Boneka kecilku..
Kau hidup.. dan membalaskan kekecewaanku pada mereka.
Tapi.. kenapa sekejam ini.
🍁🍁🍁
Aku ingat sekali, saat pertama kali aku mendapatkannya. Di sebuah pasar malam, tepatnya di pojok paling dalam, toko itu berada.
Entah apa yang membawa ku dan Evan pacarku bisa melangkah lebih dalam dan menyusuri malam hingga akhirnya kami tiba di sebuah toko yang tampak remang dan terlihat sepi. Seorang kakek tua menatap kehadiran kami dan seakan meminta kami untuk menghampirinya.
Kami seolah terhipnotis dengan tatapanya. Membuat langkah kami makin mendekatinya.
"Silakan mencoba permainan ini, kalian bisa membawa pulang hadiannya jika berhasil." Ucap kakek itu.
Evanpun menyetujuinya, ia melakukan apa yang diminta kakek tua itu pada kami. Mengambil sebuah panah kecil dan membidiknya. Lemparannya jatuh tepat di sebuah boneka dan seakan boneka itu tersenyum menatap kami saat itu.
Semenjak saat itu, aku memiliki boneka itu. Aku merawatnya karena itu merupakan hadiah pertamamu untukku.
Seminggu sudah berlalu semenjak kami pergi bersama. Hari ini, tepatnya disaat malam dan hujan datang membasahi bumi. Kaupun berhasil membasahi tubuhku dengan air mata.
Kau meneleponku, kau minta kita putus..
"Gia, kita putus ya." Ucapmu begitu mulus.
"Kenapa?"
"Aku jatuh cinta dengan wanita lain, dia cantik dan tidak membosankan."
Tik..
Tik..
Tik..
Aku menangis, air mataku turun membasahi wajahku. Hatiku sakit.. sakit saat kau bilang
aku membosankan, dan lebih sakit lagi saat kau bilang, kau jatuh cinta dengan wanita lain.
Apakah sedikitpun kau tak pernah mencintaiku. Apakah sedetikpun kau tak pernah bahagia saat bersamaku. Lalu apa maksud senyummu, apa maksud dari kata-kata sayangmu selama ini. Apa maksud belaian lembut jemarimu.
Aku menyesal.. sungguh.. aku menyesal bertemu denganmu. Aku menyesal mengenalmu. Aku menyesal saat ku berkata iya dan setuju berpacaran denganmu.
Kau dengan mudah melupakanku, menggantikan diriku dengan wanita lain. Kau dengan mudah mengatakan putus dan menyimpulkan aku wanita yang membosankan.
Selama kita bersama, tak pernah sedikitpun kita bertengkar. Tapi tiba-tiba kau memutuskan hubungan kita.
Aku kembali menangis..
Terisak..
Aku tersakiti..
dan hatiku menjerit..
Hanya boneka itu yang menemaniku, hadiah yang tak sengaja kau dapatkan dan kau berikan untukku.
🍁🍁🍁
Tak lama setelah kita putus, aku dengar kau tengah berpacaran kembali. Violla, nama gadis itu, teman sekelasku. Gadis yang telah membuatmu memutuskanku.
Kalian tersenyum bersama, kalian menatap satu sama lain, kalian bergandengan tangan.. dan kenapa aku harus melihat itu semua.
Aku kembali menangis dan akupun berucap, boneka keciku menjadi saksi ucapanku saat itu.
"Andai wanita itu tak ada, mungkin sekarang aku masih bersama dengan dirinya."
Malampun berganti dengan cepat, dering handphone membangunkanku segera. Aku meraihnya dan ku terdiam, aku terkejut mendengarnya. Tatapanku langsung mengarah ke boneka kecil yang selalu setia menemani kesedihanku. Aku menggenggamnya sekarang, ku mengusap lembut rambutnya. Ku berbicara padanya.
"Kau tahu, berita apa yang ku dengar pagi ini." Ucapku terhenti sejenak.
"Wanita itu meninggal.." Ucapku kembali dan ku menatap tak percaya.
Saat itu aku tak menyadari, bahwa hal buruk akan kembali terjadi.
Pemakaman berlangsung dengan air mata. Entah apa yang kurasakan saat ini. Apakah aku harus bersedih atau senang. Wanita yang menyebabkan putusnya hubunganku dengan Evan telah tiada sekarang.
Ku menatap Evan, dia terdiam dan menangisi kepergian wanita itu. Apakah jika aku yang pergi, kau akan seperti ini juga. Ku rasa tidak.. kau tidak mencintaiku, kau pasti tidak akan menangis untukku.
Tiga hari sudah berlalu, pagi itu kau tiba-tiba datang menghampiriku. Kau kembali mengatakan sesuatu yang menyakitkanku. Kau bilang kau mencintai temanku, teman dekatku. Kau ingin aku membantu hubungan kalian.
Kau memang pria yang sangat jahat. Kau mengatakan itu, padahal kau tau aku masih mencintaimu.
Rasa benciku semakin dalam, akupun lelah menangis karenamu. Aku hanya bisa tersenyum jahat. Aku kembali berucap, aku ingin penderitaanku padamu berkakhir. Ya.. aku memang mengatakan itu semua, saat ku memeluk boneka kecilku.
Tepatnya pukul 22.00 wib, handphoneku berdering. Aku terdiam saat ku melihat namamu menghias dalam layar hanphoneku. Apa yang membuatmu meneleponku semalam ini. Akupun menggeser panggilan itu ke atas, ku mengizinkanmu untuk menghubungiku.
"Gia, tolong aku." Teriakmu.
Aku terkejut mendengarnya. Apa yang terjadi, kenapa kau berteriak.. kenapa rasa takutmu ikut menyelimutiku.
"Tolong apa?" Tanyaku.
"Boneka itu Gia.. boneka itu.. ahh.. tolong aku..!!" Teriaknya kembali.
Boneka, aku sadar sekarang. Boneka itu hilang. Aku tak menemukannya di sekitarku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Akupun bergegas menemuimu. Aku tahu sesuatu buruk sedang kau alami. Tunggu aku.. bertahanlah..
Berlari dalam malam, menyusuri setiap lorong jalan. Rumahmu dengan rumahku tidak terlalu jauh.. tapi kenapa aku tak sampai juga di rumahmu. Aku sudah melalui jalan yang benar.. tapi kenapa jaraknya menjadi sangat jauh.
"Tidak.." Teriakmu saat akhirnya aku berhasil tiba di depan pintu rumahmu.
Aku mengetuknya, berulang kali.. lebih keras dan makin keras. Ku panggil namamu dan terus memanggilmu. Pintu itu tak mau terbuka. Ku memandang ke arah jendela. Ku mengetuknya, mengedarkan pandanganku ke dalam. Ku lihat dirimu terduduk bersandar pada dinding rumahmu. Ku melihatmu memohon pada sesuatu yang ada di hadapanmu.
Oh tidak.. kenapa boneka itu ada di sana. Kenapa dia melangkah.. kenapa dia tersenyum dan kenapa dia ingin menyakitimu.
"Tidak.." Kali ini aku yang berteriak.
Ku mohon izinkan aku untuk masuk, aku akan menjelaskan semuanya. Ku mohon bukakan pintu ini dan..
"Klek.." Akhirnya terbuka.
Aku berlari.. aku berlari ke arah Evan yang terluka. Aku memeluk dirinya. Aku menatap tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang. Dia hidup.. bibirnya tersenyum namun air mata turun di pipinya. Sebuah pisau dengan darah segar mengalir di sana.
"Ku mohon jangan kau lakukan itu." Pintaku.
Aku tahu sekarang, boneka kecilku kecewa. Ia merasakan kesedihan yang ku rasakan. Ia ingin menyakiti Evan yang telah menyakitiku. Tapi bukan seperti ini caranya.
Aku memang membencinya, tapi tidak ada maksud untuk membunuhnya. Evan sudah sangat terluka, ku mohon hentikan.
Tapi dia terus mendekat.., wajahnya sedih dan menyeramkan. Dia terus mendekat.. makin mendekat.. aku tak bisa melakukan apapun, aku terlalu takut menatapnya. Memejamkan mata dengan jantung yang berdetak sangat kencang.
"Ahhh...."
Suara apa itu, aku mendengar suara teriakan. Itu bukan suara milikku maupun Evan. Ku membuka mataku perlahan. Ku melihat boneka itu berteriak. Tubuhnya tertusuk dengan sebuah pisau. Siapa yang telah menghancurkannya.
Aku menatap seorang pria sekarang, tengah berdiri dan menatap kami. Dia membunuhnya. Dia menolong kami. Apakah ini sudah berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
Malam itu Evan dilarikan ke rumah sakit, tubuhnya penuh dengan luka.
Aku masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, bagaimana bisa dia hidup. Bagaimana bisa dia menampung kekesalanku. Bagaimana bisa dia membalaskan kekecewaanku sekejam itu.
Mungkin kematian Violla ada hubungannya dengan ini. Aku tak tahu, kalau rasa sakit hatiku yang terlalu dalam membuat boneka itu hidup dan membalaskan itu semua. Tapi boneka itu tak mau menuruti kemauanku. Walaupun ku sudah memohon padanya.
Lelaki itu.. lelaki yang menyelamatkan kami sekarang menatapku. Entah bagaimana dia bisa tahu keberadaan kami. Jika bukan karenanya, aku tak tahu bagaimana nasibku dan Evan nanti.
-Selesai-
Semoga suka dan tinggalkan jejaknya.
Terima kasih