Setelah putus dari Fatah — 37 tahun, bos, nyebelin, pelit minta ampun kalau soal cuti tapi royal kalau soal ngajak check-in — hidupku rasanya ringan lagi.
Sebulan. Aku cuma butuh sebulan buat lupa cara dia ngomong "Hasya, revisi ya" jam 11 malam.
Terus aku ketemu Dika.
Dika beda. Selisih 3 tahun di bawahku, masih 22, kulitnya bersih, ngomongnya "kak" terus. Nggak neko-neko. Katanya dia anak angkat. Orang tuanya kaya, rumahnya di Citraland yang pagarnya tinggi kayak penjara.
Aku nggak munafik. Aku emang sukanya sama yang mapan. Yang tua udah aku coba, nggak enak. Sekarang coba yang muda tapi mapan.
Sampai suatu sore dia bilang, "Kak, ke rumah yuk. Kenalin Ayah."
Aku dandan paling manis. Dress krem yang sopan. Bahkan aku pakai flatshoes, bukan heels.
Ger bangnya kebuka.
Dan di ruang tamu, duduk dengan kemeja linen yang sangat aku kenal, dengan jam tangan yang dulu pernah aku kasih hadiah ulang tahun.
Fatah.
Dunia kayak di-pause.
"Ayah, ini Hasya. Hasya, ini Ayah."
Dor.
Otakku blank. Dua bulan lalu orang ini masih meluk aku di mobil sambil bilang "kamu beda dari yang lain, Sya". Dua bulan lalu orang ini masih ngambek kalau aku bales chat lama.
Fatah menatapku. Sekilas kagetnya cuma sepersekian detik. Habis itu topengnya dipasang lagi.
"Oh, Hasya. Hai. Senang bertemu denganmu," katanya. Suaranya formal. Seolah kita tidak pernah berbagi selimut yang sama.
Aku ikut akting. Tentu saja.
"Hai, Om. Senang bertemu juga."
Oke. Ini bagus. Ini seru. Aku bisa main.
Dika dengan polosnya duduk di sebelahku, tangannya menggenggam tanganku. "Ayah, Hasya ini pinter banget lho, kerja di..."
Aku tidak mendengarkan. Karena mata Fatah tidak lepas dari genggaman tangan kami.
"Sayang, aku ambilin minum ya buat kak Hasya," kata Dika, lalu berdiri ke dapur.
Hening 3 detik. Hanya suara AC.
Begitu langkah Dika hilang, Fatah menyeringai. Senyum miring yang dulu bikin aku luluh, sekarang bikin aku mual.
Dia condong ke depan, suaranya pelan.
"Oooh... jadi kamu maunya yang daun muda sekarang, ya?"
Nada mengejek. Puas. Seolah dia menang.
Aku tidak mundur. Aku juga condong ke depan.
"Sssshh, jangan berisik ya," bisikku, senyumku lebih manis dari dress-ku. "Kita udah selesai, Om Fatah."
Dia ketawa. Ketawa kecil yang ngeledek.
"Hah. Lucu. Kamu pikir Dika bakal terima kalau tau kamu bekas ayahnya?"
Aku menatap matanya lurus-lurus.
Justru di detik itu, aku sadar. Yang takut bukan aku. Yang takut itu dia.
Kalau Dika tau, yang hancur bukan aku. Aku cuma mantan. Dia? Dia ayah angkat yang pacarin pacar anaknya.
Langkah kaki Dika terdengar lagi.
Fatah langsung duduk tegak, kembali jadi Ayah yang berwibawa.
Dika datang bawa dua gelas jus jeruk. "Nih, Kak."
Aku ambil gelas itu. Tanganku sengaja gemetar sedikit.
"Makasih ya, Dik," kataku, suaraku dibuat pelan, manja. Lalu aku menoleh ke Fatah.
"Om Fatah baik banget ya, Dik. Tadi Om bilang, Om setuju banget kalau kita serius."
Wajah Fatah langsung pucat.
Sekarang giliran aku yang ketawa di dalam hati.
DAUN MUDA - Part 2: Papasan di Kantor
Senin.
Aku lupa betapa sialnya hidup jadi sekretaris mantan yang sekarang calon mertua angkat.
Jam 8 pagi aku sudah harus berdiri di depan ruangannya, bawa kopi hitam tanpa gula, dengan rok span yang dulu dia bilang "jangan terlalu pendek ya, Sya, nanti dilihatin orang".
Pintu kubuka.
Fatah lagi duduk, dasi belum rapi. Begitu lihat aku, dia senyum. Senyum yang kemarin itu. Senyum ngeledek.
"Hasya, kayaknya—"
Aku potong cepat. Nafasku sudah aku tahan dari lobi.
"Pak, saya nggak tau ya kalau Dika anak angkat kamu. Sumpah. Saya taunya dia anak orang kaya, udah gitu aja."
Aku harus ngomong itu dulu. Biar jelas. Aku nggak ngejar dia kesini.
Fatah malah ketawa kecut. Dia sandaran ke kursi, muter pulpennya.
"Ya, terus? Sekarang udah tau kan? Jadi apa rencananya? Mau jadi ibu sambung saya?"
"Pak, ini di kantor."
"Justru karena di kantor," dia menatapku dari atas ke bawah. "Kamu masih pakai fasilitas kantor kan? Apartemen yang saya bantu DP-in? Kartu kredit tambahan yang belum kamu balikin?"
Nadanya pelan, tapi ngancem.
"Awas ya kalau beneran serius sama Dika, saya langsung cabut semua fasilitas yang masih kamu pakai."
Di situ. Meja bergetar bukan karena AC, tapi karena tanganku gemetar nahan marah.
Dulu aku diem kalau diginiin. Dulu aku takut.
Sekarang?
Aku taruh kopinya agak keras di mejanya. Sampai tumpah sedikit.
"Silakan, Pak."
Dia kaget.
"Silakan cabut, Pak. Cabut aja semua. Apartemennya, kartunya, kalau perlu cabut juga akses saya ke ruangan ini sekalian. Saya resign."
"Hasya—"
"Biar adil. Kalau saya serius sama Dika, Bapak cabut fasilitas saya. Kalau Bapak serius jadi ayah yang bener buat Dika, harusnya Bapak cabut mulut Bapak yang ngomongin mantan di depan anak sendiri."
Aku buka map coklat yang aku bawa.
Isinya bukan laporan keuangan. Isinya surat resign yang udah aku print dari hari Sabtu kemarin, habis kejadian di Citraland.
"Terima kasih untuk 2 tahunnya, Pak Fatah. Fasilitasnya nanti saya kembalikan. Tolong jangan pakai jabatan buat ngatur jodoh orang."
Aku balik badan. Flatshoes krem yang kemarin aku pakai buat kenalan sama dia, hari ini aku pakai buat keluar dari hidupnya beneran.
Baru dua langkah, dia manggil lagi. Suaranya udah nggak ngeledek.
"Sya."
Aku berhenti, nggak noleh.
"Kalau kamu cerita ke Dika?"
Aku noleh, senyum. Senyum paling manis yang aku punya.
"Nggak. Saya nggak akan cerita, Pak. Bapak aja yang cerita. Kan Bapak yang ngajarin saya, kalau berani berbuat, berani jujur."
Aku keluar. Pintu aku tutup pelan.
Di luar, HP-ku getar.
Dika: Kak, nanti pulang kantor aku jemput ya? Ayah tadi cerita, katanya kamu pinter. Dia setuju kita.
Aku ketik balik:
Jemput jam 6 ya. Ada yang mau aku ceritain.
Trik Anak Angkat
Aku baru tau semuanya malam itu.
Diner bertiga. Restoran Italia yang mahal itu. Yang lampunya remang-remang.
Aku duduk di tengah. Kiri Dika, kanan Fatah. Posisi paling sial se-Indonesia.
Sejak surat resign itu, Fatah nggak pernah bales chat kantor. Cuma diem. Jadi makan malam ini rasanya kayak sidang skripsi.
Dika yang pesanin semua. "Ayah suka steak medium rare kan? Kak Hasya carbonara ya?"
Manis. Terlalu manis. Sampai aku curiga.
Baru makanan pembuka datang, Dika tiba-tiba pegang perut.
"Aduh. Sakit perut banget. Kak, Ayah, aku ke toilet dulu ya. Kayaknya salah makan siang tadi."
Dia pergi. Cepat. Nggak kayak orang sakit perut, lebih kayak orang yang udah ngafalin naskah.
Meja jadi sepi. Tinggal aku dan Fatah. Lagi.
Aku langsung bisik, panik.
"Jangan bahas apa-apa di sini, Pak. Please."
Fatah tidak menjawab. Dia malah mendorong sesuatu di atas meja ke arahku. Amplop coklat.
Amplop yang aku kenal. Surat resign-ku.
"Surat resign itu tidak saya terima," katanya. Pelan. Tidak ada senyum ngeledek lagi. Suaranya capek.
Aku bengong.
"Pak, apa-apaan sih? Bapak kemarin ngancem mau cabut fasilitas, sekarang nggak terima resign?"
Dia menatapku. Lama.
"Karena Dika tau, Sya."
Darahku berhenti.
"Apa?"
"Dika udah tau dari awal. Dari sebelum kamu aku kenalin ke dia. Foto kita, di mobil kamu yang masih ada gantungan boneka dari saya. Dia lihat. Dia tanya ke saya. Siapa Hasya?"
Aku lemas. Jadi selama ini...
"Itu akal-akalan Dika aja," lanjut Fatah. "Dia anak pinter. Dia tau saya nggak bisa move on dari kamu. Dia tau kamu juga masih keras kepala. Jadi dia bikin skenario ini. Biar kita ketemu lagi. Biar kita balikan. Dia sengaja pura-pura jadi pacar kamu."
"Jadi... selama ini Dika nggak pernah suka sama aku?"
Fatah menghela napas. "Dia sayang kamu, Sya. Kayak adik sayang kakak. Dia bilang, 'Ayah, kalau Ayah masih sayang Kak Hasya, kenapa Ayah lepasin? Aku bantuin balikin ya.' Makanya dia ngajak kamu ke rumah."
Sial. Sial. Sial. Aku pacaran sama anak umur 22 yang ternyata jadi mak comblang bapak angkatnya sendiri.
Aku mau nangis, mau ketawa.
Pas itu juga, Dika datang lagi. Pura-pura nggak tau apa-apa, sambil pegang perut.
"Aduh, masih sakit. Tadi Ayah sama Kak Hasya ngobrolin apa? Seru kayaknya."
Aku dan Fatah saling tatap.
Fatah yang pertama buka suara. Dia menatap Dika, lalu menatap aku.
"Kami ngobrolin surat resign. Yang tidak akan pernah Ayah terima."
Lalu dia menatap aku, dalam.
"Kamu mau cabut fasilitas? Silakan. Tapi kamu nggak bisa cabut dari saya. Sekali lagi, Hasya. Kita coba lagi, ya? Yang bener. Bukan bos sama sekretaris. Bukan om sama daun muda."
Dika langsung tepuk tangan pelan.
"Nah gitu dong! Akhirnya! Drama kalian kelar juga! Aku dari tadi nahan berak di toilet tau nggak!"
Aku nggak bisa nahan lagi. Aku ketawa. Ketawa ngakak sampai air mataku keluar. Di restoran mahal itu.
Dasar keluarga aneh.
DAUN MUDA - Part 4: Kemeja Putih yang Dimuseumkan
Restoran itu masih ramai, tapi meja kami rasanya kayak panggung.
Aku masih bengong dengan amplop surat resign yang ditolak di depanku. Fatah masih menatapku dengan tatapan "tolong jangan pergi lagi" yang sangat tidak bos-nyebelin.
Dan Dika, si dalang umur 22 tahun ini, tiba-tiba nambahin bensin.
Dika condong ke aku, kayak mau bisik rahasia negara.
"Kak Hasya, Ayah tuh dari dulu sibuk ngurus kantor, nggak pernah pacaran. Serius, Kak. Udah dicoba kencan buta nggak mau. Tiap dikenalin sama temennya Ayah, jawabannya cuma 'nggak sempat, kerjaan banyak'."
Fatah langsung batuk. "Dika!"
"Biarin, Yah, biar jelas! Ehh gara-gara Kak Hasya nggak sengaja nyembur Ayah pas Kakak minta cuti nggak dikasih, Ayah jadi suka! Ingat nggak Kak, yang Kakak ngamuk bawa kopi panas terus kesembur ke kemeja putih Ayah?"
Aku ingat. Sangat ingat. Itu hari Jumat. Aku minta cuti karena tipes, dia nggak kasih karena laporan belum selesai. Aku emosi, tanganku kesenggol gelas kopinya sendiri, muncrat semua ke kemeja putihnya yang harganya 3 juta itu.
Aku kira aku bakal dipecat hari itu.
Ternyata...
"Apalagi kemeja putihnya langsung dimuseumkan loh, Kak!" lanjut Dika semangat. "Digantung di lemari kaca! Nggak dicuci! Katanya ada bekas lipstik Kak Hasya! Jijik banget sumpah, Yah!"
"Dika, udah!" Fatah mukanya merah. Merah tomat. Bos galak 37 tahun yang biasa bentak manager, sekarang merah karena dibongkar anak angkatnya sendiri.
Aku yang dari tadi bingung, akhirnya ngomong. Suaraku kecil.
"Kenapa... kenapa ayah angkat malah suka? Kan aku sekretarisnya. Kan aku nyebelin. Kan aku sering telat, sering ngelawan."
Fatah diam lama. Dia mainin garpu. Untuk pertama kalinya, dia nggak kelihatan kayak bos. Kelihatan kayak cowok biasa yang gugup.
"Karena kamu satu-satunya yang berani nyembur saya," katanya pelan. "Semua orang di kantor takut sama saya. Semua bilang 'siap, Pak'. Cuma kamu yang berani bilang 'nggak, Pak, saya sakit, saya butuh cuti'. Cuma kamu yang berani bilang kemeja saya jelek. Cuma kamu yang... nggak lihat saya sebagai ATM."
Dia menatapku.
"Dan pas kamu pergi sebulan lalu, kantor sepi. Rumah lebih sepi."
Dika di sebelahku langsung pura-pura muntah.
"Uuuuuh romantis banget, Yah, geli! Ya udah, Kak, gimana? Kemeja museum itu mau Kakak ambil lagi nggak? Kalau Kakak balikan, kemejanya bisa Kakak cuci sekalian."
Aku menatap Fatah. Menatap Dika. Menatap surat resign yang ditolak itu.
Sebulan aku pikir aku move on ke daun muda. Ternyata daun mudanya cuma tukang kebun yang sengaja nanem aku balik ke pohon yang tua.
Aku tarik amplop itu, aku sobek jadi dua di depan mereka.
"Oke. Tapi ada syaratnya, Pak."
Fatah langsung tegak. "Apa?"
"Naikin gaji saya. 30%. Soalnya kalau jadi pacar bos sekaligus calon ibu angkatnya Dika ini, kerjaan saya double."
DAUN MUDA - Epilog: Jangan Dibahas
Mukaku udah sepanas carbonara yang di depanku.
"Udah jangan dibahas!" Aku jitak pelan lengan Dika. "Apaan sih bawa-bawa bekas lipstik! Itu kan nggak sengaja! Kopinya panas, aku kaget, ya bibirku kena kemejanya!"
Dika malah makin menjadi. Dia nahan ketawa sampai bahunya naik-turun.
"Iya nggak sengaja, Kak. Nggak sengaja nempel pas Ayah lagi benerin dasi Kakak kan? Aku tau kok dari CCTV kantor."
"DIKA!"
Sekarang giliran aku yang merah kayak kepiting rebus. Fatah di depan malah senyum. Senyum menang. Senyum yang dari tadi dia tahan.
"Udah, Dik, cukup. Jangan roasting Kakakmu terus," kata Fatah, tapi nadanya jelas ngebela aku sambil menikmati aku di-roasting.
Dika angkat tangan menyerah. "Oke oke, aku diem. Aku ke toilet lagi deh, beneran sakit perut kali ini. Kebanyakan drama. Kalian lanjut aja."
Dia pergi lagi. Dan kali ini beneran pergi. Nggak balik-balik.
Tinggal aku sama Fatah lagi. Meja berantakan, amplop sobek, dan dua gelas jus jeruk yang nggak disentuh.
"Jadi gimana, Sya?" tanya Fatah.
Suaranya pelan. Nggak ada lagi "Pak" atau "Hasya" yang formal. Cuma "Sya".
Aku masih nunduk, mainin sobekan amplop.
"Gimana apanya, Pak?"
"Fatah. Panggil Fatah aja kalau di luar kantor. Tadi kamu udah sobek surat resign-nya. Berarti..."
Aku akhirnya ngangkat kepala.
"Berarti gaji 30% jadi ya?"
Dia ketawa. Ketawa kenceng sampai orang meja sebelah noleh.
"Jadi. Besok HRD saya suruh transfer."
"Terus apartemennya nggak jadi dicabut?"
"Nggak. Malah saya tambahin jaadi atas nama kamu. Biar nggak ada lagi ancaman cabut-cabut fasilitas."
Aku diem. Jantungku dag-dig-dug nggak karuan. Padahal dulu tiap rapat sama dia aku biasa aja.
"Kenapa malu?" katanya, condong ke depan.
"Siapa yang malu? Nggak!"
"Kupingmu merah."
"Ini karena lampu restoran!"
"Hasya."
"Hmm?"
"Lihat saya."
Aku lihat. Dan sialnya, mata itu masih sama. Mata bos nyebelin umur 37 tahun yang dulu bikin aku sebel setengah mati, sekarang bikin aku...
"Kangen nggak?" tanyanya.
Aku mau jawab "nggak", tapi mulutku malah bilang,
"Dikit."
"Dikitnya seberapa?"
"Sebanyak kemeja putih yang nggak dicuci itu."
Dia nggak jawab lagi. Dia cuma geser kursinya, duduk di sebelahku, bukan di depan lagi. Tangannya pelan-pelan ambil sobekan amplop dari tanganku.
"Besok ke kantor jam berapa, sekretaris saya?"
"Jam 8, Pak. Telat potong gaji kan?"
"Nggak. Besok telat nggak apa-apa. Soalnya sekretarisnya malam ini lembur. Dinner sama bosnya."
Aku mau protes, tapi Dika tiba-tiba muncul lagi dari belakang sambil bawa piring tiramisu gratisan dari waiter.
"MAAF GANGGU! Lanjut! Lanjut! Anggap aku nggak ada! Aku cuma mau bilang, kemeja museumnya ada di lemari Ayah, Kak! Jangan lupa dicuci! Pakai Vanish!"
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah 2 bulan, aku nggak pengen pulang sendirian.
DAUN MUDA - Part 5: Bukit Bintang
Seminggu kemudian.
Dan beneran, Fatah balikan sama Hasya.
Status Hasya sekarang agak bingung kalau ditanya orang.
"Kerja di mana?"
"Jadi sekretaris."
"Sekretaris siapa?"
"Pacar sendiri."
Aneh. Tapi enak. Gajinya beneran naik 30%. Apartemennya beneran dibalik nama. Dan kemeja putih museum itu... akhirnya aku cuci. Pakai Vanish, sesuai saran Dika. Fatah ngambek seharian karena katanya "nilai sejarahnya hilang".
Hidup damai. Sampai hari Jumat itu.
Fatah bilang, "Sya, malam ini kosongin ya. Dika ada acara."
Aku kira mau dinner romantis. Ternyata aku dibawa naik ke bukit. Bukit di Batu, yang kalau malam langitnya penuh bintang, dinginnya menusuk tulang.
Aku pakai jaket tebal. Fatah pakai sweater.
"Ngapain sih, Yah, dingin tau," protesku.
Dia nggak jawab. Dia cuma gandeng tanganku terus jalan ke tengah bukit.
Dan di tengah bukit itu...
Lampu-lampu kecil. Kayak kunang-kunang. Dibentuk lingkaran. Di tengahnya ada satu orang berdiri pakai kemeja putih bersih.
Bukan Fatah. Fatah di sebelahku.
Itu... Farhan?
Farhan. Temen SMA-ku. Yang dulu suka sama aku 7 tahun, yang aku tolak karena dia terlalu baik. Yang pindah ke Jakarta.
"Hasya," kata Farhan, suaranya gemetar. Dia lutut satu kaki. Kotak kecil dibuka. Cincin.
Seminggu lalu aku balikan sama bosku. Sekarang, di bukit bintang, mantan teman SMA-ku ngelamar aku.
Otakku korslet.
"Farhan? Ngapain kamu di sini?!" bisikku panik. Aku noleh ke Fatah. "Yah, ini apa?"
Fatah mukanya juga bengong. Bengong beneran. Bukan akting.
"Bukan saya," katanya cepat. "Sumpah, Sya, bukan saya yang atur ini."
Lalu dari balik semak-semak, dari balik pohon pinus...
"TERIMA! TERIMA! TERIMA!"
Mama, Papa, adikku, Tante-tanteku, KELUARGAKU keluar bawa balon. Dan dari semak sebelah...
Dika, sama Mama-nya Fatah, sama keluarganya Fatah juga keluar bawa bunga.
Mereka sembunyi dari tadi!
Dua keluarga sembunyi di bukit dingin-dingin demi momen lamaran.
Masalahnya... yang ngelamar salah orang!
Farhan masih lutut, cincin masih mengkilap kena bintang.
"Hasya, 7 tahun aku tunggu kamu. Kamu bilang tunggu aku mapan. Sekarang aku udah mapan. Maukah kamu jadi istriku?"
Keluargaku udah nangis. Mamaku udah bilang "Iya-in, nak, iya-in!"
Aku menatap Farhan. Menatap Fatah yang tangannya masih gandeng tanganku erat banget, sampai buku-buku jarinya putih.
Aku pelan-pelan lepas tangan Fatah. Aku jalan ke depan Farhan.
Farhan senyum lega.
Aku ambil mic kecil yang ada di dekat lampu-lampu itu.
"Farhan..."
Hening.
"Terima kasih ya. 7 tahun itu lama. Kamu baik banget. Tapi..."
Aku noleh ke belakang, ke Fatah yang mukanya udah kayak mau resign dari jadi manusia.
"...tapi seminggu lalu aku baru aja balikan sama pacar aku. Dan dia udah janji mau naikin gaji aku 30% plus apartemen atas nama aku. Sayang kalau ditinggal."
Satu bukit hening.
Terus Dika teriak paling kenceng: "TOLAK, KAK! TOLAK! GAJI 30% LEBIH PENTING DARI CINTA!"
Keluargaku langsung bubar. Mamaku langsung pura-pura batuk. Keluarga Fatah langsung pura-pura lihat bintang.
Farhan masih lutut. Akhirnya dia berdiri, ketawa kecut. Mirip ketawa Fatah dulu.
"Yaudah, Sya. Nggak apa-apa. Setidaknya aku udah coba. Cincinnya simpen aja, buat kenang-kenangan. Atau jual, buat tambah DP apartemen kedua."
Fatah langsung maju, narik aku ke belakangnya.
"Sorry ya, Bro. Hasya udah ada yang punya. Lamaran ditutup."
Dan malam itu, di bukit yang banyak bintang, dua keluarga yang sembunyi-sembunyi akhirnya keluar semua, bukan untuk selebrasi lamaran diterima, tapi untuk makan jagung bakar bareng karena kedinginan.
Farhan duduk sebelahku, Fatah duduk sebelahku yang satunya lagi. Dika di tengah jadi wasit.
"Jadi gimana, Sya?" bisik Fatah lagi. Pertanyaan yang sama kayak di restoran.
Aku lihat bintang di atas. Banyak banget.
"Jadi... besok aku tetep jadi sekretaris ya, Yah. Soalnya kalau jadi istri Farhan, aku nggak dapet gaji 30%."
DAUN MUDA - Part 6: Mimpi
"GILA MIMPI APA ITU? DILAMAR DI BUKIT?!"
Aku kebangun dengan napas ngos-ngosan. Keringet dingin. Jam di dinding nunjukin 06:15.
Bukan bukit bintang. Bukan Farhan pakai kemeja putih. Bukan dua keluarga sembunyi di semak.
Kamar apartemenku yang itu. Yang sekarang udah atas namaku. Selimut berantakan.
Mimpi. Untung mimpi. Kalau beneran dilamar dua orang dalam seminggu, aku bisa tipes lagi.
Aku lihat HP. 12 missed call.
Fatah.
Fatah: Sya, bangun?
Fatah: Rapat jam 7 di Surabaya, jangan telat
Fatah: Hasya, ini udah jam 6 lewat
"ADUH!"
Aku lompat dari kasur. Mandi 3 menit, dandan 5 menit, pakai kemeja putih dan rok span yang udah disetrika.
06:32 aku lari ke lobby.
Mobil hitamnya udah standby, mesin nyala.
Fatah udah rapi banget. Kemeja putih baru — bukan yang museum itu, yang museum udah aku cuci dan sekarang dia simpen di lemari lagi katanya "biar wangi kamu nempel terus". Rambutnya rapi, dasinya sudah jadi.
Kaca mobil turun.
"Sya, ayo, kita udah telat," katanya. Nggak marah. Cuma panik. Nada bos yang telat rapat.
"Iya iya, Pak! Maaf! Mimpi buruk!"
Aku masuk ke kursi sebelah. Belum sempat pakai seatbelt, mobilnya udah jalan.
Di lampu merah pertama, baru dia bisa napas.
"Kamu mimpi apa sampai nggak bangun?" tanyanya, sambil lihat spion.
"Mimpi dilamar orang di bukit, Yah. Ramai banget. Ada Mama, ada keluarga kamu, ada Dika jadi wasit."
Fatah ketawa. "Terus kamu terima?"
"Enggak! Aku tolak! Aku bilang aku udah digaji 30% lebih sama kamu, sayang kalau ditinggal."
Dia ketawa lebih kenceng.
"Bagus. Jawaban sekretaris teladan."
Lampu merah masih merah. Jalanan Malang pagi masih sepi.
Tiba-tiba tangannya pindah dari stir. Ngelus tanganku yang lagi pegang map rapat.
Pelan. Hangat.
Aku diem. Nggak narik.
"Pak, di kantor..."
"Ini masih di mobil. Belum di kantor," potongnya. Jempolnya muter-muter di punggung tanganku. "Tadi malam kamu nggak bales chat saya. Saya kira kamu ngambek lagi gara-gara kemeja museum itu saya simpen lagi."
"Nggak ngambek. Ketiduran."
"Hasya."
"Hmm?"
"Yang di mimpi itu bukit bintang ya?"
"Iya."
"Kalau nanti yang beneran, kamu mau dilamar di mana?"
Aku bengong. Mobil udah jalan lagi, tapi tangannya masih di tanganku. Nggak dilepas.
"Pak, ini rapatnya di Surabaya loh, masih 2 jam lagi. Bahas lamaran sekarang?"
"Ya biar nggak ngantuk. Jawab aja."
Aku lihat keluar jendela. Matahari pagi Malang baru naik.
"Di kantor aja, Yah," jawabku iseng. "Pas jam 5 sore, pas Bapak lagi pusing laporan. Jadi kalau saya tolak, Bapak nggak bisa marah, soalnya masih butuh saya buat revisi."
Dia melirikku, senyum miringnya yang nyebelin itu muncul lagi.
"Enak aja tolak. Nggak ada opsi tolak. Opsi cuma 'iya' sama 'iya, Pak'."
"Bossy banget."
"Kan bos kamu."
Tangannya masih ngelus tanganku sampai tol Karanglo.
Dan untuk pertama kalinya, telat rapat bareng bos nggak bikin aku takut dipecat.
Soalnya bosnya udah nggak mungkin mecat pacarnya sendiri.
Masih di mobil. Tol Panjang - Surabaya. Musiknya pelan, AC dingin.
Tangannya masih di tanganku. Aku yang tadinya tegang karena mimpi dilamar, sekarang malah tegang karena mau ngomong.
"Mas?"
Dia langsung noleh. Alisnya naik. Sejak balikan, aku udah ganti panggilan. Kadang Pak, kadang Mas, tergantung butuhnya apa. Kalau butuh cuti, otomatis jadi Mas.
"Khmm?" jawabnya. Tangannya masih ngelus, tapi matanya fokus ke jalan.
Aku tarik napas panjang.
"Besok boleh nggak cuti sehari aja?" ujarku memohon, suara paling kecil yang aku punya. Takut ditolak. Trauma dulu tiap minta cuti dibilang "laporan dulu, Sya".
Aku langsung tambah cepat, "Eh— kalau nggak boleh nggak apa-apa juga."
Dia diam. Melirikku.
"Emang keperluan apa?" tanyanya. Nada bos-nya keluar lagi.
Aku gigit bibir.
"Kangen kamar Hasya, Mas."
Kamar di rumah Malang. Kamar masa kecil. Yang catnya masih pink, yang posternya masih Super Junior jaman SMP. Yang bau kayu putihnya mama.
Sejak kerja di kantornya, sejak tinggal di apartemen yang dia kasih, aku jarang pulang. Kangen.
Fatah diam sebentar, terus senyum.
"Oke, 2 hari ya! Saya anter!"
Refleks.
"Enggak!" Aku langsung nolak, kenceng. Terlalu kenceng.
Dia kaget. "Loh kenapa?"
"Itu... itu cuti buat dia sendiri, Mas. Nggak mau ada Fatah," kataku pelan. "Hasya pengen sendiri aja. Pengen tidur di kamar Hasya, makan masakan mama, nggak mikirin laporan, nggak mikirin bos."
Aku takut dia tersinggung. Soalnya dulu kalau aku nolak dianter, dia ngambek.
Tapi Fatah paham. Yaudah.
Dia angguk, tangannya ngelus tanganku sekali lagi terus balik ke stir.
"Ya udah. Satu hari. Jangan dua hari. Nanti saya kangen."
"Mas—"
"Satu hari cuti, tanpa potong gaji, tanpa bawa laptop. Tapi HP harus aktif. Kalau saya kangen, saya video call. Deal?"
Aku ketawa. "Deal, Bos."
"Mas."
"Deal, Mas."
Sesampainya di Surabaya meeting lancar.
Lancar banget. Karena sekretarisnya nggak ngantuk, nggak manyun. Sekretarisnya habis dikasih cuti.
Pas meeting selesai, kliennya salaman sama Fatah.
"Wah, Pak Fatah sekarang kelihatan lebih segar ya, nggak tegang kayak dulu."
Fatah noleh ke aku, wink.
"Ya, sekretaris saya pinter ngerawat bosnya."
Aku pura-pura sibuk beresin map, padahal kupingku merah lagi.
Di perjalanan pulang, giliran aku yang ngelus tangannya.
"Mas, makasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk nggak jadi bos nyebelin lagi."
"Kan masih nyebelin. Cuma sekarang nyebelinnya khusus buat kamu aja.
Cuti beneran.
Bukan cuti yang diisi lembur di apartemen. Beneran pulang.
Rumah lantai satu di pinggiran Malang. Catnya udah agak pudar, tapi halamannya bersih. Di depan ada mesin jahit ibuku yang bunyinya khas, ceklek-ceklek.
Bapak pensiunan PNS, lagi duduk baca koran. Ibu jahit.
Dan di teras, ada bintang utamanya hari ini: Ani.
Ponakanku. Baru 7 bulan. Lagi gemes-gemesnya. Pipinya bulat, giginya baru dua, kalau digendong bau minyak telon.
Siang itu aku lagi di depan teras, momong Ani.
Beda banget sama Hasya yang di kantor. Rambutku dikepang dua, pakai kaos putih kancing depan ada kerahnya — kaos jaman SMA yang masih muat — sama celana pendek coklat selutut. Nggak pakai make-up, nggak pakai heels. Hasya versi asli.
Ani lagi di pangkuanku, lagi usaha narik kepanganku.
"Ya ampun, Ani, jangan ditarik, tante udah capek ngepang loh," kataku sambil ketawa.
Ibu dari dalam teriak, "Sya, jangan lama-lama di teras, nanti masuk angin cucunya!"
Bapak cuma ngangguk-angguk lihat koran.
Damai. Akhirnya damai tanpa laporan keuangan.
Sampai...
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Mobil yang sangat aku kenal. Platnya aku hafal.
Pintu supir kebuka.
Fatah.
Pakai kemeja biru muda digulung lengannya, celana chino, bawa tentengan plastik... isinya buah-buahan sama susu bayi?
Aku kaget. KAGET BANGET.
"MAS?!"
Fatah juga kaget lihat aku. Mungkin karena kepang dua.
"Lo... Hasya?"
Bapak yang pensiunan PNS langsung berdiri, korannya dilipet. Ibu mesin jahitnya dimatiin.
Fatah langsung salim ke Bapak, salim ke Ibu. Sopan banget. Beda sama bos nyebelin di kantor.
"Maaf, Pak, Bu, saya Fatah. Temen... eh, atasan Hasya. Tadi lewat sini, mampir."
Bohongnya jelek banget. Lewat sini? Rumahku sama kantor Surabaya 2 jam.
Ibu langsung panik. "Aduh, Pak Fatah, masuk masuk! Hasya, itu temennya kok nggak bilang mau datang!"
Aku masih gendong Ani, mulutku masih mangap.
"Mas, katanya nggak anter? Katanya cuti sendiri?"
Fatah bisik pelan sambil jongkok depan Ani, biar Bapak nggak denger.
"Kangen. Satu hari aja lama. Apalagi nggak ada yang ngelus tangan saya di mobil."
Aku mau marah, tapi Ani tiba-tiba...
Tangan kecilnya langsung narik kacamata Fatah. Plok.
Fatah kaget, aku kaget.
Ani malah ketawa ngakak, giginya yang dua kelihatan.
"Eh, pinter," kata Fatah, ketawa juga. Dia biarin kacamatanya ditarik Ani. "Baru 7 bulan udah tau cara ngerjain om-om."
Bapak lihat kejadian itu, langsung senyum.
"Wah, anaknya suka sama kamu, Pak," kata Bapak.
Ibu nambahin, "Hasya, ambilin minum buat Pak Fatah!"
Dan disitulah aku, cuti yang pengen sendiri, malah jadi momong ponakan sambil ditonton bos yang jadi pacar yang sekarang lagi diakui Bapak pensiunan PNS dan Ibu tukang jahit sebagai... calon mantu?
Fatah duduk di kursi teras bambu, pangkuannya kosong, tapi matanya nggak lepas dari aku sama Ani.
"Jadi ini kamar yang kamu kangenin?" bisiknya.
Aku angguk, sambil benerin kepangku yang berantakan ditarik Ani.
"Iya. Berisik, rame, nggak kayak apartemen."
"Enak," katanya. "Boleh saya sering main kesini nggak?"
Aku lihat Bapak, Ibu, Ani yang sekarang udah pindah ke pangkuan Fatah dan anteng banget.
"Bayar dulu. Sewa terasnya. Sehari 30% gaji saya."
"Deal."
DAUN MUDA - Part 9: Interogasi Ruang Tamu
Habis dari teras, langsung diseret ke ruang tamu.
Itu hukum nggak tertulis di rumahku. Kalau cowok bawa buah-buahan dan susu bayi, wajib interogasi.
Bapak duduk di kursi kayu jati yang paling besar. Ibu bawa teh anget sama gorengan tempe. Aku duduk di karpet, masih gendong Ani yang udah ngantuk. Kepang dua-ku udah miring satu.
Fatah duduk di kursi tamu yang pendek. Kaki jenjangnya jadi kelihatan salah posisi. Kemeja biru mudanya udah lecek gara-gara ditarik Ani tadi. Kacamata dipegang.
Tegang. Bos yang biasa interogasi manager 20 orang, sekarang diinterogasi pensiunan PNS.
Bapak buka suara. Pelan, tapi jelas.
"Jadi, Pak Fatah. Bapak ini atasan Hasya ya?"
Fatah langsung duduk tegak. "Iya, Pak. Atasan... dan... pacarnya Hasya, Pak."
Ibu yang lagi tuang teh langsung tumpah dikit. "Pacar?!"
Aku langsung nunduk. "Bu..."
Bapak lanjut, nggak kaget. Pensiunan PNS itu detektifnya kuat.
"Umur berapa, Pak Fatah?"
"37, Pak."
"Hasya 25. Selisih 12 tahun. Jauh ya."
"Iya, Pak. Tapi saya serius, Pak."
"Kerja apa? Selain jadi bos Hasya?"
"Usaha sendiri, Pak. Kantor di Malang, cabang Surabaya."
Bapak angguk-angguk. Ibu nyolek aku dari belakang, bisik, "Kok nggak bilang punya pacar bos, Sya?"
Aku cuma bisa elus-elus kepala Ani.
Bapak tatapannya makin tajam.
"Pak Fatah sudah pernah nikah?"
Ini. Pertanyaan jebakan maut.
Fatah diam sepersekian detik. Lalu jawab jujur.
"Belum pernah, Pak. Pernah dekat, gagal. Semenjak itu fokus kerja. Sampai ketemu Hasya."
Bapak diam lama. Ruang tamu cuma ada suara detik jam dinding sama Ani ngeces.
"Hasya itu keras kepala, Pak. Manja. Kalau minta cuti, harus dikasih. Kalau nggak, nyembur kopi ke kemeja orang."
Fatah langsung ketawa. Ketawa beneran.
"Saya tau, Pak. Kemejanya masih saya simpen."
Bapak kaget. "Loh?"
Aku langsung lempar bantal kecil ke Fatah. "Mas!"
Fatah nahan ketawa. "Maaf, Pak. Maksud saya, saya sudah hafal, Pak. Keras kepalanya. Makanya saya suka."
Bapak menatap aku, menatap Fatah, menatap Ani yang udah tidur di pangkuanku.
Terus Bapak bilang kalimat yang bikin satu ruangan hening.
"Kalau kamu serius sama anak saya, jangan bikin dia nangis karena kerjaan. Kalau dia nangis karena kamu, saya yang maju."
Bukan ancaman keras. Tapi berat. Suara Bapak pensiunan yang pelan tapi pasti.
Fatah langsung berdiri. Agak membungkuk. Tangannya salim lagi ke Bapak.
"Siap, Pak. Nggak akan, Pak. Kalau Hasya nangis, biar saya yang disuruh nyuci piring sama Ibu sebulan."
Ibu yang dari tadi tegang langsung ngakak. "Wah, kalau gitu Ibu setuju, Pak!"
Bapak akhirnya senyum juga. Senyum tipis.
"Ya sudah. Minum tehnya dulu, Pak Fatah. Habis itu pulang. Hasya lagi cuti. Jangan diganggu."
Fatah duduk lagi, lega. Minum tehnya.
Di bawah meja, kakinya pelan-pelan nyenggol kakiku yang pakai celana pendek coklat itu.
Aku nyenggol balik. Keras.
"Mas, sakit!" bisiknya pelan.
"Rasain. Makanya jangan nyusul," bisikku balik.
Tapi dalam hati, cuti yang katanya mau sendiri ini... ternyata nggak buruk juga ada dia.
Pulangnya Bos
Fatah pamit.
Tehnya udah habis, tempe gorengnya sisa dua, interogasi Bapak udah lulus dengan nilai 8,5.
"Pak, Bu, saya pamit dulu ya. Terima kasih tehnya," katanya sambil berdiri, rapiin kemeja biru mudanya.
Bapak angguk. "Hati-hati di jalan, Pak Fatah. Jangan ngebut."
Ibu sibuk masukin sisa buah ke kresek. "Ini bawa pulang lagi aja, Pak, kebanyakan."
Aku masih duduk di karpet, gendong Ani yang tidur pules di dadaku. Kepang dua-ku udah lepas satu. Kaos putih kancing depan itu ada bekas liur Ani.
Fatah lihat aku, kasih kode mata: nanti video call ya.
Aku kasih kode balik: enggak, aku cuti.
Dia senyum, mau buka pintu depan...
Tepat detik itu.
Ani kebangun.
Mata bulatnya buka. Lihat sekeliling. Lihat aku. Lihat Fatah yang mau pergi.
Dan...
"Oeee... OEEE!"
Nangis. Nangis kenceng. Nangis yang bukan nangis ngantuk, tapi nangis drama.
Aku panik. "Eh eh Ani, kenapa? Tante di sini loh, tante di sini."
Aku goyang-goyang. Biasanya ampuh.
Nggak ampuh. Malah makin kenceng. Tangannya malah ngeraih ke arah pintu. Ke arah Fatah.
Ibu langsung heboh. "Loh loh, kenapa? Tadi anteng!"
Bapak ikut bingung. "Lapar kali?"
Fatah yang udah pegang gagang pintu, balik badan. Refleks jongkok lagi.
"Kenapa, Sayang?" katanya ke Ani. Suaranya... lembut banget. Beda sama suara "Hasya, revisi ya" di kantor.
Ajaib.
Ani berhenti nangis. Langsung.
Tangannya yang kecil langsung meluk leher Fatah. Kepala bulatnya nempel di bahu Fatah.
Satu ruang tamu hening.
Aku bengong. Ibu bengong. Bapak bengong.
Ponakanku umur 7 bulan yang baru kenal 30 menit, lebih milih bos nyebelin daripada tante kandungnya sendiri yang udah momong dari siang.
Fatah juga bengong, tapi dia langsung gendong Ani dengan posisi yang... jago. Satu tangan nopang pantat, satu tangan jaga kepala. Kayak udah pernah.
"Kok bisa?" bisikku.
Fatah bisik balik, "Dika dulu juga gini pas 7 bulan. Saya yang sering gendong kalau susternya libur."
Oh iya. Dika anak angkatnya. Dia memang bapak-bapak beneran.
Ani sekarang anteng banget di gendongan Fatah. Bahkan ketawa kecil, narik-narik kancing kemeja biru Fatah.
Ibu langsung tepuk tangan pelan. "Wah, Pak Fatah cocok jadi bapak, Pak!"
Bapak yang tadi galak, sekarang senyumnya lebar. "Hasya, lihat tuh. Anak kecil nggak bisa bohong. Kalau anak kecil udah nyaman, berarti orangnya baik."
Aku cuma bisa manyun. Cemburu sama ponakan sendiri.
"Ya udah, Mas, balikin Ani. Mas kan mau pulang."
Fatah malah berdiri, gendong Ani jalan ke teras.
"Sebentar lagi, Sya. 5 menit. Kasihan kalau langsung ditaruh, nanti nangis lagi. Kamu kan lagi cuti, santai aja."
Dan jadilah pemandangan paling aneh di rumah lantai satu itu.
Bapak baca koran lagi sambil senyum-senyum. Ibu lanjut jahit sambil lirik-lirik. Aku duduk di teras dengan kepang berantakan.
Dan di halaman depan, bosku umur 37 tahun yang katanya nggak pernah pacaran, lagi gendong ponakanku umur 7 bulan, muter-muter halaman sambil bilang, "Shhh... shhh... Om Fatah di sini..."
Ani ketawa.
Aku? Aku juga ketawa. Akhirnya.
"Mas," panggilku.
"Ya?"
"Besok cutinya saya tambah sehari lagi ya. Soalnya kayaknya Ani butuh om baru."
Fatah noleh, senyum menangnya muncul lagi.
"Nggak bisa, Sya. Besok kamu harus masuk. Soalnya om-nya Ani kangen sekretarisnya."
Godaan Baru
Besoknya.
Hasya masuk kantor lagi. Kepang dua sudah hilang, ganti cepol rapi. Kaos putih kancing depan ganti blazer krem. Celana pendek coklat ganti rok span hitam. Balik jadi Hasya sekretaris.
Cuti sehari berhasil. Baterai penuh.
Jam 8 pagi, Fatah sudah di ruangannya. Rapat pagi. Dan ada orang baru.
"Kenalin, ini Pak Arga. Mentor baru dari Jakarta untuk tim marketing. Umur 32, lulusan luar negeri, mantan di startup unicorn," kata HRD.
Pak Arga. Tinggi, kacamata, senyumnya rapi. Tipe mentor yang kalau ngomong pakai kata "leverage" dan "synergy".
Pas sesi kenalan, matanya berhenti di aku.
"Wah, Mbak Hasya ya? Saya banyak dengar soal Mbak Hasya. Laporan Mbak Hasya yang kemarin dipakai studi kasus di training Jakarta. Rapi, detail, pinter. Salut."
Aku kaget. Dipuji di depan semua orang.
"Ah, makasih, Pak Arga," jawabku, agak salting.
Fatah yang duduk di ujung meja?
Rahang naik.
Kelihatan jelas. Dari yang tadinya santai, sekarang dagunya mengeras. Pulpen diputer lebih cepat.
Rapat selesai. Aku lagi beresin berkas di pantry, mau bikin kopi hitam tanpa gula — pesanan bos.
Pak Arga muncul lagi.
"Hasya, nanti siang free? Boleh aku traktir kopi? Mau diskusi soal laporan kamu. Pengen belajar perspektif kamu."
Wangi parfumnya mahal. Senyumnya... terlalu ramah untuk mentor baru hari pertama.
Aku belum sempat jawab.
"Hasya lagi nggak free."
Suara dari belakang. Datar.
Fatah. Sudah berdiri di pintu pantry. Blazernya masih rapi, tapi matanya...
"Jam 12 Hasya ada meeting sama saya. Laporan Surabaya kemarin belum saya tanda tangan," lanjutnya. Nggak lihat Arga, lihat aku.
Pak Arga langsung paham situasi. Senyumnya agak turun.
"Oh, oke, Pak Fatah. Nanti aja kalau gitu."
Arga pergi.
Pantry jadi sepi. Cuma aku sama Fatah.
Aku bisik, "Mas, meeting apa jam 12? Nggak ada di kalender."
"Ada. Sekarang ada," katanya pendek. Dia ambil kopi hitam yang baru aku buat, minum. "Mentor baru itu genit."
Aku ngakak. "Apaan sih, orang cuma muji laporan. Mas cemburu?"
"Enggak," jawabnya cepat. Terlalu cepat.
"Rahang Mas naik loh tadi."
"Karena kopi kamu kepahitan."
"Bohong."
Dia naruh gelasnya agak keras.
"Sya, kamu sekarang sekretaris saya, pacar saya, calon—" Dia berhenti. "Pokoknya jangan senyum-senyum sama mentor baru. Dia dari Jakarta, banyak gaya."
Aku mendekat, pura-pura benerin dasinya yang udah rapi.
"Terus kalau saya dipuji, Mas harusnya bangga, dong. Berarti pacar Mas pinter."
"Bangga. Tapi nggak usah sampai mau ditraktir kopi."
"Mas ini bos apa satpam?"
"Bos yang jadi satpam kalau pacarnya dipuji cowok lain."
Aku ketawa. Dia masih manyun, tapi rahangnya udah turun lagi.
"Ya udah, jam 12 kita meeting apa, Mas?"
Dia lihat jam tangannya.
"Meeting ngebahas gimana caranya supaya Pak Arga mentorin orang lain, jangan kamu."
"Mas!"
"Serius. Kamu saya pindahin jadi sekretaris pribadi. Khusus di ruangan saya aja. Biar nggak ada yang muji-muji lagi."
Aku jitak pelan lengannya.
"Nggak bisa. Kalau di ruangan Mas terus, nanti saya hamil gosip."
"Ya udah, hamil beneran aja sekalian."
Satu pantry hening.
Aku bengong. Dia juga bengong karena keceplosan.
"MAS!"
Dia langsung kabur bawa kopi hitamnya, ninggalin aku di pantry dengan muka merah kayak kepiting lagi.
Dari luar, Dika lewat bawa berkas, lihat aku merah, langsung teriak:
"WAH, KAK HASYA HABIS DI-SEMPROT BOS YA? SEMANGAT KAK.