Kamu hitam, jelek, dan rambut keribo. Itu yang selalu aku dengar tiap hari saat di sekolah. Aku Selita yang berumur 15 tahun berasal dari dua keluarga yang berbeda suku. Mama dari Cina dan papa dari Papua. Aku terlahir mengikuti kulit papa hitam.
Dari kecil saat jalan bersama dengan mama selalu saja orang bertanya anak sapa ini? Mamaku menjawab anak saya, papanya hitam. Setiap pertanyaan itu datang aku kadang menangis sedih dan selalu bertanya, "Apa aku salah di lahirkan? Apa mama malu punya anak sepertiku?" Mama selalu berkata "anak mama cantik, biar orang lain berkata apa kamu tetap cantik dengan apa ada nya dalam diri kamu." Kata itu selalu membuatku kuat.
Tapi tidak selalu kuat saat di sekolah aku selalu di hina dan di Katain. Selalu di jauhin terutama teman laki-laki di sekolahku. Mereka tidak ada satupun dari mereka yang mendekatiku, mereka menjauh merasa jijik kalau aku berada di dekat mereka.
"Awas ada Selita datang!" Kata Steve
"Cepet minggir ada virus mau lewat, jangan dekat dengan nya nanti ketularan!"
Kata Steve lagi
Saat aku melewati lorong sekolah mau masuk ke kelas semua menjauh. Dengan berani aku bertanya, "kenapa dengan kalian semua?" "Apa yang salah denganku?" "Kenapa kalian seperti ini?"
Air mataku mau menetes saat bertanya kepada mereka semua.
"Kami takut ketularan hitam nya lu! Jawab Rian
"Lu hitam, jelek, dan rambut keribo! Kata Steve
"Kami takut lu lewat kita Jd jelek, hitam dan rambut keribo kayak lu! Kata Wildan
"Luntungan cewe mana ada cakep nya, di liat dari sedotan aja gak keliatan, item semua." Ucap Steve lagi
Mereka tertawa sepuas nya dan aku menangis sambil berlari ke toilet.
Hariku hancur, kecewa dan hancur.
Selama 3tahun dari aku masuk SMP kelas 1 sampai kelas 3 ini mereka semua laki-laki menjauh dariku. Padahal hanya berjalan saja mereka menjauh. Saat duduk di kelas pun saat pelajaran tidak ada temen laki-laki yang dekat mau di depan, belakang atau samping bangku ku. Tidak ada yang mau berteman denganku. Kecuali ada beberapa anak perempuan dan sahabatku, Susan, Joan, Natalia dan Dewi.
Sahabatku mereka selalu mendukung ku, melindungi ku dan menghibur ku saat aku menangis karena tidak tahan dengan hinaan para anak laki-laki yang terus menerus aku dapatkan.
"Udah Selita jangan menangis!" Kata Natalia
"Lu jangan pikiran kata mereka" kata Susan
Natali dan Susan datang ke toilet juga saat melihatku lari mengghindar dari ejekan anak laki-laki
Aku bersyukur dan berterima kasih Tuhan masih memberi sahabat yang bisa mendukung, melindungi dan menghibur ku didalam aku sedih dan hancur hatiku setiap mendengar ejekan dan hinaan mereka. Belum lagi di saat mereka bermain pasti aku jadi bahan sasaran mereka. Saat bermain bola jika mereka liat ada aku di dekat lapangan arahan bola selalu mengenaiku. Saat mereka main melempar kertas pasti aku yang kena di timpukin. Kalau kertas selembar gak apa, karena gak terlalu berasa. Tapi kalau kertas di Puntel berlapis lapis apa gak berasa? Itu udah pasti sakit banget.
Dasi mereka suka jepret atau di sambut pasti arahan ke aku. Dan banyak hal dalam bermain atau jahilnya mereka ujung-ujung nya aku yang kena
Tiap kali aku jatuh tersandung karena kaki mereka suka menyelengkat atau aku suka di dorong dari belakang tanpa aku sadai aku sudah jatuh ke lantai. Aku sering mengadu ke guru dan guru pun sudah mendamaikan tapi hanya sementara saja kalau di depan guru. Aku juga sering minta pindah sekolah kepada orang tuaku karena sudah tidak tahan lagi. Tapi karena sudah terlanjur sekolah di sana orang tuaku tidak mau memindahkan.
"Apa aku salah terlahir hitam?"
"Apa aku salah terlahir dengan rambut keribo?"
Ini aku dengan apa adanya aku tidak bisa memilih aku di lahirkan dengan siapa, di lahirkan dari keluarga main, dengan warna kulit apa, muka seperti apa dan rambut yang bagaimana. Ini hitam yang tidak aku inginkan tapi ini aku. Aku harus menerima diriku sendiri.
Suatu hari ada teman sekelas yang datang tuk memberi saran. "Selita lu lebih baik punya pacar biar ada yg belain lu, n jagain lu." Kata Adel
"Bener juga tu del." Kata Ike
"Lu katanya suka sama kakak kelas kan yang ganteng itu. Terus juga dia belum punya pacar dan idola banyak cewe lagi. Coba lu tebak kakak kelas itu. Sapa tau lu diterima kan lumayan anak laki-laki pada gak ada yang berani lagi ngatain lu." Saran Adel
"Ia, nanti gua coba saran dari lu Adel"
Saran itu yang aku pikirin karena aku takut itu hanya saran tang buat aku malu.
Sahabatku Susan dan Dewi setuju kalau aku nembak kakak kelas sedangkan Joan dan natali tidak setuju. Tapi aku memberanikan diri 2 minggu berpikir tuk menyatakan cinta ke kakak kelas itu. Kakak yang aku suka itu namanya Fino adalah idola Ade kelas nya. "Kak fino aku boleh ngomong gak sama kakak?" tanya aku ke Kak fino.
"Ia mau ngomong apa?" Jawab Kak fino
"Kaka mau gak jadi pacar aku?" Aku langsung to the poin aja langsung.
"Maaf y gua gak bisa, karena mau fokus belajar dulu." Tolak Kak fino
"Y udh Kak gak apa. Maaf y Kak." Kataku sambil kabur karena banyak yang liat aku nembak Kak fino. Betapa malunya aku, Karena aku berani nembak Kakak kelas. Aku pikir ada bekerja juga kalau aku punya pacar pasti ada yg belain aku ternyata harapan aku terlalu tinggi dan aku juga salah suka dan tembak kakak kelas.
Waktu berlalu semua jadi sudah terbiasa untuk ku. Terbiasa mendengar hinaan dan ejekan dari anak laki-laki dan sudah terbiasa Di Jahili dan jadi bahan ejekan mereka.
Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya buat hati selalu tegar, selalu kuat selalu memaafkan kesalahan mereka, buat hatiku menjadi tidak dendam dengan siapa pun walau mereka menyakitiku. Aku berdoa supaya suatu saat nanti ada orang yang mencintai aku dan menerima aku apa adanya. Tidak memandang status, wajah cantik apa tidak, rambut seperti ala dan warna kulit.