Di hiananati oleh dua orang yang amat di percaya dan di cintainya. Lebih dari itu Laras Juga harus meninggalkan dunia ini dengan cara yang sangat sadit dan tidak terhormat.
Pagi itu, Laras datang membawa sekotak bekal untuk kekasihnya yang bernama Putra. Laras dan Putra sudah menjalin hubungan selama 5 tahun.
Tahun ini, Purtra dan Laras akan melanjutkan hubungan ke jejang yang lebih serius. Persiapan pernikahan sudah di persiapkan. 80% proses perencanaa, gedung dan undangan sudah hampir jadi.
Saat di depan pintu kartor Putra. Laras mendengar suara Putra bersama seorang wanita tengah mengobrol bersama.
Awalnya Laras akan langsung masuk kedalam. Namun, Laras tak menduga. Dirinya mendengar obrolan yang mengagetkan.
"Sayang, kapan kau akan bertanggung jawab! Aku tengah mengandung anak mu! Tapi mengapa kau malah menikahi jalang itu! Bukan kah kau bilang hanya bermain-main dengannya sajah?" ucap wanita itu.
"Sayang sabarlah, kau tahu bukan ia anak sah dari keluarga Wijaya. Orangtua ku memaksa menikahinya! Tunggu sampai aku menghancurkan dirinya, barulah setelah itu aku menikahimu dan membesarkan anak kita bersama." ucap Putra.
"Benarkah sayang?" terdengar nada gembira dari wanita itu.
Kotak bekal yang Laras pegang terjatuh dari gengamannya. Laras mendobrak pintu itu.
"Brakk!!"
Mata Laras teperangan melihat siapa wanita yang bersama dengannya.
"Sinta!" getir Laras mengucap namanya.
Sinta dan Laras ialah teman baik dari semasa mereka Sekolah Menengat Atas samapi mereka kuliah juga bersama dan lulus bersama. Kedua orangtua Laras sudah menganggap Sinta seperti Anaknya sendiri. Laraspun sudah Sinta seperti saudarinya sendiri. Namun, siapa sangkah bahwa kebaikan yang selama ini Laras berikan akan di balas dengan sebuah penghianatannseperti ini. Terlebih dua orang yang Laras cintai dan percaya yang menyakitinya, menbah luka goresan di hati Laras begitu dalam.
"Sinta mengapa kau berbuat seperti ini! Apa salahku! Mengapa kau menghianati persaudaraan dan pertemanan kita selama ini!" bentak Laras.
"Hah! Persaudaraan? Aku tak pernah mengaggap dirimu sebagai saudariku! Kau itu hanya wanita munafik! Tersenyum di depan tetapi menjelkkan diriku di belakang! Kau terlahir kaya dan Aku miskin! Kau terlahir di keluarga yang menginginkanmu! Tapi aku! Tak ada yang mengiginkanku! Kau di penuhi kasih sayang sejak kau lahir! Sedangkan diriku, di benci dan di buang sejak aku lahir! Mengapa dunia begitu tidak adil! Mereka yang baik selalu datang menghapirimu tapi mereka yang hanya memanfaatkan dan merendahkannku selalu datang mendekat kepada ku! Mengapa! Padahal Aku jauh lebih dari segalanya di bandingkan dirimu! Wajahku lebih cantik, tubuhku juga lebih seksi dan menari! Tapi mengapa mereka lebih suka dengan wanita seperti mu. Tapi hari ini aku pemenangnya! Aku yang mendapatkan Putra. Dan kini Akupun tengah mengandung anaknya. Anak kami!" ujar Sinta tersenyum sinis.
"Sinta, aku tak menyangka sepicik itu fikiranmu selama ini kepada ku! Aku masih tak mengerti mengapa kamu sebegitu tak menyukai diriku! Sinta yang ku kenal selama 8 tahun ini, dengan Sinta yang ada di hadapanku saat ini sungguh berbeda! Aku malah tak mengenali dirimu yang kini ada di hadapanku! Apakah aku terlalu bodoh ataukah diriku yang selama ini terllau mempercayaimu, yang membuatku tak dapat mengenali wanita berduri yang berada di sampingku selama ini." ujar Laras.
"Dan kamu, aku kira selama ini hubungan kita nyata! Aku kira kamu memang lelaki yang baik yang telah Allah kirimkan untukku. Tapi nyatanya kau hanya lelaki berengsek yang tak tahu malu! Lelaki bermuka dua! 5 tahun kita menjalin kasih, kukira aku sudah mengenal dirimu. Lelaki baik dan penyayang, sopan dan perhatian. Namu, itu semua hanya topeng yang kau perlihatkan untuk menutupi sosok dirimu yang sebenarnya! Dirimu yang munafik! Kotor! Menjijikan! Bayangan mengenai dirimu yang selama ini aku bayangkan menjadi hancur berkeping-keping!" ucap Laras.
Air matanya tak dapat Laras bendung. Air mata itu tumpah membasahi kedua pipi mulus Laras.
Laras pergi dari ruangan itu dengan penuh kekecewaan dan luka di hatinya.
Saat malam harinya, Laras menangis dengan tersedu-sedu. Kedua orangtua Laraa kawatir dan menanyakan apa yang tengah terjadi dengan Laras. Namun, Laras hanya mengatakan tak apa apapun. Dan segera masuk kedalam kamarnya.
Saat tengah malam, Laras kini sudah terlelap tidur karena lelah menangis sepangang hari.
Sekitar pukul 02 :00 dini hari, Laras mendengar keributan di lantai bawah. Namun, Laras tak pergi untuk menghampiri sumber suara.
Namun, tanpa di duga. Pintu kamar Laras di dobrak keras.
"Brak!"
Karena kaget Laras terbangun dari tidurnya,dilihatnya dua pemuda bertubuh kekar, berdiri di hapan Laras.
"Si-siapa kalian!" tanya Laras.
"Haha ... Hai Nona cantik! Jangan takut kami dengan khusus menhemputmu." ucap salah satu pria itu.
"Tidak, Ayah! Ibu!" teriak Laras. Namun, semua sia-sia. Tak ada respon apapun dari Ayah dan Ibunya.
"Kemana Ayah dan Ibuku! Apa yang kalaian lakukan kepada jedua orangtua ku!" tanya Laras.
Bayangan dan fikiran negatif mulai muncul di dalam benaknya.
"Ayah, dan Ibumu ya? Emm... Gimana yah?" ucap pria itu.
"Haha ... Jika mau tahu lebih baik ikut dengan kami, turun kebawah. Agar kau bisa memastikan sendiri kondisi Ayah dan Ibumu!" ucap pria yang lainnya.
Laras menuruti ucapan kedua pria itu dan keluar dari kamar rumahnya. Saat menuruni tangga perasaan tak enak yang Laras rasakan semakin kuat.
"Ayah, Ibu, semoga kalian baik-baik saja." batinnya terus berjata demikian.
Namun saat Laras tiba di lantai bawah, betapa terkejut dan tak percayanya Laras dengan apa yang ia lihat.
"Ayah! Ibu!" teriak hesteris Laras.
Laras mendekati kedua Ayah dan Ibunya yang sudah tak bernyawa tergeletak di bawah lantai dengan luka tusukan di dada dan perut Ayah dan Ibunya.
Tangan Laras begetar, melihat noda darah yang menepel di kedua telapak tangannya.
"Tidakk!!! Ayah!! Ibu!! Mengapa! Mengapa jadi begini? Apa salah kami!" tangis Laras.
"Jangan tinggalakan Laras Ayah, Ibu. Laras tak tahu harus apa tanpa kalian. Bawa Laras juga! Laras ingin ikut pergi dengan Ayah, dan ibu!" ucapnya.
"Apa yang kalian tunggu! Mengapa tak membunuhku juga!"
"Jangan kawatir, Nona. Giliranmu sebentar lagi tiba. Tapi sebelum itu. Kamu harus ikut dengan kami." kedua pria itu menyeret paksa Laras.
"Tidak! Aku ingin bersama dengan kedua orangtua ku! Lepas ... ! Ayah, Ibu !!" ucap teriak Laras.
Saat di dalam mobil Laras mengis terseduh-seduh, dirinya sama sekali tak membayangkan dengan semua tragedi yang menimpanya. Dirinya berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Mobil berhenti di sebuah rumah tua.
"Keluar!" ucap pria itu.
Laras keluar dari mobil. Dilihatnya sekeliling tempat. Kini Laras berada di dalam hutan. Dandi dalam hutan terdapat rumah tua terbuat dari kayu yang sudah lama tak di huni.
Laras berjalan mengikuti arahan kedua pria itu, saat sampai Laras di bawa ke dalam kamar. Agar Laras tak tabur, kedua tangan dan kaki Laras diikat.
"Tuk, tuk,tuk."
Laras mendengar bunyi langkah kaki seseorang. Dilihat orang itu.
"Kau!"
Ia adalah Putra. Manta kekasihnya yang telah menghianati hungan mereka.
"Halo, sayang." ucap Putra menyentuh dagu Laras.
"Hum!" Laras membuang wajahnya.
"Hahaha ... Kau masih saja jual mahal!"
"Cuih!" Laras meludahi wajah Putra.
"Plak!" tamparan keras mendarat di pipi Laras membuatnya mengeluarkan noda darah.
Purta mendekati tubuhnya, tangan Putra memeggang sebuah gunting.
"Apa yang ingin kau lakukan! tanya Laras takut.
Namun Putra tak menjawab ia hanya memberi senyuman kecil di bibirnya, dan kemudia dirinya memotong pakian yang Laras kenakan. Hingga Laras, telanjang bulat tapa sehelai pakain pun di tubuhnya.
"Kau sangat cantik, Laras." ucap Putra.
"Tida-k! Jangan lakukan itu! Ku mohon ampuni aku!" ucap Laras.
"Haha ... Mengapa sudah begini baru kau memohon? Ku terima peemohonanmu tapi maaf sayang. Aku lebih memilih menyetubuhimu.
"Hiks! Hiks!" Air mata Laras terus keluar dari kedua matanya.
Tubuh Laras kinj telah ternoda, kesuciannya telah di renggut, kedua orang tuanya telah di bunuh oleh orang-orang suruhan Putra.
1 bulan kemudian Laras mengandung anak Putra. Sebelum Laras mengetahui kabar kehamilannya. Laras selalu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Dari ingin mati meminum racun, bunuh diri dengan loncat dari atas atas kamarnya yang ia tempati saat ini, mengambil pisau dari dapur atau memecahkan kaca untuk menyayat urat nadinya, tapi semua gagal. Sampai Lara tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Laran kini mencoba untuk bertahan hidup. Sampai kandungannya memasuki usia 5 bulan.
Di tempat lain, musibah terjadi kepada Sinta, akibat Kecelakaan yang terjadi pada dirinya, Sinta harys rela kehilangan bayi yang ia idamkan. Dan tidak hanya itu ia juga harus mendengar bahwa dirinya takkan bisa mengandung kembali, akibat kecelakaan itu, selain kehilangan bayin yang akan lahir sebulan lagi, rahim Sintapun harus di angkat oleh dokter, jika tidak maka akan menimbulkan tumor di dalam rahimnya itu. Sinta sempat menolak, namun apa daya dirinya akhirnya mengiakan untuk kehilangan rahimmnya.
Aetelah kejadian itu, Putra mulai melihat Laras. Terlebih perut Laras yang semakin lama sakin membuncit menyebabkan Laras mualai sulir bergerak, menjadi daya tarik tersendiri untuk Putra.
Tanpa ia sadari kakinya melangkah mendekati Laras.
Laras yang melihat menjadi ketakutan ia, wajahnya pucat sepeertu kertas, Laras memegang perutnya, melindungi anak yang masih di dalam kandungannya.
Putra pun tersadar, dan melihat Laras yang terganggu dengan kehadirannya.
Putra ingin menyentuh perut Laras, namun dengan cepat Laras menepis tangan Putra.
"Jangan sentuh anakku!" katus Laras.
"Mengapa? Bukankah dia juga anakku? Tanpa diriku, kau takkaan bisa menhadung anak ini!" ujar Putra.
Laras mengigit bibir bawahnya. Tangannya meremas baju yang ia kenakan.
"Kau harus kuat, Laras. Ini demi anakmu." batin Laras.
Laras bangun dari duduknya dan bergegas pergi, namun langkahnya terhenti, Putra memegang tangan Laras kencang.
"Ah!" pekik Laras saat tangannya di pegang Putra.
"Siapa yang menyuruhmu pergi! Jika kau berani pergi dari tempat ini, maka kupastikan kau dan anakmu akan menyusul Ayah dan Ibumu!" ucap Putra.
Laras yang mendengar, mendudukan kembali dirinya. Membiarkan Putra mengelus dan menciumi perut Laras.
"Kita kasih nama apa yah, untuk anak pertama kita?" tanya Putra.
Laras hanya diam pandangannya seakan pergi entah kemana.
"Bagaimana jika ia laki-laki kita beri nama Leo Putra Pratama, jika ia anak perempuan akan ku beri nama, Tika Laras Ayu. Nama yang Cantik bukan?" ucap Putra seakan tak pernah mekukan sesuatu yanhvsalah kepada Laras.
" ... "
"Mengapa kau dari tadi hanya diam?!" tanya Putra.
"Lantas apa yang harus akau ku katakan? Apa aku harus tersenyum dan menganggap bahwa kita adalh keluarga bahagia? Pasangan yang saling mencintai?" ucap Laras.
Laras pergi meninggalkan Putra, tapi sebelum itu. Laras membalikkan tubuhnya dan berkata.
"Sampai mati aku akan menyimpan dendma ini, jika kau tak suka kau boleh membunuhku sekarang juga."
3 Bulan berlalu, kandungan Laras memasuki usia 8 bulan, saat 3 bualn belakangan ini, sikap Putra semakin hangat dan perhatian akan kondisi dan keadaan Laras. Namun, semua itu tak membuatnya menghilangkan rasa benci akan apa yang telah Putra lakukan kepada dirinya dan kedua orangtuannya.
Namun, 8 bulan cukup lama bagi Putra bisa bertahan menyembunyikan kehamilan Laras dari Sinta. Tak tahu dari mana Sinta mendengar kabar bahwa Laras tengah mengandung anak dari lelaki yang ia cintai, yaitu Putra.
"Pang!" baranga-barang seisi kamar Sinta banting dan buang.
Putra masuk kedalam kamar Sinta, yang kebetulan hari ini Putra datang menjenguk keadaan Sinta, katena sudah 3 bulan ini dirinya terfokuskan pada kehamilan Laras.
"Krek."
"Sinta! Apa-apaan semua ini!" ucap Putra.
"Hah! Apa-apaan! Kau yang apa-apaan! Selama ini kamu membohongi ku! Kamu menyembunyikan kehamilan wanita jalang itu!" ujar Sinta.
Putra tersentak diri