"Ayolah Jane, kau bisa menari lebih indah lagi" teriak pelatih dari kursi penonton.
Semua orang sudah cukup letih tapi tak ada seorang pun juga yang berniat pulang dan beristirahat, waktu pentas tinggal dua hari lagi dan mereka tidak boleh istirahat sebelum siap tampil.
Begitu pun dengan Jane yang memerankan bulan sebagai tokoh utama, produser sudah memilih musim ini mereka akan menampilkan sesuatu yang beda, sebuah kisah cinta yang indah namun tragis. Dengan judul 'bulan bintang' produser menampilkan sebuah kisah cinta beda dunia tentang bulan sangat gadis vampir dan bintang sang pangeran istana.
Akhir cerita yang tragis karena bulan memutuskan untuk mati di hadapan bintang, semua orang sudah memprotes agar ending cerita di rubah karena penonton pasti lebih suka akhir cerita yang bahagia tapi produser tetap pada pendiriannya.
"Yah ya... itu dia, itu yang ku maksud. Kau memang ratu kami" teriak pelatih senang saat Jane akhirnya mampu menyelesaikan tariannya.
Dengan senyum Jane menjawab dan ia masih terlihat cantik meski dalam keadaan berantakan.
"Terimakasih untuk hari ini Neil" ujar Jane kepada pasangan tarinya sekaligus pasangan dalam cerita ini.
"Sama-sama, kau sudah berusaha keras, sampai jumpa besok" jawab Neil dan beranjak pergi namun sebelum ia turun dari panggung Jane sempat melihat Neil melirik ke arah Mirana dan tersenyum.
Itu cukup menjengkelkan baginya, ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Semua orang menyukainya bahkan pak produser sekalipun tentu saja karena wajah cantiknya dan bakat aktingnya, memang Jane punya sedikit kekurangan yaitu di tarian, ia kurang lihai dan butuh beberapa kali latihan hingga akhirnya bisa menari dengan indah, tapi tentu kekurangan itu tidaklah berarti besar.
"Jane ini handuk mu" ujar Mirana lembut sembari menyerahkan handuk putih kepada Jane.
"Tidakkah kau lihat aku lelahan? kau bisa mengelap keringat ku bukan? itu salah satu tugas mu sebagai asisten ku" jawab Jane kesal.
"Maaf" ujar Mirana menyesal.
Setelah Jane duduk di kursinya dengan hati-hati Mirana mengelap keringat di dahi Jane hingga ia menyuruhnya berhenti dan membacakannya skenario, dengan patuh Mirana menurut.
Semua orang tahu Jane memperlakukan Mirana dengan cukup buruk tapi tak ada yang berani membela di depan Jane, karena artinya dia sudah melawan Jane dan tentu saja yang bertindak adalah pak produser.
Mereka hanya mampu mengatakan segala ucapan penyemangat kepada Mirana di belakang Jane, dan Mirana selalu tersenyum dan menjawab terimakasih.
"Hentikan, ini sudah larut aku mau pulang" ujar Jane memotong cerita Mirana yang tengah membacakannya skenario.
"Jangan lupa besok kau harus datang lebih awal lagi karena aku akan berlatih lebih awal" tambahnya.
"Baik Jane" jawab Mirana yang bahkan tidak di pedulikan.
Sebuah mobil van sudah siap di pintu begitu Jane keluar dari gedung, ia segera masuk begitu sangat supir membukakan pintu untuknya. Dan mereka pun meluncur ke jalan raya menuju rumah.
Mata biru Jane sendu menatap setiap pohon, gedung bahkan awan serasa diam di tempat. Namun bukan itu yang ia lihat, dalam matanya ia melihat Neil yang belakangan ini sering ia pergoki tengah melirik Mirana, dari semua pria yang ada di teater hanya Neil yang tak memandangnya dengan pandangan suka, bahkan Neil sering kali justru bersikap acuh padanya.
Tentu ia tak terima perlakuan ini, dia harus mendapatkan Neil apa pun caranya. Dan jika ia tak bisa mendapatkannya maka tak ada seorang pun yang boleh bersanding dengannya.
* * *
Esok harinya sesuai perintah Jane Mirana datang ke gedung teater lebih pagi, ia tak ingin terlambat satu detik pun karena jika ia melakukan kesalahan walau sekecil apa pun Jane tidak akan pernah memaafkannya.
Di depannya panggung terlihat sangat megah dan besar tanpa ada orang di atasnya, Mirana selalu kagum dan tak bisa berhenti memandang kemegahan nya. Ia sangat menyukai teater karena itulah alasan ia berada di sini, meski sayang hanya sebagai asisten.
Andai ia tidak demam panggung saat ini ia juga pasti sudah ikut andil dalam cerita bulan bintang, dengan berjalan perlahan Mirana mulai naik ke atas panggung dan ketika tepat berada di tengah-tengah panggung jantungnya mulai berdegup kencang.
Dia mencoba menarik nafas panjang agar degupan jantungnya normal tapi justru tangannya yang terangkat dan dia mulai menari.
Tanpa iringan musik, tanpa penonton Mirana hanya menari untuk dirinya sendiri. Ada sensasi yang tak biasa saat ia menari di atas panggung, lebih berani, lebih antusias, lebih indah dan itu mengalir seperti air di sungai.
Senyum puas merekah di bibirnya saat tariannya usai dan sebagai langkah akhir Mirana membungkuk ke arah bangku penonton.
pok pok pok, suara tepuk tangan seseorang dari samping gedung, alangkah kagetnya Mirana hingga ia hampir jatuh terjerembap.
"Neil" panggil Mirana lirih saat mengetahui sedari tadi Neil melihat ia menari.
"Tarian mu lebih indah dari angsa putih di tengah danau, mengapa kau tak pernah ikut audisi? aku yakin jika produser melihat tarian mu bahkan Jane tak akan pernah di lirik lagi" puji Neil.
"Jangan begitu Neil, aku tak pantas berada di atas panggung semegah ini"
"Kenapa? kau pandai menari bahkan lebih baik dari siapa pun"
"Aku... aku tidak bisa" jawab Mirana menyesal.
"Kenapa? apa Jane yang jadi penghalang mu? apa dia mengancam mu?"
"Tidak, Jane baik padaku dia tidak pernah melarang ku"
"Jangan berbohong Mirana kita semua tahu apa yang Jane sering lakukan padamu"
"Neil, terkadang Jane memang keterlaluan tapi percayalah dia sebenarnya baik"
"Lalu apa yang jadi masalahnya?" tanya Neil tak sabar.
"Aku... aku... demam panggung, aku akan sangat gugup jika di lihat oleh banyak orang, aku tidak bisa melakukannya" jawab Mirana akhirnya.
"Sungguh?" tanya Neil sekali lagi.
Mirana mengangguk pelan sebagai jawaban, dan kali ini Neil tidak bertanya apa pun lagi. Ia justru mengulurkan tangan kepada Mirana dan berkata.
"Kalau begitu untuk kali ini saja, menarilah dengan ku"
"Apa? tidak bisa, bagaimana jika aku salah gerakan atau... atau ada orang yang melihatnya" tanya Mirana ragu.
"Salah itu manusiawi, dan cepatlah sebelum ada orang yang datang."
Meski ragu tapi akhirnya Mirana menyambut tangan Neil dan mereka mulai menari, tarian bulan bintang yang selama ini dilatih oleh Jane beberapa kali. Tanpa musik, Mirana mampu melakukannya bahkan lebih baik dari Jane.
"Kau menari dengan sangat baik, andai kau yang jadi pasanganku dalam pentas ini" ujar Neil di sela sela tarian mereka.
"Jangan konyol Neil" jawab Mirana sedikit tersenyum.
Neil mengakhiri tarian mereka dengan mengangkat Mirana ke atas udara dan menurunkannya secara perlahan hingga wajah mereka bertemu dan mata mereka saling beradu pandang.
"Kenapa? tidak bolehkah aku menginginkan hal itu? kau pasangan ku Mirana, kau kekasih ku" ujar Neil mesra.
Kata-kata yang di dengar Mirana lebih indah dari tarian yang sering dia mainkan, dan lebih megah dari panggung yang pernah ia lihat, untuk itu Mirana menghadiahi Neil dengan kecupan mesra di dahi. Tapi itu saja tidak cukup, karena Neil menagih ciuman mesra di bibirnya.
Sayangnya, tanpa mereka sadari Jane tengah melihat kemesraan mereka di bangku paling belakang, meski jauh tapi Jane mampu melihat dengan jelas dua sejoli itu tengah asik dengan dunia mereka sendiri.
Apa yang di takutkannya akhirnya benar terjadi, Neil dan Mirana memang memiliki hubungan khusus tapi ia tak pernah menyangka akan melihat mereka seperti ini. Dengan amarah yang memenuhi dadanya hingga sesak Jane berlari keluar gedung dan terus berlari tanpa tujuan.
Kemana pun asal ia bisa jauh dari dua sejoli yang di mabuk asmara, terus berlari hingga amarahnya mereda. Tanpa memperhatikan sekeliling Jane akhirnya jatuh tersungkur dan diam mengatur nafas saat sakit di kakinya cukup terasa.
Beberapa menit kemudian ia sudah mampu menguasai diri dan bangkit untuk membereskan pakaiannya yang berantakan. Ini sudah hampir siang dan ia tak boleh terlambat datang, Jane muali beranjak berjalan kembali ke gedung teater.
Namun di tengah jalan sebuah toko dengan nuansa hitam menarik perhatiannya, tanpa pikir panjang ia segera masuk dan melihat ada banyak barang-barang unik di jual di sana.
Satu benda yang kecil namun cukup membuatnya tertarik untuk berlama-lama memandang, sebuah lipstik dengan warna merah segar terpanjang di dalam kotak kaca.
"Bukankah dia sangat menggoda?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba hadir di sampingnya.
"Eh, i-iya" jawab Jane masih kaget.
"Ini adalah lipstik yang sangat spesial"
"Apa yang membuatnya spesial?" tanya Jane penasaran.
"Barang siapa orang yang memakai lipstik ini maka semua ucapannya akan menjadi kenyataan" jawab wanita itu yakin.
Jane tidak terlalu percaya pada ucapan wanita itu karena semua pedagang selalu pandai memikat pembeli dengan berbagai kata-kata ajaib mereka, namun ia tak bisa menolak keinginannya yang ingin memiliki barang wajib perempuan ini, maka dengan merogoh saku Jane membelinya.
Kembali ke gedung teater rupanya Mirana sudah menantikannya dengan cemas, meski ingin sekali membunuhnya tapi Jane bersikap biasa seolah dia tak tahu hubungan Mirana dan Neil.
Mereka kembali pada tarian semalam yang belum Jane lakukan dengan baik, musik di mainkan, tangan Jane menyambut uluran tangan Neil dan mereka mulai menari. Sayang, dengan bayang Mirana dan Neil yang tengah bermesraan cukup menggangunya hingga ia terus melakukan kesalahan.
Pelatih telah menyuruhnya istirahat sebentar tapi Jane bersikukuh ingin terus latihan, bayangan itu ingin sekali ia musnahkan dalam otaknya tapi tak mampu, itu semua membuatnya kesal hingga ia melakukan kesalahan besar akibatnya kakinya terkilir dan ia jatuh.
Semua orang segera menghampiri Jane yang tengah merintih kesakitan dan membawanya ke ruang kesehatan, untung seorang dokter selalu siap siaga hingga Jane bisa langsung di obati.
"Bagaimana keadaannya?" tanya pelatih cemas.
"Dia baik-baik saja tapi kakinya terkilir cukup parah hingga menimbulkan bengkak sayangnya dengan kaki seperti itu Jane tidak bisa menari beberapa hari" jawab Dokter.
"Apa? ya Tuhan bagaimana ini? besok kita harus pentas dan siapa yang akan menggantikan Jane" ujar pelatih putus asa.
"Aku tahu siapa orangnya" jawab Jane yang tentu mendengar pembicaraan itu.
"Siapa?" tanya pelatih.
"Mirana"
"Apa?" tanya Mirana terkejut karena namanya yang ia sebut.
Semua mata menatap ke arahnya, dan ia tak bisa menghindar saat Jane bersikukuh akan hal itu. Kepada semua orang Jane berkata tidak ada yang lebih pantas selain Mirana, karena selama ini Mirana membantunya menghapal skenario dan ia juga bisa meyakinkan pelatih bahwa Mirana pandai menari.
Meski telah menolak beberapa kali tapi akhirnya Mirana mau memperlihatkan tariannya sebagai bahan pertimbangan, maka Jane di tinggalkan sendiri di dalam ruangan kesehatan.
"Apa yang kau rencanakan Jane?" tanya Neil curiga.
"Apa maksud mu?" tanya pula Jane yang tersinggung dengan pertanyaan Neil.
"Aku tidak percaya pada kebaikan mu terhadap Mirana"
"Aku bertingkah baik? aku hanya menyarankan karena memang Mirana tahu betul tokoh bulan, dan kita tidak punya kandidat yang lebih baik lagi dari dia"
"Terserah pada mu, tapi aku akan terus mengawasi mu" ancam Neil sebelum ia pergi menyusul yang lain.
Dalam kebisuan Jane menatap kepergian Neil hingga ia hilang dari pandangan, Jane telah memutuskan jika ingin merebut Neil dari sisi Mirana dan untuk itu ia harus bisa lebih dulu membuat Neil merubah cara pandang tentang dirinya.
Sementara itu Mirana yang telah membuat kagum semua mata yang memandangnya akhirnya mendapatkan posisi sebagai tokoh utama, meski ia menolak tapi dengan semua orang yang menyemangatinya hatinya kini berani mengambil keputusan.
Rasa gugup yang begitu hebat telah membuat keringat membanjiri tubuh Mirana dari pagi, ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya ia akan pentas di hadapan khalayak ramai dan untuk pertama kali juga ia langsung memerankan tokoh utama.
Dalam ruangan khusus Mirana bersiap seorang diri hingga Jane masuk dan membantunya berhias.
"Kau pasti sangat gugup" ujar Jane.
"I-iya, aku takut sekali, aku takut melakukan kesalahan" aku Mirana.
"Saat untuk pertama kalinya aku berakting di hadapan semua orang, aku juga takut dan gugup. Kau tahu untuk mengatasi kegugupan ku aku selalu berfikir bangku penonton itu kosong, tak ada seorang pun di sana atau mereka semua adalah patung, dengan berfikir begitu aku bisa menjalankan peranku dengan baik, mungkin kau juga mencobanya" ujar Jane.
"Terimakasih Jane, kau sangat baik"
"Ya, sekarang pergilah keluar semua orang sudah menunggu mu."
Mirana tersenyum dan menggenggam tangan Jane sebelum ia pergi, dengan di bantu sebilah tongkat Jane yang masih merasakan sakit di kakinya berjalan keluar dan menonton pertunjukan itu dari samping panggung.
Dari sana ia bisa melihat Mirana cukup baik menjalankan peran yang harusnya ia mainkan, rupanya nasihat yang ia berikan juga cukup mujarab karena Mirana tidak kelihatan gugup bahkan ia sangat piawai.
Namun Mirana kembali gugup saat ia ber5ganti kostum, Jane yang kembali menengok ke dalam ruangan tentu kembali membantunya lagi.
"Apa yang khawatirkan?"
"Aku tidak bisa melakukan adegan terakhir ini" jawab Mirana sedih.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa membunuh Neil, aku tidak ingin dia mati"
"Hahahaha apa yang kau bicarakan?" tanya Jane tak dapat menahan tawa.
"Ini hanya pura-pura Mirana, kau tidak sungguh-sungguh membunuhnya" lanjut Jane.
"Aku tahu, tapi aku tak bisa. Saat naik ke atas panggung aku masih gugup tapi Neil ada untuk ku, dan alasan kenapa aku sudah tak gugup adalah bahwa aku percaya bulan bukanlah peran yang sedang ku mainkan tapi aku benar-benar bulan, karena itu aku tidak gugup sedikit pun karena tarian yang ku lakukan tulus dari hati" jawabnya
Jane mengerjap, mencoba memahami ucapan Mariana dan meski ia tak terlalu paham tapi dengan nada tulus ia mencoba menyemangati asistennya itu.
"Dengar, jika kau tidak suka akhir ceritanya kau hanya tinggal merubahnya saja"
"Tidak mungkin, produser pasti akan marah besar padaku"
"Tidak jika akhir ceritanya bagus"
"Tapi bagaimana akhir ceritanya? aku tidak tahu"
"Mungkin.. bulan bisa menggigit bintang hingga akhirnya bintang menjadi vampir dan mereka hidup bahagia selamanya" ucap Jane menyarankan.
"Baiklah itu sedikit menarik."
Jane senang Mirana menerima saran darinya, dengan sukarela dia membantu Mirana bersiap karena sebentar lagi gilirannya tampil.
"Ah astaga aku lupa membawa lipstik merah ku" ujar Mirana mulai panik.
"Astaga bagaimana kau bisa teledor begitu, baiklah pakai punya ku saja" ujar Jane.
Di rogohnya tas kecil yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi, dan saat tangannya menyentuh sebuah benda kecil keras dia langsung mengeluarkannya. Jane agak terkejut saat ia ingat itu adalah lipstik yang dia beli di toko misterius waktu itu.
Entah mengapa ia jadi teringat ucapan wanita itu yang menyatakan jika lipstik ini bisa mengabulkan semua perkataan, tapi di tepisnya juga bayangan itu dan di serahkan nya kepada Mirana, dengan banyak mengucapakan terimakasih Mirana memakai lipstik itu dan pergi bersiap.
Jane kembali menonton di samping panggung, matanya berbinar menatap Mirana begitu menunggu saat-saat dimana Mirana merubah akhir ceritanya.
Tapi, sejauh ini mereka tetap pada naskah sampai tiba dimana adegan bulan menusuk bintang dan mengucapkan sumpah setianya.
"Maafkan aku kecintaan ku, demi benih yang kau tanam dalam hatiku yang telah tumbuh subur namun berduri izinkanlah aku abadikan di alam fana, dan demi menjaga kesuciannya maka detik ini aku hanya akan meminum darah hewan"
Mirana kembali menari di iringi musik di samping Neil yang tergeletak sampai akhirnya tirai di tutup dan cerita pun tamat.
Jane tak mengerti mengapa Mirana tak mengubah akhir ceritanya tentu ia akan menanyakan hal itu tapi setelah semua orang mengucapakan selamat.
Para penonton cukup puas dengan cerita ini dan pulang setelah semua kru tampil mengucapkan terimakasih, Jane segera menyusul ke ruang ganti khusus yang di pakai Mirana sedari tadi. Tanpa basa basi ia melangkah masuk dan menemukan Mirana tengah jongkok di bawah meja.
"Mirana apa yang kau lakukan?" tanya Jane karena Mirana membelakangi nya.
Jane ingin lari saat Mirana membalikkan badan, mulutnya merah, taringnya mencuat dan meneteskan darah segar, dengan jelas Jane bisa melihat bangkai tikus di tangan Mirana yang habis di koyak