Aku duduk dikursi yang berada ditaman kota Surabaya. Mungkin hari ini akan turun hujan, mendung sudah berkumpul dan bersiap menyemburkan muatannya. Aku menghela nafas panjang, rasanya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan.
Sejenak aku memejamkan mataku, sambil menikmati udara yang makin dingin. Terdengar suara gesekan biola yang sangat lembut dari dalam taman. Aku membuka mataku dan mulai mencari asal suara itu.
Seorang gadis yang cantik dengar rambutnya yang terurai panjang sedang memainkan biolanya disana. Banyak sekali orang yang berkumpul duduk sambil menikmati alunan biola dari gadis itu. Aku mendekat dan duduk disamping gadis kecil yang memakai baju SMP.
Terlihat semua yang ada disana sedang menikmati permainan sang violin. Karna memang permainannya sangat bagus sampai membuat hatiku merasa nyaman dan memejamkan mataku sambil menikmati permainannya.
" Kakak, baru pertama kesini ya?"
Aku membuka mataku, melihat gadis disampingku seolah bertanya, dia berbicara kepadaku kah.
" Iya...aku bicara kepada kakak."
" Iya...ini pertama kali aku mendengar permainannya."
" Oh...pantas saja."
Aku mengubah posisi dan menatap gadis kecil itu.
" Pantas kenapa?"
" Pantas saja, kakak terbuai alunan musik kak Mirra."
" Mirra..?"
" Iya... nama violin itu Azztmirra. aku pertama kali mendengar kak Mirra main juga kaya gitu."
Aku menatap semua orang yang ada disana, tidak begitu banyak orang namun mereka yang ada disana sangat menikmati alunan biola Mirra. Mirra, aku mulai melihat gadis yang memainkan biola itu. Cantik dan sangat berbakat.
" Kak Mirra..."
Gadis yang ada disampingku tiba-tiba memanggilnya dan tak lama Mirra berjalan perlahan mendekat, tidak tahu kenapa hatiku mulai bergetar. Aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya. Wajahnya yang sedikit cabi dan rambutnya yang terurai yang terbawa angin sedikit menutupi wajahnya yang cantik membuatku ingin sekali mengenalnya.
" Kak, Bagus sekali hari ini."
" Dhira... kenapa kamu tidak pulang, nanti mamamu mencari dan ngomel-ngomel disini."
" Biarkan saja. toh aku gak macam-macam."
Mereka terlihat sangat asik mengobrol sedangkan aku hanya diam dan terus menatap Mirra. Tiba-tiba Mirra menatapku, aku menjadi salah tingkah dan binggung mengalihkan pandanganku.
" Dia siapa, kakak kamu?"
" Bukan, aku juga gak tahu."
Aku menghela nafas panjang dan mendekat sambil mengulurkan tanganku.
" Hallo perkenalkan namaku Juna, Arjuna."
Perlahan dia mulai mengulurkan tangan kecilnya.
" Aku Azztmirra. Pangil Mirra aja."
" Aku Putri. Cahya Putri, tidak kah kakak mau tahu siapa namaku.
Aku tersenyum dan mengelus kepala gadis itu. Benar juga, karna dialah aku bisa berkenalan dengan Mirra. Kami cukup lama duduk bersama dan bercerita. Mirra adalah gadis yang ramah, dia terlihat baik dan lemah lembut. Tidak heran dia bisa menainkan biolanya dengan begitu bagus karna dia memainkannya dengan hatinya.
Sekali lagi Mirra memainkan biolanya. Aku bertepuk tangan dengan begitu semangat, tidak sabar mendengar kembali gesekan biola ditangannya. Tidak hanya aku tapi semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah disana.
Ketika lagu sampai ditengah-tengah hujan mulai turun, semua orang berlari mencari tempat berteduh. Mirra sedang sibuk membereskan biolanya. Aku mendekat dan membantunya, kami berlari kesembuah toko buku yang tidak jauh dari sana. Kami berteduh di depan toko sambil merapikan baju dan mengelap air yang ada ditubuh kami.
Wajah Mirra basah, namun tetap terlihat cantik apalagi dia sedang tersenyum dengan manisnya.
" Kenapa kamu malah tertawa?" tanya ku
" Hujan datang tidak bilang-bilang, biolaku jadi basah."
Terlihat Mirra mengelap biola dengan sebuah kain dengan sangat hati-hati.
" Kamu masih kuliah?"
" Iya..."
" Dimana...?"
" Unesa...kalau kakak, sudah kerja kah? atau masih kuliah juga."
" Di Unesa... yang benar, aku bantu-bantu disana. ambil jurusan apa?"
" Aku ambil jurusan Menejemen Perkantoran dan Bisnis."
" Bisnis, tapi pandai main musik, aku pikir kamu jurusan Seni."
" Gak kak, ini cuma mengisi waktu luang saja."
" Oh...tapi serius permainanmu sangat bagus loh, seperti sudah ahlinya."
Mirra hanya tersenyum, pandangannya terarah kedalam sebuah toko buku yang ada dibelakang kami. Dia merapikan bajunya, memastikan tidak ada air lagi dan masuk kedalam. Aku pun juga mengikuti dia masuk kedalam. Didalam dia melihat buku-buku dan puisi-puisi.
" Kamu suka puisi?"
Mirra tidak menjawab, tapi perlahan dia menganggukkan kepalanya dan mulai mencari beberapa buku puisi. Tapi terlihat air matanya tampak membendung di kelopak matanya.
" Kenapa?"
" Puisi mengingatkanku pada seseorang."
" Pacar?"
Mirra tidak menjawab dia hanya tersenyum dan mengusap air matanya dan berjalan mengelilingi rak-rak buku. Aku hanya mengandai-andai dia pasti menangis karna seorang laki-laki. mungkin pacar atau bahkan mantan pacarnya. Ya aku berharap laki-laki yang membuat Mirra menangis bukan lagi pacarnya melainkan mantan pacarnya. Sejenak itulag yang aku pikirkan.
Hari sudah makin sore, dan hujan belum saja berhenti. Tapi aku senang karena hujan, dia menahan Mirra tetap disini bersamaku.
Mirra beberapa kali melihat jam ditangannya dia tampak gelisah dan mengusap lengannya karena dingin.
" Kamu kedinginan?"
Aku mengambil jaket yang ada ditasku, dan memberikannya kepada Mirra.
" Pakailah, hanya jaket kusam tapi semoga bisa menghangatkanmu."
Mirra tampak ragu, namun perlahan dia mengambil jaket ditanganku dan mulai memakainya. Aku tersenyum dan sangat bahagia. Meski hanya jaketku yang menhangatkan tubuhnya.
Tidak lama berhenti sebuah mobil didepan kami. Seorang laki-laki turun dari dalam mobil membawa payung dan berjalan mendekat.Laki-laki itu menghampiri Mirra, tidak tahu kenapa hatiku sakit melihat dia berjalan mendekat.
" Maaf aku terlambat."
Mirra tidak menjawab dia hanya tersenyum namun sedikit kecewa, Ya aku tahu kalau aku jadi dia aku pun akan kecewa.
lelaki itu melihat kearahku dengan tatapan penuh tanya.
" Ini kak Juna, dia yang menemani ku dari tadi."
" Hallo, aku Asyraaf."
Dia mengulurkan tangannya dan aku pun perlahan mengulurkan tangan dan menjabat tangannya. Tidak lama mereka pun pergi meninggalkan aku sendiri. Tidak tahu kenapa hatiku sakit melihat Mirra berjalan menjauh dariku. Dan aku hanya bisa terus memandangnya yang berjalan menjauh. Tapi tiba-tiba Mirra menoleh kebelakang dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya namun sakit hatiku melihatnya.
Aku pulang kerumah. Meletakkan tasku diatas kasur, aku pun tidur membenamkan wajahku dibantal. Mataku terpejam, namun wajah Mirra terus saja terbayang. Hari ini hari pertama aku bertemu denganya namun wajahnya selalu saja ada dalam pikiranku.
" kenapa selalu wajahnya, padahal dia sudah punya pacar." Gumamku sambil menepuk-nepuk jidat berharap wajahnya hilang dari pikiranku.
Keesokan harinya, aku berjalan ketaman dimana kemarin aku bertemu dengan Mirra, berharap aku akan bertemu dengannya hari ini. Baru satu hari namun aku sudah sangat merindukannya. Padahal aku tahu aku bukan siapa-siapa.
Aku duduk di mana kemarin aku mendengarkan mirra memainkan biolanya. Tiba-tiba dari belakang ada yang mengagetkan ku.
" Kakak sedang apa disini?, nunggu kak Mirra kah?"
" Putri kenapa kamu disini?
" Memangnya tidak boleh, ini kan taman umum. eh kenapa kakak terlihat sedih?"
Aku menghela nafas dan menatap Putri, aku bertanya dalam hati bisakah aku bercerita kepada anak Smp.
" Aku tahu, kak Juna pasti suka kak Mirra kan. Tapi kak Mirra udah punya pacar, mereka pacara udah 4th lebih lo."
Aku menatap Putri bagaimana dia tahu apa yang ada dipikiranku.
" Kenapa kak Juna menatapku seperti itu, benar kan yang aku bilang. Aku tahu, tidak hanya kakak tapi banyak laki-laki yang sudah mendengarkan kak Mirra main biola pasti jatuh cinta."
Aku tersenyum tipis, benar juga apa yang dikatakan Putri. Mungkin tidak hanya aku yang merasakan demikian karena Mirra begitu cantik dan sangat hebat. Apa lagi dia ramah dan baik kepada semua orang. Tidak heran banyak yang jatuh cinta kepadanya.
Aku tersemyum dan mulai berfikir aku harus melupakan dia mulai sekarang.
Hari-hari berlalu, aku tidak lagi melihat Mirra memainkan biolanya ditaman itu, padahal setiap sore aku pergi ketaman itu berharap bisa mendengar Mirra memainkan biolanya. Walau hanya mendengar dan melihat Mirra memainkan biolanya aku sudah bahagia, namun aku tidak sama sekali melihat Mirra.
Aku mulai merindukan gadis itu, aku memejamkan mataku dan mulai mengingat-ingat kembali alunan biola yang dimainkan Mirra dulu. Tiba-tiba suara tidak asing menyapaku.
" Kak Juna, apa yanv sedang kamu lakukan disini?"
Aku membuka mataku dan melihat siapa yang ada disampingku. Betapa kagetnya aku melihat Mirra yang ada disampingku.
" Mirra... kamu disini?"
Mirra hanya tersenyum, aku melihat dia tidak membawa biolanya. Wajahnya terlihat sedih, meskipun dia berusaha tersenyum tapi masih terlihat wajahnya yang sedang sedih.
" Ada apa, aku pikir kamu mau bermain biola disini."
Mirra masih terdiam, dia menunduk dan tiba-tiba air matanya jatuh.
" Cerita pada ku apa yang terjadi mungkin itu bisa membuatmu sedikit lebih baik."
Kami terdiam cukup lama, aku menanti Mirra bercerita kepadaku. Mungkin masih merasa ragu, dan tidak percaya kepadaku. Ya aku sadar kita baru pertama bertemu, bahkan kita belum menjadi teman waktu itu.
" Ya udah kalau kamu gak mau cerita. aku akan menemani kamu menangis, menagislah sepuasmu disini."
Mirra melihatku, dia tersenyum meskipun hanya sedikit. Aku hanya duduk disampingnya bernyanyi walau aku tahu suaraku sangat tidak enak didengar. sambil sesekali melihat Mirra yang masih menitikan air mata walau sudah tidak sesedih tadi diawal. Dia mulai tersenyum mendengarkan aku yang bernyanyi asal-asalan.
" Maafkan aku kak, kak Juna harus melihat aku seperti ini."
" Iya... santai aja."
Mirra menghela nafas panjang, dia mulai bercerita kenapa dia menangis. Aku diam mendengarkan dia bercerita rasa tidak percaya dia mau nercerita kepadaku dan aku sangat senang mendengarkannya.
Aku terdiam, aku mulai merasa sedikit sedih, bahkan tidak hanya sedikit aku sangat sedih mendengar cerita Mirra yang sangat mencintai pacarnya namun dia memutuskan untuk pergi meninggalkan pacarnya karena perbedaan keyakinan mereka.
Mirra tidak ingin perasaannya tumbuh semakin dalam kepada pacarnya tapi tidak ada tujuannya. Yang dimaksud tujuan adalah sebuah pernikahan. Semua pasangan kekasih pasti memimpikan hubungan mereka akan bersatu dalam sebuah pernikahan. Begitu juga dengan Mirra, dia juga berharap hubungan dia dan pacarnya akan bersatu dalam ikatan janji suci sebuah pernikahan, namun bagaimana itu terjadi kalau keyakinan mereka yang berbeda. Makanya dengan berat hati Mirra memilih meninggalkan Asyraaf.
" Kamu yakin."
Aku menatap Mirra dengan sendu
" entahlah kak, tapi aku pikir itu yang terbaik untuk kita."
" Emang kamu bisa?"
Mirra tidak menjawab, dia hanya menatapku. Matanya berkaca-kaca dan aku tahu, dia tidak akan sanggup meninggalkan pacarnya begitu saja.
Aku sangat iri kepada pacar Mirra yang bisa mendapatkan gadis seperti Mirra yang mencintainya dengan tulus, kalau aku jadi laki-laki itu akan ku lakukan semua hal agar aku bisa bertahan bersama Mirra.
Hari-hari berlalu setelah hari itu, aku tidak lagi melihat Mirra, aku selalu datang ke taman. Sekedar jalan-jalan dan berharap aku akan bertemu dengan Mirra disana. Aku sangat penasaran apa yang terjadi setelah hari itu.
" Kak Juna..."
Aku buru-buru melihat kebelakang, berharap Mirra yang memanggilku.
" Putri...." aku sedikit kecewa karna itu Putri bukan Mirra.
" Kenapa kecewa begitu, Nunggu kak Mirra ya. Kak Mirra tidak lagi disurabaya. Dia balik ke Madiun."
" Balik... Madiun, kenapa?"
" Gak tahu..."
Aku sepertinya tahu jawabannya. Mungkin Mirra sedang menghindar atau mungkin dia pergi dan tak akan kembali lagi. Aku memang sedikit kecewa namun aku mencoba menerima kalau memang ini terbaik untuk Mirra.
Ingin sekali ku katakan meski hanya sekali, kalau aku menyukainya. Tapi semua sudah terlambat. Mirra sudah pergi meninggalkan rasa yang tersimpan dihati.
Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengatakan kalau aku menyukainya.
Aku berharap suatu saat nanti aku kembali bertemu dengannya tampa pernah melewatkan waktu untuk mencintainya.
"TAMAT"