk kelas."
"Tinggal terima aja kok !"
"Aku juga ini Ra ! Ini juga Ra !"
Dengan lembut Tiara hanya terus menabrak mereka dan cepat-cepat masuk ke dalam kelasnya.
"Weeek kalian semua nggak akan dapatin hati Tiara mendingan aku aja deh !" ujar viona.
"Hii jijik banget ban montor !"
"Eh lu kalo ngatain dalem amat ya awas !"
Di dalam kelas...
"Eh ra ini apa ya jawabannya aku nggak tahu, lupa kmearin penjelasannya."
"Oh itu, anu emm bakteri deh kayaknya , iya itu bakteri jawabannya."
"Gini aku sebenarnya nggak tahu jawaban no 3,4,5, coba kamu beritahu !"
"No empat itu fiks struktur bakteri sih kalo lima.."
"Dilihat-lihat kamu cantik juga ya ra."
"Heh leo ! Awas ya aku nggak mau ngajarin kamu lagi lo !"
"Enggak-enggak wong cuma muji kamu cantik gitu doang."
"Kalo belajar ya ayo belajar nggak usah bahas yang lain !"
"Yaampun iya.. ini no 5 apa ?"
Itu...
Sampailah di suatu hari, Riko sang anak pengusaha menembak Tiara di depan banyak orang, bahwa dia ingin menjadi kekasihnya.
"Kita tuh disini sekolah ko, aku nggak mau tujuan belajarku menjadi teralih setelah berpacar-pacaran."
"Ra Ra tunggu, kita seorang manusia tuh nggak bisa cuman terus-terusan belajar, cinta itu juga bisa menjadi bagian dari pengalihan yang membahagiakan."
"Riko, aku... tidak... ingin... Menjadi kekasihmu."
Semua murid ternganga melihat seorang Riko anak dari keluarga terpandang itu ditolak cintanya oleh seorang Tiara.
Tiba-tiba Riko terdiam, seakan memendam amarahnya.
karena tak tahan akan perilaku Tiara, saat Tiara beranjak meninggalkan mereka dari belakang mendorong Tiara sampai terbentur kursi.
"Dasar Tiara perempuan ganjen! Sok cantik, bisa-bisanya mempermainkan hati seorang anak petinggi sepertiku !"
"Siapa yang petinggi orang tuamu kan bukan kamu !"
"Dasar !"
Hiss, Riko mengangkat tangannya dan siap memukul Tiara, tapi tercegah oleh seorang laki-laki bernama Dimas.
"Kasar ya sama perempuan !"
"Udah ra, yok pergi aja,"kata viona.
Melihat Tiara sudah terluka parah, viona mengajaknya pergi dari sana.
Akhir-akhir ini dia bertemu dengannya lagi laki-laki penyelamatnya itu.
Tiara hari ini meminta pelajaran tambahan sebentar, dan guru ternyata meminta ia untuk menunggu di Mushola.
"Eh laki-laki itu bermain karate, pasti seru,"kata Tiara dari kejauhan.
Ternyata laki-laki itu tiba-tiba sadar dan menengok balik gadis itu.
"Aku rasa dia suka deh sama kamu ?"
"Halah enggak, liat tuh dia cuma mau belajar tambahan."
Akhirnya mereka sama-sama pulang telat.
Edward pulang dengan montornya, melihat Tiara berjalan sendiri masih menunggu jemputan orang tuanya.
"Mau barengan ?"
Tiara hanya menggelengkan kepala.
"Jam segini banyak laki-laki yang jail loh, apalagi kamu yang cantik begini."
"Itu mobilku, aku pulang dulu."
Edward pasrah karena sudah dijemput ya akhirnya dia juga pergi.
Keesokanya...
"Ohh itu namanya Dimas, anak karate hehe, asal kamu tahu aku udah tahu dia dari dulu, dan sekarang sejak dia membantumu aku semakin jatuh cinta, pengen memilikinya, wuhh lagian ganteng banget."
"Oowwh iya."
Sekarang saatnya ia pulang, lagi-lagi Tiara pulang agak terakhir karena sibuk dengan pelajaran sekolahnya.
Disisi lain Dimas dan Edward juga masih berlatih karate.
"Pulang dulu gue Ward !"
"Iya Dim hati-hati!"
"yok."
Bertemulah mereka Dimas dan Tiara.
"Mau barengan ?"
Setelah menoleh,"wahh itu Dimas." Tapi tetap saja dia menolaknya.
"Sebentar lagi ada yang jemput kok."
"Mana ?"
"Yaudah tinggalin aja nggak papa,"ujar Tiara.
Tanpa berkata apa-apa Dimas pergi.
"O iya buku fisika pinjaman ku ketinggalan," ucap Tiara langsung kembali menuju kelas.
"Untung nggak ilang."
Setelah ia kembali keluar dari kelasnya ia melihat seperti hantu perempuan dengan rambut panjangnya berjalan menyebrang menuju kantor.
"Apaan itu ?"
Secara mendadak hantu itu menoleh berjalan cepat menuju Tiara, dan otomatis Tiara mundur.
"Emmm hem."
Dari belakang ada orang yang membekap Tiara, sampai kehabisan nafas.
Tiba-tiba seorang laki-laki datang memukuli seseorang berjubah hitam di belakang ku tadi. Saat ku tengok kembali hantu berambut panjang itu sudah tidak ada lagi.
"Lari !"
"Ohh yang nolong ini Dimas ?"
"Nggak mungkin aku lari."
"Pergi Tiara !"
Akhirnya Tiara berlari meninggalkan Dimas.
cchiit..
Hampir saja Tiara tertabrak mobil karena lari terburu-buru, ternyata itu mobil orang tuanya.
Dirumah..
"Buk aku nggak mau sekolah disitu lagi semuanya jahat hee (nangis)."
"Ya masak langsung keluar, tuntasin dulu kelas 10 nya 2 semester baru pindah ya."
"Aaa ibu."
"Tadi katanya ada yang nolongin siapa ?"
Skip langsung ke kantor sekolah.
"Nak Dimas terimakasih ya udah nyelametin Tiara."
"Iya sama-sama Bu."
"Gini rencananya kan Tiara mau dipindahin sekolah saat kelas 11 nanti, jadi gimana kalo sisa-sisa hari nya disekolah kamu jagain dulu ya Tiaranya."
"Baiklah bu."
Setelah orang tua Tiara pergi, mereka melanjutkan aktivitas sekolahnya...
Seperti biasa Tiara selalu ambisius menyimak benar-benar ajaran guru, sambil menyatatnya.
kktlek
Pulpen Tiara jatuh, saat ia mengambilnya.
"Darah ? netes dari mana ?"
Setelah dilihat-lihat ternyata di laci mejanya ada sebuah foto wajahnya disertai bunga dan berbau aneh, alhasil dia langsung berdiri sangat ketakutan.
Kembali lagi aku bersama ibu, aku menangis sekencang-kencangnya merengek ingin pindah karena aku udah berpikiran buruk dulu kalo itu tuh adalah guna-guna atau semacamnya.
......
Berjalan bersama Dimas dan Tiara dipandangi semua penduduk sekolah karena jarang banget Tiara dekat sama laki-laki.
"Kamu pengen jadi apasih kok kayaknya ambis banget gitu ?"
"Emm menurutmu ?"
"PNS ? atau apa ?"
"Aku ingin jadi perempuan serba bisa aja kok."
"Wahh keren."
"Kamu ?"
"Nggak menentu sih, sebenarnya aku pengen jadi pengusaha, tapi sibuk banget latihan karate buat menangin banyak piala."
"Ohh hebat."
Tiba-tiba Viona datang.
"Kamu jahat banget sih ra, udah tahu aku suka sama Dimas kamu kok malah jalan bareng gitu !"
"Enggak gitu maksudku viona, viona !"
Berlari mengejar Viona.
"Vi ? Viona ?"
Eh malah tersesat Tiara, sampai-sampai di sebuah banyak kolam.
Salah satu ini yang tidak diketahui ada kolam pembuangan, bukan yang di atas tapi di bawah, apabila ia tak hati-hati ia akan langsung merosot.
Sampailah Tiara di sekitar kolam besar itu.
"Vi ? Vi !"
"Kenapa sih kan udah bilang kemarin aku suka Dimas."
"Gini lo ibuku tuh nyuruh Dimas cuma jadi pengawalku, aku kan sering di ganggu banyak lelaki, lagian aku akan segera pindah juga."
"Beneran ?"
"Iya."
"Ehh ulat !"
"Aaa!!"
Karena kaget dan langsung menengok ke belakang, Tiara seperti tertarik terperosot masuk ke dalam kolam.
"Tiara !"
Dan setelah dilihat oleh Viona, ternyata dia masih menggantung.
"Sebentar Ra bertahan !"
Nampak sangat kesakitan dan lemas Tiara berkata,"ibu maaf kalo aku nggak bisa hidup lama, untuk menggapai semua keinginan kita bersama, semoga ibu bisa lebih bahagia walau tanpa denganku."
"Edward tolong bantu Tiara !"
"Ha ? kenapa ?"
"Tiara terpeleset tadi."
"Cepet cari bantuan !"
"Iya."
Ketika ia pergi malah tiba-tiba Viona seperti disandung kan oleh sesuatu yang tidak jelas dan membuatnya pingsan ditempat.
"Viona !"
Edward langsung mencari sendiri tali disekitarnya sendirian.
Ditemukanlah dua tali itu, ia langsung menggantungkan ke bawah.
"Pegang talinya Ra !"
Disisi lain Dimas masih menunggu kapan kembaliannya Tiara, karena tidak kunjung kembali ia memutuskan untuk mencarinya tepatnya di jalan yang Tiara lewati tadi.
Sungguh insting yang tepat akhirnya Dimas menemukan juga mereka dan membantu Edward mengangkat Tiara.
Kali ini benar-benar parah, Tiara hampir tenggelam di kolam itu, dan nyawa Viona hampir terenggut.
Tiara berhari-hari hanya menangis trauma dengan kejadian-kejadian itu.
Sampai saatnya ini hari terakhirnya bersekolah disana.
Tiba-tiba ia merasa ketakutan yang berlebihan.
Lagi-lagi semakin kerap dia dipertemukan lagi dengan hantu perempuan itu, membuatnya semakin trauma dan ketakutan, Dimas saat itu belum datang, orang-orang disekitarnya malah tidak peduli Tiara menangis ketakutan malah hanya dilihati.
Sampai Tiara berteriak keras tetap tidak ada yang peduli, kali ini benar parah.
Melepas jasnya Dimas langsung merangkul pergi berlari bersama dengan Tiara keluar sekolah...
"Ternyata dia membawanya ke sebuah masjid."
"Kenapa disini ?"
"Ayo sholat dulu."
Akhir yang sangat bahagia setelah sholat Tiara mengerti dia sepertinya telah dimainkan oleh seuatu yang ghaib dari seseorang, membuatnya tersadar dia kurang mendekatkan diri kepada tuhanya.
Akhirnya si cantik menutup seluruh auratnya, setelah keluar dari sekolah itu ia beralih ke sebuah pesantren sambil pengobatan sihir dibadannya itu.
Dan pelakunnya adalah dia yang pulang sekolah terakhir saat Tiara mengalami peristiwa pembekapan di depan kelas, seseorang yang ikut membantu Tiara naik dari jatuhnya dia ke kolam.
Dari awal semua dugaan itu sudah diketahui oleh Dimas dan karena itu akhirnya dia selalu bisa menyelamatkan Tiara dengan cepat.
Edward ia menyukai Tiara tetapi ia memilih jalan ghaib untuk menempuhnya.
Terimakasih sudah membaca sampai akhir, cek novel yang kubuat ya please bantu 🙏