..
Ini cerita tentang orang paling nolep, palingmager, mungkin dewanya mager dan paling Astaghfirullah kalau kalian baca sampai akhir.
Terlahir sebagai anak tunggal sampai usia 18 tahun dan kini usianya 19 tahun. Adiknya laki-laki berumur setahun. Berasa ponakan. Ya gak sih? Oke, jadi namanya Neina Resya. Sedang kuliah semester satu fakultas sosiologi yang sekarang sedang hari libur.
Atau lebih tepatnya cuti kuliah sebulan karena Neina capek. Baru semester satu udah capek. Padahal kerjaannya di kelas cuma tidur di kursi paling belakang tepat di brlakangnya Budi yang tubuhnya dua kali lipat tubuh Neina, iya, supaya kalo tidur gak keliatan.
Makanan yang ibunya belikan untuk stock sebulan sudah habis. Dan anak gadisnya hari ini kelaparan. Baru bangun pukul 10 pagi belum mandi dan gosok gigi. Cuci muka apalagi.
Rambutnya aduhai kusut sekusut hubungan Dewi dan Radit, teman sekelasnya. Neina beringsut, sungguh ribet kalo dia pikir harus pergi ke supermarket sendirian takut dijambret. Asli, mager banget.
Lalu dia ngecek hape, banyak notif dari author yang meminta bantuannya membuat cover novel. Hari libur adalah hari rebahan. Maka dalam sebulan ini Neina tidak ambil job design cover. Eh, eh kok pending? "Ya gusti kuota pake abis segala"
Nggak bisa. Perempuan itu nggak akan bisa tahan 2 jam saja tanpa internetan untuk scroll Ige atau main game. Dia langsung bangkit karena sempat menyeret tubuhnya untuk mengambil handuk. Mandi, mandi, pake baju lalu nyisir dan pergi ke konter beli kuota.
Keluar jalan kaki sendirian abis mandi rambutnya basah kayak Aisah kecebur kali rambutnya basah. Jangan diulang. Lagi. Oke, sekarang banyak tetangga yang mulai menyapanya. Ribet banget buat nyautin satu-satu. Yaudah Neina lari aja.
Selesai beli kuota Neina langsung main game sambil jalan pelan. Tanpa sadar banyak segerombolan remaja yang sedang duduk-duduk. Neina gak suka diliatin trus dicatcalling kaya gitu makanya dia lari lagi. Lalu jatuh, celananya robek bagian lutut.
"Na? Kok lu disini?"
Ini Dewa. Sama seperti namanya, Dewa adalah penyelamat hidupnya selama hampir 10 tahun. Teman dari SD yang bagaikan bidadara di surga. Dewa membantunya berdiri lalu membersihkan lukanya yang terkena pasir jalanan.
"Abis beli kuota." jawab Neina.
Dewa tersenyum lebar seraya menepuk pundak Neina bangga, "Bangga gue sama lo. Akhirnya kena matahari siang juga."
"Gue laper" kata Neina lagi.
"Yauda gue gendong sini. Pulang dulu lo-nya"
Dewa menggendong bagian belakang tubuhnya membawa pulang Neina terlebih dahulu. Setelah sampai dia meletakkan perempuan itu disofa panjang ruang tamu. "Mau makan apa?"
"Ayam geprek sama jamur krispi"
Dewa langsung pergi membeli apa yang Neina mau. Sedang perempuan itu lanjut main game. Di rumah Neina sendirian, orangtuanya tinggal di rumah lama. Tentu karena kewalahan harus merawat dua anak. Neina itu super mager. Sekalinya bersih-bersih rumah malah sakit demam. Aneh sih. Tapi memang itu kenyataannya.
Sepulangnya Dewa membawa makanan lalu menyediakannya untuk Neina, Dewa pergi ke kamar perempuan itu. Yang Astaghfirullah udab kayak abis gempa bumi. Berantakan. Kotor. sampah berserakan. Dewa benar-benar membersihkan kamar itu. Sampai kinclong mencorong. Trus dia nyapu juga ngepel. Karena Neina gak bisa diharapkan. Serius deh.
Kasian juga kalau Neina sakit. Dewa yang paling ribet nantinya.
"Na, setidaknya lo taro lah CD lu di ember gitu. Gue kan jadi begimana gitu kalo harus mungutin satu-satu" kata Dewa setelah selesai semuanya.
"Hmm...ribet"
"Na, lo gak mungkin selamanya begini. Lo bakal dewasa juga. Masa iya harus rebahan sepanjang hidup sambik main game?"
"Ya makanya jadiin gue istri lo"
Dewa langsung berdecak, "Dih ogah."
"Yauda angkat gue buat jadi anak lo"
"Nggak mau. Enak aja"
"Yauda lo gak usah nikah. Pelihara gue aja. Gue gak bisa apa-apa tanpa lo" kata Neina lagi.
Oke diskip aja.
Lalu esoknya. Neina sudah mulai kuliah lagi. Berangkat bareng Dewa dan pulang bareng Dewa. Kadang Dewa juga membawakan nasi goreng buatannya untuk sarapan Neina.
Seperti biasa, beli jamur krispi dulu. Gak bosen. Kalo dibeliin sama Dewa. Neina jalan menuju kelas dengan magernya duduk di barisan paling belakang. Menyiapkan posisi tidur untuk pagi yang cerah ini. "Na, besok kuis. Jangan tidur" kata Ijal yang duduk di sampingnya.
"Nanti malem gue belajar"
Ijal memutar bola matanya, mana mungkin, "Yaelah paling lu main homescape sampe jadi istana Inggris."
"Yaudah, kan ada Dewa" jawabnya.
Neina memang sebegitu mengandalkan seluruh hidupnya pada Dewa, calon suaminya, kalau mau. Mereka benar-benar selengket itu. Bahkan Dewa lebih pilih mengantar Neina beli jamur krispi daripada ngedate sama Hanna, pacar resminya hari ini.
Banyak teman kelasnya bingung kenapa mereka gak jadian aja. Padahal kalau kemana-mana berdua. Dewa sampai rela telat datang rapat BEM demi mengantar Neina pulang. Dewa gak mau kejadian yang lalu terulang. Neina naik angkot sendirian lalu dicopet dan dia jatuh karena mengejar copet itu dan akhirnya Dewa telat menemukan dia.
Jadi Hanna harus sabar. Sabar menghadapi Dewa yang lebih memperhatikan Neina. Bahkan di kantin pun, "Na, mau kemana? Bareng gue sama Hanna aja"
"Gue di sini aja. Kalian di sana gih." ini Neina peka, emang harusnya. Neina sudah bosan jadi alasan Dewa putus sama pacar-pacarnya.
Tapi kalau pulang ke rumah dan kebetulan Dewa lagi bersihin kamarnya Neina trus ada ibu, pasti deh. Pasti ibu bakal ngedoktrin Dewa supaya mau nikah sama Neina. Sampai-sampai saat kebetulan jiwa rebahannya hilang beberapa jam dan digunakan untuk menggoreng ikan, lalu Dewa datang. "Tuh liat Wa, Neina udah masakin kamu. Jadi kapan kalian bakal nikah?"
"Nggak akan Tante! Nggak akan!"
"Ayolaaah Wa, tante gak mungkin masih mengurus bayi besar ini. Kalo sama kamu tante percaya 100% Neina bakal selamat"
Tuh, ibunya aja nyerah.
Tapi ini Dewa. Mau gimanapun nggak maunya nikah sama Neina, kalau perempuan itu minta dibeliin jamur krispi pasti akan dia belikan saat itu juga.
Lalu ada kejadian dimana Neina dekat sama seorang cowok berinisial Kennan. Neina sempat beberapa kali pulang sama dia, dibeliin jamur krispi juga lalu diajak makan malam di restoran. Dewa merasa ada yang kosong hari-harinya saat itu.
"Na, udah lah lu mau taken sama Si Ken-Ken itu? Ini ada Dewa. Mau di kemanain?" ledek Ijal.
"Apaan si lu Jal" ini Dewa menjitak kepala Ijal.
"Dia gak mau nikah sama gue" Neina menopang dagunya.
"Ya emang lah" saut Dewa.
"Yauda jadiin gue anak lo"
"Ogah"
"Yaudah pelihara gue"
"Najis"
"Wa--"
"--Nggak akan"
Neina menghela napas, "Dewa gue haus"
"Yauda tunggu gue beliin"
Ijal capek mendengarnya. Ijal kesel. Pengen sleding kepala Dewa yang isinya mental babu begini. Astaga. Susah banget tinggal jadian doang.
Seperti itu. Iya. Seperti itu.
Tapi kadang Neina cuma diam kalau orang-orang menggosip dirinya sebagai benalu bagi hidup Dewa yang sempurna. Dewa itu ganteng, baik, rajin, ramah, sopan, cakep banget, orang kaya, aktif di BEM dan juga berprestasi.
Benar juga. Neina sudah menjadi benalu bagi Dewa yang bidadara surga. Lalu dia mulai menjaga jarak walau sulit. Menahan rasa ingin makan jamur krispi gratis dari Dewa atau digendong Dewa menuju kamar. Seharian Neina lebih diam, tidak banyak menyuruh sampai Dewa bingung.
"Lo kenapa sih?"
"Nggak"
Bahkan sampai dirumah Neina membersihkan kamarnya sendiri. Menyapu dan mengepel seluruh lantai rumah. Tidak lupa memasak juga untuk makannya sendiri. Sampai dia tumbang.
Rebahan gak megang hape cuma berselimut dengan AC menyala. Badannya berkeringat, kepalanya pusing dan belum minum obat. Lalu Dewa datang. Dengan takjup melihat rumah bersih dengan hidangan pecak ikan gurame menghiasi meja makan. Tidak ada sampah berserakan dan cucian yang menumpuk.
"Wiih hebat nih" ucap Dewa.
Dia berjalan menuju kamar Neina. Lalu kaget Neina demam. Bahkan sampai 2 hari. Hanya karena seharian bersih-bersih rumah. "Tuh kan. Ini tuh gara-gara lo jarang gerak Na"
"Hmm. Tau"
Iya, mungkin karena Neina jarang gerak banyak. Makanya sekalinya melakukan hal lebih langsung tumbang begini.
"Gue tau, gue nyusahin lo selama hampir 10 tahun. Gue tau gue ini benalu"
Dewa diam sesaat mencerna kalimat yang diucapkan Neina. Oh Dewa tau, "Siapa yang ngejuliddin lo?"
"Gak perlu tau. Entar kena masalah lagi gue. Ribet"
Hanna. Dewa yakin ini karena Hanna. Maka hari esoknya Dewa ke kelas Hanna yang jurusan Fikom saat jam istirahat. "Hanna. Gue gak suka kalau lo maki-maki Neina sampe bikin dia sakit begini"
Hanna kebingungan, "Hah? Sakit? Gue gak lukain dia, Dewa"
"Gue paham, kalo gue selalu nempel sama Neina. Bahkan lo udah sabar banget sama gue. Tapi ini atas kemauan gue dari kecil, bukan karena paksaan Neina. Gue yang mau jagain dia" jelas Dewa membuat Hanna tambah diam, "Jadi gue gak bisa lanjut. Kita putus aja"
Mereka berakhir setelah tiga minggu berjalin kasih. Memang sudah lima kali Dewa berpacaran tapi selalu berakhir lebih memilih Neina daripada mantan-mantannya itu.
Seperti itu. Iya. Seperti itu.
Sebagian dari masa lalu seorang Neina dan Dewa. Saat ini mereka sudah menikah. Neina punya dua kucing yang menemaninya ngedit cover atau pekerjaan onlineshop di rumah. Dan Dewa sudah bekerja juga. Neina tidak semager dahulu. Karena ada Bibi Nita yang membantunya mengurus rumah.
"Dewa, pulangnya beliin jamur krispi ya"
"Iya sayang"
SELESAI