Ketika parfum dari mantan membawa petaka untuk kehidupan Dinda dan dia tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
***
Dinda baru saja putus dengan kekasihnya. Dia memutuskan hubungan karena tidak di beri restu oleh kedua orang tuanya terutama ibu dari Dina. Hari itu memang hari yang sangat menyedihkan baginya. Bagaimana tidak, dia harus mengakhiri hubungan yang telah dia jalani selama dua tahun lamanya. Hubungan itu harus kandas karena Wayan kekasih Dinda belum mapan. Sedangkan Dinda di desak untuk segera menikah.
“Hiks hiks hks... Kenapa harus begini?”
Isak tangis Dinda sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia menagis berhari – hari di dalam kamarnya. Mencoba mengikhlaskan mantan kekasihnya itu untuk pergi.
Wayan pun juga berusaha untuk membujuk ibu Dinda agar bisa memberinya kesempatan untuk membuktikan kesungguhannya. Namun tetap saja di tolak dengan halus.
Tok tok tok
“Permisi.” Suara Wayan dari depan pintu.
Ini sudah ke lima kalinya Wayan datang ke rumah Dinda untuk membujuk ibu Dina agar memberikannya kesempatan. Biasanya yang membuka pintu adalah ibu Dinda. Namun kali ini yang membuka pintu Dinda sendiri.
Kriet...
“Di-Dinda?” Ucap wayan gugup.
“Maaf Yan. Tolong kamu jangan kesini lagi ya. Gak enak di lihat sama tetangga.” Ucap Dinda sendu.
Perasaan rindu di antara mereka bedua tidak bisa di sembunyikan lagi. Mata mereka saling menatap sayu satu sama lain. Mereka saling berusaha untuk terlihat tegar meski hati hancur berkeping – keping.
“Apa aku sudah benar – benar tidak punya kesempatan?” Tanya Wayan.
Dinda hanya menunduk, dia tidak mampu menjawab da menatap mata Wayan lagi. Mendengar pertanyaan itu dada Dinda semakin sesak. Air matanya mulai memendung di kantung matanya. Dia mencoba untuk menahanya hingga tenggorokan dan dadanya perlahan mulai nyeri.
“Maaf Yan.” Ucap Dinda bergetar.
Dinda mundur beberapa langkah hendak menutup pintu rumahnya. Namun, pintunya terhalang oleh kaki Wayan yang sengaja dia jepitkan.
“Tu-tunggu Din!” Seru Wayan dari balik pintu.
Perlahan Dinda membuka pintunya. Tatapannya masih lurus kebawah. Kemudian Wayan memberikan tas kantung kertas yang dia bawa ke Dinda.
“Tolong di terima. Ini yang terakhir kalinya.” Ucap Wayan.
Dengan sedikit ragu Dinda mengambil kantung kertas itu. Setelah menerimanya, Dinda menganguk dalam tundukannya. Dia sudah tidak mampu berkata – kata lagi. Lalu, dia langsung masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
Setelah menutup pintu, Dinda langsung masuk ke kamar. Menjatuhkan diri ke ranjang, kemudian meringkukkan badannya dan menangis tersedu serta memeluk erat kantung kertas pemberian sang mantan.
Dinda menangis hingga dia tertidur. Saat terbangun matanya bengkak parah hingga matanya menjadi sipit. Dia merenggangkan tubuhnya yang kaku karena tidur dengan posisi yang sama selama satu jam. Kemudian dia teringat kantung kertas pemberian sang mantan.
“Ah iya. Apa ya isinya?” Gumam Dinda.
Ternyata isinya adalah parfum. Parfum yang biasa dia beli bersama sangan mantan. Dinda hanya bisa tersenyum pahit ketika melihat parfum yang mengingatkan kenanganya dengan Wayan.
***
Lima bulan berlalu. Dinda masih dalam situasi yang sama. Terupuruk dalam kesedihan. Berkali – kali dia di jodohkan oleh orang tuanya. Namun tidak ada satupun yang mau dengan Dinda. Selalu ada saja halangannya. Mulai dari wajah Dinda yang tiba – tiba berjerawat parah saat akan di pertemukan, tiba – tiba Dinda menjadi bau badan, wajahnya terlihat kusam sampai ada yang berkata bahwa wajah Dinda berubah tidak sama seperti yang di foto.
“Hiks hiks hiks.”
Lagi – lagi Dinda menangis terisak ini sudah yang ke sekian kalinya Dinda di tolak. Ibu Dinda mencoba menenagnkannya dengan memeluknya erat.
“Coba ibu merestui Dinda dan Wayan. Mungkin ini tidak akan terjadi.” Ucap Dinda di dalam pelukan ibunya.
Ibu Dinda merasakan dadanya sesak. Dia juga mulai ragu akan keputusannya itu. Namun entah kenapa hati nuraninya merasa jika ini adalah hal yang terbaik untuk anaknya.
Saat perjalanan pulang. Dinda bertemu Wayan. Seketika wajah sedihnya berubah menjadi riang. Dia menghampiri Wayan dengan tergesa – gesa. Memeluknya erat dan menangis bahagia di pelukan Wayan.
Keluarga Dinda tidak ada satupun yang melerai. Entah rasa iba atau hal lain, mereka yang menentang hubungan mereka pun saat itu hanya terdiam dan terpaku. Akhirnya Wayan pun ikut mengantar Dinda pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah pun Dinda masih menempel dengan Wayan. Bahkan sampai hari bergantipun Dinda masih merengek ingin bertemu Wayan.
Mama Dinda yang merasa bahwa anaknya berubah. Mulai terlintas banyak kemungkinan di dalam benaknya. Untuk memastikan itu. Dia membawa anaknya ke orang pintar. Dugaan itu ternyata benar.
“Anak ibu kena pelet.” Jawab sang orang pintar itu.
Ibu Dnda terkejut bukan main. Ternyata dugaannya, perasaanya ini benar. Memang hatinya selalu menolak Wayan sejak satu tahun belakang. Mungkin ini penyebab dia tidak mempercayai anaknya kepada Wayan.
“Terus ini harus gimana mbah?” Tanya ibu Dinda.
“Ibu cukup kesini dengan jadwal yang saya tentukan. Saya akan bantu untuk membersihkan pelet itu.” Ucap orang itu.
Ibu Dinda mengangguk paham. Sesuai intruksi dari orang pintar itu. Dinda di bawa ke sana untuk di bersihkan. Ternyata, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membershkannya. Satu bulan lamanya Dinda menjalani alternatif pembersihan badan dari pelet.
Alternatif itu membuahkan hasil. Dinda sudah tidak merengek agar bertemu dengan Wayan. Wajahnya kembali berseri dan normal. Dia kembali mencoba untuk melakukan perjodohan dengan laki – laki lain.
Tidak di sangka perjodohan itu berhasil. Dinda sangat bersyukur. Bahkan calon suaminya itu juga mau memaklumi masa lalu Dinda dengan Wayan. Dia juga mengajarkan kepada Dinda untuk memaafkan perbuatan Wayan. Karena semua itu sudah takdir. Jika tidak begitu, mungkin mereka tidak akan bertemu.