Seminggu ini. Yang Adila gak tau.
Adila taunya cuma: kerjaan lancar, laporan selesai, Arman masih suka mampir ke meja, Permana masih nungguin di parkiran kalau Adila lembur.
Yang Adila gak tau: di belakang Adila, dua orang itu udah tau.
Gak ada yang ngomong terang-terangan. Gak ada adu jotos di pantry. Cowok umur 30-an gak berantem kayak gitu.
Mereka saingan dingin.
Hari Senin.
Rapat divisi gabungan. Kamu presentasi. Arman sama Permana duduk sebelahan — rekan kerja, atasan kamu berdua.
Kamu presentasi bagus. Semua tepuk tangan.
Arman yang ngomong duluan: "Bagus banget, Dila. Pinter. Jelas. Kayak yang ngajarinnya pinter juga ya."
Matanya ngelirik ke Permana. Nyindir halus.
Permana senyum tipis, gak kalah dingin: "Yang pinter Adilanya, Man. Dari magang emang udah pinter. Gak perlu diajarin lama-lama, cepet nangkapnya."
Balas nyindir. Artinya: gue udah kenal Adila dari magang, dari sebelum lo notice.
Kamu yang di depan, gak ngeh. Kirain mereka muji kerjaan kamu.
Hari Rabu.
Jam makan siang. Kamu lagi antri ambil makan. Arman dateng, langsung di belakang kamu.
"Dila, makan bareng yuk, Mas udah pesenin meja," katanya.
Belum sempat kamu jawab, dari belakang antrian ada suara:
"Adila, laporan yang kemarin tolong bawa ke ruangan saya ya abis makan. Ada revisi."
Permana. Bawa piring juga. Antri juga. Pas di belakang Arman.
Dua orang di belakang kamu. Satu ngajakin makan bareng, satu ngajakin revisi laporan.
Kamu bingung. "Eh, iya Pak, abis makan Adila ke ruangan ya."
Arman noleh ke Permana, senyum. "Man, Adila kan lagi istirahat. Revisi nanti aja, abis jam makan."
Permana balas senyum, sama dinginnya. "Justru karena istirahat, Man. Biar abis istirahat bisa fokus revisi. Kerjaan Adila banyak."
Dua-duanya keras kalau soal perempuan. Apalagi Adila.
Cantik, iya. Baik, iya. Bikin orang gampang sayang, iya — itu yang bikin dua-duanya gak ada yang mau ngalah.
Selama janur kuning belum melengkung, katanya. Prinsip klasik cowok-cowok keras di kantor ini.
Hari Jumat. Puncaknya.
Kamu lembur lagi. Laporan bulanan. Arman lembur juga — alasan sama kayak minggu lalu. Permana juga belum pulang — alasan nungguin file direksi.
Jam 7 malem. Kantor sepi.
Arman mampir ke meja kamu, bawa 2 kopi lagi.
"Dila, temenin lembur lagi yuk. Kayak kemarin. Tapi kemarin Dila keburu dijemput, gak jadi."
Kamu belum jawab, dari lorong ada suara langkah.
Permana. Bawa map, jalan ke meja kamu juga.
"Adila, kamu lembur lagi? Tadi saya bilang kalau lembur bilang saya, kan?" kata Permana, suaranya datar tapi keras. Matanya gak ke kamu. Ke Arman. Ke kopi yang di meja kamu.
Arman berdiri, hadapin Permana. Senyumnya masih ada, tapi dingin.
"Man, Adila lagi lembur sama gue. Santai aja. Lo pulang duluan aja, kasian Adila kalau ditungguin terus sama atasan, jadi gak enak mau pulang kapan."
Permana gak mundur. "Justru karena Adila staf saya, Man. Saya yang harus tanggung jawab kalau dia lembur malem-malem. Bukan divisi lain."
Kamu di tengah. Meja kamu jadi ring tinju dingin. Dua orang yang sama-sama keras, sama-sama dark dengan cara beda — satu dark terang-terangan natap, satu dark nahan-nahan jebol di ruangan terkunci — sekarang adu tatap di depan meja kamu.
Gak ada yang teriak. Gak ada yang dorong. Cuma adu diem.
Kamu yang mecahin.
"Mas Arman, Pak Permana," panggil kamu, berdiri. "Makasih ya udah mau nemenin Adila lembur. Tapi Adila udah selesai kok. Adila mau pulang sekarang."
Kamu tutup laptop. Beresin tas. Cepet.
Dua-duanya noleh ke kamu. Bareng.
"Adila pulang sama siapa?" tanya Arman, to the point.
"Adila pulang sendiri. Naik taksi," jawab kamu. Bohong. Biar gak ada yang nganter, biar gak ada yang berantem di parkiran.
Kamu jalan ke lift, ninggalin dua orang itu di meja kamu. Kopi dari Arman masih utuh, map dari Permana masih di meja.
Di lift, kamu liat dari pantulan kaca — mereka masih berdiri di depan meja kamu, gak ada yang duduk, saling tatap.
Saingan dingin. Yang Adila gak tau, seminggu ini mereka udah sama-sama tau: suka orang yang sama.
Dan selama janur kuning belum melengkung, gak ada yang mau ngalah. Apalagi Adila — yang cantik, baik, dan bikin orang gampang sayang — udah terlanjur bikin dua orang keras di kantor ini jadi kerasnya bukan buat kerjaan lagi, tapi buat Adila.
Kamu turun ke parkiran. Mobil hitam di pojok udah nyala lagi. Kedip 2 kali.
Permana turun duluan ternyata. Ninggalin Arman di atas.
Arman masih di atas, ngeliatin lift turun, kopi di meja Adila yang gak diminum.
Sabtu sore. Rumah Adila.
Kamu lagi di kamar, baru selesai mandi, rambut masih setengah basah. Di ruang tamu, papa lagi baca koran — ritual Sabtu sore yang gak pernah absen. Mama lagi bikin gorengan di dapur.
Tiba-tiba bel rumah bunyi.
Ting tong.
Mama teriak dari dapur: "Dila, bukain!"
Kamu keluar kamar pakai daster rumah, rambut diiket asal, gak dandan sama sekali. Buka pintu.
Permana.
Bawa buah. Bawa kue. Rapi. Senyum sopan — senyum versi udah direstuin setengah hati sama papa.
"Adila," sapa dia pelan. "Bapak ada?"
"Ada Pa, di dalam. Masuk, Per—" belum selesai ngomong,
Ting tong.
Bel lagi.
Kamu buka lagi.
Arman.
Bawa buah juga. Bawa kue juga. Rapi juga. Senyum terang — senyum versi saingan dingin yang gak mau kalah.
"Dila! Sore! Bapak ada? Tante ada?" sapa Arman, ceria.
Kamu bengong. Di depan pintu rumah kamu, ada dua orang. Dua-duanya bawa tentengan yang sama. Dua-duanya keras kalau soal perempuan, apalagi kamu.
"Mas Arman? Kok... kok kesini?" tanya kamu, geleng-geleng. Gak ngerti. "Pak Permana juga..."
Permana sama Arman saling liat. Di teras rumah kamu. Pertama kalinya mereka ketemu bukan di kantor, bukan di pantry, tapi di rumah orang yang sama-sama mereka suka.
Senyum sopan dua-duanya langsung jadi senyum dingin. Persis kayak di depan meja kamu waktu lembur.
"Man, lo kesini juga?" tanya Arman duluan, nada masih santai tapi keras.
"Man, lo ngapain kesini?" balas Permana, nada datar tapi keras juga.
Papa dari dalam, denger ribut di teras, lipat koran.
"Siapa sih, Dila? Kok rame?" teriak papa.
Papa jalan ke ruang tamu. Liat pintu. Liat kamu. Liat dua orang di teras.
Papa sampai heran. Korannya sampai jatuh.
"Permana? Arman? Kalian berdua ngapain kesini barengan?" tanya papa. Papa tau Arman juga — rekan kerja juga, pernah main ke rumah juga pas acara kantor.
Mama keluar dari dapur bawa gorengan, liat teras, juga bengong.
Adila geleng-geleng. Di tengah pintu. Daster rumah, rambut setengah basah, gak siap jadi rebutan di teras rumah sendiri.
"Pa, Adila juga gak tau, Pa. Tiba-tiba dua-duanya dateng," bisik kamu ke papa.
Papa yang 2 bulan lalu ngamuk gara-gara Permana doang, sekarang ngamuknya double. Tapi bingung mau marah ke siapa.
"Ya udah, masuk dulu berdua! Masuk! Jangan di teras aja, malu diliatin tetangga!" perintah papa, suara bapak-bapak yang bingung tapi harus tetep jadi bapak.
Permana masuk duluan. Duduk di sofa ujung — sofa jatah tamu. Arman masuk, duduk di sofa ujung satunya — sofa jatah tamu satunya lagi. Sengaja duduk jauh-jauhan, tapi dua-duanya ngadep ke kamu yang masih berdiri di tengah.
Ruang tamu yang dulu tempat Adila harus lewat cepat-cepat, yang seminggu lalu jadi tempat makan ayam woku restu setengah hati, sekarang jadi ring tinju dingin versi rumah.
Papa duduk di tengah, baca koran lagi tapi gak dibaca — korannya kebalik. Mama duduk di sebelah papa, bawa gorengan, senyum canggung.
"Jadi gini, Pak," Arman buka duluan, pinter ngomong. "Saya kesini mau silaturahmi, Pak. Sekalian mau bilang, Adila di kantor pinter banget, Pak. Rajin. Saya sebagai atasannya seneng punya staf kayak Adila."
Atasannya. Ditekankan.
Permana gak mau kalah.
"Saya juga kesini mau silaturahmi, Pak. Adila di kantor saya dulu magang, sekarang jadi staf, saya ikut bangga, Pak. Saya liatin dari awal," balas Permana. Ditekankan juga: saya dari awal.
Papa liat Arman, liat Permana, liat kamu yang udah geleng-geleng sambil tutup muka pakai tangan.
"Dila, kamu jelasin! Ini ada apa? Kok dua-duanya ngomongin kamu kayak kamu piala?" tanya papa, udah mulai naik lagi darahnya.
Kamu turunin tangan. Napas panjang. Adila yang cantik, baik, bikin orang gampang sayang — hari ini capek jadi bikin orang gampang saingan.
"Pa, Ma, Adila juga gak tau," jawab kamu jujur, suara agak keras karena udah bingung. "Di kantor Adila kerja biasa aja. Adila gak mancing siapa-siapa. Tiba-tiba Mas Arman sama Pak Permana dateng barengan kesini bawa buah yang sama!"
Buah yang sama — melon. Dua-duanya bawa melon. Ditaruh di meja, sebelah-sebelahan.
Mama yang dari tadi diem, akhirnya ngomong, pelan tapi nusuk:
"Man, Man," kata mama, manggil dua-duanya. "Melonnya kebanyakan. Satu aja cukup. Yang satu bawa pulang lagi ya."
Dingin. Halus. Tapi keras. Mama emang paling pinter.
Arman sama Permana diem. Dua-duanya keras. Gak ada yang mau bawa pulang melonnya. Gak ada yang mau ngalah. Selama janur kuning belum melengkung.
Papa lipat koran beneran sekarang.
"Udahan ya silaturahminya! Permana, Arman, makasih buahnya. Tapi Adila masih capek, baru pulang kantor. Kalian pulang dulu. Besok Senin ketemu lagi di kantor!" usir papa, halus tapi tegas. Bapaknya Adila akhirnya ambil alih.
Arman berdiri duluan. "Siap, Pak. Saya pulang dulu. Dila, Senin ketemu di kantor ya."
Permana berdiri juga. "Saya juga pulang, Pak. Dila, nanti kabarin kalau udah istirahat ya."
Dua-duanya jalan ke pintu barengan. Di teras, sempet adu tatap lagi 2 detik. Gak ngomong. Cuma tatap: kita belum selesai.
Pintu ketutup. Kamu langsung ambruk di sofa tengah. Geleng-geleng lagi.
"Adila pusing, Pa. Adila beneran gak ngerti," katamu.
Papa duduk sebelah kamu, usap kepala kamu — pertama kalinya setelah ngamuk 2 bulan lalu.
"Adila cantik, baik, bikin orang gampang sayang, Pa ngerti," kata papa pelan, ngulang kalimat yang kamu benci tapi bener. "Tapi kalau dua-duanya keras kayak batu gitu, yang pusing Adila. Kamu mau yang mana, Dila?"
Kamu diem. Di meja, dua melon masih nangkring sebelah-sebelahan. Sama besar. Sama-sama keras.
Jam 10 malam. Kamar Adila.
Dua melon masih di dapur. Papa masih ngedumel di ruang tamu: "Dua-duanya bawa melon, dikira rumah kita toko buah apa."
Kamu di kamar, lampu udah dimatiin, cuma lampu tidur. HP getar.
Permana Video Call.
Kamu angkat. Rambut masih berantakan abis keramas gara-gara pusing dua tamu melon tadi.
Di layar, Permana. Udah di rumahnya. Kemeja kantor udah ganti kaos. Mukanya capek, tapi matanya masih nyala — dark-nya yang habis adu dingin di teras rumah kamu tadi belum turun.
"Adila belum tidur?" tanya dia pelan.
"Belum. Masih pusing liat dua melon di dapur," jawab kamu, ngelus dahi.
Dia ketawa kecil. Terus langsung serius lagi.
"Adila, tadi saya liat Arman. Di rumah kamu," katanya. Gak basa-basi. "Dia mau rebut kamu dari saya."
Kamu diem. Di layar, kamu liat tangan dia ngepal di meja.
"Adila tau?" tanya dia.
"Adila baru tau hari ini, Permana. Di kantor Adila kira cuma bercanda, cuma atasan baik. Ternyata..." kamu tarik napas. "Ternyata saingan dingin."
"Saingan dingin," ulang Permana, angguk. "Saya sama Arman udah tau seminggu ini, Adila. Kita sama-sama tau suka orang yang sama. Di kantor kita pura-pura profesional, di depan kamu kita pura-pura santai. Tapi tadi di teras rumah kamu, saya tau dia gak bakal mundur. Saya juga gak bakal mundur."
Jujur. Keras. Persis kayak di parkiran, di pantry, di ruangannya yang pintunya dikunci.
Kamu geleng pelan di layar.
"Terus Adila harus gimana, Permana? Adila gak mau jadi piala rebutan melon. Adila capek."
Permana diem sebentar. Di video call, dia deketin HP, jadi mukanya gede di layar kamu. Mata dark-nya yang biasanya bikin deg-degan, malam ini bikin tenang.
"Adila gak usah gimana-gimana. Biar saya yang urus Arman. Adila cukup jadi Adila aja," katanya.
Terus — gak lama-lama bahas Arman — dia ganti topik. Lebih serius. Jauh lebih serius dari melon, dari saingan dingin, dari janur kuning belum melengkung.
"Adila," panggilnya. Nada berubah. Bukan nada cemburu lagi. Nada yang dulu dia pakai pas bilang ke bapak kamu di ruang tamu.
"Ya?"
"Seminggu ini saya mikir. Kalau Arman bisa dateng ke rumah kamu bawa melon, berarti dia serius. Kalau saya cuma dateng bawa buah juga, saya sama aja kayak dia. Saingan melon."
Dia tarik napas panjang di layar. Kamu liat dia gugup — Permana yang 38 tahun, yang dimarahin bapak kamu aja gak gugup, sekarang gugup di video call.
"Adila, saya gak mau saingan melon lagi. Saya mau ngomong sama bapak kamu lagi. Bukan ngomong suka lagi. Ngomong yang lebih serius."
Kamu duduk tegak di kasur.
"Lebih serius gimana?"
"Lamaran," jawabnya. Satu kata.
Sepi. Video call yang tadi ada suara AC di kamar Permana, sekarang kedengeran jantung kamu aja.
"Adila cantik, baik, bikin orang gampang sayang — saya tau. Makanya Arman keras, saya juga keras. Tapi saya gak mau kerasnya cuma adu tatap di teras. Saya mau kerasnya saya buktiin ke bapak kamu. Kalau saya serius mau jaga Adila, bukan cuma di kantor, bukan cuma di parkiran, tapi di rumah Adila selamanya."
Kamu nangis. Pelan. Di layar video call, tanpa suara.
"Adila," panggilnya lagi, panik liat kamu nangis. "Jangan nangis dulu. Jawab dulu. Adila mau gak? Kalau saya ngomong lagi sama bapak kamu, yang lebih serius? Bukan bawa melon lagi. Bawa keluarga saya."
Kamu tutup mulut pakai tangan. Dua melon di dapur, dua cowok keras adu dingin di teras, satu bapak yang masih baca koran kebalik — semua hilang. Tinggal Permana di layar HP, yang 2 bulan lalu nekat bilang suka ke bapak kamu sampai dimarahin, sekarang mau nekat lagi bilang lamaran.
"Permana..." bisik kamu, suara geter. "Adila mau. Tapi bapak Adila masih kesel loh sama Permana gara-gara melon tadi..."
"Gak apa-apa," jawabnya cepat. Dark-nya sekarang dark yang berani, bukan dark yang nahan. "Biar bapak kamu kesel lagi. Sekalian dua kali. Yang penting Adila mau. Arman boleh mau rebut Adila dari saya, tapi saya mau rebut Adila selamanya dari semua orang."
Video call masih nyala. Jam 10.30 malem. Di luar kamar, papa masih ngedumel soal melon. Di dapur, dua melon masih nangkring sebelah-sebelahan.
Di layar HP kamu, Permana yang keras kalau soal perempuan, apalagi Adila — malam ini kerasnya dipakai buat ngomong yang lebih serius dari sekedar saingan dingin.
Masih malam yang sama. Video call masih nyala. Jam 11 malem.
"Lamaran gimana, Permana? Beneran?" tanya kamu lagi, mastiin. Soalnya dari tadi kamu masih mikir ini mimpi gara-gara kebanyakan liat dua melon.
Permana di layar angguk. Serius. Gak ada senyum jahilnya lagi.
"Beneran, Adila. Pas malemnya ngomongin lamaran ini — bukan minggu depan, bukan bulan depan. Saya mau ngomong sama bapak kamu secepatnya. Besok kalau bisa. Tapi..." dia berhenti, liat kamu di layar. "Tapi sebelum saya ngomong sama bapak kamu, saya mau ngomong dulu sama Adila yang bener. Bukan di video call. Bukan di kantor yang ada Arman liatin."
Kamu ngerti.
"Ngomong di mana?"
"Besok. Meeting luar kota. Seharian. Bareng saya. Boleh?"
Kamu kaget. "Meeting luar kota? Adila?"
"Iya. Klien di Bandung. Harus berangkat jam 7 pagi, pulang jam 8 malem. Di mobil cuma kita berdua. Di jalan kita bisa ngomongin lamaran yang lebih serius. Bukan lamaran melon."
Kamu ketawa pelan di tengah nangis. "Adila boleh sama Permana? Nanti dikira..."
"Dikira apa? Dikira staf ikut atasan meeting luar kota? Itu kerjaan, Adila. Profesional. Surat tugasnya udah saya bikin tadi sore — pas Arman masih di teras rumah kamu, saya udah bikin surat tugas buat Adila ikut saya besok."
Dark-nya pinter. Kerasnya pinter. Saingan dingin di teras, tapi surat tugas udah dibikin duluan.
"Adila mau gak? Seharian bareng saya di luar kota. Kita ngomongin lamaran," tanya dia lagi, pelan.
Kamu angguk di layar. Air mata masih ada, tapi senyum udah balik.
"Mau, Permana. Adila mau."
---
Pagi. Jam 6.30. Rumah Adila.
Papa masih baca koran pagi, mama masih bikin sarapan. Kamu keluar kamar pakai blazer kerja, bukan daster. Rapi. Tas kerja.
Papa heran. "Loh, Dila, Sabtu kok kerja?"
"Meeting luar kota, Pa. Di Bandung. Sama Pak Permana. Seharian," jawab kamu, agak gugup.
Papa langsung lipat koran. "Sama Permana? Berdua? Seharian?"
Nada bapak-bapak yang 2 bulan lalu ngamuk, seminggu lalu kesel gara-gara melon, sekarang curiga lagi.
Sebelum papa ngamuk lagi, bel bunyi.
Ting tong.
Mama buka. Permana. Bukan bawa melon lagi. Bawa map, bawa surat tugas, pakai kemeja rapi, mobil udah nyala di depan.
"Pagi, Pak, Tante. Saya jemput Adila buat meeting Bandung ya, Pak. Surat tugasnya ada. Pulang malem, saya anterin lagi sampai depan pintu," kata Permana, sopan. Profesional. Tapi matanya ke kamu — kode: semalam kita ngomongin lamaran, pagi ini kita berangkat.
Papa liat surat tugas. Liat kamu. Liat Permana. Mau ngomel, tapi gak bisa — ini kerjaan.
"Ya udah, hati-hati di jalan. Dila, jangan aneh-aneh! Permana, jaga Adila!" pesan papa, masih keras tapi restu.
"Siap, Pak," jawab Permana.
Kamu naik mobil. Duduk depan. Pintu ketutup.
Mobil jalan ninggalin rumah yang dua melonnya masih di dapur.
Di mobil, baru keluar komplek, Permana langsung matiin radio. Gak ada musik. Cuma AC sama jalanan pagi.
"Jadi, Adila," buka dia, sambil nyetir, gak liat kamu, liat jalan — tapi tangan kirinya nyari tangan kamu di tengah. Genggam. Kayak di pantry, kayak di ruangan terkunci, kayak di parkiran. "Tadi malem kita ngomongin lamaran. Sekarang kita ada seharian di jalan. 3 jam ke Bandung, 3 jam pulang. 6 jam di mobil cuma kita berdua. Boleh saya lanjutin yang lebih serius?"
Kamu genggam balik. Di mobil luar kota, jam 7 pagi, Sabtu, bukan di kantor, bukan di teras rumah, bukan di video call.
"Boleh, Permana. Lanjutin. Adila dengerin seharian."
Mobil melaju ke tol. Bandung masih 3 jam lagi. Lamaran masih belum diomongin ke papa, tapi di mobil ini — cuma Adila sama Permana yang tau — omongan lamaran yang lebih serius baru mau dimulai.
Tol Cipularang. KM 72. Rest area pertama.
Jam 8.30 pagi. Mobil hitam minggir. Permana sein kiri, masuk rest area.
"Adila, kita berhenti dulu ya. 10 menit," katanya.
Kamu bingung. "Kenapa, Permana? Mobil kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa. Saya yang kenapa-kenapa," jawabnya. Dia matiin mesin. Parkir di pojok paling sepi, yang gak ada orang lewat.
Dia buka seatbelt. Noleh ke kamu. Dari tadi di tol 1 jam lebih dia nyetir sambil genggam tangan kamu, ngomongin kerjaan klien Bandung, ngomongin mama kamu yang komen melon, ngomongin papa yang baca koran kebalik — tapi gak nyentuh topik lamaran lagi.
Sampai di rest area ini.
"Adila," panggilnya. Suaranya beda. Bukan suara Pak Permana di kantor. Bukan suara Om di ruang tamu. Suara Permana yang semalem di video call bilang mau bawa keluarga.
"Ya?"
"Tadi malem saya bilang mau ngomong lebih serius sama bapak kamu. Adila bilang mau," katanya, tangan masih genggam tangan kamu di tengah. "Sekarang saya mau tanya yang lebih serius lagi. Di rest area ini, bukan di kantor, bukan di rumah Adila yang ada dua melon."
Kamu jantungnya udah dag dig dug lagi kayak pas ditanya papa di meja makan ayam woku.
"Permana mau ngomong apa?"
"Lamaran itu mau kapan, Adila? Menurut Adila," tanya dia, balik nanya ke kamu. "Kalau menurut saya, bulan depan. Biar gak kelamaan saingan melon sama Arman. Biar Arman tau, janur kuning udah mau melengkung."
Bulan depan. Cepet banget. Kamu baru jadi staf 1 bulan, baru direstuin setengah hati sama papa 2 bulan lalu, baru kemarin didatengin dua cowok bawa melon barengan.
"Bulan depan? Beneran bulan depan, Permana?" tanya kamu, pelan.
"Beneran," jawabnya. "Saya udah ngomong sama mama saya semalam abis video call sama Adila. Mama saya nangis. Katanya akhirnya Permana mau bawa cewek ke rumah bukan buat rapat. Mama saya mau ikut ke rumah Adila minggu depan. Bawa bukan melon lagi."
Kamu ketawa, nangis lagi. Di rest area KM 72, jam 8.30 pagi, di mobil pojok sepi.
"Terus bapak Adila gimana? Masih kesel kan sama Permana?" tanya kamu.
"Biarin kesel. Keselnya bapak kamu itu karena sayang sama Adila. Nanti kalau saya dateng bawa mama saya, bawa lamaran beneran, keselnya ilang. Ganti jadi bingung mau naruh dua melon di mana," jawabnya.
Kamu pukul bahu dia pelan. "Permana jahat, masih ngomongin melon."
"Enggak," katanya, dia angkat tangan kamu, cium punggung tangan kamu sekilas — pertama kalinya cium tangan di luar rumah, bukan di bawah selimut, bukan di ruangan terkunci. Di rest area terang benderang. "Saya serius, Adila. Bulan depan. Tanggal 15. Saya mau lamar Adila di rumah Adila. Depan bapak kamu, depan mama kamu. Bukan di kantor, bukan di mobil. Boleh?"
Tanggal 15. Bulan depan. Kamu hitung di kepala — 4 minggu lagi.
Di tol orang-orang pada beli kopi, beli gorengan, ke toilet. Di mobil pojok, Adila sama Permana lagi ngomongin tanggal lamaran.
"Adila boleh mikir dulu gak? 10 menit aja? Di rest area ini?" tanya kamu, iseng, pura-pura jadi cewek yang jual mahal — padahal tangan kamu gak lepas dari genggaman dia.
"Boleh. 10 menit. Saya tungguin. Saya gak kemana-mana," jawabnya, senyum. Dark-nya yang keras kalau soal perempuan, sekarang kerasnya dipakai buat nungguin 10 menit di rest area demi jawaban Adila.
Kamu diem 10 menit beneran. Liatin jalan tol, liatin orang jualan, liatin Permana yang dari tadi natap kamu tanpa kedip — tatapan yang dulu kamu takutin lewat ruang tamu, sekarang kamu cari.
Jam 8.40.
"Adila udah mikir, Permana," katamu pelan.
"Jawabannya?"
"Boleh. Tanggal 15 bulan depan. Tapi bawanya jangan melon lagi ya. Bawa lamaran beneran."
Permana ketawa lega. Di rest area KM 72, jam 8.40 pagi, dia nyalain mesin lagi. Bukan buat lanjut ke Bandung dulu, tapi buat muter balik sebentar — dia turun, beli air mineral dua, satu buat kamu, satu buat dia.
"Buat perjalanan lamaran kita, Adila," katanya, kasih air mineralnya.
Mobil jalan lagi ke Bandung. Meeting klien masih 2 jam lagi. Tapi di mobil itu, meeting yang paling penting udah selesai di rest area pertama — lamaran bulan depan, tanggal 15.
Bandung. Jam 11 siang - 4 sore. Gedung klien.
Meeting seharian. Ruang meeting dingin, klien serius, slide banyak, laporan numpuk.
Kamu duduk sebelah Permana. Profesional. Name tag: ADILA - STAFF masih kinclong. Bawa laptop, bawa notes, bawa pulpen.
Tapi seharian itu, yang deg-degan bukan karena klien.
Karena di notes kamu, di pojok paling bawah, kamu tulis kecil pakai pulpen: 15 - bulan depan.
Permana liat. Pas klien lagi ngomongin grafik, dia geser notesnya dia ke deket kamu. Di notes dia, tulisan dia juga: 15 - bawa keluarga. Bukan melon.
Kalian tatap-tatapan sekilas di ruang meeting. Klien gak tau. Arman gak ada. Papa gak ada. Cuma kalian berdua yang tau, di tengah meeting serius, lagi ngomongin tanggal rahasia.
Jam 12, istirahat makan siang. Klien traktir makan di resto gedung.
Kamu sama Permana duduk sebelahan, tapi jaga jarak profesional. Klien ngobrol sama Permana soal kerjaan.
Tiba-tiba klien nanya: "Pak Permana, Bu Adila ini tunangannya ya? Serasi banget, dari tadi kompak."
Bu Adila.
Kamu keselek. Permana keselek juga.
Permana jawab cepat, profesional tapi dark-nya nyelip dikit: "Belum, Pak. Masih staf saya. Tapi... doain aja bulan depan, Pak."
Kamu tendang kaki dia pelan di bawah meja. Permana!
Dia ketawa kecil, bisik ke kamu: "Kan saya bilang doain aja. Gak bilang udah."
Klien ketawa, kirain bercanda.
Jam 2 siang, meeting lanjut. Kamu presentasi. Biasanya kamu grogi kalau presentasi depan orang banyak. Hari ini enggak. Soalnya tiap kamu grogi, kamu liat pojok notes: 15 - bulan depan. Jadi tenang lagi.
Permana yang biasanya paling kritis kalau kamu presentasi, hari ini cuma angguk-angguk. Senyum. Bahkan pas kamu salah sebut angka, dia yang benerin halus: "Maksud Bu Adila, angkanya segini ya, Pak."
Bu Adila lagi.
Jam 4 sore, meeting selesai. Klien puas. Salaman. Pulang.
Di lift turun, cuma kalian berdua.
Pintu lift ketutup.
Baru di situ kalian berdua lepas.
"Bu Adila," godain Permana, langsung.
"Pak Permana jangan gitu ah! Malu tau, depan klien!" protes kamu, mukanya merah.
"Gimana? Kan bentar lagi beneran jadi Bu Adila," jawabnya, ketawa lega. Seharian nahan dark di depan klien, sekarang jebol lagi di lift.
Kamu pukul bahu dia pelan. "Masih tanggal 15 bulan depan, Permana. Masih lama."
"Gak lama. 4 minggu. 28 hari. 672 jam lagi," hitung dia cepet. "Saya udah hitung dari rest area tadi."
Kamu bengong. "Permana ngitung?"
"Ngga, saya hafalin. Soalnya dari tadi di meeting, saya bukan mikirin grafik klien. Saya mikirin gimana ngomong sama bapak kamu tanggal 15 nanti biar gak bawa melon lagi."
Lift buka. Basement parkiran.
Mobil hitam masih di pojok. Kalian masuk. Mesin nyala. Bandung sore, mau balik ke Jakarta 3 jam lagi.
Di mobil, sebelum jalan, Permana gak langsung nyetir. Dia ambil HP, buka kalender.
"Adila, liat," katanya, nunjukin layar HP. Di tanggal 15 bulan depan, udah dia tandain merah, tulisannya: LAMAR ADILA - BAWA KELUARGA.
Kamu liat kalender dia. Terus liat kalender kamu yang masih kosong di tanggal itu.
"Boleh Adila tandain juga di HP Adila?" tanya kamu pelan.
"Boleh. Tandain. Biar Arman liat kalau dia masih mau saingan melon," jawabnya.
Kamu tandain di HP kamu: 15 - dilamar Permana.
Dua HP, dua kalender, satu tanggal rahasia yang cuma kalian berdua yang tau — hasil ngobrolin lamaran semalam di video call, deal di rest area KM 72 pagi tadi, dan deg-degan seharian di meeting Bandung.
Mobil jalan pulang. 3 jam lagi sampai rumah Adila. Papa pasti udah baca koran malem nungguin.
Akhir cerita. 15 bulan depan. Beneran tanggal 15.
Bukan di rest area KM 72 lagi. Bukan di ruangan terkunci. Bukan di teras yang ada dua melon.
Di gedung. Janur kuning beneran melengkung.
Pelaminan putih. Tulisan: Adila & Permana.
Kamu di pelaminan, pakai kebaya putih. Cantik, baik, bikin orang gampang sayang — tapi hari ini bikin satu orang aja yang sah sayangnya.
Permana di sebelah kamu, pakai beskap. Rapi. Dark-nya yang dulu cuma berani ngawasin dari ruang tamu, yang jebol di ruangan terkunci, yang nungguin di parkiran sepi, yang adu dingin sama Arman di teras rumah — hari ini dark-nya kalem. Soalnya udah sah. Gak perlu nahan lagi, gak perlu ngumpet lagi.
Di depan pelaminan, antrian salaman panjang.
Papa salaman sama tamu, mukanya bangga setengah mati — bapak yang dulu baca koran kebalik gara-gara dua melon, yang ngamuk gara-gara Om nekat, hari ini senyumnya gak berhenti.
Mama di sebelah papa, nangis bahagia dari tadi.
Terus di antrian, ada satu orang yang kamu kenal banget.
Arman.
Pakai batik. Rapi. Bawa amplop. Senyum — senyum yang udah gak dark terang-terangan lagi. Senyum ikhlas.
Dia sampai depan pelaminan.
"Selamat ya, Dila. Selamat ya, Man," kata Arman, salaman sama Permana dulu, baru sama kamu. Profesional. Dewasa.
"Mas Arman, makasih udah dateng ya," jawab kamu, agak gugup.
Arman ketawa kecil. "Harus dateng lah. Kan dulu saingan melon. Masa gak dateng."
Permana ketawa juga. Pertama kalinya mereka ketawa bareng, bukan adu dingin.
"Man, makasih ya udah dateng," kata Permana, tepuk bahu Arman. Kerasnya yang dulu buat rebutan, sekarang kerasnya buat tepuk bahu temen.
"Janur kuning udah melengkung, Man. Gue kalah. Tapi kalah yang ikhlas. Soalnya yang menang lo, bukan orang lain," bisik Arman ke Permana, cuma mereka berdua yang denger.
Di meja prasmanan, ada dua buah melon. Sengaja dipajang sama mama.
"Buat kenang-kenangan," kata mama tadi pagi, "biar inget dulu pernah rebutan gara-gara melon."
Kamu sama Permana foto berdua, di belakangnya ada janur kuning melengkung beneran.
Foto itu kamu kirim ke grup keluarga, captionnya:
Alhamdulillah, 15-nya kesampaian. Bukan bawa melon lagi, tapi bawa Permana selamanya. Makasih buat yang udah jadi bagian cerita Adila — yang di ruang tamu, di kantor magang, di pantry, di parkiran, di rest area KM 72, sampai di pelaminan.
Arman yang jadi tamu undangan, like fotonya paling pertama.
Selesai.
Dari anak magang yang harus lewat ruang tamu cepat-cepat, jadi staf yang diperebutin di kantin, jadi Bu Adila yang dilamar di rest area KM 72, sampai jadi istrinya Permana di pelaminan tanggal 15.