Usia pernikahan ku sudah genap dua tahun. Selama ini aku dan suamiku sangat bahagia, menjalankan hubungan suami istri seperti pada umumnya. Suamiku begitu teramat mencintai ku, sampai-sampai jika aku tersandung sedikit saja dia langsung memarahiku karena kekhawatirannya. Dia sungguh baik, aku beruntung mempunyai suami sepertinya.
Selama pernikahan ku, aku belum juga hamil. Aku dan suamiku sudah melakukannya untuk kesekian kalinya, namun kita belum diberikan keturunan. Aku hanya bisa terus menanti dan menanti, berdoa dan memohon untuk segera mempunyai malaikat kecil.
Namun, akhir-akhir ini suamiku sering marah-marah tidak jelas. Bahkan dia sering pulang larut malam, jika aku menanyakan kenapa dia bisa pulang larut malam, pasti jawabannya sibuk mengurusi berkas-berkas di kantor yang belum dia selesaikan. Aku percaya akan hal itu, aku tidak mau berfikiran negatif kepadanya. Mungkin saja itu memang benar.
Pagi hari pun tiba, seperti biasa aku bangun lebih awal dari suami ku. Menyiapkan pakaian untuknya, setelah itu aku bergegas membuat sarapan.
Mas Theo keluar dari dalam kamar, dia sudah rapih dengan memakai baju yang sudah ku siapkan tadi. Aku tersenyum padanya, "Aku sudah masak makanan kesukaan mu, mas," ucapku.
Mas Theo hanya menatapku sekilas, dia kembali fokus memasang dasi. Aku yang melihatnya berinisiatif untuk membantunya memakaikan dasi. Akan tetapi saat aku akan menyentuh dasi itu, mas Theo menepis tangan ku.
"Aku tidak membutuhkan bantuan mu!"
Aku menghela nafas sambil mengangguk mengerti. Sampai kapan kau akan bersikap dingin seperti ini mas? Aku merindukan dirimu yang dulu. Kau yang selalu bersikap hangat nan halus penuh kasih sayang.
Aku mencoba tidak bersedih dengan sikap suamiku, aku sudah sangat mencintainya. Apapun yang dia lakukan padaku, aku tidak akan memasukannya kedalam hati. Mungkin mas Theo tengah banyak pikiran. "Sarapan dulu, mas," ucap ku sambil tersenyum.
Mas Theo melirik sekilas, "Aku sudah terlambat, aku makan nanti saja di kantor," ucapnya.
"Kalau begitu aku buatkan bekal untuk mu," tawar ku seraya menyiapkan bekal untuknya.
"Tidak perlu. Aku akan makan diluar saja," tolak mas Theo.
Aku merasa sedih, aku sudah membuatkan makanan kesukaannya, namun dia tidak memakannya. Dan yang membuatku sakit hati, mas Theo tidak mau ku buatkan bekal. "Lalu bagaimana dengan semua makanan ini, mas?" ucap ku.
"Ck! Kau makan saja sendiri!" Mas Theo berlalu pergi setelah membentak ku.
Aku tersenyum getir, menatap makanan yang tertata rapih di meja makan. "Hiks... kenapa kau jadi seperti ini, mas," tanpa sadar air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku cepat-cepat menghapus jejak air mataku. "Aku tidak boleh bersedih, mas Theo tidak mengatakan dia tak mau memakan masakan ku. Dia sudah bilang kalau dia terlambat. Aku harus memahaminya,"
_________
Jam sudah menunjukan pukul 23.11 namun mas Theo belum juga pulang, aku duduk menunggunya, sesekali aku melirik pintu, berharap dia pulang. Mataku sudah sangat berat namun aku berusaha menghilangkan kantuk ku itu, aku tidak mau tidur sebelum suamiku pulang. Kulihat kembali jam sudah hampir tengah malam.
Hatiku jadi resah, takut jika suamiku kenapa-napa. Aku berdoa dalam hati, semoga mas Theo baik-baik saja.
Tidak lama setelah itu, pintu terbuka menampakan seorang pria yang sedari tadi sudah kutunggu kepulangannya. Aku beranjak berdiri dari duduk ku, langsung saja aku menghampirinya. "Mengapa kau selalu pulang selarut ini, mas," tanyaku seraya membuka jasnya.
"Menyingkirlah!" mas Theo mendorongku menjauh darinya. Aku mencium bau alkohol ketika dia berbicara. Dia tengah mabuk?
"Mas, kau meminum alkohol?" tanyaku hati-hati.
Mas Theo menatapku dengan sinis. "Bukan urusan mu!" Mas Theo berjalan dengan sempoyongan, aku yang melihatnya berinisiatif membantunya. Namun lagi-lagi dia mendorong tubuhku. "Sudah kubilang menyingkir bodoh! Ingin sekali kau menyentuh ku!" bentaknya.
"Aku hanya ingin membantu mu, mas! Apa itu salah?!" tanyaku sedikit menaikan suara.
"Kau sudah berani berbicara seperti itu?! Jujur saja kau ingin menyentuh ku!" Aku yang mendengar perkataan mas Theo hanya bisa menahan kesedihan ku, menahan semua rasa sakit yang menyerang hatiku karena perlakuannya sungguh teramat menyakitkan. "Atau kau memang mau ku sentuh?! Cih, jangan harap aku sudi melakukan hubungan badan bersama mu! Tidak ada gunanya aku bercinta dengan wanita mandul seperti mu!"
Deg
Ucapan yang terlontar dari mulutnya bagaikan tombak menusuk tajam dadaku hingga menembus punggungku. Rasa sakit di hatiku bertambah berlipat ganda. Aku tak menyangka dia akan mengatakan hal semacam itu. Aku menangis bahkan sampai terisak, siapa yang tidak sakit hati jika disebut mandul? Apalagi yang mengatakannya suaminya sendiri.
"Kau memang wanita cacat! Sial sekali aku mempunyai istri seperti mu!"
Aku menutup kedua telingaku, mendengar cacian suamiku membuat jiwa raga ku sakit. Mengapa mas Theo bisa sejahat ini, dulu dia tidak pernah berbicara kasar seperti itu. Bahkan mas Theo lah yang selalu menguatkan ku supaya tidak menyerah, namun sekarang? Dia sendiri yang membuatku pasrah.
"Berhentilah menangis bodoh! Kepalaku pusing mendengar isakan sialan mu itu!" geram mas Theo.
"Jahat!" lirihku.
Katika aku hendak pergi meninggalkannya, dia menarik tanganku, "Apa lagi hiks? Kau belum cukup menghina ku?!" Aku menatap mas Theo dengan deraian air mata.
"Kau mau ku sentuh bukan?!" Mas Theo menarik ku masuk kedalam kamar, dia mengunci pintunya. Aku merasa takut ketika mas mendekatiku, "Kenapa kau gemetar? Bukannya kita sering melakukannya, lalu mengapa kali ini kau terlihat ketakutan?!" sentak mas Theo.
Aku takut karna sekarang dirimu tengah mabuk, dan kata-kata mu tadi membuatku takut, kau seperti bukan dirimu lagi, mas.
Mas Theo mendorongku hingga aku terjatuh diatas ranjang. "Berhentilah menangis!" geram mas Theo.
Malam itu adalah malam yang begitu menyakitkan untuk ku, mas Theo memberikan kesakitan dua kali lipat padaku. Pertama kata-katanya, dan yang kedua dia bermain dengan kasar sembari memaki dan menghina ku, jikalau aku hanyalah seorang istri yang cacat.
Dua hari telah berlalu setelah kejadian itu, dan dua hari pula mas Theo tidak pulang. Aku mengkhawatirkannya, sudah ku hubungi dia namun tak ada jawaban. Kemana sebenarnya mas Theo pergi?
Handphone ku berdering, aku segera mengeceknya. Siapa tau mas Theo menelfon ku. Tapi dugaan ku salah, panggilan itu bukan dari suamiku, melainkan teman ku Shinta.
"Hallo, kenapa Shin?" tanyaku.
"Olive, sekarang kau berada dimana?"
"Aku sedari tadi dirumah. Memangnya ada apa?"
"Lalu siapa yang tengah bersama suamimu?"
"A-apa maksud mu?"
"Aku melihat suami mu makan bersama wanita lain, aku kira itu engkau."
Nafasku mulai tidak beraturan, mendengar ucapan Shinta, tidak mungkin. Itu tidak mungkin, mas Theo tak mungkin menghianati ku.
"Kau serius, mungkin kau salah orang. Suamiku tidak seperti itu, Shin."
"Jika kau tidak percaya, datanglah ke kafe**"
Aku langsung memutuskan panggilan tersebut, dengan tergesa-gesa aku pergi keluar dari rumah ku, sampai aku pun lupa untuk menutup pintunya karena saking terburu-burunya.
"Pak, cepat antarkan aku ke kafe**," ucapku kepada supir pribadi ku.
"Siap nyonya,"
Di dalam perjalanan, hatiku merasa tak enak. Semoga yang dikatakan Shinta tidak benar. Bisa jadikan wanita itu rekan bisnis suamiku?
Setelah beberapa menit aku pun sampai di kafe yang diberitahukan oleh Shinta. Aku langsung masuk kedalam dan mencari keberadaan suamiku.
Dimana? Mana mas Theo? Aku tidak melihatnya, mungkin Shinta hanya salah lihat. Setidaknya hatiku merasa tenang sekarang, aku sudah bilang mas Theo pasti tidak akan mengkhianati ku.
"Olive!"
Aku menoleh kearah sumber suara, terlihat Shinta melambaikan tangannya padaku. Aku berjalan menghampirinya. "Kau mengerjai ku ya?" ucapku setelah berada dihadapannya.
"Dimana matamu, Liv?" ujar Shinta. "Lihatlah dipojokkan sana, bukankah itu suami mu?" Aku mengikuti arah pandang Shinta, mataku langsung terbelalak. Benar, dia mas Theo. "Bagaimana, kau percayakan sekarang?" tanya Shinta.
Aku tidak menjawabnya, aku langsung menghampiri suamiku. Debaran jantungku mulai berdegup kencang setelah berada diantara mereka. Suamiku tengah memakaikan cincin di jemari wanita itu. Mataku seketika memanas melihatnya, aku harap ini hanya sekedar mimpi buruk saja. Kenapa dia tega mengkhianati ku?
"Mas..." gumamku begitu lemas.
Mas Theo dan wanita itu melirik padaku, "Sedang apa kau disini?" tanya mas Theo.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, mas," aku tak sanggup lagi membendung air mataku. Aku menangis tanpa suara sembari menatap suamiku. "Jadi ini yang kau lakukan dibelakang ku? Ini alasan mengapa kau selalu pulang malam..." lirihku.
Mas Theo tersenyum kepadaku, "Kau benar, sangat benar. Memang inilah jawaban dari semua pertanyaan mu itu, dan perkenalkan." Mas Theo mengambil tangan wanita itu, lalu dia mencium punggung tangannya dihadapan ku. "Dia Sonya, calon istri ku."
Deg
"Dan dia adalah calon ibu dari anak-anakku kelak," lanjut mas Theo.
Mendengar ucapannya membuat hati ku teramat sakit. Mataku tak henti-hentinya menangis, isakkan yang ku pendam mulai terdengar. Pandanganku beralih kepada wanita yang bernama Sonya itu, "Kau seorang wanita sama sepertiku, mengapa kau tega menghancurkan rumah tanggaku, dan merebut suamiku?" ucapku lemas.
Sonya tersenyum mengejek padaku, "Aku tidak merusak rumah tanggamu, dan aku juga tidak merebut suamimu. Kau sendiri yang menghancurkannya, karena kau tidak bisa hamil. Mana ada pria yang mau bertahan dengan dirimu, wanita cacat!"
Aku tidak tahan lagi dengan ucapan mereka berdua, aku bukan wanita cacat! Tuhan belum memberiku kepercayaan untuk mengandung, bukan berarti aku tidak bisa hamil, karena aku bukan wanita cacat seperti yang mereka pikirkan.
"Akurlah dengan wanita baru ku, Olive!" ujar mas Theo.
Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah, wanita mana yang mau dimadu? "Mengapa kau tidak bisa bersabar, mas? Apa kau tidak percaya jika suatu saat nanti kita akan memiliki buah hati?" tanya ku.
"Sampai kapan aku harus bersabar, Olive?! Kesabaran seorang manusia itu terbatas! Aku tidak bisa bersabar selama itu!" tegas mas Theo.
Tak kuasa lagi aku berada disini, rasanya oksigen didalam kafe ini begitu sedikit, membuat ku sesak. Aku berlari pergi dari hadapan mereka berdua, air mataku menetes disepanjang jalan keluar. Rasa sakit yang tidak tertahankan ini sungguh membunuhku. Jika saja bukan hatiku yang terluka, pasti aku dapat mengobatinya dengan mudah.
_
_
_
_
Tinggalkan jejak anda ya🤗 supaya season 2 hadir dengan cepat💕