Aku bekerja sebagai penulis konten di sebuah agensi. Pekerjaanku menulis kata-kata untuk iklan, media sosial, dan berbagai kebutuhan klien. Aku hafal cara merangkai kalimat yang menjual, kalimat yang membuat orang tertawa, kalimat yang membuat orang menangis. Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kutulis: perasaanku sendiri.
Namanya Sinta. Ia bekerja di divisi desain. Kami sering bekerja bersama, aku menulis naskah, ia membuat visualnya. Sinta cantik dengan cara yang tenang. Rambutnya selalu diikat, kacamatanya selalu rapi, dan senyumnya selalu membuat orang merasa nyaman.
Aku menyukainya sejak tahun pertama. Tapi aku tidak pernah menyatakannya. Aku takut merusak pertemanan. Aku takut canggung. Aku takut kehilangan dia sebagai rekan kerja. Jadi aku memilih diam. Aku menuliskan perasaanku di catatan ponsel, di buku harian, di draf yang tidak pernah dikirim.
Suatu hari, Sinta mengirim pesan. “Aku akan menikah bulan depan.”
Aku menatap layar. Jantungku berhenti. Aku mengetik “Selamat”, lalu menghapusnya. Aku mengetik “Semoga bahagia”, lalu menghapusnya. Akhirnya aku mengirim, “Selamat ya. Semoga lancar.”
Sinta membalas dengan emoji senyum. Aku menutup ponsel, lalu menatap layar komputermu. Ada banyak kata di sana. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan.
Bulan berikutnya, Sinta menikah. Aku datang ke resepsinya. Aku melihatnya memakai gaun putih, tersenyum bahagia. Aku bertepuk tangan. Aku ikut bahagia. Tapi malam itu, aku pulang dan menulis puisi panjang tentang cinta yang tak pernah diucapkan. Aku menyimpannya di folder rahasia, tidak pernah kubuka lagi.
Setahun kemudian, Sinta kembali dari cuti melahirkan. Ia sudah punya anak. Ia masih cantik, mungkin lebih cantik. Ia masih menatapku dengan cara yang sama. Tapi sekarang, aku tahu diri. Aku tidak lagi berharap.
Suatu hari, kami lembur. Kantor sepi. Sinta duduk di mejanya, menatap layar. Aku di meja sebelah. Ia berkata, “Kamu kenapa tidak pernah menikah?”
Aku tersenyum. “Belum ada yang cocok.”
“Kamu terlalu pemilih.”
“Mungkin.”
Sinta menatapku. “Kamu tahu, dulu aku pernah berpikir kamu suka sama aku.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Karena kamu selalu menatapku. Tapi kamu tidak pernah bilang apa-apa.”
Aku terdiam. Sinta melanjutkan, “Kalau kamu bilang, mungkin aku… tidak tahu. Mungkin aku juga.”
Aku menatapnya. “Kamu sudah punya suami dan anak.”
“Aku tahu.” Sinta menunduk. “Aku hanya ingin kamu tahu. Sebelum semuanya terlambat.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku ingin marah. Aku ingin menyesal. Tapi yang keluar hanya, “Kamu bahagia?”
Sinta mengangguk. “Bahagia.”
“Syukurlah.”
Kami kembali bekerja. Tidak ada yang berubah. Tapi malam itu, aku pulang dengan hati yang aneh. Aku bukan menyesal karena tidak menyatakan cinta. Aku menyesal karena tidak pernah memberi diriku kesempatan untuk ditolak.
Besoknya, aku bersikap biasa. Sinta juga. Kami tetap bekerja, tetap bercanda, tetap menatap. Tapi sekarang, aku berhenti menafsirkan. Aku berhenti berharap. Aku berhenti menunggu.
Suatu sore, Sinta membawa anaknya ke kantor. Anak itu berlari ke arahku dan memanggil, “Om!” Aku mengangkatnya. Sinta tertawa. “Dia suka kamu.”
Aku menatap anak itu. “Aku juga suka dia.”
Sinta menatapku lama. “Terima kasih, ya. Untuk semuanya.”
“Sama-sama.”
Aku menurunkan anak itu. Ia berlari ke ibunya. Sinta menggandeng tangannya. Mereka berjalan ke lift. Aku berdiri di ruangan yang sama, di meja yang sama. Tatapan Sinta masih hangat. Tapi aku sudah berhenti menunggu.
Kata-kata yang tak pernah kuucapkan, kini hanya jadi arsip. Dan aku belajar, tidak semua perasaan harus menjadi kalimat. Kadang, diam adalah cara paling jujur untuk menjaga seseorang tetap bahagia.
(Selesai.)