Dinner
Pak Arga ternyata nggak nyerah.
Jam 4 sore, semua tim udah mau pulang. Laporan di meja ku udah rapi.
Ting! Slack masuk.
Pak Arga: Hasya, sorry tadi pagi kepotong Pak Fatah. Gimana kalau malam ini dinner aja? Aku tau tempat sushi enak di Ijen. Sekalian aku mau kasih feedback laporan kamu. Profesional kok, janji. No personal.
Profesional. Janji. No personal. Tapi pakai emoji senyum.
Aku lagi ngetik "Maaf Pak, malam ini..."
Belum selesai ngetik, bayangan tinggi sudah di belakang mejaku.
Fatah. Nggak tau dari kapan berdiri di situ. Tangannya di saku celana. Wajahnya datar, tapi aku hafal wajah datar itu.
"Siapa?" tanyanya pelan.
Aku langsung tutup laptop. "Eh, nggak siapa-siapa, Mas. Pak Arga mau—"
"Mau ngajak dinner? Sushi di Ijen?"
Dia baca. Dia baca slack ku.
"Mas ngintip!"
"Saya bos. Saya berhak audit chat kerja."
"Ini Slack pribadi, Mas!"
"Yang audit pacarnya juga termasuk kerjaan."
Aku manyun. Fatah malah ambil HP ku, ketik sendiri.
Tangannya cepet.
Hasya: Maaf Pak Arga, malam ini saya sudah ada dinner dengan pacar saya. Feedback bisa besok pagi di kantor aja ya. Terima kasih.
Send.
Aku melotot. "MAS!"
"Kenapa? Kan bener kamu dinner sama pacar kamu malam ini," katanya santai, balikin HP ku. "Saya udah reservasi."
"Hah? Reservasi di mana?"
"Di rumah kamu. Tadi Ibu kamu WA saya, katanya ada gorengan tempe sisa kemarin. Sama Ani kangen om."
Aku mau marah, tapi...
Pak Arga balas:
Pak Arga: Oh oke, Hasya. Have a nice dinner ya sama pacarnya. Besok kita bahas di kantor. Sorry ganggu.
Aman. Sopan. Mundur teratur.
Aku hembuskan napas lega.
Fatah masih berdiri di belakang, sekarang tangannya ngelus cepolku pelan. Di kantor yang masih ada 3 orang lembur.
"Mas, jangan di sini," bisikku panik.
"Biarin. Biar Pak Arga lihat. Biar semua mentor baru tau, sekretaris paling pinter di kantor ini sudah ada yang punya. Dan yang punya itu cemburunya gede."
"Rahang Mas naik lagi."
Kali ini dia nggak ngeles. Dia condong, bisik di dekat telinga.
"Karena tadi kamu hampir bilang iya ke sushi Ijen. Padahal kamu alergi udang."
Aku diem. Iya juga. Aku alergi udang. Pak Arga nggak tau. Fatah tau.
"Yuk, pulang," katanya. "Dika udah di rumah kamu duluan, katanya mau belajar gendong Ani lagi."
"Mas jadi supir antar-jemput ponakan sekarang?"
"Supir antar-jemput ponakan dan tantenya."
Dia ambil tasku, gandeng tanganku terang-terangan lewat depan meja Pak Arga yang masih beres-beres.
Pak Arga cuma senyum kaku. "Mau pulang, Pak Fatah, Mbak Hasya?"
Fatah angguk, senyum menang.0
"Iya, Pak Arga. Mau dinner keluarga."
Dan malam itu, sushi Ijen kalah sama gorengan tempe, teh anget, dan ponakan 7 0 yang nangisnya cuma berhenti kalau digendong bos yang rahangnya gampang naik itu.
Makan Bareng
Rumah lantai satu. Jam 7 malam.
Meja makan kayu yang kecil, muat buat 4 orang, sekarang dipaksa muat 5. Bapak di ujung, Ibu di samping kompor, aku, Fatah, dan Dika yang tiba-tiba nongol lagi katanya "kangen tempe Ibu".
Ani udah tidur di kamar, jadi tinggal orang dewasa.
Lauknya sederhana. Sayur lodeh, tempe goreng tepung yang masih anget, sambal terasi, ikan asin, sama kerupuk seplastik.
Nggak ada sushi Ijen. Nggak ada carbonara. Tapi wangi.
Fatah duduk sebelahku. Rapat banget. Meja kecil, jadi lututnya nempel lututku.
Awalnya normal. Bapak nanya soal kantor Surabaya tadi lancar nggak, Ibu nanya Pak Arga itu siapa.
Sampai di tengah makan...
Tangan Fatah turun dari meja. Pelan. Nggak ada yang lihat.
Terus megangin tanganku terus sebelah di bawah meja makan.
Hangat. Erat.
Aku kaget. Sendokku hampir jatoh.
"Hasya, kenapa?" Ibu lihat aku bengong.
"Eh, enggak, Bu, sambalnya pedes," kataku, pura-pura minum air. Di bawah meja, aku coba lepasin tangannya.
Nggak dilepas. Malah digenggam lebih kenceng. Jempolnya ngelus punggung tanganku lagi, kebiasaan barunya.
Dika yang di depan, lihat mukaku merah, langsung paham. Dia tendang kaki Fatah pelan dari seberang.
Fatah meringis, tapi tetep nggak lepas.
Bapak masih makan pelan. "Fatah, tambah nasinya. Masih banyak."
"Iya, Pak, makasih," jawab Fatah, santai banget. Padahal tangannya masih di tanganku. Bos memang jago akting.
Ibu cerita panjang lebar soal jahitan kebaya yang numpuk. Aku angguk-angguk, tapi fokusku cuma di tangan yang di bawah itu. Deg-degan. Takut ketahuan.
5 menit. 10 menit. Makan selesai.
Ibu angkat piring. Bapak ke depan nyalain TV. Dika cuci tangan.
Saatnya pulang.
Di teras depan, langit Malang udah gelap, dingin. Motor Bapak diselimutin.
Fatah pamit salim ke Bapak Ibu lagi. Sopan.
Aku nganter sampai pagar. Dika sengaja masuk duluan bawa kresek sisa kerupuk.
Tinggal kami berdua di depan pagar yang catnya ngelupas.
"Mas, tadi ngapain megangin terus di meja makan?" bisikku, jitak pelan lengannya. "Kalau Bapak lihat gimana?"
"Biarin," katanya. "Biar Bapak tau, anaknya dijagain. Nggak cuma di kantor, di meja makan juga."
"Gombal."
Dia ketawa. Terus lihat tanganku yang tadi dia pegangin.
"Tangan kamu dingin. Tadi di dalam juga dingin."
"Kan AC alami, Mas. Rumah lantai satu."
Dia buka jaketnya. Jaket denim yang dia pakai tadi.
"Pakai."
"Enggak usah, Mas, bentar lagi masuk rumah."
"Pakai, Sya."
Nada bosnya keluar lagi. Aku pakai. Kegedean. Wangi parfumnya yang mahal campur bau tempe goreng.
Dia lihat aku pakai jaketnya, senyumnya puas.
"Udah, masuk. Nanti Ani bangun nyariin tante kepang dua-nya."
Aku mau balik, tapi dia tahan tanganku sebentar. Nggak lama. Cuma 3 detik.
"Besok di kantor, jangan pakai blazer krem lagi," bisiknya.
"Kenapa?"
"Pak Arga muji terus. Pakai yang item aja. Yang galak."
Aku ngakak. "Mas cemburu terus ya?"
"Selama kamu masih jadi sekretaris saya, iya."
Dia lepas tanganku, masuk mobil hitamnya.
Mobilnya jalan pelan, sampai belokan masih kasih lampu dim.
Aku berdiri di teras pakai jaket kebesaran, tangan masih anget bekas digenggam di bawah meja makan tadi.
Ibu dari dalam teriak, "Sya! Pintunya tutup! Dingin!"
Aku masuk. Ani masih tidur. Meja makan masih berantakan.
DAUN MUDA - Part 14: Blazer Hitam
Besoknya.
Aku nurut. Beneran nurut.
Blazer krem aku simpen di lemari. Aku pakai blazer hitam. Yang potongannya tegas, bahunya agak naik, bikin kelihatan galak. Rok span hitam, heels hitam, cepol lebih kenceng dari biasanya. Lipstik juga aku bikin agak lebih tua. Bukan merah, tapi mauve gelap.
Niatnya biar Pak Arga nggak muji-muji lagi. Biar kelihatan nggak approachable.
Jam 08:00 aku masuk kantor. Melewati meja tim marketing.
Pak Arga yang lagi ngopi, lihat aku, langsung senyum. Mau buka mulut.
Aku duluan pasang muka datar versi sekretaris killer. "Pagi, Pak Arga."
Dia langsung... mundur selangkah. "Pagi, Hasya. Wah, galak ya hari ini."
Berhasil.
Aku lanjut jalan ke ruangan Fatah, bawa laporan yang udah aku print dan kopi hitam tanpa gula.
Ketok pintu.
"Masuk."
Fatah lagi di balik meja kerjanya, laptop buka, kemeja putih, dasi abu-abu. Rapi. Bos banget.
Dia ngangkat kepala.
Dan... diam.
Matanya dari atas ke bawah. Dari cepolku, blazer hitamku, sampai heels hitamku.
Aku taruh kopi dan laporan.
"Laporan Surabaya udah saya revisi, Pak. Kopi hitam tanpa gula, sesuai pesanan bos yang—"
"Ganti."
"Hah?"
"Ganti blazernya."
Aku bengong. "Kan Mas yang nyuruh pakai hitam? Biar nggak dipuji Pak Arga?"
"Iya. Tapi nggak se-hitam ini. Nggak se-galak ini. Nggak se..."
Dia berdiri. Jalan ke depan mejaku. Tangannya masuk saku.
"Ngga se-cantik ini," lanjutnya, suaranya pelan. Cuma aku yang denger.
Aku langsung merah. Padahal lipstik mauve gelap udah nutupin.
"Mas, ini kantor."
"Ya makanya saya ngambek. Di kantor saya, sekretaris saya pakai blazer hitam kayak gini, nanti semua orang liatin kamu, bukan liatin laporan."
"Kan tujuannya biar Pak Arga nggak liatin?"
"Pak Arga nggak liatin. Sekarang saya yang nggak bisa berhenti liatin."
Dia ambil kopi hitamnya, minum. Rahang naik lagi. Tapi kali ini rahang naik versi lain.
"Balik lagi, Sya. Pakai yang krem aja. Yang kemarin."
"Plin-plan banget jadi bos."
"Plin-plan kalau soal kamu aja."
Aku mau balik badan, tapi dia tahan ujung blazer hitamku. Pelan.
"Hasya."
"Hmm?"
"Tadi pagi Bapak WA saya."
"WA apa?"
"Katanya tempe goreng kemarin masih ada, kalau mau mampir lagi malam ini. Ani katanya bangun jam 3 pagi nyariin Om yang gendong kemarin."
Aku ketawa. "Terus?"
"Terus saya bilang, iya, Pak, nanti malam saya mampir lagi. Tapi kali ini nggak mau di ruang tamu. Mau di teras aja. Soalnya kalau di ruang tamu, Bapak interogasi lagi."
"Terus Bapak bilang apa?"
"Bapak bilang, 'Terserah, asal jangan pegang tangan anak saya di bawah meja makan lagi. Saya lihat dari pantulan panci'."
Aku... DIAM.
Mukaku sepanas kompor Ibu.
"MAS! BAPAK LIHAT?!"
Fatah ketawa ngakak. Ketawa puas.
"Lihat. Makanya tadi pagi Bapak WA saya pakai emoticon senyum."
"Ya ampun, malu banget..."
Aku tutup muka pakai map laporan.
Fatah pelan-pelan tarik map itu.
"Udah, jangan malu. Bapak udah restuin. Buktinya masih nawarin tempe goreng. Kalau nggak restu, yang ditawarin cuma air putih."
Dia benerin cepolku yang miring dikit.
"Yaudah, kerja. Nanti jam 5 kita pulang bareng. Mampir beli susu buat Ani. Pakai blazer hitam ini nggak apa-apa. Biarin orang lain lihat. Yang penting yang boleh pegang tangan di bawah meja cuma saya."
Aku pukul pelan dadanya.
"Bossy."
"Bos kamu."
Dan seharian itu, blazer hitam yang niatnya buat ngusir Pak Arga, malah bikin bos yang rahangnya gampang naik itu nggak fokus kerja sampai jam 5 sore.
DAUN MUDA - Part 15: Lamaran
Makan malam lagi di rumah lantai satu.
Lauknya sama. Lodeh, tempe goreng, sambal, kerupuk. Tapi malam ini ada tambahan: ayam goreng. Ibu sengaja goreng.
Dan ada yang beda di meja.
Panci.
Panci aluminium yang mengkilap banget, baru dicuci, sengaja ditaruh Ibu di tengah meja makan. Bapak yang nyuruh. Biar mantulin cahaya. Biar kelihatan apa yang terjadi di bawah meja.
Aku lihat panci itu langsung pengen ngakak sekaligus pengen masuk ke dalam panci.
Fatah duduk sebelahku lagi. Kali ini jaraknya agak jauh, takut pantulan panci. Tangannya di atas meja, sopan.
Bapak buka obrolan.
"Fatah, sudah lama pacaran sama Hasya?"
Fatah hampir kesedak tempe. "Eh, sudah hampir 8 bulan, Pak. Putus nyambungnya 2 kali."
Bapak angguk. "Lama ya. Hasya sudah 26 tahun bulan depan."
Aku langsung noleh ke Bapak. "Pak..."
Ibu ikut nimbrung, sambil tuang lodeh. "Iya, Pak Fatah. Umur 37, Hasya 26. Sudah waktunya mikir serius, lho. Jangan pacaran terus kayak anak SMA, pegang tangan di bawah meja."
Kena. Kami berdua nunduk.
Ani lagi tidur di kamar, Dika malam ini nggak ikut, jadi tinggal kami berempat dan panci saksi.
Fatah taruh sendoknya. Napasnya agak berat. Aku tau napas itu. Napas kalau dia mau presentasi di depan klien besar.
Dia lihat Bapak. Lihat Ibu. Terus lihat aku.
"Pak, Bu..." Suaranya agak serak. "Makanya malam ini saya datang, selain kangen tempe Ibu... saya mau ngomong serius."
Satu meja diam.
Jantungku... dug-dugnya sampai kedengeran di kuping sendiri.
"Hasya memang sekretaris saya. Awalnya. Tapi sekarang... dia yang atur hidup saya. Jadwal saya, makan saya, kemeja museum saya aja dia yang cuci. Kalau dia cuti sehari aja, kantor berantakan, hidup saya berantakan."
Aku cubit pahanya di bawah meja. Pelan. "Mas, nggak usah lebay..."
Dia malah pegang tangan yang nyubit itu, di bawah meja, di depan pantulan panci. Kali ini terang-terangan. Bapak bisa lihat dari panci.
"Pak, Bu, boleh saya lamaran Hasya?"
Aku bengong.
Ibu bengong. Sendok sayur lodehnya berhenti di udara.
Bapak? Bapak diem lama. Terus ambil kerupuk, dikremes.
"Lamaran gimana, Pak Fatah? Maksudnya nikah?"
"Iya, Pak. Nikah. Saya mau nikah sama Hasya. Bulan depan kalau boleh. Saya nggak mau Hasya jadi sekretaris terus. Saya mau dia jadi istri. Sekretarisnya biar orang lain aja."
Air mataku langsung naik. Nggak tau kenapa. Padahal tadi pagi masih berantem soal blazer hitam.
Ibu langsung lap mata pakai ujung jilbabnya. "Aduh, Pak Fatah... Ibu... Ibu nangis, lho..."
Bapak masih diem. Tatap Fatah lama.
"Hasya mau?" tanya Bapak ke aku, bukan ke Fatah.
Aku lihat Fatah. Kemeja biru mudanya, rambutnya yang udah agak berantakan karena tadi kehujanan di jalan, tangannya yang masih genggam tanganku di bawah meja, di depan panci saksi.
Aku angguk. Pelan, tapi pasti.
"Mau, Pak."
Bapak hembuskan napas panjang. Senyum pertamanya malam ini keluar.
"Ya sudah. Kalau Hasya mau, Bapak mau apa? Bapak pensiunan PNS, nggak bisa kasih apa-apa selain restu. Kamu jaga dia. Jangan bikin dia momong ponakan terus, momong anak sendiri sana."
Fatah langsung berdiri, salim ke Bapak, salim ke Ibu. Matanya merah.
"Terima kasih, Pak, Bu."
Ibu langsung peluk aku. "Akhirnya, Sya... nggak jadi sekretaris terus."
Dari kamar, tiba-tiba Ani kebangun. Nangis.
"Oeee!"
Kami semua ketawa.
Fatah bisik ke aku, masih genggam tangan di bawah meja.
"Tuh, anak kita yang pertama udah setuju."
"Mas! Itu ponakan!"
"Sebentar lagi punya sendiri."
Aku pukul lagi lengannya. Tapi kali ini nggak dilepas.
Di atas meja makan kayu kecil, di depan panci aluminium yang mengkilap, di depan lodeh dan tempe goreng, lamaran paling sederhana akhirnya terjadi.
Nggak di bukit bintang. Nggak pakai cincin berlian. Cuma pakai tangan yang digenggam terus di bawah meja.
Penjelasan & Pagi Kantor
Masih di meja makan, habis lamaran pakai panci saksi. Ani masih nangis di kamar.
Bapak bersihin mulut pakai tisu, terus ngomong pelan.
"Fatah, tadi kamu tanya Ani anak siapa?"
Fatah yang masih genggam tanganku di bawah meja, angguk. "Iya, Pak. Soalnya dari kemarin saya pikir anak tetangga."
Bapak ketawa kecil.
"Ani itu anaknya kakaknya Hasya. Kakaknya di luar negeri. Kerja. Jadi Ani dititip di sini sama Ibu. Makanya rame rumah ini."
Aku nambahin, "Kakakku di Taiwan, Mas. Sudah 2 tahun. Jadi Ani dari bayi di sini."
Fatah langsung ohh.
"Ohhh pantesan," katanya, lega. "Pantesan Hasya pinter momong. Pantesan Ibu jahitnya sambil gendong. Kirain tadi..."
"Kirain apa, Mas?" godaku.
"Kirain kamu yang... ya gitu."
Aku jitak lagi. Bapak lihat, pura-pura nggak lihat, soalnya udah restu.
"Jadi sekarang udah jelas ya, Pak Fatah. Ani itu cucu Bapak, bukan anak Hasya," kata Ibu sambil ketawa. "Kalau anak Hasya nanti, ya sama kamu."
Aku langsung batuk. Tempe nyangkut.
"Bu!"
Fatah senyumnya lebar banget malam itu.
---
Paginya, di kantor.
Jam 08:00. Kantor Malang.
Aku masuk pakai blazer krem lagi. Soalnya blazer hitam bikin bos nggak fokus, katanya.
Di meja, udah ada kopi hitam tanpa gula. Dan ada sticky notes.
Tulisannya:
Untuk Sekretaris Pribadi, Calon Istri, Calon Ibu dari Anak-Anakku, dan Tante Resmi Ani.
Tolong laporan Surabaya direvisi lagi ya, Bu Bos.
- Mas Bos yang Semalam Lamaran Pakai Panci -
Aku remas sticky notes itu. Malu sama satpam.
Belum selesai malu, Fatah keluar dari ruangannya. Rapat sama tim marketing, termasuk Pak Arga.
Lewat depan mejaku, dia berhenti. Di depan semua orang.
"Hasya."
"Iya, Pak?"
"Eh, salah. Maksudnya..."
Dia mikir, senyum isengnya muncul.
"Sayang?"
Satu kantor marketing nengok.
Aku mau pingsan di tempat.
"MAS!"
"Oh salah ya? Yang bener apa? Cinta? Bu Bos? Tante Ani?"
Pak Arga yang lagi bawa map, langsung pura-pura batuk dan belok arah ke pantry. Paham situasi.
Dika yang lewat, langsung bersiul.
"WOOOOW, ADA YANG SUDAH SAH NIH!"
Fatah nggak peduli. Dia condong ke mejaku, bisik cuma aku yang denger.
"Pagi, calon istriku yang semalam dilamar di depan panci. Semalam tidur nyenyak? Atau masih mikirin cincin? Soalnya cincinnya belum saya kasih, ketinggalan di mobil. Nanti siang saya kasih di pantry ya, biar romantis, bau kopi."
Aku tutup muka pakai laporan.
"Mas, iseng banget sih!"
"Iya. Kan sekarang udah boleh iseng. Kan udah direstuin Bapak pensiunan PNS. Di bawah meja juga udah boleh, apalagi di atas meja."
"Mas!"
"Ya udah, kerja. Nanti siang kita meeting. Meeting bahas tanggal lamaran resmi. Sama Bapak Ibu."
Dia jalan balik ke ruangannya, ninggalin aku dengan sticky notes remasan dan muka merah se-Malang Raya.
Dan di meja, ada kotak kecil hitam. Dari tadi nggak kelihatan ketutup laporan.
Aku buka pelan.
Cincin. Nggak besar. Simple. Tapi di dalamnya ada ukiran kecil: Sya - 30% lebih.
DAUN MUDA - Part 17: Di Ruangan Fatah
Jam istirahat. Kantor sepi, pada ke kantin bawah.
Aku masuk ke ruangan Fatah bawa kotak hitam kecil itu. Jantungku masih deg-degan sejak pagi.
Dia lagi di balik mejanya, lepas blazer, kemeja putih lengan digulung. Lihat aku masuk, langsung senyum.
"Loh, Bu Bos? Ada perlu?"
Aku taruh kotak di mejanya. Pelan.
"Masangin. Masa saya masang sendiri," kataku pelan. Suaraku kecil.
Fatah berdiri. Jalan ke pintu.
Klek.
Dikunci.
"MAS!"
Aku langsung panik, lihat pintu.
Dia balik, angkat tangan.
"Tenang, udah Mas kunci, aman-aman," bisiknya. "Biar nggak ada Pak Arga nyasar."
"Kalau ada yang ketok gimana?"
"Biarin ketok. Bilang aja bos lagi meeting penting sama sekretaris pribadi."
Dia jalan pelan ke depan aku. Ambil kotak hitam itu, buka.
Cincin silver kecil, simple, nggak norak. Pas sama jari aku yang kecil.
Dia ambil tanganku. Tangannya agak gemeter. Bos yang biasa tanda tangan kontrak M-an, gemeter pas masangin cincin.
"Hasya," katanya pelan.
"Khmm?"
"Ini cincin lamaran beneran. Bukan cincin mainan. Jadi kalau udah dipasang, nggak boleh dilepas. Nggak boleh cuti sendiri lagi tanpa Mas. Nggak boleh bilang 'Mas nyebelin' lagi. Bolehnya bilang 'Mas suamiku'."
"Belum sah, Mas."
"Bentar lagi sah. Makanya latihan dulu."
Dia slip cincin itu di jari manisku. Pelan banget. Pas.
Nggak kebesaran, nggak kekecilan. Kayak diukur pas aku tidur.
"Bagus nggak?" tanyanya, lihat mataku, bukan cincinnya.
Aku ngangguk.
Nggak bisa ngomong. Mataku berkaca-kaca. Malu.
Cincinnya bagus. Tapi yang bikin aku ngangguk bukan cincinnya.
"Bagus, Mas."
"Bagus cincinnya atau yang masangin?"
"Dua-duanya."
Dia ketawa, lega. Terus genggam tanganku yang udah ada cincinnya. Diangkat, dicium punggung tangannya. Cepat. Sopan. Tapi bikin merinding.
"Aku ngangguk tadi maksudnya... iya. Aku mau dilamar pakai panci, mau dilamar pakai cincin di ruangan dikunci. Mau."
Fatah diem. Rahangnya nggak naik. Rahangnya turun. Matanya malah yang naik, berkaca-kaca juga.
"Ya udah, jangan nangis. Nanti lipstik mauve galak kamu luntur. Nggak galak lagi."
Aku ketawa sambil nangis. "Mas sih!"
Dia peluk. Peluk cepat, erat, di ruangan bos yang pintunya dikunci.
"Boleh saya pamer nggak nanti ke Bapak kalau cincinnya muat?" bisiknya di atas kepalaku.
"Boleh. Tapi bilang ke Bapak, yang ngukur jarinya pas Hasya lagi momong Ani sambil kepang dua berantakan."
"Siap, calon istri tukang kepang dua."
Tok tok tok!
Pintu diketok dari luar.
"Pak Fatah! Mbak Hasya di dalam? Rapat jam 1 jadi nggak?" Suara Pak Arga.
Kami berdua langsung panik, lepas pelukan kayak maling ketahuan.
Fatah betulin kemejanya, aku betulin cepolku, sembunyiin tangan yang ada cincinnya di balik map.
Fatah teriak ke pintu, suaranya balik jadi bos lagi.
"Jadi! 5 menit lagi! Sekretaris saya lagi... lagi revisi laporan penting di dalam!"
Aku jitak pelan punggungnya.
Video Call
Sorenya.
Apartemen Hasya. Malang.
Baru mandi, rambut masih basah, pakai kaos oversize putih sama celana pendek. Nggak pakai blazer. Nggak pakai cepol. Balik jadi Hasya yang kepang satu berantakan.
Di meja, cincin lamaran tadi masih di jari. Nggak dilepas sejak siang. Kadang diliatin, kadang ditutupin bantal kalau malu sendiri.
Jam 9 malam. Video call.
Fatah.
Dia di apartemennya juga, kayaknya baru selesai mandi juga. Pakai kaos hitam polos, rambutnya masih agak basah. Di belakangnya kelihatan Dika lewat bawa mie instan.
"Hai, Bu Bos," sapa Fatah. Senyumnya... iseng lagi.
"Hai, Mas Bos," jawabku, suara kecil. Aku sembunyiin tangan yang ada cincinnya di bawah selimut.
"Gimana kerja hari ini? Pak Arga masih muji-muji?"
"Enggak. Soalnya dari siang saya pakai cincin. Dia lihat, langsung diem."
"Bagus."
Hening 3 detik.
Terus Fatah mulai.
"Tadi Ani gimana? Tidurnya nyenyak?"
Aku angguk. "Nyenyak, Mas. Kata Ibu tadi udah makan bubur."
"Oh, buburnya habis berapa sendok?"
"5 sendok, Mas."
"Terus pupnya lancar?"
Aku mulai curiga.
"Mas... ngapain nanya pup Ani?"
Fatah pura-pura serius, pegang dagu.
"Ya kan... calon Ayah harus belajar. Nanti kalau anak kita pupnya gimana, makannya berapa sendok. Kan harus latihan dari Ani."
Aku langsung merah. Sekujur muka.
"Mas!"
"Kenapa? Kan bahas Ani. Tadi katanya bahas Ani."
"Bahasa Ani terus, padahal bukan Ani yang dibahas!"
Dia ketawa ngakak di layar. Sampai Dika dari belakang teriak, "Woy, berisik! Orang mau tidur!"
Fatah kecilin suara, condong ke kamera.
"Sya."
"Apa?"
"Cincinnya masih dipakai?"
Aku pelan-pelan keluarin tangan dari selimut. Cincin silver kecil itu kelihatan di lampu apartemen.
"Masih."
"Bagus nggak pas tidur?"
"Bagus... tapi malu, Mas. Gede nggak sih? Norak nggak sih?"
"Nggak. Kecil. Pas sama kamu. Pas sama jari yang kemarin megangin tangan Mas di bawah meja makan depan panci."
Aku tutup muka pakai selimut. Cuma mata kelihatan.
"Mas, jangan bahas panci terus!"
"Terus bahas apa? Bahas Ani lagi? Ani kan kalau besar nanti manggil kamu Tante, manggil aku... Om. Tapi anak kita nanti manggil kamu Ibu, manggil aku Ayah. Beda."
"Mas!"
Aku makin malu. Suaranya sampai cempreng.
Fatah di layar malah makin seneng lihat aku malu.
"Hasya."
"Apa lagi, Mas?"
"Kangen."
Satu kata itu aja. Pelan.
Aku diem. Nggak jadi nutup selimut. Tangan yang ada cincinnya aku tempelin ke pipi yang panas.
"Kangen juga," jawabku pelan banget. Hampir nggak kedengeran.
"Besok pagi aku jemput ya. Nggak usah pakai blazer galak. Pakai yang krem aja. Biar aku yang galak jagain kamu dari Pak Arga."
"Iya, Mas."
"Kiss goodnight buat calon istri yang maluan."
"Mas! Dika ada di belakang!"
"Biarin. Dia udah biasa."
Aku matiin video call duluan. Soalnya kalau dilanjutin, muka aku bisa meledak merahnya.
Di layar HP, foto terakhir Fatah ke-freeze, senyum menang.
Dan cincin di jari aku, tiba-tiba berasa anget.
Jemput Motor
Besok pagi. Jam 06:30. Malang masih berkabut dingin.
Aku udah rapi pakai blazer krem sesuai perintah bos. Cincin silver masih di jari, aku tutupin pakai cincin fashion biar nggak ditanya satpam.
Nunggu di depan kos lantai satu. Bapak udah berangkat senam, Ibu lagi nyuapin Ani bubur.
Biasanya Fatah jemput pakai mobil hitamnya yang wangi dan dingin itu.
Tapi pagi ini...
Brummm...
Suara motor gede. Bukan motor Bapak.
Fatah. Pakai helm hitam, jaket kulit hitam, kemeja putih di dalamnya. Motor gede hitam, yang biasanya cuma dipajang di garasi apartemennya.
Aku bengong. "Mas? Mobilnya mana?"
Dia buka kaca helm.
"Mobilnya di bengkel. Motornya kangen jalan. Naik sini."
"Mas, saya pakai rok span!"
"Bisa. Pelan-pelan aja. Duduknya nyamping."
Aku masih ragu, tapi Ibu dari dalam udah teriak, "Hasya! Berangkat sama Fatah! Jangan lama-lama!"
Ani ikut dadah-dadah dari gendongan Ibu.
Ya udah. Naik.
Ini pertama kalinya aku dibonceng Fatah pakai motor. Biasanya disupirin.
Aku naik, rok span hitamku agak ketarik. Tanganku... bingung mau pegang mana. Malu kalau peluk.
Fatah lihat dari spion.
"Hasya."
"Apa, Mas?"
"Pegang. Kalau nggak pegang, jatuh."
"Pegangan besinya aja ya, Mas?"
"Besi yang mana? Ini motor sport, nggak ada besi. Adanya perut Mas."
"Mas!"
Dia ketawa, terus tarik tanganku sendiri, lingkarkan di perutnya.
"Udah, pegang. Aman. Mas udah kunci hati, motor juga udah Mas kunci. Aman-aman."
Sama kayak kalimat di ruangan kemarin. Tenang, udah Mas kunci.
Aku akhirnya peluk. Pelan. Cincin di jariku nyentuh jaket kulitnya yang dingin.
Motor jalan. Pelan dulu keluar gang. Angin Malang pagi itu nusuk. Dingin banget.
Aku makin eratin pelukan, mukaku nempel di punggung jaket kulitnya. Wangi parfumnya kecampur wangi embun.
Fatah ngomong, suaranya agak keras karena angin.
"Hasya!"
"Apa, Mas!"
"Tadi malem nggak bisa tidur ya? Mikirin cincin?"
"Enggak!"
"Bohong! Matanya sembab!"
"Karena dingin, Mas!"
"Alasannya banyak, calon istri tukang kepang!"
Aku jitak pelan helmnya dari belakang.
Sampai lampu merah Ijen, motor berhenti.
Fatah turunin kaki jenjangnya. Tangan kirinya ke belakang, cari tanganku yang melingkar di perutnya, digenggam sebentar. Di lampu merah. Di depan tukang jual koran.
"Mas, orang lihat!"
"Biarin. Biar tau, yang dibonceng ini udah ada yang punya. Ada cincinnya di dalam sarung tangan fashion itu."
Aku kaget. "Mas tau aku pakai sarung tangan fashion buat nutupin?"
"Tau. Soalnya dari spion kelihatan, kamu bolak-balik liatin jari manis dari tadi."
Ketahuan.
Lampu ijo. Motor jalan lagi.
Sampai parkiran kantor, semua orang yang datang pagi lihat. Pak satpam, OB, termasuk... Pak Arga yang baru turun dari mobil.
Pak Arga lihat aku turun dari motor gede Fatah, rambut agak berantakan karena helm, blazer krem agak kusut, tapi tangan masih gandeng.
Pak Arga cuma senyum kaku, angguk. "Pagi, Pak Fatah, Mbak Hasya."
Fatah buka helm, rambutnya berantakan juga, tapi senyum menangnya muncul.
"Pagi, Pak Arga."
Terus dia lihat aku, betulin rambutku yang kena angin di depan semua orang.
"Udah, masuk. Nanti masuk angin. Nanti yang momong Ani siapa?"
Aku ngangguk, masuk duluan dengan muka merah, cincin masih ketutup sarung tangan fashion, tapi hati...
Hari Akad
Hari akad. Gedung kecil di Malang. Bukan hotel bintang lima, bukan ballroom. Gedung serbaguna yang disewa Bapak, didekor Ibu sama tetangga.
Hanya dihadiri karyawan dan keluarga. Sesuai permintaan Fatah.
"Gede-gede buat apa, Sya? Yang penting sah," katanya waktu itu.
Aku setuju.
Pagi jam 9. Aku di ruang rias kecil belakang panggung. Pakai kebaya putih simple, bukan yang payet berat. Jilbab putih. Makeup tipis, Ibu yang maksa pakai lipstik merah biar nggak pucat. Cincin lamaran silver masih di jari, nanti ditumpuk cincin nikah.
Di luar, kursi plastik putih berjejer. Bapak pakai batik coklat, bolak-balik cek sound. Ibu pakai kebaya hijau, sibuk nata tempe goreng - iya, tempe goreng masuk prasmanan akad, protes Dika - dan gendong Ani yang pakai baju batik bayi.
Karyawan kantor datang pakai batik seragam. Pak Arga datang juga, salaman ke Fatah, senyum tulus. "Selamat, Pak Fatah, Mbak Hasya."
Dika jadi MC dadakan, pakai batik kebesaran, mic agak feedback.
Fatah?
Di depan. Pakai beskap putih, peci hitam, duduk bersila depan penghulu. Wajahnya tegang. Rahangnya naik turun terus. Bukan karena cemburu, karena gugup. Tangan yang biasa tanda tangan kontrak, sekarang keringetan pegang mic.
Aku masuk, dituntun Bapak.
Satu gedung diem. Semua lihat.
Fatah lihat aku, matanya langsung merah. Bos yang 37 tahun nggak pernah pacaran, nangis di hari akad.
Bapak serahin tanganku ke Fatah. Bisik, "Jaga ya, Fatah. Jangan cuma dijagain di bawah meja makan."
Fatah angguk, nggak bisa ngomong.
Penghulu mulai.
"Ikhwan Fatah bin..."
Suara Fatah gemeter pas ijab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hasya binti... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas 5 gram dibayar tunai."
"SAH!"
Dika teriak paling kenceng dari belakang. "SAHHHH!"
Ibu langsung nangis. Bapak peluk Ibu. Ani? Ani malah tepuk tangan, dikira mainan.
Aku nangis juga. Fatah salaman sama penghulu, tangannya masih gemeter, terus duduk depan aku.
Sekarang giliran aku salim.
Aku salim, cium tangannya. Cincin nikah emas polos sekarang udah di jari manis, numpuk sama cincin lamaran silver 5 gram yang dulu dibilang "30% lebih".
"Bagus nggak?" bisik Fatah, kalimat yang sama kayak di ruangan dikunci itu.
Aku ngangguk, sama kayak dulu. Tapi sekarang sambil nangis.
"Bagus, Mas."
Di luar gedung, prasmanan dibuka. Lodeh, ayam goreng, dan tempe goreng tepung yang jadi saksi lamaran pakai panci.
Foto keluarga. Foto karyawan. Semua rebutan foto sama Ani yang jadi maskot.
Malamnya, di rumah lantai satu lagi, meja makan kayu kecil itu masih ada. Panci mengkilapnya masih di tengah.
Tapi sekarang ada dua cincin di meja. Dan ada dua orang yang kalau makan, udah nggak perlu pegangan tangan di bawah meja sembunyi-sembunyi.
Udah halal. Di atas meja pun boleh.
DAUN MUDA - Epilog: Bulan Madu
Bulan madu nggak jauh-jauh.
Batu. Villa kecil punya temen Fatah. Dua kamar, satu dapur, halaman belakang langsung lihat kebun apel. Dinginnya sama kayak Malang, tapi lebih sepi. Nggak ada Ibu, Bapak, Ani, Dika, apalagi Pak Arga.
Cuma kami berdua. Dan satu panci kecil yang dibawa Fatah dari rumah.
"Mas ngapain bawa panci?!" Aku ngakak waktu bongkar koper.
"Biar inget. Kalau kangen digosipin Bapak, tinggal ngaca di panci," katanya.
Hari pertama, nggak kemana-mana.
Pagi bangun kesiangan. Aku pakai daster bunga yang Ibu beliin, rambut masih berantakan. Fatah udah di dapur, coba goreng tempe. Gosong.
"Mas, itu tempe gosong!"
"Biarin, ini tempe bulan madu. Gosongnya estetik."
Kami makan di teras. Lodeh instan buatan Ibu yang dibekelin. Dua piring, satu meja kayu kecil, mirip meja makan di rumah lantai satu. Bedanya, sekarang nggak ada yang ngintip dari pantulan panci.
Tangannya megangin tanganku terus di atas meja. Nggak di bawah lagi. Terang-terangan.
"Mas, udah halal, nggak usah di bawah meja lagi," kataku.
"Enak di bawah meja. Tradisi," jawabnya.
Siang jalan ke kebun apel. Petik apel. Fatah manjat, aku di bawah teriak, "Mas, jatuh!"
"Tenang, udah Mas kunci, aman-aman!"
Kalimat andalannya.
Sore hujan. Kami di dalam villa, selimutan. Video call sama rumah.
Ibu: "Hasya, Fatah, dingin nggak? Jangan lupa pakai jaket!"
Bapak: "Fatah, jangan nakal!"
Ani di layar nangis, terus diem pas lihat Fatah. Kangen Om gendong.
Dika nyempil di belakang: "Kak Hasya! Titip apel! Yang merah!"
Malam.
Lampu villa dimatiin, tinggal lampu tidur kuning.
Aku duduk di depan kaca, lepas jilbab, sisirin rambut. Cincin nikah numpuk dua di jari, kilap kena lampu.
Fatah duduk di belakangku di lantai, sandaran ke kasur.
"Hasya."
"Apa, Mas?"
"Bagus nggak?"
Aku lihat dia dari kaca. Nggak lihat cincin. Lihat aku.
Aku ngangguk. Lagi-lagi cuma ngangguk. Kayak di ruangan dikunci itu. Kayak di akad.
"Bagus, Mas."
"Bagus apanya?"
"Semua. Cincinnya, villanya, tempe gosongnya, Masnya."
Dia ketawa, terus peluk dari belakang. Peluk yang sah. Nggak perlu sembunyi.
"Besok pulang, kita beli meja makan baru ya," bisiknya.
"Kenapa? Meja yang di rumah kan masih bagus."
"Biar nggak usah pakai panci lagi buat ngintip. Beli meja yang kacanya bening. Jadi kalau pegang tangan, kelihatan dari atas juga."
"Mas!"
"Kangen diomelin."
Dan malam bulan madu pertama ditutup sama dua orang rebutan selimut, rebutan remote TV yang nggak ada sinyal, dan rebutan siapa yang besok pagi goreng tempe lagi biar nggak gosong.
TAMAT BENERAN.