Terlahir menjadi biasa membuatku menjadi wanita yang kurang menarik. Meski tubuhku terbilang tinggi dan langsing tapi wajahku tak begitu menarik bagi para kaum adam. Sehingga diumurku yang sudah hampir kepala tiga ini masih saja sendiri.
Di atas jembatan yang tinggi ini aku bisa melihat pemandangan kota yang sangat indah jika malam hari telah tiba. Kerlap kerlip dari lampu lampu rumah rumah warga dan gedung gedung perkantoran bagai cahaya bintang yang bertaburan di atas langit. Sungai mengalir di bawahku menambah cantiknya malam ini. Kapal kapal pesiar yang mewah nan megah juga turut menambah indahnya pemandangan kota pada malam hari.
Tiba tiba angin berhembus cukup kuat hingga menerbangkan syal tipis berwana hitam yang aku pakai. Aku berbalik untuk meraih syal yang aku pakai tadi. Mengambilnya lalu kupakai kembali. Ternyata pedagang kaki lima yang biasa memadati pinggiran jembatan ketika malam, telah tiba. Tempat ini bagaikan pasar malam dan lumayan banyak juga pengunjung yang datang sekedar melihat lihat seperti diriku ini.
Aku pun mulai berjalan menyusuri trotoar untuk melihat dagangan mereka. Mataku tertuju pada seorang pedagang kosmetik kaki lima. Aku baru tahu jika dagangan seperti kosmetik ada juga dipinggir jalan. Wanita parubaya yang masih terlihat cantik itu tersenyum ramah padaku.
"Jadilah pembeli pertama untuk daganganku Nona?" Tawarnya.
"Maaf tapi aku tidak suka bersolek." Tolakku.
"Lihatlah dulu siapa tahu ada yang kau suka Nona! Aku akan memberikan diskon 90 persen jika kau mau membeli salah satunya!"
"Benarkah?" Mendengar kata diskon mataku langsung membulat sempurna. Karena salah satu alasan aku tidak suka bersolek adalah harga dari beberapa alat make up itu lumayan mahal. Tidak cocok untuk kantongku yang hanya seorang pengangguran karena beberapa minggu yang lalu aku di PHK dari kantor tempatku bekerja. Alasannya simple saja karena pengurangan karyawan.
Aku sedang bingung dengan apa yang harus aku pilih, ketika wanita penjual itu mulai menjelaskan barang dagangannya yang ada di meja segiempat yang tak terlalu besar ini. Disana hanya terdapat satu lipstik berwana merah, eyeshadow natural, pensil alis, blush on , dan BB cushion. Jujur aku tidak begitu mengerti dengan kegunaan masing masing alat make up itu.
Aku mengambil asal. BB cushion yang terakhir terlihat di mataku. Wanita penjual itu kembali tersenyum ramah padaku.
"Pilihan yang tepat Nona! Itu bisa membuat Anda cantik seketika!" Aku tersenyum lucu sambil mengejek. Dasar pedagang kalau sudah merayu pembeli suka lebay.
"Berapa harga barang ini Nyonya?"
"Sepuluh ribu saja Nona, BB cushion ini bisa Anda bawa pulang!"
"Waw murah sekali!" Ucapku riang, segera kuambil uang dari tas kecil yang aku pakai untuk membayar benda bulat berwana hitam ini. Aku memasukan benda itu ke dalam tas. Setelah wanita itu menerima uangku seraya berucap terima kasih, aku kembali berjalan untuk pulang.
Cukup dua puluh menit aku berjalan sampailah aku di rumah rooftop sewaan yang aku tinggali, aku membuka pintu rumah dengan malas. Tubuh ini sangat lelah berjalan seharian mencari pekerjaan baru untukku. Tapi tetap saja aku belum mendapat apa yang aku ingin. Aku menjatuhkan diri terlentang di atas kasur. Malas sekali untuk mandi karena mata ini sudah sangat berat. Tak ada sepuluh detik tubuh loyo ini menyentuh kasur, aku sudah terlelap.
Pagi ini aku terbangun dengan semangat yang telah terkumpul kembali. Aku segera mandi, bersiap siap, lalu sarapan roti dan segelas susu. Sebelum pergi untuk mencari pekerjaan tak lupa aku memakai BB cushion yang semalam kubeli. Ajaib wajahku jadi mulus dan cerah seketika. Auraku pun tampak bersinar di depan cermin. Rasa percaya diriku seperti naik tiga kali lipat.
Kulangkahkan kaki ini mantap ke luar dari rumah. Menuruni anak tangga dengan riang gembira. Tak sengaja ku berpapasan dengan tetangga tampanku yang biasanya tidak pernah menganggap keberadaanku selama ini. Anehnya kali ini ia melihat ke arahku sambil tersenyum. Seolah olah dia terpesona dengan kecantikan yang baru aku miliki.
"Hai!"
"Hai juga!"
Aku kembali melangkahkan kakiku. Meninggalkan dia yang masih menatapku tanpa berkedip. Di ujung gang aku kembali bertemu seorang pria bepakaian oranye tengah menyapu pinggiran jalan. Pria itu memang biasa membersihkan jalanan area situ. Pria ramah itu langsung menyapaku ketika menyadari diriku mulai mendekat ke arahnya.
"Selamat pagi Nona, Waw Nona kamu terlihat sangat cantik hari ini!"
"Selamat pagi juga Pak. Terima kasih banyak pujiannya."
Aku tersenyum mengiringi langkahku menyusuri trotoar melewati berbagai toko dipinggir jalan. Ini sungguh luar biasa bagiku. Kaum adam yang tak sengaja berpapasan denganku semua langsung memandangku dengan terpesona. Tapi aku tak terlalu memperdulikan mereka. Tak terkecuali dengan anak berseragam SMP di depanku ini. Yang tengah berdiri di bahu jalan untuk naik ke dalam Bus sekolahnya. Bocah laki laki itu sampai memutar kepalanya ke samping hanya untuk melihatku berjalan.
"Ada apa Dek?" Tanyaku padanya.
"Kakak sangat cantik!"
"Hehe terima kasih Dek. Ya sudah sana naik. Busmu mau berangkat tuh!"
Dia pun masuk ke Busnya dengan masih memandangku dari tempat duduknya. Kulambaikan tanganku kearahnya sampai bus itu mulai menjauh. Aku segera berbalik dan masuk ke salah satu cafe. Aku menemui kasir yang memakai celemek hitam bertuliskan Coffe Shop itu.
"Mau beli apa Nona?" Tanya wanita itu ramah.
"Tidak ada Nyonya. Saya hanya ingin bertanya. Apa disini tersedia lowongan pekerjaan untuk saya?" Wanita itu langsung menilaiku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan matanya.
"Tidak ada, silahkan anda pergi!" Balasnya ketus seraya mengusirku dari dalam toko.
"Kumohon Nona, beri aku pekerjaan. Aku sangat butuh pekerjaan sekarang!"
"Sudah kubilang tidak ada ya tidak ada. Sudah sana pergi pergi. Merusak pemandangan saja!" Wanita itu seolah jijik melihatku. Kenapa? Bukannya aku terlihat sangat cantik sekarang? Tiba tiba seorang pria tampan dan gagah keluar dari ruangan belakang kasir mendekati kami.
"Ada apa ini ribut ribut?"
"Pak dia ingin mencari pekerjaan. Tapi di sinikan sudah tidak menerima karyawan lagi kan Pak?" Pria yang ternyata Bos di cafe ini tak menghiraukan anak buahnya berbicara malah memandangku sambil tersenyum. Lagi lagi pria ini juga terpesona akan kecantikanku. Seakan akan wajahku ini punya daya magis yang bisa menyihir para lelaki untuk memandang ke arahku.
"Siapa bilang? Kamu dipecat! Mulai besok Nona cantik ini akan menggantikanmu sebagai kasir disini!" Kata sang Bos pada anak buahnya itu.
"Tapi Pak kenapa saya dipecat? Apa salah saya Pak?"
"Tidak ada tapi tapian, hari ini terakhir kali kamu boleh bekerja disini. Karena mulai besok Nona ini yang akan menggantikanmu!"
"Wah terima kasih Tuan. Saya akan bekerja dengan giat!" Ucapku semangat lalu mencibir ke arah tukang kasir yang sempat mendorong dorong tubuhku tadi. Aku pun pamit dari toko itu untuk kembali ke rumah. Sambil berjalan aku bersenandung riang sampai ke rumah rooftopku. Aku sudah tidak melihat tetangga tampanku lagi. Mungkin dia sedang keluar untuk bekerja. Aku masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku merasa beruntung sekali hari ini. Pasti ini berkat BB cousion itu. Lain kali aku akan datang lagi ke jembatan itu untuk membeli alat make up yang lainnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Aku berjalan di tengah hutan yang gelap dan berkabut. Cahaya temaram dari rembulan yang bersinar sedikit membantu penglihatanku. Hutan ini cukup aneh pohon pohon menjulang tinggi tanpa terlihat ranting dan daunnya karena tertutup oleh kabut. Berjajar rapi seperti pohon yang sengaja ditanam seperti ini. Aku mulai takut karena aku tidak bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini. Aku mulai berlari dan terus berlari hingga aku melihat sesuatu yang sangat mengejutkanku.
Tetangga tampanku terikat di salah satu pohon itu. Pucat tertunduk tak bergerak. Di pohon besar satunya lagi ada tukang sapu yang biasa aku jumpai diujung gang. Terikat dengan kondisi yang sama seperti tetangga tampanku. Dua pohon besar disampingnya lagi ada anak SMP yang aku temui di pinggir jalan dan Pak Bos di tempat kerja baruku juga terikat dengan keadaan yang sama pula.
Sesosok perempuan memakai gaun hitam panjang dan bermahkota terbang melayang diatasku. Dia turun perlahan tepat di hadapanku.
"Astaga, bukankah kamu si penjual alat make up itu?" Tanyaku sambil berjalan mundur karena dia terus mendekat kearahku.
"Iya benar hihihihi!" Tawanya seperti Nenek lampir. Bahkan wanita cantik itu ternyata bertaring. Giginya hitam dan bermata seperti kucing. Langkahku terhenti karena tubuhku sudah menabrak pohon besar dibelakangku.
"Mau apa kamu? Jangan sakiti aku!" Aku menutup mataku karena takut melihat wajah wanita itu yang mendekat ke wajahku. Kukira aku akan dibunuh ternyata tidak. Wanita itu meraih salah satu tanganku lalu menangkupnya dengan tangannya. Dia mengusap punggung tanganku lembut namun karena kukunya yang sangat panjang sedikit menyakiti kulitku tapi tidak sampai berdarah. Ia lalu memegang daguku perlahan seraya berkata,
"Terima kasih kamu sudah membawakan pria pria ini untukku!"
Aku? Kapan aku melakukannya? Memang aku tak sengaja bertemu mereka semua dan juga kebetulan mereka memperhatikanku karena aku terlihat cantik. Dan tadi pagi mereka semua masih baik baik saja.
"Karena kamu memakai BB cushion itu." Aku kembali terkejut ternyata dia bisa membaca pikiranku.
"Bagaimana? Apa kamu suka? Bukankah banyak pria yang memandangmu sekarang?" Tanyanya sambil berganti memainkan rambut panjangku.
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Akulah Sang Ratu kegelapan, Hihihi!"
Dia kembali terbang mendekati tetangga tampanku. Memegang wajah lelaki itu agar tegak lurus menghadapku.
"Pria ini sangat tampan, kamu sangat pintar mencarikan pengantin pria untukku. Hihihihi!" Wanita yang mengaku sebagai Ratu kegelapan ini suka sekali tertawa. Aku jadi semakin takut melihatnya.
"Aku mohon jangan sakiti dia!" Wanita itu berhenti tertawa lalu memandangku tajam.
"Apa kamu menyukai pengantin pria ku yang satu ini?" Aku tidak berani menjawab karena aku memang menyukainya sejak lama dan tidak rela jika dia menjadi pengantin pria dari wanita jadi jadian ini.
"Jangan takut, kamu bisa mendapatkannya kembali. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kamu harus mencarikanku pria pria yang lebih banyak lagi untuk bisa kujadikan pengantinku hihihihihi."
"Tapi jika sampai kamu tidak mau, pria tampan ini akan menjadi milikku selamanya hihihihi." Wanita itu kembali terbang sambil tertawa lalu menghilang di balik kabut asap.
"Hah, hah, hah, hah." Aku terbangun dari mimpi buruk yang rasanya seperti nyata. Dengan napas ngos ngosan aku berjalan ke arah dapur untuk minum. Setelah habis dua gelas, pintu depan rumah ada yang mengetuk.
Tok Tok Tok Tok
Segera kubuka pintu itu, seorang pria tampan berdiri didepanku. Ya Tuhan tetangga tampanku berkunjung ke rumahku. Ia tersenyum manis lalu menyapaku. Segera kupersilahkan dia masuk. Kubuat minum dan kami pun mengobrol. Ternyata ia ingin mengajakku jalan. Tentu saja aku mau. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera bersiap siap. Aku tidak menyangka dia akan nengajakku jalan. Sesuatu yang tak pernah berani aku pikirkan. Mau memandangku saja aku sudah bersyukur. Karena memang aku ini wanita yang tidak menarik.
Ketika aku sedang berdiri di depan cermin. Wanita dalam mimpiku tiba tiba muncul dibelakangku dengan dagunya yang ditumpangkan dipundakku. Dia berbicara pelan namun dekat sekali dengan telingaku hingga rasanya napasnya berhembus masuk ke dalam lubang telinga.
"Pakailah BB cushion itu dan bawalah banyak pria untukku, hihihihi."
Aku pun mengangguk dan wanita itu menghilang. Aku segera mengambil BB cousion yang ada diatas meja rias lalu memakainya. Seketika wajahku kembali cantik lagi dan bersinar. Aku sudah benar benar terjerat akan syarat dari Ratu kegelapan. Aku tidak mungkin melepaskan pria idamanku untuk wanita menyeramkan seperti dia. Mau tidak mau aku harus terus mencari tumbalnya agar bisa terus bersama lelaki yang aku sukai.
TAMAT