[Kkkaak.. kkaaakk.. kkkakk]
Suara burung gagak terdengar dari atas rumah. Langit saat itu sudah mulai senja.
Mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan sebuah rumah klasik yang bergaya minimalis namun terkesan megah. Seorang Pria terlihat lebih dulu keluar dari mobil, membukakan pintu mobilnya untuk Istri tersayang. Wanita itu menggandeng seorang putri berumur sekitar 5 tahun.
Saat memasuki gerbang, anak itu menarik tangan ibunya. Tiba-tiba Ia memeluk ibunya sambil menatap ke jendela di lantai dua. Melihat tidak ada suatu keanehan, Wanita itu menggendong putrinya masuk ke dalam rumah.
Di dalam Rumah, banyak box-box yang belum dirapihkan. Sepertinya, hari ini adalah hari pertama mereka pindah ke rumah itu.
Wanita itu menurunkan putrinya dan mulai beberes.
"Nina. Duduk disini dulu yah." Ucap wanita itu.
"Ihah ma.." ucap Nina.
Wanita itu bernama Ibu Rina. Ia adalah Ibu Rumah Tangga berusia sekitar 30 tahun-an. Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh Ibu Rina karena setelah 7 tahun menikah, akhirnya sang Suami, Pak Toni membelikan rumah untuk mereka.
Nina, putri satu-satunya bu Rina dan Pak Toni memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbicara. Di kontrakannya dulu, Nina sering dikerjain oleh anak-anak tetangga yang membuat bu Rina semakin sedih dan tak nyaman di lingkungan tinggalnya.
Pak Toni kemudian menghampiri Ibu Rina sambil membawa box.
"Ma, yang penting-penting aja dulu di keluarkan. Sisanya di taro digudang. Biar pelan-pelan aja merapihkannya." Ucap Pak Toni.
"Iyah Pa, Nina juga kayaknya udah ngantuk. Kita bereskan aja dulu kamarnya. Biar enak tidur malam ini."
Mereka pun segera merapihkan box-box yang masih memenuhi ruangan. Putri mereka, Nina di tinggalkan duduk di kursi seorang diri.
Dung dung dung ... Dung...
Dari lorong yang gelap, bola karet bermotif ikan koi bergulir ke arah Nina.
Nina memperhatikan bola yang berada di bawah kakinya dan melihat ke arah lorong asal bola itu.
Karena sangat gelap, Nina tak mau menghampiri lorong.
Sreeet..
Sekarang, mobil-mobilan kecil bergerak menghampri Nina, diikuti oleh boneka kelinci yang memegang kotak musik. Suara musiknya terdengar sangat aneh dan pelan.
Nina merasa takut. Ia mencoba menutup mata nya dan tak mau melihat ke arah lorong tempat mainan-mainan itu berasal.
Dari arah lorong, terlihat bayangan hitam berdiri tegak dan tak bergerak dari sana. Saat masih menutup matanya, Nina mendengar suara orangtuanya yang memanggil nama Nina.
"Nina."
Agak kaget, Nina langsung memeluk lagi Ibunya dengan erat sambil menangis ketakutan. Nina kemudian bercerita tentang apa yang di alaminya. Orangtua Nina bingung dengan hal yang diceritakan putrinya. Karena mainan yang diceritakan Nina tidak terlihat satu pun disana.
Ibu Rina membawa Nina ke kamar nya di lantai 2. Kamar tidur mereka dipisahkan oleh pintu yang menghubungkan kamar utama dan kamar anak.
Malam itu setelah mengantar Nina ke kamar, karena lelah, mereka langsung tertidur.
Tek tek tek
Suara jam dinding terdengar begitu kencang membuat Nina sulit untuk tidur. Nina tetap mencoba memejamkan matanya.
Jam 01.45
Terdengar suara tawa anak-anak kecil dan Langkah kaki berlarian di dekat Nina. Nina berusaha memejamkan matanya karena takut.
Sentuhan dingin terasa di pergelangan kaki Nina, Nina pun membuka mata melihat ke arah kakinya.
Di pergelangan kaki, Nina melihat tangan kecil memegangnya dengan kuat dan ada anak kecil yang terlihat berada dalam selimutnya.
Seketika dingin terasa di seluruh tubuh. Nina ingin berteriak tapi suaranya tertahan. Lalu, Nina pun pingsan.
Esoknya, Pak Toni berangkat ke kantor seperti biasa. Ibu Rina merapihkan sisa box semalam. Saat masuk ke kamar, bu Rina terkejut melihat Rina yang tertidur memeluk sebuah cermin berbentuk lingkaran. Ia sama sekali tidak mengingat mereka pernah memiliki Cermin itu.
Ketika hendak mengambil cermin dari pelukan putrinya. Tiba-tiba mata Nina melotot dan menatap ke arah nya. Bu Rina sangat kaget dengan tatapan putrinya. Namun, beberapa saat kemudian ekspresi Nina sudah berubah seperti biasa.
Bu Rina menghela nafas. Dia berpikir mungkin itu hanya akibat dari kelelahan sehingga menyebabkannya berhalusinasi.
Setelah kamar telah selesai dibersihkan, bu Rina melihat Nina yang masih bermain dengan cermin itu.
Di hampirinya Nina yang sedang duduk melihat ke arah cermin. Awalnya bu Rina berpikir Nina menggunakan cermin itu untuk bermain dengan bonekanya. Tapi ada yang agak aneh. Nina menatap ke cermin sambil mengobrol dengan riang seperti berbicara dengan seorang teman.
Ibu Rina yang mendengar itu langsung memanggil Nina.
"Nina sayang, sedang ngobrol dengan siapa?" Tanya Ibu Rina.
"Henan Hana Ma." (Dengan Hana Ma)
Ibu Rina pun duduk di belakang Nina.
"Hana nya mana, sayang? Tanya Ibu Rina Lagi.
"Hiha hini Ma." (Dia disini Ma.)
Nina menunjuk ke arah cermin dengan riang. Ibu Rina menatap pada cermin itu. Tak ada yang aneh. Tapi aura dari cermin membuatnya tak bisa lama-lama menatap kearahnya. Saat memandang cermin itu, ada aura tak menyenangkan yang keluar darinya. Ibu Rina pun dibuat mual dan pusing setelah melihatnya.
Nina melihat Ibu Rina yang masih memegang cermin itu. Lalu dengan pandangan kosong, Nina menarik tangan ibunya.
"Ma. Hana hihang hana hak mahu mama hagu mahin." (Ma, Hana bilang Hana gak mau mama ganggu mainnya.)
Mendengar itu Ibu Rina terkejut dan agak kesal. Namun, melihat Nina senang saat bermain, Ibu Rina pun membiarkannya.
Malam harinya, bu Rina terbangun mendengar suara tawa cekikikan yang sangat dekat. Ia melihat suaminya sedang tidur lelap. Ia tak tega untuk membangunkannya.
Suara cekikikan itu terdengar lagi. Bu Rina menghampiri asal suara itu. Suara itu berasal dari kamar Nina. Dengan cepat Ia langsung menghampiri putri nya yang tidur sendiri.
Dibukanya pintu yang menghubungan kamar mereka. Bu Rina sangat terkejut saat melihat Nina juga sedang tidur.
Saat mendekat lagi ke arah Nina, bu Rina merasa ada mata yang terus memperhatikannya dengan tatapan tajam.
Bu Rina ingat dengan cermin yang dilihatnya kemarin, dicarinya Cermin itu. Cermin itu terletak di samping Nina tidur. Dengan hati-hati, bu Rina memberanikan dirinya mengambil cermin itu.
Paginya, Nina demam tinggi. Tubuhnya kejang. Bu Rina dan Pak Toni panik dan langsung menelpon ambulan. Setelah di berikan beberapa suntikan obat, suhu tubuh Nina pun kembali normal.
"Ma. Papa mau bayar admin nya dulu yah." Ucap Pak Toni.
Bu Rina mengangguk lalu duduk disamping Nina yang masih tidur. Saat mengalihkan pandangannya sebentar dari Nina, Ibu Rina kembali melihat mata anak nya yang melotot ke arahnya.
"Ma. Mana cermin aku."
Ibu Rina sangat terkejut. Jelas terdengar itu bukan suara putrinya. Suaranya terdengar sangat berat dan penuh kemarahan.
Saat semakin terintimidasi oleh tatapan putrinya itu, bu Rina langsung menjerit. Pak Toni dan beberapa perawat rumah sakit langsung mengecek ke dalam ruangan.
Ibu Rina yang ketakutan, memeluk Suaminya dengan wajah pucat dan keringat dingin muncul di seluruh tubuhnya.
"Ada apa ma..? " Tanya Pak Toni khawatir.
"Nina pa. Nina....." Ucap Ibu Rina panik dan ketakutan.
Pak Toni bingung. Ia meminta Istrinya untuk tenang dan melihat sendiri keadaan Nina saat ini.
Nina terlihat masih tidur nyenyak di atas kasur. Pak Toni menjelaskan mungkin saja karena terlalu Lelah, Ibu Rina barusan tidur dan bermimpi tanpa disadarinya.
Bu Rina hanya mengangguk. Ia juga tak percaya apa yang dilihatnya. Tapi mengingat kejadian aneh akhir-akhir ini membuat Ia merasa ada hal yang tidak benar sudah terjadi di rumahnya.
Ibu Rina mengingat apa yang diceritakan putrinya di awal. Bahwa kejadian di mulai saat ada mainan-mainan yang bergerak ke arahnya dari arah lorong gelap di pojok rumah. Ibu Rina juga kembali mengingat putri nya yang sedari awal sudah ketakutan sebelum masuk ke dalam.
Akhirnya, Ibu Rina pun mencoba menceritakan semuanya pada suaminya. Awalnya Pak Toni tak percaya. Namun melihat istrinya yang begitu serius membuat pak Toni mempercayai kata-katanya. Pak Toni pun sangat mengenal istrinya sebagai orang yang realistis dan tak mudah percaya hal-hal yang berbau ghoib.
Hari itu, Pak Toni dan Bu Rina mendatangi pak Asep, penanggung jawab rumah. Ia sudah menjaga rumah itu sejak pertama di dirikan.
Saat pertama kali pak Toni dan bu Rina bertanya, pak Asep terlihat enggan menjawabnya. Bu Rina terus memohon kepastian dan kejujuran pak Asep karena ini menyangkut keselamatan putri dan keluarganya. Bu Rina menyerahkan cermin yang sebelumnya dipegang oleh putrinya. Karena sejak ada cermin inilah, Nina berlaku sangat aneh.
Melihat cermin itu, pak Asep pun terlihat agak panik. Setelah minum beberapa gelas, pak Asep pun mulai menceritakan asal Rumah itu terbentuk.
Pemilik rumah pertama yang membangun rumah itu bernama Chiu Liu Xing. Ia adalah seorang saudagar kaya berkebangsaan cina yang hobi mengumpulkan barang-barang antik.
Suatu hari, ia membawa banyak sekali barang antik yang dibawanya dari beberapa negara yang berbeda. Cermin ini adalah salah satunya.
Sejak saat itu, warga sekitar merasa ada yang berubah dari sikap keluarga pak Xing. Mulai dari teriakan yang terdengar saat malam. Atau suara garukan tembok yang dilakukan oleh mereka.
Warga sekitar juga sering melihat pak Xing mondar-mandir di depan rumah. Tapi pada saat dipanggil, Ia selalu mengabaikannya.
Sebulan setelah itu, pak Xing ditangkap oleh polisi karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap keluarganya. Setelah pak Xing ditangkap, rumahnya di jual kepada beberapa keluarga dengan harga yang sangat rendah.
Keluarga-keluarga yang menempati rumah ini juga mengalami kejadian malang. Ada yang bunuh diri, ada yang menghilang tiba-tiba, ada yang kecelakaan.
Mendengar itu, pak Toni sangat marah karena merasa di bohongi. Mereka tidak di beritahu sebelumnya. Bu Rina berusaha untuk menenangkan suaminya.
Malam harinya mereka sepakat untuk pindah dari rumah itu di keesokan harinya. Saat perjalanan ke Rumah Sakit, mobil yang di kendarai oleh pak Toni rem nya tiba-tiba blong. Beruntung saat itu tak ada kendaraan lain. Pak Toni membanting stir mobil nya dan menyebab kan bagian belakang mobil hancur.
Pak Toni dan Bu Rina pun di bawa ke Rumah Sakit untuk dilakukan pemeriksaan.
Bu Rina tidur di atas bed Rumah Sakit disebelah Nina. Ia mendengar kembali suara tertawa yang semakin jelas dan kencang memekikkan telinga.
Brrruuukkkk..
Sesuatu yang sangat berat tiba-tiba menimpa perut bu Rina. Bu Rina tak bisa menggerakkan badannya. Bu Rina kesulitan untuk membuka matanya.
Hihihihiihiihiii..
Suara tertawa semakin kencang seakan menertawai bu Rina yang mencoba untuk bangun. Saat bu Rina membuka mata, bu Rina melihat sesosok anak kecil berbaju kusam dan berambut pendek yang sangat mengerikan duduk di atas perutnya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan berlumuran lumpur, berbau sangat amis melotot ke arah bu Rina sambil menyeringai.
[Ku kubur. Kita kubur.]
Tidak hanya satu suara yang muncul dari makhluk itu. Melainkan banyak suara dengan nada yang berbeda dan suara yang berbeda.
[Pencuuri... Dasaar penghianat]
Suara itu terus cekikikan kadang terdengar merintih, kadang terdengar mengaum, kadang terdengar marah.
Keringat pun membasahi tubuh bu Rina. Makhluk itu mulai mencengkram kaki dan lengan bu Rina.
Dalam ketakutan dan kekhawatiran, di ucapkannya doa dan puji-pujian kepada yang Maha Kuasa.
Badan bu Rina pun menjadi agak ringan. Bu Rina melihat ke arah meja. Di ambil nya Tas nya yang di bawa tadi. Bu Rina mengeluarkan cermin itu. Di lemparkan nya Cermin itu dengan sepenuh tenaga ke atas permukaan lantai.
Praang.
Kaca cermin pun berserakan. Makhluk-makhluk itu berteriak histeris. Berlarian kesana-kemari. Sampai beberapa saat kemudian lenyap. Suara cermin yang pecah membuat perawat dan dokter yang berjaga menghampiri ruangan.
Setelah bu Rina dapat duduk, terdengar jeritan dari arah Nina. Disana Nina sudah dipegangi oleh pak Toni. Nina meraum seakan kesakitan. Dokter dengan cepat memberinya obat penenang.
Setelah melihat Nina sudah kembali tidur, Pak Toni langsung menghubungi beberapa rekannya yang lebih memahami tentang hal ghoib.
Pagi harinya, Kyai besar dan rekan-rekannya datang ke rumah mereka. Dan melakukan pembersihan. Kyai pun memeriksa keadaan Nina yang ternyata memang sudah di rasuki oleh Makhluk yang sangat jahat.
Kyai melakukan ruqiah terhadap Nina dan Orangtuanya. Mereka pun memuntahkan banyak cairan berwarna kehitaman.
Setelah beberapa jam Ruqiah dilakukan, Nina dapat bercerita kembali seperti semula. Nina tidak mengingat dia memilki teman yang bernama Hana. Atau saat dia memegang cermin. Yang terakhir Nina ingat adalah saat Nina melihat ada anak kecil yang bersembunyi di balik selimutnya memegang pergelangan kaki nya.
Mendengar itu, bu Rina pun memeluk Putrinya dan mencium pipinya. Pak Toni yang merasa sedih dengan kejadian yang menimpa keluarga kecilnya memutuskan untuk menjual kembali rumah itu dan secepatnya pergi sekarang juga.
Beberapa bulan kemudian, bu Rina terlihat sedang menjemur pakaiannya di depan rumah yang terlihat asri. Di lantai 2 kamar Nina, Bu Rina menengok ke arah jendela. Ada Nina yang melambaikan tangan padanya.
Nina yang asyik bermain di kamar, melihat ada cermin di kumpulan mainannya.
Nina pun mengambil cermin itu. Dan dari cermin terdengar suara yang agak serak,
[Hello Nina]
-E N D-