"Menangis lah Nay, jika itu bisa membuat mu tenang dan setelah nya kau akan kembali kuat dan melupakan Abian" Hibur ku pada Kanaya, sahabatku yang baru putus cinta.
" Bagaimana mungkin aku bisa melupakan nya Sar, dua tahun bukan waktu yang singkat aku bersama nya. Dan sekarang dengan mudahnya dia meninggal kan aku tanpa mau mendengarkan penjelasan ku." Ratapnya dalam kesedihan yang mendalam.
" Justru itu Nay, tidak kah kamu sadari ada yang janggal disini? Apa kamu gak pernah berfikir kalau itu hanya alasan Abian untuk pergi. Mungkin ada yang lain menunggunya, jadi dia mengkambing hitamkan pertemuan mu dengan Gavin yang tanpa sengaja itu." Ucap ku yang semakin membuat nya menangis tersedu.
" Kalau dia memang mencintai mu, pasti dia akan mengerti tentang kedekatan mu dengan Gavin. Bukankah kalian sahabat lama?" Lanjut ku lagi.
" Kamu benar Sar, tapi untuk menerima kenyataan ini rasanya terlalu berat" Ucapnya, akhirnya dia setuju dengan pendapat ku.
Aku terus menemani dan menyemangati sampai akhirnya Kanaya tertidur bersama kesedihan nya.
' Maafkan aku Nay, aku melakukan ini agar kamu pun bisa merasakan kepedihan hidup yang tak pernah ku lihat dari mu selama ini' Batinku.
Ya, semua yang terjadi dengan Kanaya dan Abian hari ini adalah buah dari usahaku selama ini. Aku adalah orang yang dianggap sahabat baik olehnya dan dengan tega menusuknya dari belakang.
Tapi semua aku lakukan bukan tanpa alasan. Semenjak aku mengenalnya lima tahun yang lalu, tak sekalipun aku melihat dia merasa kan beratnya kehidupan. Dia dengan mudahnya mendapatkan apa yang dia mau. Tuhan menganugerahkan kesempurnaan padanya dan itu membuat ku cemburu.
Selama jadi sahabat nya tak sekalipun dia menyakiti hati ku, bahkan dia selalu menjadi penolong ku. Hutang budi, mungkin itu lah yang terjadi meski dia tak menganggap nya begitu. Tapi kebaikan Kanaya ini justru membuat rasa iri di hatiku semakin tumbuh dengan subur.
Berbagai macam cara aku lakukan untuk membuat nya menderita, tapi baru kali ini keberuntungan berpihak kepada ku.
Tak sia sia aku dengan sabar menanamkan kecurigaan di hati Abian selama ini. Dan bukan tanpa sengaja Abian menemukan Kanaya sedang bersama Gavin siang itu. Itu semua adalah berkat aku. Aku yang menelpon Abian dan tak lupa menyulut api cemburu di hatinya terlebih dahulu. Tentu saja dengan menyamar jadi orang lain. Hasilnya? Emosi Abian telah mengantarkan ku ke impian terindahku.
Sekarang tinggal selangkah lagi, aku akan mendekati Abian. Dengan simpati yang pura-pura, dan perhatian yang akan selalu aku berikan, aku yakin akan merasakan juga menjadi kekasih pria tampan dan kaya raya itu.
Hari demi hari aku lalui dengan selalu menemani Abian, dengan pura pura simpati atas kandasnya hubungan mereka. Sepertinya aku berhasil membuat Abian jadi ketergantungan terhadap ku. Ternyata laki laki ini menjadi rapuh semenjak perpisahan nya dengan Kanaya.
Sampai suatu hari, Kanaya melihat ku dengan Abian sedang makan bersama. Setelah ini, Kanaya pasti akan marah dan membenciku. Ini akan menguntungkan ku karna hal itu akan membuat aku lebih leluasa bersama Abian tanpa perlu pura pura menjaga perasaan nya lagi.
Tapi semua tak sesuai harapan ku. Kanaya datang menghampiri kami, aku persiapkan diri dan mental jika Kanaya akan memaki bahkan mungkin menjambak ku di depan orang rame ini. Lagi lagi aku salah.
" Ternyata kamu benar Sar, Abian telah ada yang menunggu sehingga dia menjadi kan pertemuan ku dengan Gavin alasan untuk berpisah. Dan lebih mengejutkan nya lagi, orang yang menunggu itu ternyata kamu." Ucap Kanaya lembut tapi menusuk sampai ke ulu hati. Aku tak bisa menjawab apa apa karna ini di luar skenario yang aku bayangkan.
" Maksud kamu apa Nay?" Tanya Abian.
" Coba kamu tanya Sarah Bi, karna aku pun belum mengerti aturan main yang di ciptakan Sarah." Ucap Kanaya lagi.
" Oh, aku mengerti sekarang. Kamu menginginkan Abian? Bukan begini caranya Sar. Kamu tinggal bilang aku Sar. Apa ada permintaan mu selama ini yang tak aku penuhi? Aku bahkan rela jadi lilin yang meleleh demi memberikan penerangan. Aku sahabat kamu Sar" Lagi lagi Kanaya berbicara penuh kelembutan tapi menyayat hati.
" Ya, kamu benar Nay. Aku lah orang yang di belakang layar selama ini. Aku hanya ingin bisa menjadi kamu Nay, sebentar saja" Aku mengakui saat melihat Kanaya akan beranjak pergi.
Braaak... Aku terkejut saat Abian menggebrak meja dengan emosi yang tak bisa di sembunyikan lagi.
" MANUSIA SETAN" Makinya pada ku sambil berlalu. Pasti dia akan mengejar Kanaya.
Kandas sudah impian ku yang hampir dalam genggaman. Ternyata kebaikan hati Kanaya akan menjadi malaikat pelindung di dalam hidupnya.
Dua tahun sudah kejadian itu berlalu. Tak ada komunikasi lagi antara aku dan Kanaya apalagi Abian. Aku sudah tak punya muka lagi sekarang untuk bertemu mereka.
Setiap harinya aku selalu memperbaiki diri. Ya, aku sekarang telah sadar bahwa iri dan dengki yang selama ini aku pelihara hanya akan menyakiti diri ku sendiri.
Entah mengapa akhir akhir ini aku sangat merindukan Kanaya. Aku rasa hijrahku belum berarti tanpa mendapatkan maaf dari nya.
Aku beranikan diri untuk menelpon nya.
" Sarah? apa kabar?" Jawab nya riang saat dia tau bahwa aku yang menelpon nya. Jauh dari ekspektasi ku yang membayangkan dia akan langsung mematikan atau langsung memaki ketika tau yang menelpon adalah seseorang yang pernah menjahahati nya.
" Aku minta maaf Nay." Ucapku to the point.
" Dari dulu aku udah maafin kamu kok Sar, apa pun yang pernah terjadi di antara kita kamu tetaplah sahabat ku" Ah Kanaya memang berhati emas.
" Sebenarnya aku rindu cerita cerita denganmu Sar, tapi sekarang aku lagi di bandara. Sebentar lagi aku take off. Lain kali kita sambung lagi ya Sar." Ucap Kanaya menutup percakapan.
Hari ini Kanaya kembali menyemai bibit iri itu kembali dalam hati ku.
' Sarah, Dapat salam dari Jepang. Kapan kapan menyusul ya'
Begitu kata kata diatas kertas di foto yang dikirim kan Kanaya kepadaku. Tampak dia sedang berpose di hamparan salju berlatarkan gunung Fujiyama.
Perlukah aku menyusun rencana baru?